Selamat datang di blog saya!

Belas Kasihan



Wajibkah kita turut meratapi tragedi yang menimpa tetangga sendiri?

Jika moral ibarat bangunan, maka empati adalah batu bata yang menyusun dindingnya. Empati adalah kemampuan untuk merasakan luapan perasaan orang lain, termasuk kemampuan untuk membayangkan keadaan batin dan pikiran orang lain. Empati amat diperlukan, karena ia membentengi diri dari bibit-bibit kejahatan yang amat mungkin tumbuh di dalam hati setiap manusia: prasangka, rasisme, keinginan untuk menindas makhluk hidup lainnya. Pun empati tidak hanya melulu berada di posisi defensif, akan tetapi juga dapat berperan aktif mendorong aksi heroik.

Menumbuhkan rasa empati bisa menjadi tugas yang sulit, terutama apabila kita tidak terlibat pengalaman langsung di dalam musibah yang menimpa orang lain. Hal ini berakibat pada minimnya pengetahuan terkait bagaimana musibah tersebut berdampak negatif pada aspek-aspek penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Oleh karenanya, sebagaimana yang diungkapkan Adam Smith dalam The Theory of Moral Sentiment, satu-satunya yang dapat dilakukan adalah dengan merefleksikannya kembali ke dalam diri---bagaimana perasaan kita saat ditimpa musibah serupa.

Sayangnya, manusia lahir, tumbuh, dan berkembang-biak bukan di kehidupan yang sempurna. Saat berkuasa, kita dituntut untuk menjadi kejam. Saat diperlakukan sewenang-wenang, kita dituntut untuk submisif. Empati tidak menjadi pilihan. Tentang bagaimana manusia bermasyarakat pada abad-21 ini, mungkin masih memiliki karakteristik sama dengan debat dramatis yang dikembangkan sejarawan kuno Yunani, Thucydides, dalam History of the Peloponnesian War. Pesan dari Melian Dialogue adalah bahwa jika ingin menghindari kehancuran bagi diri sendiri, mereka yang tidak berkuasa harus patuh dan tidak murka terhadap mereka yang berkuasa. Kesimpulannya, yang kuat melakukan apa yang diinginkan, dan yang lemah menanggung derita sebanyak yang diharuskan. Yang lemah harus menerima penderitaan tersebut layaknya sebuah takdir.

Tidak hanya Thucydides, Chuck Palahniuk tampaknya setuju atas hal ini, tatkala ia (dengan sinis) menempatkan diri di posisi si lemah: "Masochism is a valuable job skill" (Masokisme adalah ketrampilan kerja yang berharga). Mungkin maksud Palahniuk adalah barangsiapa yang mampu merasakan sisi kenikmatan saat dianiaya atau disakiti, maka ia akan disayangi "boss." Istilah sehari-harinya: nek dipisuhi majikan meneng wae. Hukum ini tentu mengingatkan kita pada kehidupan di alam rimba, dimana makhluk hidup yang berada di puncak rantai makanan bebas memangsa hewan lain kapanpun, sementara hewan yang berada di posisi lebih rendah (herbivora) harus senantiasa dihantui rasa takut diburu pada momen yang tidak terduga

Tapi ini bukan kesimpulan akhir. Sebagaimana sekeping uang koin, manusia mampu melihat sisi lain dari suatu persoalan. Manusia mencari alternatif dari sikap pasrah. Ya, kita mungkin sekadar hewan, dan berperilaku selayaknya hewan pada umumnya. Tentu juga, ada banyak kesamaan antara perilaku hewan dan manusia. Akan tetapi, berkat kemampuan akal, manusia memiliki kesempatan untuk hidup berbeda daripada hewan.

Satu yang menarik dari manusia, mereka tidak pernah menutup pilihan-pilihan yang disajikan untuk dirinya. Seekor hewan, dengan segala kehidupan hutan yang bengis dan keras, hanya punya 2 (dua) pilihan: pasrah atau mencari cara untuk bertahan hidup di dunia nan brutal. Dalam pada itu, manusia, mereka berbeda. Manusia dapat memilih untuk keluar dari hutan. Lebih dari itu, manusia bahkan mempunyai kemampuan bernegosiasi dengan predatornya agar tidak "dimakan." Jika ia lihai di bidang kesadaran sosial seperti kemampuan memahami situasi sosial, pembelajaran sosial, komunikasi, dan menebak jalan pikiran orang, niscaya ia bebas dari "terkaman" predatornya. Boleh jadi mereka justru berubah menjadi sahabat karib. Semua adalah persoalan cita rasa dan penilaian yang baik.

Sementara itu, di sisi "sang predator" sendiri, kepekaannya akan menimbang apakah kualitas yang dimiliki orang tersebut pantas mendapatkan pujian dan ekspresi kekaguman. Bila ini terjadi, akan ada pertemuan dengan sentimen dan ketajaman pemahamannya. Dari sana lahirlah empati. Dari sana terlahir kemanusiaan.

Apa maksud yang terkandung dari semuanya? Artinya, empati tidak datang karena tiba-tiba batin seseorang mengatakan, "Hey, kamu nggak kasihan sama orang itu?" Empati adalah masalah kepekaan, dan kepekaan perlu dirangsang. Yang lemah memberitahu bahwa ia berada dalam posisi membutuhkan pertolongan. Yang lemah dan kuat harus berdialog perihal cara-cara yang perlu ditempuh untuk mencapai keseimbangan. Tidak semua orang mampu menggerakan diri sendiri untuk merasa prihatin pada nasib buruk yang menimpa orang lain. Dan yang tidak cakap melakukannya, tidak melulu harus dicap orang jahat. Bakal menjadi kasar, atau vulgar, apabila seseorang sudah memohon belas kasihan padanya dan ia menolak secara tidak sopan. Itu baru jahat.

Saya jadi teringat pada salah satu kawan saya. Suatu hari dia berencana hendak membuat situs web untuk produk dagangannya. Tanpa ia minta, saya menawarkan bantuan merancang situsnya secara gratis, dia justru menolak. Karena saya kenal betul dengan kepribadiannya, dia memang menolak sungguh-sungguh, bukan karena pekewuh atau malu-malu kucing. Dia membuat saya tersadar, setiap manusia memiliki apa yang disebut pride---harga diri. Harga diri itu tetap bersemayam dalam hatinya selama ia belum mengatakan, "Tolong, bantu saya." Sejak saat itu, saya berhenti mengasihani orang lain jika ia tidak memintanya.***

Makna Bahagia

Sumber gambar: istockphoto.com

Bahagia. Ada banyak sumber kebahagiaan. Mungkin sesederhana melihat orang yang kita sayangi tersenyum seperti yang dilantunkan Harry Connick, Jr. “I like it when you smile, just a little thing like that could put a spring up in my stride” dalam lagu (I like it When You) Smile. Atau melihat sinar matahari pagi seperti yang dinyanyikan The Rascals dalam lagu A Beautiful Morning

Kebahagiaan adalah wujud kekayaan batin yang tidak kasat mata. Demikian juga sulit bagi kita menentukan siapa yang dapat dikatakan bahagia, sebab banyak orang berpura-pura bahagia agar dirinya tidak tampak rentan.

Bagaimanapun, kebahagiaan adalah hal yang paling dicari-cari orang di seluruh dunia. Sekali ditemukan, kebahagiaan perlahan akan menyusut setiap hari, sehingga yang dilakukan orang-orang setiap hari adalah memastikan bahwa mereka sudah memperoleh kebahagiaan yang cukup. Manusia mencari uang karena berpikir dia akan bahagia jika bisa membeli apapun yang diinginkan. Ada juga yang memilih berkeluarga karena dalam cerita dongeng, pernikahan menjanjikan hidup penuh kebahagiaan sepanjang masa, atau yang dikenal sebagai “live happily ever after.” Atau mungkin ada orang yang berambisi membahagiakan orangtua. 

Tapi proses pencarian kebahagiaan adalah sesuatu yang berlangsung terus-menerus. Kebahagiaan seseorang tidak bisa bertahan lama hanya karena satu sebab yang ajeg. Mungkin pada kali pertama seseorang memiliki sumber kebahagiaan di tangannya itu, ia akan merasa bahagia. Tapi jika sumber kebahagiaannya bergantung pada benda yang itu-itu saja, lama-lama obyek yang awal mulanya menjadi sumber kebahagiaan tersebut berbalik menjadi sumber kejenuhan. Oleh karena itu, tidak hanya kebahagiaan yang bersifat dinamis, sebabnya pun juga harus dinamis. Agar kebahagiaan itu dapat bertahan lama.

Maka yang paling ideal adalah dengan tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah benda mati. Uang, rumah mewah, pesawat jet pribadi, gawai termutakhir, tidak menanggung tanggung jawab atas kebahagiaan kita. Sebab benda mati tidak bertindak atas dirinya sendiri, kecuali berdasarkan otoritas dari manusia yang menggunakannya.

Untuk memperoleh kebahagiaan, pertama-tama seseorang harus memiliki hidup yang baik. Hidup yang baik memiliki sekurang-kurangnya 3 (tiga) indikator, antara lain: mencintai sesama, kemampuan untuk menjalankan apa yang menjadi hobinya, dan memiliki wawasan mendalam mengenai apa yang dibutuhkan dan diinginkan diri sendiri. Setidaknya terpenuhinya 3 (tiga) hal ini dapat membuat seseorang berpikir bahwa ia menjalani hidup yang baik.

Di sisi lain, kehidupan yang baik juga memiliki definisi berbeda-beda bagi individu, dan tentu saja, setiap orang berhak untuk memutuskan apakah hidupnya layak untuk dijalani. Oleh karena itu, kehidupan yang baik bersifat subyektif, dan karena sama-sama subyektif, maka kehidupan yang baik setara dengan “kebahagiaan.”

Seringkali dalam menilai apakah hidupnya baik atau tidak, seseorang dipengaruhi oleh kondisi suasana hati. Hal ini juga berlaku—sekalipun bagi orang yang memiliki “kelainan” merasa cemas terus-menerus—karena kebahagiaannya berarti, kemampuan untuk mengalahkan watak-watak buruk. Oleh karena itu, penilaian seseorang terhadap kehidupan yang baik juga didasarkan pada frekuensi atau intensitas kondisi perasaan yang positif. Perasaan yang positif mendefinisikan ciri sehatnya seseorang.

Dalam hal pencapaian menuju kebahagiaan, orang yang ramah lebih mudah meraihnya karena ia cenderung lebih ceria dan penuh semangat daripada orang yang pemalu. Orang yang ramah memiliki cakupan kesadaran lebih luas dan mendalam. Sudah merupakan kebutuhan dasar bagi dirinya untuk memperkaya pengalaman hidup. Mereka dikenal sebagai pribadi yang penuh imajinasi, dapat merespon sesuatu dengan santun, penuh empati, petualangan, rasa penasaran, dan terbuka terhadap perubahan. Kepribadian orang-orang yang ramah ini membuat mereka mendapat predikat sebagai pribadi yang sepenuhnya aktif dan paling tinggi tingkatannya di bidang kesehatan mental.

Dari sini kita dapat melihat bahwa jalan utama untuk bahagia adalah dengan menjadi orang yang ramah. Menjadi orang yang memiliki ketertarikan terhadap banyak hal. Menjadi orang yang senang berkomunikasi. Menjadi orang yang menikmati berada di pusat perhatian. Menjadi orang yang mencari gagasan dan inspirasi dari orang lain dan sumber-sumber di luar dirinya. Menjadi orang yang suka berbicara tentang pikiran dan perasaan.

Menjadi ramah mungkin sama saja membiarkan kita berada di posisi rentan di mata orang-orang yang berniat untuk menyakiti kita. Di sisi lain, jika kita ramah pada orang yang tepat, keramahan itu akan menjadi modal yang menggenapi kebahagiaan kita. Pada akhirnya kita memang harus memilih, antara membangun benteng tinggi-tinggi dari orang luar, ataukah mengambil risiko untuk dapat mencapai kebahagiaan yang kita idam-idamkan. Pilihan itu ada di tangan kita.

Ox

"Pagar Kawat" (sumber gambar: weheartit.com)

Ox adalah seorang penulis puisi. Setiap hari, ia selalu menghasilkan karya-karya baru. Deretan kata-kata yang dirangkainya tersusun secara rapi sebagai sarana baginya mengekspresikan kondisi diri. Dia menguasai berbagai macam kategori gubahan; suatu hari puisinya bertemakan bunuh diri, kecanduan, tangisan, rasa takut, dan rasa muak. Di waktu yang lain, puisinya dapat memiliki tema-tema inspiratif seperti kepercayaan-diri, keberanian, imajinasi, kebijaksanaan, dan kecantikan.

Meskipun setiap gubahan Ox memiliki kategori berbeda-beda, secara garis besar terdapat kesamaan dalam semua karya yang ditulisnya: ekspresi kepenatan Ox terhadap keadaan masyarakat di bawah permukaan yang tampak. Dia mencoba menjangkau dunia luar dengan pandangan-pandangan segar, mendefinisikan hal-hal yang tidak dikenali atau disadari kehadirannya oleh masyarakat sekelilingnya.

Akan tetapi, apakah hal-hal yang telah digambarkan Ox dalam puisinya serta-merta menjamin bahwa situasi tersebut nyata keberadaannya dalam realita yang sebenarnya? Apakah puisi dapat dikatakan serba cukup untuk merangkum “ada”-nya suatu keadaan?

Beberapa filsuf berpendapat bahwa pengertian “ada” dan keberadaan sesuatu haruslah diburu secara bebas melalui bentuk telaah bahasa kalimat-kalimat yang bersangkut-paut. Maksudnya, kebenaran situasi spesifik yang digambarkan dalam kalimat-kalimat tersebut tidak bersifat abadi atau mendaging, melainkan mengalir menghadapi zaman yang bergerak sesuai fungsinya sebagai alat yang menunjuk makna. Artinya, kalimat-kalimat yang bersangkut-paut itu tidak boleh memainkan kalimat-kalimat untuk dirinya sendiri.

Menulis adalah kerja pembebasan. Untaian kata dalam kalimat yang ditulis haruslah mendorong keberanian bagi pembaca untuk mengubah hidup dan dirinya.

Ox, seperti kebanyakan penulis puisi lainnya, menitikberatkan penghematan kata. Seorang penulis puisi terkenal kikir dalam menggunakan kata-kata di tiap bait puisinya. Dia cenderung mengutamakan keringkasan dan kualitas emotif sebuah kata. Jadi, puisinya adalah jenis tulisan yang memainkan kata-kata bagi dirinya sendiri, untuk kepentingan kualitas emotif dan bahkan nilai musikalnya. Meminjam istilah Sartre, puisi tidak membebaskan, ia adalah dogmatisme yang tidak berbuah.

Berbicara tentang tulisan yang membebaskan adalah berbicara tentang pergantian bahasa. Artinya, dalam sebuah tulisan yang membebaskan haruslah mengandung 3 (tiga) bentuk bahasa: bahasa yang lumrah, bahasa yang dapat dicerna akal sehat, dan bahasa filosofis. Sebuah bahasa filosofis adalah bentuk yang sulit dipahami, ia membutuhkan bahasa yang dapat dicerna akal sehat untuk menjelaskannya. Sementara bahasa yang dapat dicerna akal sehat memerlukan kehadiran bahasa yang lumrah, untuk menghindari kebingungan dan menghapus kekaburan.

Di era yang serba canggih ini, orang-orang membutuhkan ketepatan yang dapat diraih melalui kecepatan. Itulah sebabnya, bahasa yang lumrah sangat diperlukan. Kata-kata tidak hanya akan berhadapan dengan manusia yang mencurahkan seluruh waktunya menafsirkan kata, akan tetapi juga diakses oleh manusia yang menghabiskan sepanjang harinya beraktifitas layaknya sebuah mesin. Orang-orang jenis ini hanya dapat mencerna kalimat yang gamblang. Di sisi lain, mereka menyaring kalimat berbelit-belit agar tidak masuk ke dalam sistem pikirannya.

Dengan demikian, makna yang mudah diserap adalah inti pokok dari sebuah tulisan. Tulisan yang tidak terlacak maknanya adalah tulisan tanpa inti: tidak kekal, tidak diakui, lunak, dan lapuk. Dan bagaimana mungkin sebuah tulisan yang selemah itu mampu mendorong keberanian pembaca untuk mengubah hidupnya? Bahkan dalam diri tulisan tersebut tidak ada tanda kepercayaan diri yang besar. Yang ada hanya kegentaran, kekecutan, dan ketakutan untuk secara terang menunjuk makna.

Jika saya adalah Ox, seorang penulis puisi yang memiliki mimpi untuk mengubah tatanan masyarakat melalui tulisannya, saya akan memilih satu di antara dua pilihan: (i) meninggalkan mimpinya dan menerima bahwa karyanya hanya akan berakhir sebagai alat kepuasan batin belaka; atau (ii) mencari gaya penulisan baru yang dapat menciptakan dunia. Ox dan beberapa penulis lain haruslah menyadari bahwa sebuah tulisan memikul tanggung jawab etis, mampu terlibat dalam masalah-masalah sosial, dan dapat mendorong setiap pembacanya untuk berani membebaskan diri dari keterasingan.

Rasa Curiga dan Ketidakjujuran

Rosalind & Celia (gambar: http://www.ebay.co.uk)


Seperti kebanyakan perilaku manusia pada umumnya, rasa curiga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin kita dapat menjelaskan penyebab dari rasa curiga itu: seorang istri curiga kepada suaminya karena berkirim teks dengan seorang kolega perempuan, seorang pemimpin curiga kepada anak buahnya karena mereka sering berkumpul secara diam-diam tanpa kehadiran sang pemimpin, Presiden Soeharto curiga kepada para aktivis karena mereka sering melontarkan kritik-kritik tajam. Tetapi ketika ditanya, bagaimana kamu menggambarkan rasa curiga itu? Sebagian besar orang akan menjawab, “Perasaan tidak nyaman.” Jawaban itu sebenarnya masih kurang memuaskan, karena bagaimana membedakannya dengan jenis perasaan lain? Rasa marah juga menimbulkan ketidaknyamanan. Depresi juga menimbulkan ketidaknyamanan. Rasa bingung dan putus asa pun menimbulkan ketidaknyamanan. Tentunya, kemarahan, depresi, kebingungan, dan keputus-asaan tidak bisa dikelompokkan ke dalam rasa curiga meskipun mungkin dapat ditemukan hubungan sebab-akibat antara satu dengan lainnya.

Pada dasarnya, kecurigaan adalah sebuah akibat, akibat dari adanya keyakinan dalam diri seseorang bahwa terdapat makna yang tersamarkan dalam sebuah ungkapan yang dilontarkan. Kecurigaan hadir karena orang yang bersangkutan mempersoalkan narasi dari orang lain, dan kemudian kecurigaan itu memicunya untuk mencari penjelasan di antara gelembung kata-kata yang digunakan dalam narasi tersebut.

Setiap manusia pernah curiga, tidak setiap waktu, tapi sekurang-kurangnya pernah menaruh curiga sekali-dua kali. Kita mengakui, ada hal-hal yang tidak terungkapkan melalui kata-kata, dan oleh karenanya kita mengakui eksistensi sebuah makna yang tersamarkan. Dan juga, berpikir realistis, tidak semua narasi itu jujur.

Setiap kalimat yang diutarakan seseorang adalah wujud penceritaan kembali atas apa yang telah ia baca dan dengar. Kemudian ia membuat narasinya hidup. Ia menyusun hidupnya melalui narasi-narasi yang telah terlontar dari mulutnya. Katakanlah seseorang menceritakan betapa dirinya adalah ‘orang yang suci.’ Jika tak dapat dibuktikan melalui tindakan, setidaknya di dalam hati ia masih menikmati khayalan betapa sucinya dia.

Ketidakjujuran dalam narasi adalah bukti bahwa pada dasarnya manusia senang melakukan penyamaran. Dan motifnya, tidak semudah karena kita sadar hidup ini hanya sebentar dan kita ingin berpura-pura memerankan berbagai jenis orang agar tidak kekurangan pengalaman, akan tetapi karena ada keuntungan signifikan dalam penyamaran yang dilakukan. Penyamaran ditemukan di mana-mana, bahkan dalam karya William Shakespeare lebih seringnya terdapat suatu plot di mana tokoh dalam karyanya itu menyamar sebagai masyarakat kelas bawah, sebut saja dalam 'As You Like It,' 'King Lear,' dan 'Measure for Measure.'

Garis besarnya, penyamaran adalah sebuah proses transisi yang dilakukan untuk mengklaim kembali status seseorang yang telah hilang. Sebab status merupakan cara pandang orang lain terhadap kita, dan dengan membangun sebuah citra baru melalui penyamaran, perlahan status itu akan direngkuh kembali menyesuaikan dengan penyamarannya.

Sekarang mungkin akan ada yang tidak setuju, bagaimana bisa kita meraih sebuah status dari hasil menipu orang lain melalui penyamaran-penyamaran kita. Jika semua orang menyamar maka setiap saat kita harus menaruh curiga. Setiap hari. Setiap menit. Setiap detik. Dan curiga itu merongrong hati. Curiga itu mengganggu kualitas tidur. Curiga itu menimbulkan ketidaknyamanan.

Tapi saya menyukai sensasi bagaimana saya harus menaruh kepercayaan pada seseorang dan bertahan bersamanya, di satu sisi, terdorong untuk secara berkala menaruh curiga kepada orang yang sama.

Karena apa? Karena dari rasa curiga, saya belajar tentang konsep penjelasan dan penafsiran makna kalimat. Dari rasa curiga, saya belajar banyak tentang orang lain dan menyadari ternyata jiwa seseorang tak selamanya dapat dipahami secara menyeluruh oleh entitas di luar dirinya.

Makna dari Percaya

Sumber gambar: Photos8.com
Mereka yang mengerti betapa pentingnya WAKTU, akan menyadari betapa pentingnya RASA PERCAYA.

Dari semua hal-hal yang hadir di tengah-tengah hubungan kita dengan orang lain, baik itu kedekatan (secara fisik dan/atau emosional), ketertarikan atau kejujuran, kepercayaan adalah hal yang melandasi segala-galanya. Seorang murid perlu mempercayai gurunya agar proses berbagi ilmu pengetahuan berjalan lancar. Seorang pegawai perlu mempercayai atasannya agar roda organisasi berjalan di jalur yang semestinya. Seorang kepala pemerintahan (barangkali) perlu dipercaya oleh rakyatnya agar kebijakan-kebijakan yang dibuatnya, dan menurutnya baik bagi kemashlahatan umat, dapat diterapkan dan memberikan output seperti diharapkan. Kita ingin dipercaya orang, dan karena orang bijak berkata: "perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan," maka akhirnya kita mempercayai orang.

Manfaat paling besar dari rasa percaya adalah efektifitas. Bayangkan diri kita sedang menempuh perjalanan panjang dengan seorang teman. Kitalah yang mengerti setiap belokan dan arah menuju lokasi tujuan karena sebelumnya kita pernah pergi ke sana dengan orang lain. Akan tetapi, teman seperjalanan kita tidak percaya bahwa kita pernah ke lokasi tujuan itu, tidak percaya bahwa kita mengerti kapan harus belok kanan, kiri, atau berjalan lurus, lebih parahnya, ia justru menuduh kita punya niat jahat untuk membuatnya tersesat. Alhasil, setiap kali berada di persimpangan, kita harus berhenti sejenak karena meladeni perdebatan sia-sia dengan teman seperjalanan itu. Perjalanan yang seharusnya selesai dalam waktu (katakanlah) 7 hari, menjadi 9 hari, karena 48 jam yang terbuang percuma, habis untuk pertengkaran. Kita dan teman seperjalanan memang sampai di lokasi tujuan, tapi seandainya ia percaya pada kita sedari awal, waktu perjalanan akan lebih singkat.

Rasa percaya menempati hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam hal kerjasama atau teamwork, mulai dari lingkup kecil seperti kerjasama saudara kandung saat bersih-bersih rumah, kerja kelompok mengerjakan tugas oleh anak sekolah, bahkan yang sifatnya sangat membutuhkan kecakapan logika dan rasio seperti tim pengerjaan riset, rasa percaya amat diperlukan. Kerjasama adalah kegiatan kolegial yang membutuhkan kepercayaan setiap anggota tim terhadap integritas anggota lainnya. Apabila ada seorang anggota yang tidak percaya akan integritas rekannya, ia akan lebih memilih mengerjakan pekerjaan tim sendirian. Lagi, perkara efisiensi (efektifitas waktu dan tenaga), kembali dipertaruhkan.

Memang ada beberapa orang yang sulit untuk menaruh kepercayaan pada orang lain karena sebelumnya pernah dikhianati. Dia takut disakiti lagi, entah itu sebagai bentuk ketakutan atas terulangnya peristiwa yang sama pada orang yang sama, ataukah peristiwa yang sama pada orang yang berbeda. Akan tetapi, bagi kita yang menganggap efektifitas dan efisiensi sebagai hal yang paling penting, kepercayaan tidak lagi dikategorikan sebagai pilihan personal. Kepercayaan dimaknai sebagai sebuah strategi.

Sehingga, bagi kita yang memaknai kepercayaan sebagai suatu strategi, tidak ada istilah "tidak percaya" dalam kamus kita. Yang ada hanyalah "percaya" dan "ragu-ragu." Secara lebih rinci, hal-hal yang dilakukan ketika "percaya" ada 2 (dua), yaitu tanpa pengawasan penuh, kita percaya bahwa orang lain itu akan melakukan hal yang benar, atau percaya bahwa tindakan orang lain saat di luar pengawasan kita, tidak akan merugikan kita. Sementara hal-hal yang dilakukan ketika "ragu-ragu" ada 3 (tiga), yaitu ragu-ragu ia akan merugikan dirinya sendiri, ragu-ragu karena orang itu tipikal yang senang menguntungkan dirinya sendiri sehingga punya potensi berbuat jahat, atau ragu-ragu karena orang itu pernah melakukan tindakan yang merugikan kita. Akan tetapi, perbedaan antara "ragu-ragu" dan "tidak percaya" adalah bahwa kita memiliki keberanian untuk mencoba percaya. Kita percaya dengan penuh kewaspadaan. Kita mengawasinya. Orang ragu-ragu tidak jera menaruh kepercayaan pada orang lain. Dia terpuaskan oleh serangkaian jaminan untuk percaya.

Oleh sebab itu, mari memandang kepercayaan sebagai sebuah strategi, bukan pilihan personal. Mari belajar untuk percaya (atau ragu-ragu) terhadap orang lain. Pada akhirnya, kepercayaan adalah bahan baku "ajaib" yang menyusun ikatan kemanusiaan yang kuat.

Apakah Hal yang Tidak Terindera Punya Tempat di Dunia Fisik?

"Ambivalence" (sumber gambar: slate.com)

Sewaktu saya masih di Sekolah Menengah Atas (SMA), ketika akan naik dari kelas X ke kelas XI, setiap siswa akan mengalami apa yang disebut "penjurusan." Penjurusan adalah di mana setiap peserta didik akan diperiksa nilai rapornya oleh wali kelas, dan siswa yang nilai Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologinya di atas 80 akan dijuruskan ke Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sementara siswa yang nilai Geografi, Sosiologi, Ekonomi, dan Sejarahnya di atas 80 akan dijuruskan ke Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Saat itu, tidak ada anak SMA yang kritis bertanya, kenapa mereka harus dijuruskan? Kenapa mereka tidak tetap mempelajari semua subyek itu hingga lulus SMA? Kenapa IPA dan IPS harus dipisahkan?

Akan tetapi beberapa orang mencoba meraba-raba dan mencari diferensiasinya sendiri. Mata pelajaran yang diajarkan di IPA adalah mata pelajaran yang sifatnya pasti, sebuah ilmu yang mempercayai apa yang diamati adalah kenyataan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, semasa di jurusan IPA, saya dan teman-teman sering melakukan uji coba, baik itu menguji reaksi kimia, mengiris batang tumbuhan, atau di ekstrakurikuler belajar membuat roket. Setelah uji coba dilakukan, kami cukup menulis fenomena-fenomena apa saja yang terjadi selama proses uji coba, juga bagaimana hasilnya, tanpa menggunakan penafsiran dari para pelaku uji coba, karena itu dianggap akan menghancurkan obyektifitasnya. Mata pelajaran IPA, setidaknya di tingkat SMA, percaya bahwa sesuatu dapat dikatakan benar setelah melalui proses observasi oleh kemampuan inderawi (diraba, dibau, dilihat, didengar, atau dirasa), diolah dengan formula atau hukum-hukum yang dapat diterapkan pada keadaan berlainan namun berpola sama.

Berbeda dengan IPA, IPS - seperti namanya, mengamati fenomena sosial. Fenomena sosial yang diamati inipun tidak bisa diolah sebagaimana anak-anak IPA mengamati perilaku tumbuhan atau hewan, sebab yang diamati adalah manusia, sebuah organisme yang kompleks. Ketika mengamati interaksi antara dua orang, hal-hal seringkali tidak sesuai dengan apa yang tampak, dan tidak jarang esensinya terletak pada apa yang tidak kelihatan. Oleh karenanya, anak-anak IPS harus mengerahkan lebih dari sekadar kemampuan inderawinya, yaitu kemampuan menafsirkan gejala sosial.

Tidak hanya di tingkat SMA, pada masa kuliahpun, setelah banting setir dari IPA ke jurusan Ilmu Hukum, saya dihadapkan kembali dengan diferensiasi antara gejala alam dan manusia pada topik seputar socio-legal discourse. Menurut penganut aliran socio-legal, manusia tidak bisa disamakan dengan benda-benda alam, karena sebagian besar benda-benda alam sifatnya hampir tidak berubah dalam rentang waktu, dan penuh keniscayaan. Sementara manusia adalah pencipta makna, ia lahir sebagai makhluk yang berkehendak bebas, bermartabat, tidak dibatasi oleh prinsip-prinsip di luar dirinya seperti benda alam lain (Irianto, 2009).

Saya sempat percaya, dengan segala pengetahuan yang didapat selama menduduki bangku SMA serta buku-buku yang saya baca, mungkin memang apa yang materiil dan immateriil harus dipisahkan. Akan tetapi, kemudian saya dihadapkan peristiwa-peristiwa yang mengguncang kepercayaan saya lagi mengenai pemisahan keduanya, pemisahan antara apa yang fisik dan non-fisik.

Saya tidak tumbuh di keluarga yang kulturnya senang mengkaji agama dalam-dalam. Meminjam istilah dari ajaran Siti Jenar, saya hanya mengerti agama pada taraf syari'at, belum sampai hakikat, apalagi makrifat. Bagi saya dulu, barangsiapa yang salat, baca Quran, zakat, sedekah, dan syukur-syukur bisa umroh atau naik haji, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi keislamannya. Namun kemudian ada teman yang lulusan pesantren berkata pada saya, bahwa ibadah terus tapi menutup diri dari dunia luar (dunia non-spiritual?) juga tidak bagus.

Kemudian sekitar tahun 2012, saya pernah "terjerumus" ke dalam permasalahan Epicurean. Saya kecanduan baca buku, dan karena kecanduan, saya membaca buku dalam pola yang acak. Hari ini saya membaca tulisan Trotskyist dan buku-buku teologi pembebasan, besoknya saya membaca Adam Smith. Lusa saya membaca karya Aristoteles, hari lainnya saya membaca Nussbaum. Hari ini saya membaca karya sastra, besoknya saya membaca Teenlit, misalnya. Orang berpikir, "Oh ya, bagus... Berarti ingin melihat segala hal dalam banyak aspek." Tidak. Saya membaca buku karena saya haus informasi, dan kebutuhan memenuhi informasi itu bukan karena ada suatu hal mendesak sehingga saya memerlukan informasi itu, akan tetapi karena ada rasa kepuasan dan kebahagiaan yang tidak tergambarkan setelah saya memperoleh sebuah informasi baru. Inilah kenapa saya menyebut diri yang dulu sebagai Epicurean: bayangkan seorang hedonis, cukup diganti hobi dugem dan mabuknya dengan baca buku. Lagi, memodifikasi ungkapan teman saya yang lulusan pesantren, berpikir terus tapi tidak pernah ada aktualisasinya juga tidak bagus.

Lalu ada aliran sekularisme. Sebuah aliran yang pada dasarnya berakar pada kekecewaan terhadap gereja pada abad pertengahan (zaman kegelapan), sehingga menganggap urusan pemerintahan lebih baik dipisahkan dari agama - atau agama tidak boleh turut campur dalam urusan pemerintahan. Pada prinsipnya, sekularisme memisahkan spiritualisme, yakni hubungan manusia dengan Tuhannya yang tidak kelihatan (atau sudah tidak kelihatan, atau immateriil), dengan hubungan manusia dan dunianya yang materiil (karena terinderawi). Akan tetapi potret kesuksesan Iran di bawah pemerintahan Ahmadinejad pada masa itu menunjukkan bagaimana agama dan politik bisa akur. Justru, karena agama hadir dalam pemerintahan, karena Ahmadinejad taat menjalani perintah-perintah Tuhan, pemerintahannya dapat berjalan relatif sukses. Saya semakin goyah.

Terakhir adalah ketika saya mulai rajin baca-baca tulisan mengenai kejiwaan karena motivasi pribadi yang mendesak, saya "terdampar" pada tulisan-tulisan mengenai gangguan kejiwaan. Dikatakan bahwa faktor yang berkontribusi pada gangguan kejiwaan antara lain adalah trauma psikologis yang diderita saat kecil, perilaku soliter, pengabaian oleh orang-orang terdekat, dan peristiwa kehilangan sosok atau hal terpenting dalam hidup. Sebuah akibat immateriil yang terjadi karena sebab immateriil, cukup masuk akal. Tapi kemudian, ternyata ada faktor biologis, atau faktor fisik, yang dapat menyebabkan gangguan kejiwaan juga. Di antaranya faktor genetis, penyalahgunaan obat-obatan, gizi buruk, dan gangguan pada otak yang disebabkan oleh gegar atau infeksi bakteri. Lebih lanjut, James Fallon, seorang neuroscientist yang mendapati bahwa dirinya adalah seorang psikopat saat proses risetnya, menyatakan seorang psikopat memiliki anatomi otak yang berbeda dengan otak orang normal. Ketika dilakukan pemindaian, area frontal and temporal lobes yang berhubungan dengan empati, moralitas, dan kendali-diri tampak "kosong." Jadi rupanya, pikiran manusia yang nyatanya sebuah kondisi non-fisik dapat dipengaruhi oleh faktor fisik. 

Bagaimana mungkin? Jangan-jangan pikiran manusia sebenarnya memang punya tempat di dunia fisik? Tapi, bagaimana cara menyatukan dua entitas berbeda, fisik dan non-fisik, sebagaimana dimaksud?

Menurut Broad (1925), fenomena pikiran merupakan fenomena kesadaran. Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk menyeleksi stimulus, untuk menyebarkan informasi, untuk mengawasi keadaan internal (dalam diri), atau untuk mengendalikan perilaku. Misalnya ketika anak kecil baru mulai belajar membaca. Tahap awal ia mengenal abjad, kesadarannya adalah ketika ia mendeteksi setiap huruf. Ketika kemampuan mengenali huruf-huruf menjadi cenderung lebih otomatis, kesadaran anak tersebut naik ke tingkat di mana ia mendeteksi kemampuan bahasa yang lebih umum, seperti kosakata, nostalgia dengan pengalaman membaca yang sebelumnya, dan kebiasaan melihat struktur sintaksis yang kompleks. Semakin ia lebih sering membaca, 4 (empat) hal tersebut juga menjadi cenderung lebih otomatis, dan kesadarannya naik ke tingkatan di mana ia mulai distimulus oleh dasar-dasar pengetahuan dari buku yang dibacanya. Pada anak-anak, dunia fisik sebagai stimulus yang telah diseleksi berperan membangun kesadarannya. Bagaimana dengan orang dewasa?

Pada orang dewasa, kesadaran juga bersinggungan dengan dunia fisik. Tidak ada seorangpun yang terlibat dalam sebuah diskusi tanpa alasan, bahkan jika diskusi itu berbentuk celotehan. Seseorang terlibat interaksi dengan orang lain karena adanya kehendak, dan kehendaknya memandu perilaku fisiknya. Kesadaran lawan bicaranya akan kehendak orang itu juga membantu pemahamannya mengenai maksud-maksud yang disampaikan (Grice, 1969). Jika kita adalah orang ketiga yang menimbrung dalam tengah-tengah pembicaraan dua orang tersebut, kita hanya dapat menangkap perilaku fisiknya dan tidak mengerti kehendak macam apa yang mengawali interaksi tersebut, kita bisa menjadi Jaka Sembung. Oleh karenanya, baik pengetahuan atas kehendak lawan bicara dan perilaku fisiknya sama-sama penting. Demikian juga dalam sebuah uji coba di mana satu orang berperan sebagai penguji, dan orang yang lain sebagai "kelinci percobaan." Interaksi yang dilakukan oleh penguji terhadap kelincinya berupa perintah untuk melakukan sesuatu, sehingga mengakibatkan tindakan-tindakan fisik, dan selanjutnya orang yang diujicoba tersebut merespon interaksi dengan mengkoordinasikan tindakan kepada pengujinya. Adapun kesadaran konsensual antara keduanya adalah dukungan terhadap keberhasilan eksekusi uji coba.

Pada titik ini, kita menyadari bahwa pengalaman fisik dengan demikian, menempati posisi utama terhadap pikiran seseorang, bahwa hal fisik menempati posisi utama terhadap hal-hal non-fisik. Apabila kita memiliki prinsip-prinsip atau idealisme, kita tidak boleh melupakan aspek fisik yang tentunya bersifat codeterminant bagi hasil dari implementasi prinsip atau idealisme tersebut. 

Sehingga kesimpulannya, apabila kita rajin beribadah, kita tidak boleh melupakan aspek non-spiritual yang barangkali bersifat codeterminant bagi pencapaian keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Tuhan. Apabila kita rajin membaca, kita tidak boleh melupakan aspek aktualisasi yang bersifat codeterminant bagi pencapaian keutuhan informasi yang koheren. Apabila kita ingin sok-ketimuran, kita tidak boleh melupakan aspek materialisme yang bersifat codeterminant bagi kelangsungan idealisme kita.***

(Tindakan fisikpun juga perlu dipikirkan. Simak Referensi Tindakan)

Bola dan Kesadaran yang Tertunda

Dante (sumber gambar: stanjames.com)
Dante adalah pemain sepak bola asal Brazil. Masa kecilnya dihabiskan bermain sepak bola di halaman parkir sebuah supermarket, selagi ibunya bekerja sebagai kasir. Saat ini Dante bergabung bersama tim Vfl Wolfsburg dengan total net worth senilai $43.745.000

Ada banyak jenis olah raga. Salah satu yang terkenal dan paling banyak peminatnya adalah sepak bola. Banyak yang bilang, sepak bola adalah permainan rakyat. Pernyataan ini benar, dan saya sangat sepakat. 

Terlepas dari begitu populernya permainan ini, sulit bagi saya untuk menyukai sepak bola. Saya pernah beberapa kali ikut nonton bareng (nobar) atau sekadar nimbrung abang atau teman-teman saya nonton bola, akan tetapi dalam satu pertandingan, saya selalu berakhir membela dua tim sekaligus. Misalnya, di awal pertandingan antara Manchester United (MU) vs Arsenal, saya membela MU, lalu ketika MU berhasil mencetak gol, saya berganti membela Arsenal. Nanti ketika Arsenal balas mencetak gol, saya berganti membela MU lagi, dan begitu terus-menerus hingga pertandingan usai. Saat masih puber, saya pernah rajin nonton bola karena suka sama salah satu pemain yang ganteng ; lagi-lagi alasannya bukan karena saya suka sama bola, tapi karena dulu saya genit. 

Intinya adalah :sangat sulit bagi saya untuk setia atau bahkan fanatik pada satu tim saja.

Kenapa saya dan (mungkin) beberapa orang-orang tidak suka sepak bola? Banyak alasannya. Stand-up komedian Russell Peters bilang dia tidak suka sepak bola, karena menurutnya sepak bola itu konyol, terutama World Cup. Katanya, bagaimana bisa world cup disebut world cup padahal tidak semua negara-negara di dunia bergabung dalam kompetisi bergengsi tersebut? 

Kalau saya... Setiap ada teman yang tanya kenapa saya tidak suka sepak bola, dengan enteng saya jawab, "Sepak bola itu flamboyan banget. Kebanyakan acting." dan segera saya men-switch percakapan tentang permainan hoki yang menurut saya cenderung lebih jujur dengan segala kebar-barannya. Biasanya teman saya yang menyukai sepak bola berusaha mengembalikan topik kepada sepak bola lagi, dan menjadi defensif seolah-olah berusaha menyadarkan kalau sepak bola tidak seburuk yang saya pikirkan. Ah, alangkah lebih mudah jika saja saya menjawab bahwa saya tidak suka sepak bola karena lebih suka sama bulu mata palsu, pasti langsung habis perkara. Sayangnya, saya bukan kolektor bulu mata palsu.

Tapi sekarang saya akan menjelaskan alasan sebenarnya, kenapa saya tidak suka dengan sepak bola. Poin-poin yang akan dijabarkan di sini mungkin akan terdengar sangat menyebalkan bagi yang menyukai sepak bola. Saya tidak khawatir dengan itu. Karena saya memang hadir untuk membuat orang kesal...

Sepak bola itu lucu karena...

1. Utopia yang ditawarkan
Di bagian lead postingan ini saya sudah menjelaskan kisah singkat perjalanan hidup pemain sepak bola asal Brazil, Dante. Dante mungkin adalah satu dari beberapa pemain sepak bola yang berasal dari keluarga yang kurang berada, akan tetapi sekarang dia hidup sebagai jutawan. Saya sangat yakin, beberapa dari penggemar bola (dan jika menurut Anda ini salah, maka mungkin bukan Anda, mungkin orang di belahan dunia lain) menyukai bola karena utopia ini. Bisa kaya raya dalam sekejap, ini mengingatkan kita pada kisah dongeng Cinderella. Utopia ini memberikan ilusi kepada supporter bola, khususnya kaum proletar (atau anak dari kaum proletar), bahwa dalam sepak bola, mobilitas vertikal itu bukan sesuatu yang mustahil, bahkan cenderung mudah. Padahal sebenarnya...

2. Pemain bola bukan yang terkaya dalam penyelenggaraan permainan ini
Saya pernah dengar seorang anti-kapitalis yang menyukai sepak bola. Menurut dia sepak bola nggak kapitalis-kapitalis amat, karena hanya dalam sepak bola-lah, seorang pemain (red: pekerja) bisa menentukan nasibnya sendiri, bisa pindah-pindah klub, dan dibayar mahal atas prestasi dan kinerjanya. Oke.

Mungkin ada klub yang mampu membeli Cristiano Ronaldo senilai $80 juta, Ibrahimovic senilai $40,4 juta, juga Gareth Bale, Neymar, Wayne Rooney, dan lain-lain dengan jumlah yang fantastis. Tapi sebenarnya perputaran dan akumulasi uang dalam permainan ini tetap berlangsung sangat deras, melalui penjualan kaos bola, bendera, sepatu, DVD, CD, dan souvenir-souvenir lain. Apakah kalian masih akan menutup mata begitu tahu souvenir-souvenir ini dibuat oleh...

3. Anak-anak kecil yang dipekerjakan di pabrik?
Ada begitu banyak anak-anak kecil yang bekerja di pabrik selama 12-16 jam sehari, dalam kondisi yang menyedihkan. Anak-anak yang dieksploitasi ini menjahit baju, bola, dan bendera, yang kemudian dibeli dan digunakan oleh anak-anak orang kaya di negara maju sebagai kebutuhan rekreasi. 

Hal yang sama juga terjadi pada beberapa pemain. Saya jadi ingat, seorang professor di Leuven University menggugat beberapa klub dan agen sepak bola karena menyelenggarakan praktik perbudakan dalam hal penjualan pemain. Beberapa pemain asal Yugoslavia dan Kroasia dibeli Belgia dengan nilai pembelian semurah-murahnya kemudian dijual kembali dengan nilai semahal-mahalnya. Sementara itu ketika diminta klarifikasi, agen sepak bola di Belgia justru menyatakan yang kurang lebih artinya begini, "Para agen hanya membantu pemain mencari pekerjaan dan mendapat komisi." Professor Leuven University tetap bersikeras bahwa klub dan agen sepak bola telah memperlakukan manusia dan pekerja layaknya merchandise (red: barang atau komoditi).

Jadi, ada pemain yang dieksploitasi, ada kaum proletar yang dieksploitasi... Ironisnya...

4. Kaum proletar tetap bela-belain beli tiket untuk nonton pertandingan langsung
Berapa harga tiket nonton pertandingan bola langsung, di Inggris, misalnya? Tidak ada harga pasti karena harga tergantung pada seberapa megah event-nya. Tapi ada satu masa ketika harga satu tiket pertandingan sepak bola sepadan dengan uang makan seorang kelas pekerja selama satu minggu, dan kelas pekerja tetap membelinya.

Kenapa? Saya juga bertanya-tanya sendiri, bagaimana bisa, setelah mereka dieksploitasi, mereka tetap bisa menggemari sepak bola yang jelas-jelas jadi sumber persoalan kemelaratan yang mereka alami? Saya pikir ini karena...

5. Stadionnya yang mewah
Sama dengan poin 1, lagi-lagi ini persoalan ilusi. Anda tidak bisa jadi bintang sepak bola dan jutawan? It's alright, no worries. Setidaknya, Anda bisa duduk di dalam sebuah bangunan mewah selama satu jam lebih hanya dengan membayar tiket. Kalau Anda bukan tipe supporter yang seperti ini dan Anda menganggap tidak semua stadion bagus, mungkin Anda termasuk supporter yang ingin menonton sepak bola secara langsung karena...

6. Euforia kemenangan (atau kekecewaan mendalam atas kekalahan)nya
Menonton pertandingan sepak bola di layar televisi dengan menonton langsung di stadion tentu akan terasa berbeda. Selain karena Anda bisa melihat tim favorit langsung di depan mata, Anda juga bisa bertemu dengan ribuan atau bahkan lebih supporter yang membela tim favorit Anda. Ada juga yang suka menonton langsung karena bisa curi-curi kesempatan tersorot kamera yang tayangannya disiarkan di seluruh dunia, asalkan sudah berbakat dalam hal cari perhatian (caper). 

Bisakah Anda bayangkan betapa serunya ketika tim favorit mencetak gol, dan Anda merasakan bangku stadion bergetar hebat karena seluruh supporter berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil menyanyikan yel-yel yang meriuhkan seisi stadion? Begitulah euforia yang dirasakan. Seolah Anda mengenal seluruh supporter hanya karena mereka membela tim yang sama (tanpa perlu melalui proses perkenalan yang wajar). 

Sayangnya, di mana ada euforia, pastilah ada kekecewaan mendalam. Hal ini yang biasanya memicu pertengkaran antar-supporter klub yang terjebak dalam konstruksi keliru. Khususnya kaum proletar, yang tentunya menempati posisi mayoritas supporter sepak bola, karena mereka jadi lupa bahwa mereka berasal dari kelas yang sama. Mereka lupa akan musuhnya yang sebenarnya dan justru sibuk bertengkar dan menganiaya satu sama lain hanya karena pertandingan sepak bola yang berlangsung 90 menit (catat: bahkan 90 menit tidak mencapai 50% dari kerugian waktu ketika mereka dieksploitasi dalam pekerjaan). 

Konstruksi keliru ini bermula dari...

7. Seragam pemain
Terlepas dari seberapa besar gaji seorang pemain sepak bola, mereka semua adalah sama-sama kelas pekerja. Akan tetapi mereka dipakaikan seragam berbeda-beda untuk dipecah-pecah seolah kedua tim memiliki latar belakang berbeda. Karena pemain dipecah-pecah, maka supporter-pun terdorong untuk membeda-bedakan dirinya dengan supporter tim lawan. Lebih parahnya, perbedaan ini rawan ditunggangi oleh kepentingan lain seperti rasisme atau chauvinisme. Tidak jarang pula, konflik dalam sepak bola menyeretnya ke dalam konflik antar etnis dan budaya.

Tentu kita tidak lupa pertandingan antara Serbia vs Albania silam, ketika tiba-tiba seorang supporter Albania mencabut bendera Serbia dan memicu tawuran pemain vs pemain, supporter vs pemain, dan supporter vs supporter.

Selain alasan bahwa sepak bola penyebab kelahiran konstruksi keliru, sepak bola juga menyebarkan pesan yang kontra-produktif terhadap kesadaran kelas pekerja, yaitu...

8. Pemberian kartu kuning dan kartu merah
Jika dalam kehidupan sehari-hari ada aparat yang harus dipatuhi (entah aparat tersebut perpanjangan tangan dari pemerintah atau centeng pabrik), maka dalam sepak bola juga ada wasit dan hakim garis. Wasit ini harus dipatuhi dan menjamin permainan berjalan sesuai peraturan. Setiap ada pemain yang melanggar peraturan, ia akan diberikan kartu kuning (peringatan) yang jika diibaratkan dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan istilah teguran ; dan jika sudah diberi peringatan masih melanggar maka diberikan kartu merah (dikeluarkan dari lapangan) atau yang jika diibaratkan dalam kehidupan sehari-hari bisa digambarkan sebagai diusirnya seseorang dari keanggotaannya dalam masyarakat

Berkali-kali sudah ditekankan bahwa pemain sepak bola adalah kelas pekerja juga, maka pesan dalam pemberian kartu kuning dan kartu merah ini adalah: pekerja yang tidak taat aturan akan diberi teguran, atau lebih parah, diusir dari komunitasnya. Padahal siapa yang membuat aturan sepak bola? Saya rasa...

9. Peraturan sepak bola dibuat oleh orang yang tidak pernah menendang bola sekalipun seumur hidupnya (atau setidaknya, pemain amatir)
Bisa jadi saya kurang tekun melakukan riset, tapi saya tidak menemukan siapa yang pertama kali membuat peraturan permainan sepak bola. Yang saya tahu, peraturan ini terus berkembang karena ada masa ketika sepak bola begitu bar-bar (horeee!) sehingga di-banned di mana-mana, maka harus ada peraturan yang lebih ketat.

Apakah Fédération Internationale de Football Association (FIFA) yang berwenang membuat peraturan? Entahlah. Omong-omong, Presiden FIFA itu mantan atlet sepak bola profesional apa bukan?

Dalam perspektif non-pemain dan non-supporter, tentu jika saya berada dalam posisi pembuat peraturan, saya akan membuat peraturan sebanyak mungkin. Sebab yang penting bukanlah menang dan kalah, akan tetapi  bagaimana sepak bola tetap seru supaya tiket selalu laku terjual dan souvenir tetap dibeli. It's just me, thinking like a competitive b*tch...

Demikian 9 (sembilan) alasan saya menolak menyukai sepak bola. Apakah ini postingan bercandaan atau serius? Kok sok kiri banget?***

Berpikir Matang-Matang Nggak Perlu Kelamaan

Ada banyak jalan menuju filsafat. Ahli Fisika Alhazen, yang pertama kali menemukan kamera lubang jarum (pinhole camera) sebagai cikal-bakal dari kamera yang kita gunakan untuk selfie yang sia-sia akhir-akhir ini, bertemu filsafat ketika ia membuat Book of Optics saat menjadi tahanan rumah. Saya, karena bukan fisikawan, bertemu filsafat karena satu alasan belaka: pikiran manusia.

Pikiran manusia adalah hal yang familiar sekaligus misterius bagi kita. Saya diingatkan Mama, beliau bilang sebelum saya masuk Taman Kanak-Kanak, ketika ditanya apakah cita-cita saya nanti, saya akan menjawab: "Jadi penganten." Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengatakan bagaimana dan kenapa Feminis Radikal Mentok akan mencap betapa rendahan cita-cita saya dulu, tapi karena akhir-akhir ini saya sadar... Cita-cita yang sekian lama terlupakan itu adalah tanda bahwa ternyata sedari dulu saya selalu tertarik mengamati hubungan yang terjadi antara orang dewasa, baik itu persahabatan ataupun percintaan. Sangat menarik melihat bagaimana hari ini, detik ini, begitu mudahnya dua orang dewasa mengerti satu sama lain, dan keesokan harinya mereka bertengkar hanya untuk mengetahui kalau ternyata mereka tidak pernah memahami satu sama lain. Hal ini yang membuat saya bertanya-tanya: apakah kita pernah benar-benar tahu isi pikiran orang lain? Atau jangan-jangan yang memiliki pikiran saja juga tidak paham isi pikirannya sendiri, khususnya ketika omongannya mulai melantur?

Pikiran manusia kadang seperti buku tanpa daftar isi dan nomor halaman. Tapi yang paling penting untuk memahami "buku" itu bukanlah dengan membaca secara urut dan sampai habis, atau baca dari belakang ke depan (yang konon tips paling manjur untuk cepat mengerti jenis buku bisnis), akan tetapi kemampuan kita dalam mengidentifikasi bahasa-bahasa teknis yang digunakan di "buku" tersebut. Bahasa teknis ini yang membedakannya dengan "buku-buku" lain.  Hal lainnya yang tidak kalah penting adalah menangkap gagasan yang diekspresikan melalui bahasa teknis tersebut dan mencaritahu apakah gagasan tersebut dapat memperdalam pemahaman kita akan "buku" yang bersangkutan.

Namun ada penekanan lebih lanjut: tanda bahwa kita sudah cukup paham dengan pikiran manusia bukanlah sekadar ketika kita mampu menangkap gagasannya, akan tetapi bagaimana kita menangkapnya tanpa sadar kalau kita sedang menangkapnya.

Kata Weiser, teknologi paling canggih adalah teknologi yang tidak kelihatan. Ia meleburkan diri ke dalam serat-serat kehidupan sehari-hari sampai tidak terasa kehadirannya. Anggap saja pikiran manusia, yang mungkin bisa disebut teknologi pertama di dunia: kemampuan kita untuk menangkap representasi simbolik dari bahasa-bahasa yang dituturkan untuk kemudian disimpan dalam kapasitas memori otak kita dengan segala keterbatasannya. Sebut saja rambu-rambu huruf S yang dicoret, kita tahu itu bermakna "Dilarang Stop" tanpa harus ada kalimat penjelas di bawahnya. Artinya sudah jelas: "Dilarang Stop", bukan dilarang siul, dilarang sedih, atau dilarang selfie. Pikiran manusia pun juga demikian, maknanya bisa bermacam-macam, tapi yang paling memahaminya hanya akan menangkapnya dengan satu makna (dan makna itu ditemukan tanpa harus berpikir ngoyo), yang disepakati pula oleh si pemilik pikiran. Detik ketika kita memahami pikiran manusia adalah ketika bahasa yang dituturkannya hanya menjadi latar belakang yang tidak memerlukan perhatian aktif, akan tetapi informasi yang diberikan langsung siap pakai.

Meskipun demikian, memahami orang lain sepenuhnya bukan berarti wajib bebas konflik. Sebagai contoh saja, dua orang yang sedang berargumen: yang satu merasa lebih baik dari yang lain, yang satu disepelekan oleh yang lain ; inti dari peristiwa tersebut bukanlah konflik yang terjadi antara keduanya, melainkan bahwa terlepas dari perbedaan yang ada, mereka membicarakan topik yang sama. Mereka menggunakan penafsiran yang sama atas satu atau beberapa bahasa teknis ; bahwa setiap hal pasti memiliki kualitas, atau terhubung dengan hal lain melalui relasi-relasi.

Jadi, kalau ingin memahami pikiran diri sendiri, atau orang lain, kenapa harus bersusah-payah mengerti dan meredam konflik? Cepat atau lambat, dengan atau tanpa konflik, kita akan mampu membiasakan diri. Toh, suatu hari nanti, ketika kita berhasil memahami, kita akan paham bahwa memahami itu adalah hal yang biasa saja dan sekadar background.

Berbohong

"Topeng" (sumber: www.unitedmask.com)

"Seorang pembohong harus memiliki ingatan yang kuat." - Quintilian

Setiap dari kita pasti hidup bersama satu atau lebih pembohong di sekitar kita. Barangkali musuh kita adalah pembohong, barangkali orang yang kita sayangi adalah pembohong, barangkali diri kita sendiri adalah seorang pembohong. 

Mayoritas dari manusia berbohong dari waktu ke waktu. Fenomena ini memunculkan rentetan pertanyaan seputar kebohongan: seberapa sering orang berbohong? Tentang apa atau tentang siapa mereka biasanya berbohong? Kepada siapa biasanya mereka berbohong dan dalam konteks apa? Apa alasan mereka berbohong?

Kadang berbohong dirasa penting untuk dilakukan. Ada yang berbohong demi menghindari tanggung jawab, ada yang berbohong agar kepentingannya terpenuhi, ada yang berbohong untuk guyonan, ada yang berbohong agar dirinya tampak mulia di mata orang lain, ada yang berbohong untuk menipu diri sendiri, ada yang berbohong untuk memanipulasi orang lain, tapi ada juga yang berbohong untuk membantu orang lain. Singkat kata, kebiasaan berbohong lahir dari perspektif tentang identitas, presentasi diri, manajemen kesan, bahasa, dan psikologi sosial.

Topik-topik seputar kebohongan muncul hampir di setiap media yang kita temui. Sebut saja, di majalah yang kita baca, di koran harian, buku teks, juga dalam ayat-ayat kitab suci. Banyak tradisi religius dan filosofis yang sejak lama menyatakan bahwa berbohong, bagaimanapun kondisinya, tetap tidak dapat dibenarkan.

Immanuel Kant, misalnya. Beliau pernah memberi contoh kasuistis:
Seorang pembantu, di bawah perintah, berbohong pada tamu bahwa tuannya sedang tidak di rumah. Tuannya, sementara itu, menyelinap ke luar rumah dan melakukan kejahatan, yang seharusnya dapat dicegah jika saja ada aparat yang dikirim untuk menangkapnya.
Siapa yang bersalah dalam kasus tersebut? Menurut Kant, pastilah pembantunya juga turut bersalah, karena ia melanggar kewajibannya sendiri dengan berkata bohong. Konsekuensi dari kebohongannya adalah beban yang harus ditanggung hati nuraninya sendiri.

Melalui pernyataan tersebut, tampaknya Kant mendukung dua keharusan ini: Pertama, seseorang tidak boleh berbohong dalam keadaan atau tujuan apapun. Kedua, jika seseorang berbohong, maka ia bertanggungjawab atas semua konsekuensi yang terjadi, bahkan jika konsekuensi tersebut benar-benar di luar dugaannya.

Dampak-dampak yang muncul dari kebohongan menjadikan kebohongan sebagai suatu penyakit berbahaya. Kebohongan digambarkan sebagai ancaman serat-serat moral masyarakat (Bok, 1978). Begitu juga agama, agama memandang kebohongan sebagai kebiasaan buruk yang serius.

Berbohong merusak kepercayaan dan menabur benih-benih kecurigaan, tidak hanya pada diri korban namun juga pada diri pembohong itu sendiri, karena ia merasa orang lain juga akan berbohong seperti yang ia lakukan.

Bagaimanapun juga, beberapa orang tampaknya masih tetap mengabaikan perintah agama dan ajakan-ajakan moral untuk tidak berbohong. Kadang berbohong pun menjadi bagian integral dari sebuah pekerjaan: seperti seorang Pengacara yang membangun teori mengada-ada untuk membela kliennya yang jelas-jelas bersalah, atau wartawan yang membumbui hasil liputan agar beritanya lebih sensasional.

Adakah Kebohongan yang Dapat dibenarkan?

Kant memberitahu kita untuk tetap hidup ideal terlepas dari apa yang orang lain lakukan. Namun sebenarnya, adakah masa ketika kebohongan itu dapat dimaklumi? Pada tahun 1797, Constant pernah mengatakan bahwa kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya akan mustahil jika ditegakkan secara tunggal dan tanpa syarat.

Kadang-kadang kita dihadapkan situasi antara harus berkata jujur atau bohong, dan kita berakhir dengan pilihan untuk berkata bohong, karena tampaknya berbohong akan memberi dampak lebih positif dan mengurangi konsekuensi negatif. Ada penderita kanker yang berbohong agar orang-orang yang dikasihinya tidak merasa khawatir. Ada yang berbohong ketika ditanyai sebuah informasi, karena kemungkinan informasi itu akan disalahgunakan untuk tindakan kriminal oleh mereka yang memperolehnya. Ada mata-mata yang menyamar demi melindungi Negaranya. Ada pejabat yang berbohong soal kondisi perekonomian untuk menekan inflasi.

Berbohong rupanya tidak selamanya dianggap sebagai penyakit. Dalam suatu waktu, berbohong merupakan "skill sosial". Hal ini dapat terjadi ketika kita kehabisan alternatif yang lebih jujur dalam menghadapi sebuah persoalan, terlebih jika mayoritas akan membela kebohongan kita dan mengatakan bahwa itulah hal yang paling benar untuk dilakukan.

Lalu bagaimana seharusnya wujud kebenaran itu? Apakah kebenaran selalu satu nafas dengan kejujuran? Ataukah kebenaran itu adalah suatu hal yang bermanfaat bagi banyak orang, sekalipun itu adalah kebohongan? Atau justru sangat praktis, seperti suatu hal yang mendatangkan kesenangan sesaat? Jawaban atas ketiganya bergantung dari bagaimana akal sehat kita berbicara pada kita.

Kita akan mengetahui kapankah kebohongan itu tepat atau tidak, jika saja kita memiliki definisi yang kuat mengenai kebenaran: kejujuran, kemanfaatan atau kesenangan? Jangan sampai kita menuntut orang lain untuk selalu jujur, bagaimanapun kondisinya, tapi kita buta terhadap definisi sesungguhnya mengenai kebenaran.

Kalau saya... Saya tidak akan mengatakan apakah ada satu masa ketika kebohongan itu dapat dibenarkan atau tidak. Yang pasti, saya percaya Tuhan Maha Sempurna itu ada, dan Dia selalu memiliki alasan moral yang cukup untuk memungkinkan kejahatan mengerikan apapun terjadi.***

Bebas Berpikir dan Merespon Pemikiran

Pada suatu hari, terdapat seorang individualis. Dia percaya setiap orang berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan pihak lain. Maka kemudian, individualis ini dipertemukan dengan seorang intelektuil komunis. Penuh sungkan, dia bertanya padanya, “Bagaimana kamu bisa tetap berpikir di tengah himpitan Negara yang terus-terusan mencoba mendiktemu?” Jawaban intelektuil itu sungguh sesuai dugaan, “Kamu tidak bisa menyamakan komunisme versi Lenin dengan totalitarianisme versi Stalin. Stalin─si ‘Komunis Jahat’─membajak pergerakan Lenin─si ‘Komunis Baik’─dan merusak serangkaian upaya yang dilakukan Lenin untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan sosial.” Kalau saja individualis itu menerima argumen bahwa dikte tidak selalu berakibat negatif, bisa saja ia diam dan merasa tidak perlu lagi menimpali.
Tapi hal itu tidak pernah terjadi, dan sang individualis tetap bergelut dengan pemikiran-pemikiran individualisme teoretikus pujaannya. Baginya ada sesuatu yang terasa mengganjal dari pendapat sang intelektuil, tak lama pencariannya bermuara pada suatu kesimpulan sementara: panutan dan ideologi, bagaimanapun wujudnya, tidak mungkin ditemukan melalui bentuk yang abstrak; sebab keduanya adalah respon terhadap struktur dunia yang dirasakan. Semakin sering ia bertemu dengan orang-orang yang berbeda aliran pemikiran, semakin ia menyadari betapa pentingnya merasakan secara nyata apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkinkah ada “Komunis Baik” jika kemajuan pesat Negara-Negara Eropa Timur di bidang perekonomian terjadi justru mulai tahun 2000, tepat sembilan tahun setelah Negara-Negara tersebut memisahkan diri dari ideologi induknya? Penuh keyakinan teguh, ia berpendapat, “Jika memang komunis ada yang baik, maka kebaikan yang manakah yang pernah kamu rasakan? Jika agamamu yang paling benar, dan karena kebenaran selalu obyektif, maka bagaimanakah umat-umat agama lain merespon kebenaran di dalam agamamu itu? Jika pemerintahmu bebas korupsi dan pengaruh militer, maka sejauh mana kamu dapat membuktikan mereka tidak terikat jaringan hingga derajat ketiga dengan kerabat koruptor dan panglima tentara?” dan penuh rentetan “jika…maka…” lainnya melintasi otaknya. Sebuah ide harus disimulasikan ke dalam wujud konkret, dan diamati tiap-tiap sisinya yang saling bertentangan. Selang beberapa lama, bagi individualis itu, mempelajari hal yang bertentangan dengan apa yang ia yakini tidak lagi terasa menjengkelkan.  Baik kalimat “Ya, kamu benar, dan aku salah” ataupun “Aku benar, dan kamu salah” tidak pernah meluncur untuk secepatnya mengakhiri pergumulan pemikiran yang begitu memenatkan. Benturan pemikiran naik tingkatannya menjadi diskusi, dan dari diskusi selalu ada nilai-nilai baru yang amat berguna bagi kehidupan.
Hari ini, dia masih terus menggali nilai, menyeleksi manakah yang paling adaptif. Dia bukan lagi seorang individualis, dia tak menganut ideologi, dia bukanlah siapa-siapa. Dia mempelajari apapun, sebab pikirannya tak pernah berhenti di satu titik. Sebab pikirannya penuh gejolak seperti apa yang ia rasakan dan sedinamis respon masyarakat terhadap dunia.

7 Alasan Kenapa Laki-Laki Kelihatan Ganteng

Belakangan ini, saya sering sekali menghadapi orang-orang yang mudah sekali menganggap perempuan layaknya obyek “seni” dan ditimbang-timbang sisi estetikanya. Baik itu warna kulitnya, bentuk badannya, model alisnya, atau juga cara makannya (contoh: teman saya ada yang menganggap perempuan yang makannya rakus itu kelihatan semakin cantik). Hal ini ternyata tidak hanya menimpa para laki-laki yang belum tercerahkan akan cara-cara memperlakukan perempuan sebagai subyek, tapi juga menimpa kakak tingkat saya Dhani yang notabene sudah cukup familiar dengan gagasan-gagasan feminisme. Menurut dia, dia mudah aroused terhadap perempuan kurus dan tepos atas bawah.

Kemudian saya jadi mikir: kalau mereka bisa memperlakukan perempuan seperti itu, kenapa saya tidak? Akhirnya saya putuskan untuk menulis postingan sampah ini.

Selain demi motif “balas dendam”, saya juga ingin sesekali menulis hal yang tidak serius. Karena ini sudah dekat tengah tahun maka hawa-hawa piknik sudah makin terasa.

Langsung saja.

Kenapa ada laki-laki yang kelihatan ganteng? atau Kenapa aku kok ganteng banget? Ini dua pertanyaan yang seringkali berkecamuk di benak orang-orang. Kalau dia laki- laki dan gebetannya lebih memilih laki-laki lain, maka dia sering merasa kalah ganteng. Kalau dia perempuan dan punya laki-laki yang dikagumi diam-diam, maka dia sering mempertanyakan sendiri dalam hati dimana sisi istimewa (atau sisi kegantengan) laki-laki itu yang membuat dia bisa jatuh cinta.

“Ganteng” sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai: “Elok, Gagah”. Tapi saya tidak ingin terlalu baku, karena toh banyak juga perempuan yang memuji laki-laki ganteng, padahal secara fisik sebenarnya biasa-biasa saja. Jadi dua-duanya akan saya bahas.

Berikut alasan kenapa laki-laki kelihatan ganteng:

  1. Ibunya cantik
Kok cuma Ibunya? Kenapa bukan Bapaknya?
Jadi begini… Kita tahu di televisi sedang ramai serial Korea yang jelas-jelas menampilkan laki-laki yang tampak “cantik”. Semenjak banyak serial Korea di TV dan jadwal manggung boyband Korea semakin rutin di Indonesia, maka sejak itulah paradigma mayoritas perempuan Indonesia berubah tentang definisi “kegantengan”. Bagi generasi Ibu saya, ganteng itu seperti Richard Gere, yang bentuk rahangnya tegas dan wajahnya nyaris kotak. Juga memiliki kerut di ujung mata yang memberikan kesan mature. Generasi setingkat di bawah Ibu saya menganggap bahwa ganteng itu seperti Ari Sihasale, yang selalu kelihatan segar, punya brewok, dan dada bidang. Generasi kita, suka sama laki-laki imut. Saya pun jadi mengerti kenapa para abege yang menonton film X-Men lebih mudah kecantol dengan James McAvoy atau Nicholas Hoult daripada Michael Fassbender. Juga membuat saya tahu kenapa beberapa perempuan lesbian yang berpenampilan tomboy biasanya kelihatan ganteng.

  1. Rapi dan Bersih
Bentuk wajah atau postur tubuh yang simetris merupakan anugerah yang harus senantiasa dirawat. Banyak laki-laki yang punya bakat ganteng, tapi sukanya pakai kaos saringan tahu, rambutnya ketombean, atau badannya bau─sehingga kegantengannya tidak terpancar, kalis oleh kebauan atau penampilannya yang letrek. Kalau sudah begini, biasanya perempuan pun segan melirik karena takut kena gendam dan dompet atau HP-nya raib.

Di sisi lain, ada juga laki-laki yang biasa saja, tapi jadi kelihatan ganteng karena penampilannya necis, badannya wangi. Tahu ‘kan, jatuh cinta itu bisa dimulai lewat aroma tubuh? Nah, begitulah kronologinya kenapa laki-laki yang rapi dan bersih akhirnya kebagian jatah atas predikat ganteng. Akan lebih bagus lagi kalau seorang laki-laki itu sudah punya bakat ganteng dan kegantengannya dirawat. Tentu semakin sulit bagi para perempuan untuk menolaknya.

  1. Bisa nukang
Saya merasakan sendiri bahwa makin ke sini, semakin sulit menemukan laki-laki yang ganteng dan bisa nukang. Tahu sendiri, di Indonesia, upah buruh kasar itu cenderung murah: hanya demi uang Rp 100 ribu buruh itu rela melakukan pekerjaan berbahaya atau membetulkan pagar rumah. Hal ini mengakibatkan sebagian besar anak laki-laki generasi saya pada masa remajanya tidak merasakan diajari Ayahnya menggergaji kayu, memukul paku, atau membetulkan mesin kendaraan yang bermasalah.

Kalau si perempuan sangat hobi pada kegiatan alam, tentu laki-lakinya nggak bisa terus-terusan mengandalkan Mang Udin, dong? Apalagi kalau kalian berdua sedang berada di tempat terpencil di mana sulit menemukan orang yang bisa membantu kalian dalam kegiatan alam yang melibatkan keterampilan menukang. Maka dari itu, keterampilan menukang biasanya memberikan nilai plus sendiri di mata perempuan-perempuan tertentu. Perempuan itu jadi tahu, bahwa dia selalu bisa mengandalkan kamu dalam hal- hal yang tidak dia mengerti.

  1. Karismatik
Punya cowok, tapi tiap ditanya apa-apa jawabnya serba ‘nggak tahu’? Diajak duduk bareng orangtua tapi ngerasa minder dan terbata-bata tiap ngomong? Atau cowok yang ikutan panik di situasi genting, yang bahkan tingkat kepanikannya lebih parah dari kamu? Aduh, nggak banget.

Di usia yang hampir menginjak 23 tahun, saya mulai belajar untuk pacaran dengan serius, dan pacar itu adalah calon dari cerminan diri kita kalau syukur-syukur nanti sampai ke pelaminan. Sementara, pacarmu itu tulalit, nggak punya aspek kepemimpinan dalam dirinya, nggak punya kemahiran di bidang apapun, atau bahkan melakukan perbuatan memalukan di depan keluarga besar. Wah, mau seganteng apapun fisiknya, kalau tidak punya sisi karismatik secuil pun tentunya hanya akan cocok untuk digandeng nemenin ke kondangan teman, tidak untuk menjalani kehidupan bersama, apalagi menua bersama.

  1. Brewokan
Ini adalah poin pesanan, alias pesanan dari diri saya sendiri. Untuk suatu alasan, saya selalu menganggap pria brewokan itu ganteng. Tapi, brewok yang nempel ya, bukan brewok ala akhi-akhi yang lebih pantas disebut serabut menjuntai daripada brewok. Memang tidak semua laki-laki struktur rahangnya pas untuk ditumbuhi brewok, hanya umat-umat terpilih lah yang bisa kelihatan semakin ganteng setelah menumbuhkan brewok. Ini bukan karena menambahkan kesan macho, tapi lebih kepada memanjakan indera peraba. Tentu sangat menyenangkan ketika dicium keningnya dan merasakan sensasi geli-geli enak di sekitar hidung. Tapi ini perasaan saya saja sih… Setiap orang punya preferensi masing-masing.

  1. Anunya besar
Apa maksudnya dengan anunya? Maksud saya adalah mimpinya. Mimpinya besar.

Dia punya visi yang terkonsep rapi tentang masa depan. Lebih-lebih jika orangnya ambisius dan bisa secara mandiri mendorong dirinya untuk dapat mencapai cita-citanya (kalau punya mimpi besar tapi leda-lede / malas-malasan ya sama aja bohong).  Laki-laki semacam ini yang biasanya dapat kita andalkan di situasi-situasi terburuk: ketika kita sedang stress atau merasa down dengan kehidupan─karena dia yang akan menanamkan optimisme kembali di dalam diri kita. Impian-impian besar membuat auranya terpancar positif, dan menjadikan dia kelihatan ganteng.

  1. Karena dia laki-laki satu-satunya di lingkungan sosial
Ini adalah penyebab alternatif kenapa laki-laki itu kelihatan ganteng, soalnya yang lainnya cantik. Rasanya tidak perlu dijelaskan lagi.

Ya sudah, segini dulu. Maaf jika tulisan ini terkesan menggeneralisasi, namanya juga postingan sampah. Semoga agak bermanfaat!

Marah-Marah

 

Amy melampiaskan kemarahannya pada bantal setelah dirampok oleh tetangganya (Film Gone Girl, 2014)

Apa itu “Kemarahan”?

 

Setiap orang pernah merasakan kemarahan─baik sebagai pelaku kemarahan ataupun korban kemarahan─dengan demikian, setiap orang tahu apa yang dimaksud dengan “marah”. Kemarahan punya berbagai macam bentuk, jenis, dan turunan: omelan, kekecewaan, hasrat untuk menghukum, dendam, dan lain-lain.

 

Tapi, kenapa kita bisa marah? Kemarahan bermula dari harapan. Harapan itu bisa berupa harapan tentang masa depan, harapan terhadap diri sendiri, dan harapan terhadap orang lain. Menurut Callard (2010), seringkali, kita merasa terganggu ketika melihat kesenjangan antara realita dan harapan; kadang-kadang, ketika kesenjangan itu cukup besar, kita merasa marah. Kepekaan terhadap kesenjangan semacam itulah yang sering memicu kemarahan. Jadi, semakin peka seseorang, semakin ia jadi pemarah.

 

Sigmund Freud percaya bahwa emosi negatif yang ditekan dapat mengalami fluktuasi di dalam diri penyandangnya dan berakibat pada gejala psikologis, seperti histeria. Oleh karenanya, muncul teori katarsis. Teori ini mengatakan bahwa pelampiasan emosi dapat menghasilkan perkembangan positif dalam kondisi psikologis seseorang. Di film-film, artikel majalah, bahkan di papan iklan pinggir jalan, orang-orang didorong untuk melampiaskan kemarahannya dengan berbicara lantang atau melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Pelampiasan emosi melibatkan perilaku agresif yang ditujukan pada benda mati: memukul bantal, memukul samsak, memukul sofa busa dengan tongkat bisbol, membanting piring beling ke lantai, menendang tong sampah, dan seterusnya.

 

 

Apakah “Kemarahan” Selalu Berkonotasi Negatif?

 

Emosi adalah hasil konstruksi sosial, bukan kodrat biologis ataupun produk dari proses intrapsikis yang ketat (Averill, 1983). Artinya, emosi adalah respon seseorang atas hal-hal yang terjadi di luarnya. Demikian juga dengan kemarahan, kemarahan adalah proses dialektika antara harapan dengan realita. Realita yang merupakan entitas objektif (karena berada di luar diri manusia) kemudian diinternalisasi ke dalam diri individu, diinterpretasikan oleh “harapan” untuk kemudian lahir sebagai kemarahan. Hal ini yang memisahkan amarah dari kategori “perasaan”. Perasaan umumnya digunakan untuk menyiratkan pengalaman hedonis, kepekaan terhadap hubungan sintaksis antara verba dan unsur di sekitarnya, reaksi subyektif mengenai sisi baik atau buruk yang timbul dari suatu peristiwa.

 

Amarah muncul karena ketidakcocokan antara harapan dan realita, yang mana realita itu biasanya lahir dari tindakan sengaja orang lain untuk melukai atau memprovokasi si pelaku amarah (Frijda, 1986). Senada dengan Frijda, Ortony, dkk. (1988) menyatakan bahwa amarah dapat digambarkan sebagai gabungan dari ketidaksenangan pelaku amarah dan kesalahan yang melekat pada tindakan orang lain.

 

Dari perspektif ini, maka amarah dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang positif atau negatif, bergantung dari bagaimana posisinya di dalam fungsi individu saat menerima atau menolak sesuatu, menyukai atau membenci sesuatu. Amarah dapat bermakna positif apabila amarah merupakan salah satu upaya untuk mengubah perilaku orang lain (misalnya, saat orangtua memarahi anak kandungnya). Amarah pun dapat bermakna positif apabila amarah merupakan upaya untuk membuka jalan menuju tujuan-tujuan yang diinginkan (misalnya, kemarahan pada diri sendiri saat menghadapi kegagalan).

 

Di sisi lain, amarah kadang-kadang dijadikan upaya untuk melukai atau membahayakan orang lain. Amarah dijadikan sarana untuk mencapai kondisi tertentu yang diinginkan, dengan jalan menciptakan rasa tidak nyaman di diri orang lain, atau menggagalkan upaya-upaya orang lain dalam meluruskan ketidakadilan. Fenomena seperti ini terjadi di Negara-Negara otoritarian, yang mana pemimpinnya melampiaskan kemarahan dengan cara menculik aktivis-aktivis atau menuduh lawan politiknya melakukan gerakan subversif.

 

 

Kemarahan Berbasis Kelompok

 

Kemarahan tidak hanya dialami oleh individu, namun juga bisa dialami oleh kelompok. Kemarahan yang dialami kelompok (selanjutnya disebut “kemarahan berbasis kelompok”), biasanya diawali oleh kemarahan yang diekspresikan individu-individu dalam kelompok tersebut. Terkadang individu-individu itu merasa marah karena kelompoknya dirugikan, dan mereka bertindak dengan cara: turun ke jalan, membuat petisi, atau menduduki bangunan dalam wujud protes kolektif (Tajfel, 1978).

 

Kemarahan berbasis kelompok dari latar belakangnya serupa dengan kemarahan berbasis personal (yang telah kita bahas di atas), yaitu karena ketidakcocokan harapan dan kenyataan, yang membedakan hanya jumlah orangnya. Meskipun begitu, bagaimanapun, fakta mengatakan bahwa jarang sekali kemarahan individu-individu dalam kelompok dilanjutkan ke wujud tindakan (Klandermans, 1997). Khususnya, pada situasi di mana anggota kelompok itu menganggap dirinya kurang berkhasiat dalam membawa perubahan, tindakan kolektifnya cenderung terbatas meskipun ada rasa amarah yang kuat (Folger, 1987).

 

Jika kemarahan berbasis personal sangat mudah dan cepat dieksekusi, kemarahan berbasis kelompok cenderung lama. Hal ini dikarenakan mengintegrasikan satu pikiran dan satu jiwa di satu tubuh selalu lebih mudah daripada mengintegrasikan banyak pikiran dan banyak jiwa di banyak tubuh. Untuk dapat membuat kemarahan berbasis kelompok cepat tersulut, maka modal utamanya ada 3 (tiga), di antaranya:

a)      Kesamaan identitas sosial

Secara sederhana, identitas sosial berbicara tentang bagaimana seseorang memandang dirinya dari kacamata kelompok sosial secara keseluruhan. Kelompok sosial ini adalah tempat di mana ia berasal (lahir atau tumbuh besar). Dengan demikian, yang dimaksud kesamaan identitas sosial adalah kesamaan asal-muasal serta budaya yang dianut oleh tiap-tiap anggota kelompok.

b)      Penghapusan relativisme

Untuk dapat menciptakan kemarahan berbasis kelompok, maka segala bentuk relativisme yang menghambat kemajuan kelompok harus dihapus ; entah apakah itu relativisme tujuan, relativisme cara-cara perjuangan, ataupun relativisme budaya. Tujuan, cara perjuangan, dan budaya yang tadinya dianut dengan cara berbeda-beda oleh tiap anggota kelompok, dicari benang merahnya kemudian dirangkum menjadi suatu tujuan, cara perjuangan, dan budaya yang obyektif.

c)      Mobilisasi

Mobilisasi adalah tindakan pengerahan segerombolan orang secara serentak. Mobilisasi membutuhkan pioneer (orang yang memulai sekaligus memimpin pergerakan). Cara ini adalah kebalikan dari gerakan organik (yang tumbuh dengan sendirinya). Karenanya, maka dampaknya pun tidak sebesar gerakan organik─perubahan yang diciptakan oleh gerakan yang termobilisasi cenderung temporer.

 

Ketiga cara di atas diterapkan secara terpisah, yang masing-masing menghasilkan jenis kemarahan berbeda-beda.

 

Saya sebenarnya tidak setuju dengan kemarahan berbasis kelompok yang dibuat-buat/disengaja agar terjadi. Bagi saya, kemarahan “kolektif” harus tumbuh dengan sendirinya dan tidak dipaksakan. Sejarah membuktikan bahwa kemarahan yang dibuat-buat ini melahirkan kelompok-kelompok fasis seperti Nazi, juga rasa permusuhan antar-kelompok yang disebabkan alasan-alasan tak masuk akal karena delusi anggotanya mengenai kesamaan identitas. Kita tidak harus memusuhi musuh dari sahabat atau kerabat kita, sebagaimana sahabat dan kerabat kita tidak harus membenci orang yang kita benci.

 

Maka dari itu, marah-lah karena hasil interpretasi kita terhadap realita, bukan dari hasil interpretasi kelompok kita atas realita.

 

Akhir kata, selamat marah-marah.