Dependensi Perempuan Bercadar yang Melakukan Aksi Terorisme

Perempuan dalam Revolusi Iran (Sumber gambar: Wikipedia)
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi muslim yang banyak. Pada tahun 2016, Yayasan Rumah Peneleh menyatakan bahwa sebanyak 85 persen Warga Negara Indonesia (WNI) memeluk agama Islam. 

Di negara bermayoritaskan pemeluk agama Islam ini, penggunaan jilbab bukan lagi fenomena yang janggal. Bahkan, beberapa perempuan yang telah menggunakan jilbab memutuskan untuk menggunakan cadar.

Berbeda dengan apa yang terjadi Indonesia, cadar mengalami penolakan keras di beberapa negara. Geert Wilders, seorang politisi Belanda sayap kanan merupakan sosok yang dikenal paling gencar mengkampanyekan gerakan anti-Islam. Pada tanggal 29 November 2016, pendiri Party for Freedom tersebut berkicau di Twitter, “After the elections next March, I will implement a full burka ban.#deislamize.”

Banyak orang lantas mengambil kesimpulan bahwa sikap yang ditunjukkan Wilders dapat diasosiasikan dengan kondisi di Belanda yang notabene dua-pertiga warga negaranya tidak memiliki afiliasi dengan agama. Akan tetapi, tampaknya penilaian tersebut begitu tergesa-gesa, karena buktinya pada tahun 2006, negara Arab Muslim laiknya Republik Tunisia juga melarang penggunaan jilbab, terlebih cadar.

Artinya, ada faktor lain yang mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap cadar, melebihi polemik mana yang mayoritas dan mana yang minoritas.

Dalam sebuah laporan terkait pergerakan Taliban di Afghanistan, Department of State (DoS) Amerika Serikat (AS) pernah menyatakan bahwa cadar membatasi kebebasan bergerak, dan karenanya, melanggar “prinsip dasar hak asasi manusia (HAM).” Cadar disebut-sebut memiliki kaitan erat dengan pembatasan perhiasan lain seperti makeup dan cat kuku. 

Sejak saat itu, pilihan untuk mengenakan cadar dihubungkan dengan pengekangan, sementara pilihan untuk mengekspos tubuh dihubungan dengan kebebasan. Salon kecantikan pun dipandang sebagai tempat paling subversif yang berupaya meruntuhkan pengekangan terhadap para perempuan.

Penggunaan cadar seringkali dihubungkan dengan Islam radikal. Dalam laporan Mona Mahmood di situs The Guardian, disampaikan bahwa pembatasan cara berpakaian cenderung dialami perempuan yang hidup di negara yang dikuasai Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). 

Para perempuan kurang beruntung di Irak dan Suriah dipaksa mengenakan cadar berlapis-dua, abaya, dan sarung tangan. Di tahun yang sama dengan kelahiran ISIS yakni tahun 2003, seorang fotografer bernama James Nachtwey memotret gambar berjudul “Iraq, women in black veils” yang semakin mengokohkan stigma perempuan cadar dan Islam radikal.

Tidak sampai di situ, belum lama ini, dunia belahan Eropa juga dikejutkan oleh aksi pelaku bom bunuh diri perempuan. Dalam foto yang ditayangkan ABC News dan BBC News, tampak seorang perempuan keturunan Maroko yang sedang berpose menggunakan jilbab berwarna biru tua dan cadar. 

Di foto lainnya, perempuan yang kemudian diidentifikasi bernama Hasna Ait Boulahcen tersebut tampak mengenakan jilbab, cadar, dan sarung tangan berwarna hitam. Dia sedang berfoto di pinggir jalan raya.

Hasna merupakan salah satu dari kerabat tersangka serangan di kota Paris yang menewaskan 130 orang. Dia tewas setelah aparat kepolisian menyergap apartemen di bilangan Saint-Denis. Hasil otopsi menunjukkan Hasna tewas akibat sesak napas pasca rompi bunuh diri yang meledak. Adapun rompi tersebut diledakkan sendiri oleh Hasna.

Terkait kematian Hasna, perhatian publik terbagi menjadi 2 (dua): Pertama, mereka mengutuk aksi terorisme yang dilakukan Hasna. Kedua, beberapa kalangan masih mempertanyakan, benarkah Hasna bertindak atas kemauannya sendiri atau ada pihak lain yang memaksanya melakukan tindakan keji tersebut?

Permasalahannya, citra fundamentalis Islam yang dipahami sebagian besar orang terkait kedudukan perempuan ialah bahwa perempuan merupakan manusia kelas-dua, yang pada intinya tidak punya hak untuk mengambil keputusan. Jadi, dugaan bahwa Hasna melakukan aksi terorisme berdasarkan paksaan boleh jadi benar. 

Ada indikasi kuat bahwa apa yang dilakukan teroris bercadar bersinggungan dengan isu-isu posisi perempuan dan laki-laki yang non-simetris.

Kasus Hasna bukanlah kasus pertama yang menggambarkan bagaimana agama dipakai sebagai alat justifikasi kedudukan perempuan di bawah laki-laki. Rupanya, kasus tersebut tidak hanya muncul di agama Islam saja, akan tetapi juga agama-agama lain.

Dalam tren agama Katolik, perempuan hanya boleh memberikan layanan sebagai biarawati. Dalam agama Kristen, gereja konservatif mendukung supremasi laki-laki di rumah tangga sebagaimana mereka mendukung kekuatan raja, diktator, oligarki, dan elit yang menurut mereka, harus terdiri atas kaum Adam.

Jika fenomena ketimpangan antara peran perempuan dan laki-laki bisa terjadi di agama apa saja, maka fenomena ini tidak hanya dimonopoli oleh satu agama. Ada sistem lebih besar yang menaungi fenomena ini, yang jangkauannya lebih luas daripada klasifikasi agama.

Masyarakat memiliki suatu tradisi yang hidup, yang tampaknya tidak lekang digerus agama yang hadir di komunitas tersebut. Tradisi itu dikenal sebagai tradisi patriarkis. 

Professor Michael P. Johnson yang menguasai bidang kajian perempuan memaparkan di dalam artikel jurnal “Patriarchal Terrorism and Common Couple Violence: Two Forms of Violence against Women” bahwa tradisi patriarkis telah melahirkan terorisme patriarkis.

Maksud dari terorisme patriarkis ialah suatu kondisi yang membenarkan bahwa para laki-laki berhak untuk mengendalikan perempuan-perempuan “mereka,” yang mana pengendalian itu tidak hanya melibatkan penggunaan kekerasan yang sistematis, melainkan juga subordinasi ekonomi, ancaman, isolasi, dan taktik kontrol lainnya.

Tradisi patriarkis, karena berakar pada hasrat untuk mengendalikan dan berkuasa, boleh jadi tetap langgeng sekalipun tidak dilekatkan pada agama. Karena kejahatan-kejahatan akibat motif kekuasaan jauh lebih dulu berdiri sebelum agama ada. 

Agama hanya digunakan sebagai moda tradisi patriarkis untuk semakin melanggengkan hasrat laki-laki dalam mengontrol perempuan. Dan mengingat agama melibatkan supremasi Tuhan, perempuan akan jauh lebih ikhlas didudukkan lebih rendah daripada laki-laki ketimbang apabila aturan itu muncul dari sesama manusia.

Terlepas latar belakang agama ataupun hasrat kekuasaan belaka, kekerasan oleh pasangan intim, pemerkosaan/penyerangan seksual dan bentuk kekerasan seksual lainnya yang dilakukan oleh pihak selain pasangan masih marak terjadi, begitu pula mutilasi alat kelamin perempuan, pembunuhan demi kehormatan (honor killings) dan perdagangan perempuan.

Di saat jumlah penganut agama di dunia kian menurun, justru kekerasan terhadap perempuan kian mendaging, sampai-sampai isu ini diangkat ke dalam ranah internasional melalui pembentukan UNiTE.

Kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi pada siapa saja. Terhadap perempuan bercadar ataupun berpakaian terbuka, terhadap umat muslim, Katolik, ataupun Kristen. Selama seorang perempuan tidak memiliki kekuasaan yang setara dengan laki-laki, kemalangan itu bisa menimpa siapa saja.

Pendek kata, sekalipun cadar dilarang, opresi terhadap perempuan akan tetap terjadi.

Jadi, daripada ribut-ribut harus melegalisasi atau melarang cadar, bagaimana jika kita menempatkan hak-hak perempuan sebagai isu sentral dalam diskusi? Yang perlu dibahas adalah bagaimana perempuan seharusnya tidak dipukul, diancam, atau diisolir, dan bagaimana perempuan seharusnya memiliki penguasaan ekonomi sesuai porsinya tanpa dicampuri “apa yang menjadi hak laki-laki.” Terlepas dari apakah perempuan itu bercadar atau tidak.

Mempertanyakan Peran Sentral Media Sosial Dalam Pergerakan

(Sumber gambar: Jisc)

Pada momentum pilkada layaknya Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, percakapan mengenai siapa kandidat yang paling cocok memimpin Provinsi Jawa Barat mulai marak di situs-situs web media sosial. Dunia maya juga dimanfaatkan oleh kandidat dan partai politik untuk melakukan sosialisasi visi dan misi. Beberapa waktu sebelumnya, media sosial digunakan pada momentum Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Orang-orang dari berbagai latar belakang dipekerjakan sebagai buzzer atau penggaung, yang tugas pokoknya menyebarkan sudut pandang subjektif mengenai para kandidat. 

Penggunaan media sosial sebagai sarana kampanye menunjukkan bagaimana di Indonesia, media sosial dipercaya mampu menggerakkan banyak orang untuk memilih kandidat tertentu. Partai politik, calon gubernur, hingga penggaung berharap, segala diskusi, polemik, dan kampanye yang terjadi di dunia maya dapat mempengaruhi situasi di dunia nyata. Hal serupa juga dilakukan oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia lain.

Perjumpaan politik dan media sosial di Indonesia bukanlah fenomena dunia baru sejak kemunculan Facebook dan Twitter. Masih kental dalam ingatan kita bagaimana media massa nasional maupun asing meliput berita protes jutaan rakyat Mesir di Lapangan Tahrir. Rakyat Mesir menuntut Presiden Hosni Mubarak lengser dari puncak kekuasaan. Pada rentang waktu yang berdekatan, di negara-negara Timur Tengah seperti Tunisia, Libya dan 17 negara lainnya, gerakan anti-pemerintah yang otoriter juga terjadi. Pendapat populer menyatakan gerakan yang kemudian disebut sebagai Arab Spring oleh para akademisi Amerika, diinisasi himbauan rakyat sipil di media sosial.

Meskipun demikian, pendapat lain menyatakan media sosial tidak memegang peranan sentral selama pergerakan. Berdasarkan kutipan Sabiha Gire, alumni St. Edward’s University jurusan Kajian Global, salah satu argumen mengungkapkan bahwa media sosial hanya memegang peran pendukung selama Arab Spring. Terminologi “peran pendukung” bisa dimaknai sebagai fungsinya yang tidak akan berjalan tanpa diikuti gerakan fisik. Jadi, perubahan rezim bukan didorong oleh protes-protes media sosial semata, akan tetapi gesekan-gesekan yang terjadi di lapangan.

Sejarah Singkat Facebook dan Twitter

Masih ingat jalan cerita film “The Social Network” (2010)? Film tersebut menceritakan suka-duka seorang mahasiswa Harvard University saat memulai pembuatan Facebook. Resmi diluncurkan pada bulan Februari 2004, media sosial yang semula bernama “TheFacebook.com” terinspirasi dari konsep buku tahunan yang mencantumkan foto close-up dan data biografi. Di hari pertama peluncuran perdana, sebanyak 1.200 mahasiswa mendaftar ke Facebook. 

Sempat terjadi cekcok antara Mark Zuckerberg, sang penemu Facebook, dengan teman-teman kuliahnya yang menuduh Zuckerberg melakukan plagiasi. Meskipun demikian, media sosial karya Zuckerberg tetap meroket. Pada bulan pertama, separuh dari mahasiswa Strata-1 Harvard University terdaftar. Sejak saat itu, Facebook berekspansi ke universitas-universitas lain. Tahun 2005, Facebook mengklaim bahwa sebanyak 85% mahasiswa dari 882 perguruan tinggi memiliki akun Facebook, 60% diantaranya sering mengunjungi situs setiap hari. Pada bulan yang sama, Facebook merambah tingkat sekolah menengah dan setahun kemudian, Facebook terbuka untuk umum.

Disamping Facebook, terdapat media sosial lain yang tidak kalah diminati oleh penduduk dunia, yakni Twitter. Pendirian Twitter bermula ketika seorang mantan staff Google bernama Evan Williams membuat situs yang diberi nama Odeo. Pada mulanya, Odeo dibesut konsep penyiaran audio (podcasting). Akan tetapi pada musim gugur tahun 2005, pangsa pasar Odeo direbut oleh Apple melalui program iTunes.

Kekalahan telak Odeo dari iTunes membuat Evan Williams memutuskan merombak konsep Odeo. Noah Glass, mitra pendiri Odeo, memperoleh ide dari Jack Dorsey yang mengusulkan supaya Odeo mengubah konsep menjadi “status.” Setelah diskusi berlarut-larut, para pengelola sepakat mengubah nama menjadi Twitter. Menurut informasi yang diperoleh dari BusinessInsider, popularitas Twitter meningkat sejak bulan Agustus 2006, khususnya ketika bencana alam melanda San Francisco, Twitter membantu menyebarkan kabar gempa di wilayah selatan California tersebut.

Peran Sentral Media Sosial Hanya Mitos

Bagaimana anak-anak muda perkotaan dan kosmopolitan Mesir berhasil mengumpulkan jutaan orang untuk turun ke lapangan Tahrir, memprotes rezim Mubarak? Banyak orang berasumsi, para aktivis menggunakan sarana internet seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Asumsi itu bahkan juga menghinggapi rezim Mubarak yang memblokir akses terhadap Facebook dan Twitter selama protes berlangsung, sementara YouTube, situs web yang digunakan untuk membagikan video protes di Tahrir, tidak berhasil diblokir. Informasi tersebut dibenarkan oleh Joshua E. Keating selaku Associate Editor Foreign Policy.

Akan tetapi, tampaknya, sekalipun Mubarak telah berhasil memblokir media sosial, gerakan tidak kunjung surut, dia toh tetap berhasil dilengserkan. Artinya, ada faktor determinan selain daripada media sosial, atau mungkin, media sosial hanya memegang peranan yang sangat kecil. 

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, saya pikir asumsi bahwa media sosial memegang peranan sentral saat kebangkitan Mesir merupakan asumsi yang keliru. Media sosial disebut-sebut hanya memegang peran pendukung selama demonstrasi, yang efektifitasnya tidak akan bekerja baik tanpa dibarengi gesekan fisik. Lisa Anderson, eks-Presiden American University di Kairo juga turut mengamini bahwa pergerakan di lapangan Tahrir bukan hasil dari internet dan media sosial. Ditegaskan, pergerakan Arab Spring di Mesir tidak lain merupakan reinkarnasi dari jaringan nasionalis Arab pasca Perang Dunia I (PD I), yang mana diinspirasi oleh retorika Presiden Amerika Serikat (A.S.) Woodrow Wilson tentang “self-determination” bagi minoritas yang tertindas.

Masa Depan Kampanye Pilkada melalui Media Sosial

Para pengamat menyatakan bahwa media sosial tidak memegang peran signifikan selama Arab Spring. Efektifitasnya bergantung pada eksistensi gerakan fisik di lapangan. Selain itu, gerakan juga memerlukan latar belakang ideologis, yakni nasionalisme Arab yang jaringannya sudah lama terbentuk sejak PD I.

Insignifikansi peranan media sosial dalam kebangkitan Mesir 2011 sepatutnya menjadi refleksi bagi para pegiat dan praktisi di arena politik untuk mempertimbangkan kembali penggunaan media sosial sebagai sarana andalan dalam menggerakan massa. Media sosial memang dapat berfungsi sebagai penyebaran informasi pertemuan, kunjungan, atau kegiatan kandidat. Akan tetapi, mengandalkan segalanya semata-mata pada media sosial tanpa gerakan fisik atau jaringan ideologis di dunia nyata tentu saja adalah langkah yang gegabah. 

Mubarak tidak akan lengser bila saja anak-anak muda perkotaan dan kosmopolitan Kairo hanya memasang status membabi-buta di Facebook atau Twitter. Di sisi lain, Donald Trump tetap memenangkan pemilihan Presiden A.S. 2016 sekalipun banjir caci-maki di internet. Basuki Tjahaja Purnama kalah di Pilgub DKI Jakarta, padahal semasa kampanye, beberapa penggaungnya mengirim kicauan tanpa rehat, nyaris 24 jam sehari.

Alih-alih menghabiskan tenaga dan sumber daya di dunia maya, lebih baik partai politik pengusung, kandidat, dan pendukung memperkuat jaringan ideologis di lapangan. Rekam jejak kandidat di wilayah yang akan dipimpinnya lebih signifikan dalam menentukan preferensi pemilih. Rekam jejak yang buruk tidak akan tertimbun oleh foto-foto digital, kicauan-kicauan subjektif, atau perang status antara pendukung yang saling berseberangan. Begitu pula rekam jejak yang baik. Gunakan media sosial hanya sebagai faktor pendukung, bukan yang utama.

Benarkah Hamas Bukan Organisasi Teroris? (Bagian 2 - Akhir)


Roket Qassam (Sumber gambar: GlobalSecurity.org)

Masyarakat internasional sering berasumsi, Israel cenderung lebih kuat dibandingkan Hamas dan organisasi perlawanan Islam lainnya. Barangkali, penilaian tersebut beranjak dari penggunaan senjata yang kalah canggih. Sebaliknya, realita menunjukkan organisasi-organisasi tersebut justru semakin kuat daripada sebelumnya. Jeremy M. Sharp, dkk. dalam “Lebanon: The Israel-Hamas-Hizbullah Conflict” (2006) menyatakan pada tahun 2006, pemerintah Amerika Serikat (AS) bahkan tidak mampu melucuti senjata Hizbullah. Di saat bersamaan, Israel terlibat dalam perang melawan militan Palestina termasuk Hamas, ditambah pemain sekunder yang memperparah kompleksitas konflik, yaitu Iran dan Suriah. Mantan penasihat keamanan nasional Israel, Giora Eiland, mengakui basis politik Hizbullah di Lebanon merupakan ancaman strategis bagi Israel. Sementara itu di Palestina, Israel tidak pernah benar-benar memenangkan perang, menimbang ribuan tentara Israel yang harus tewas supaya Israel dapat memblokade kampanye bom bunuh diri Hamas.

Dari kasus yang ada, tampaknya bukan hanya kelompok kanan Israel yang setuju menggunakan cara-cara kekerasan. Hamas juga menunjukkan sikap non-kompromi terhadap Israel. Mahmud al-Zahar, pemimpin Hamas di Gaza, pada bulan September 2005 menyatakan: “Saya tidak percaya pada istilah ‘moderat.’ Kita sudah moderat.” Pernyataan tersebut menunjukkan krisis self-awareness di pihak Hamas, setelah rangkaian aksi bom bunuh diri yang mereka lakukan terhadap Israel. Satu tahun sebelumnya, al-Zahar menyatakan: “Dia [pelaku bom bunuh diri bernama Reem al-Riyashi] tidak akan menjadi yang terakhir karena barisan perlawanan akan berlanjut sampai bendera Islam dikibarkan.” Pada bulan Desember 2005, pemimpin Hamas Khalid al-Mish’al juga mengeluarkan statement: “Seperti yang pernah disampaikan mendiang Imam Khomeini, Israel adalah tumor mematikan yang tidak akan pernah kita akui sebagai sebuah negara.”

Batasan dalam Perang Kedaulatan
Hamas merupakan organisasi perlawanan Islam yang berada pada spektrum ekstremis dan maximalist. Tujuan Hamas tidak hanya bermuatan visi Islam akan tetapi juga klaim nasionalis dan militansi melawan Israel. Sikap Hamas yang cenderung kaku, membuatnya menolak upaya perdamaian yang dijalankan antara Israel dan Palestina. Serangan bom bunuh diri pada era penandatanganan Oslo Accords ialah bukti bagaimana Hamas berupaya menggelincirkan proses perdamaian melalui tindakan kekerasan.

Selain bom, Hamas juga menggunakan roket jenis Qassam, Grads, dan Quds. Roket tersebut punya kelemahan di bidang akurasi serta impact ledakan yang tidak dapat dikontrol. Bukan tidak mungkin, roket yang diluncurkan Hamas secara liar menyasar warga sipil Israel yang tidak berdosa. Tampaknya memang Hamas cenderung tidak peduli sekalipun roket menyasar warga sipil (khususnya settlers), menimbang pernyataan-pernyataan non-kompromi yang dikemukakan pemimpin Hamas pada kisaran tahun 2004 sampai dengan 2005.

Hingga hari ini, banyak orang berasumsi Israel lebih kuat daripada Hamas dan organisasi perlawanan Islam lainnya, menegasikan fakta penggunaan senjata non-diskriminatif oleh Hamas, dukungan Hizbullah yang bercokol di Lebanon, serta bantuan Iran dan Suriah selaku pemain sekunder. Masih banyak orang yang mendukung tindakan-tindakan Hamas, menganggap apa yang dilakukan organisasi perlawanan tersebut sebatas pembelaan terhadap kedaulatan Palestina. Akan tetapi, perang kedaulatan pun memiliki batasannya; warga sipil bukanlah pihak yang boleh diserang pada masa konflik, terlebih apabila serangan disebabkan oleh penggunaan senjata non-diskriminatif. Sebaliknya, menyebut belligerent yang luka-luka sebagai warga sipil juga bentuk penyesatan informasi dan eksploitasi terhadap emosi orang lain.

Benarkah Hamas bukan organisasi teroris? Jawaban atas pertanyaan ini masih menjadi polemik di masyarakat. Pada bulan Desember 2014, Uni Eropa (EU) menghapus Hamas dalam daftar organisasi teroris, bukan berdasarkan tindakan-tindakan yang telah dilakukan organisasi di Palestina tersebut, melainkan implikasi faktual yang diperoleh dari pers dan internet. Aturan pembekuan pendanaan EU terhadap Hamas tetap dijalankan. Sementara itu, AS dan beberapa negara lainnya bersikeras menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris, merujuk pada penolakannya untuk tidak menggunakan jalan kekerasan. Di sisi lain, organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih belum mengambil keputusan terkait status Hamas.

Bagaimana menurut pembaca? Benarkah Hamas bukan organisasi teroris?***

Benarkah Hamas Bukan Organisasi Teroris? (Bagian 1)

Oslo Accords (sumber gambar: screenshot video unggahan di YouTube)

Penggunaan metode bom bunuh diri cukup populer di kalangan kelompok seperti Partai Nasional Sosialis Suriah (SSNP/PPS), Macan Tamil (LTTE), Partai Pekerja Kurdi (PKK), pemberontak Ceko, Martir Al Aqsa, Jihad Islam Palestina (PIJ), dan terutama, Harakat al-Muqawama al-Islamiyya (Hamas)

Tidak sulit bagi organisasi seperti Hamas untuk merekrut calon “pengantin,” istilah yang biasa digunakan pada pelaku bom bunuh diri. Ada dorongan eksternal: Israel meraih kendali atas wilayah udara, perbatasan, perairan teritorial dan sumberdaya alam (SDA) Gaza pada tahun 2005; dan dorongan internal: Hamas memiliki pemimpin kharismatik, sehingga anggota menuruti kehendak pemimpin yang mendorong penggunaan motif-motif Islam radikal sebagai senjata untuk melawan musuh. 

Fenomena tersebut juga dibenarkan Scott Atran dalam “Genesis of Suicide Terrorism.” Atran (2003) mengungkapkan bahwa “pengantin” dan pendukungnya secara kolektif merasakan ketidakadilan historis, sikap tunduk secara politik, dan penghinaan sosial vis-à-vis kekuatan global dan Sekutunya, serta melawan harapan agama (mendukung teks sambung jaring tentang sejarah baru Islam radikal). Hasilnya, “keberanian” orang-orang semakin terpupuk, dan modal ini sangat dibutuhkan dalam menjalankan aksi bunuh diri. Aksi perempuan berusia 16 tahun bernama Khyadali Sana yang berhasil membunuh 2 (dua) orang tentara saat konvoi Pasukan Pertahanan Israel merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkannya.

Tindakan bom bunuh diri anggota Hamas tentu bukannya tidak memiliki tujuan. Sebagai wujud gerakan perlawanan Islam, tujuan utama Hamas adalah membebaskan Palestina melalui perang suci (jihad) melawan Israel, mendirikan negara Islam di tanahnya, dan mereformasi masyarakat dengan semangat Islam sejati, seperti yang dilansir Shaul Mishal dalam “The Pragmatic Dimension of the Palestinian Hamas: A Network Perspective” (2003). Mishal berargumen, tujuan-tujuan Hamas sebagaimana yang telah disebutkan, merupakan kombinasi visi Islam dan klaim nasionalis serta militansi melawan Israel. Sikap demikian membuat organisasi perlawanan Islam tersebut dicitrakan sebagai gerakan yang kaku, siap mengejar tujuan dengan risiko apapun, tanpa batasan atau kendala (Mishal, 2003).

Sayangnya, gerakan kekerasan Hamas meraih banyak dukungan dari berbagai kalangan. Sebut saja peristiwa kelahiran Oslo Accords, seperangkat perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada tahun 1993 dan 1995, justru mengalami penolakan yang kuat dari publik sehubungan ketakutan-ketakutan yang dipicu pemukiman Yahudi di wilayah yang diduduki (occupied territory). Menurut Herbert C. Kelman dalam “The Israeli-Palestinian Peace Process and Its Vicissitudes: Insights From Attitude Theory” (2007), elemen ekstremis dan maximalist berupaya menggelincirkan proses perdamaian melalui tindakan-tindakan kekerasan yang dramatis, salah satunya bom bunuh diri. Di negara tetangga, para pengungsi Palestina menuduh PLO telah mengkhianati rakyat Palestina, kemudian memulai serangan terhadap Israel. Sikap serupa juga ditunjukkan Hizbullah di Lebanon, dimana serangan Hizbullah terhadap Israel mengalami puncaknya pada Perang Israel-Hizbullah di tahun 2006.

Beberapa hari yang lalu, ketegangan kembali terjadi antara Israel dan Palestina, sehubungan keputusan sepihak Israel untuk menempatkan alat pendeteksi logam dan antena di Kompleks al-Haram. Rakyat Palestina memprotes kebijakan tersebut dan melakukan demonstrasi yang berakhir rusuh serta mengakibatkan sebanyak 3 (tiga) orang Palestina tewas. Selang beberapa jam, seorang pemuda Palestina berusia 19 tahun bernama Omar al-Abed menyusup ke pemukiman Neve Tsuf, sisi barat laut Ramallah, dan menusuk sepasang suami-istri lanjut usia beserta 2 (dua) orang anaknya. Keempatnya berkebangsaan Israel. Motivasi al-Abed cukup jelas, dia marah atas nyawa orang-orang Palestina yang melayang saat demonstrasi di Kompleks al-Haram.

Hamas Makin Menguat
Yehudit Barsky, Direktur Divisi Tim-Teng dan Terorisme Internasional, Komite Yahudi Amerika (AJC), pernah menulis makalah berjudul “Hamas: The Islamic Resistance Movement of Palestine” yang memberikan pemahaman mendalam terkait gerakan Hamas. Barsky memaparkan, sepanjang sejarahnya, Hamas telah melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil dan tentara Israel, termasuk bom bunuh diri, pemboman mobil, penculikan, penembakan drive-by, dan penusukan. Per bulan September 2000 sampai dengan awal tahun 2004, Hamas melakukan 425 serangan teroris dalam berbagai bentuk yang mengakibatkan 377 warga sipil dan tentara Israel terbunuh dan 2.076 orang lainnya luka-luka (Barsky, 2006). 

Sampai dengan tahun 2006, berdasarkan informasi yang dihimpun Barsky, senjata yang digunakan Hamas sebagian besar adalah senjata konvensional: granat tangan, senapan Kalashnikov, ikat pinggang yang disatukan bahan peledak, dan roket Qassam. Terlepas dari jenisnya yang konvensional, penggunaan senjata Hamas menuai polemik. Selain Qassam, Hamas menggunakan roket Grads dan Quds (perkiraan mulai digunakan tahun 2009), dimana ketiganya memiliki kelemahan di bidang akurasi. Secara lebih rinci, roket Qassam digambarkan tidak akurat, berjarak-pendek, dan kurang mematikan. Sementara Grads dan Quds digambarkan mampu menyimpan sekitar 5 (lima) kilogram bahan peledak dan juga pecahan peluru berupa kuku, baut, atau lembaran logam bulat yang akan pecah pada saat terjadi benturan. 

Karakteristik senjata Hamas yang tidak akurat, ditambah impact ledakan yang tidak dapat dikontrol, membuat serangan Hamas dikategorikan sebagai serangan nondiskriminatif. Bukan tidak mungkin, roket yang diluncurkan Hamas secara liar menyasar warga sipil Israel yang tidak berdosa.

Benarkah Hamas Bukan Organisasi Teroris? (Bagian 2 - Akhir)

Moralitas Shakespeare (Bagian 2 - Akhir)

Lavinia berlumuran darah (sumber gambar: Blogging Shakespeare)

Selain adegan kekerasan, kecacatan Titus Andronicus juga tampak melalui ketidakjelasan referensi terkait latar belakang peran antagonis, Aaron. Sosok Aaron yang digambarkan Shakespeare tidak kreatif, karena dilekatkan pada stigma “penjahat.” Aaron seolah tidak memiliki masa lalu dan identitasnya dibuat berdasarkan konsepsi bangsa Roma tentang orang kulit hitam (Russo, 2010-2011 : 67).

Apabila dikaitkan pada fungsi sosial nilai moral  (lihat Birnbacher, 2013 : 45), Titus Andronicus telah gagal memenuhi 4 (empat) fungsi yang ada. Sosok Aaron yang terkungkung dalam stigma membuatnya tidak dimungkinkan memiliki rasa penyesalan sebagaimana Macbeth atau Hamlet, sehingga Titus Andronicus gagal memenuhi fungsi membentuk orientasi individu. Demikian pula konsepsi bangsa Roma terkait Aaron, merangsang penonton membangun kecurigaan pada orang-orang kulit hitam, sehingga drama tersebut telah gagal memenuhi fungsinya dalam membangun social dan mutual trusts. Terlebih lagi adegan pemotongan tangan Titus dan penggalan kepala anak Titus menunjukkan bahwa Titus Andronicus tidak mendorong penonton menyelesaikan konflik secara damai.

Melalui perspektif moralis, Titus Andronicus dipandang sebagai kegagalan karya fiksi mengajarkan nilai-nilai moral kepada publik. Tentu saja, perspektif tersebut belum tentu disetujui oleh pecinta dan pelaku seni. Apakah itu kritik moralis terhadap Titus Andronicus, atau kritik netizen terhadap food blogger yang mengunggah foto tumpahan kopi di Instagram  (lihat Batubara, 2017), seni dan moralitas akan selalu mengalami pergolakan dalam bentuk upaya saling koreksi antara satu dan lainnya.

Referensi:
  1. Alper, D. (Producer), Conrad, S. (Writer), & Muccino, G. (Director). (2006). The Pursuit of Happyness [Motion Picture]. Columbia Pictures.
  2. Arad, A. (Producer), Lee, S., Ditko, S., Koepp, D. (Writers), & Raimi, S. (Director). (2002). Spider-Man [Motion Picture]. USA: Columbia Pictures.
  3. Batubara, B. (2017, Juni 28). Bernard Batubara Twitter Profile. Retrieved Juli 22, 2017, from Twitter: https://twitter.com/benzbara_/status/879994570083254272
  4. Birnbacher, D. (2013). Moral and Other Values. Kultura i Wartosci, 4(8), 43-58.
  5. Russo, C. (2010-2011). The Representation of Death in Titus Andronicus. Universita Degli Studi Di Padova, Dipartimento Di Lingui E Letterature Anglo-Germaniche E Slave. Anno Accademico.
  6. Shakespeare, W. (n.d.). Romeo and Juliet. The Curtain Theatre, London, England. 

Moralitas Shakespeare (Bagian 1)

Romeo duduk di samping jasad Tybalt (sumber gambar: HDVDArts)

“Nilai moral” merupakan terminologi yang kerap didengar dalam beberapa kesempatan: pidato pejabat negara, ruang kuliah (khususnya jurusan hukum), dan tanggapan netizen di kolom artikel berita terkait tindakan-tindakan tidak pantas yang dilakukan politisi, seorang Ayah atau Ibu kandung, maupun seleb eksentrik.

Setiap orang memiliki acuan berbeda terkait nilai moral. Ada yang merujuk pada ajaran keagamaan, ideologi kenegaraan, peraturan perundang-undangan, atau kegunaannya (sesuatu yang membawa kerugian bagi orang lain dipandang kurang bermoral). Dieter Birnbacher dalam “Moral and Other Values” (2013 : 45) mengungkapkan bahwa dalam beberapa kesempatan, nilai moral diketahui melalui pendekatan linguistik; ekspresi lingual yang biasa digunakan pada kerangka moral seperti “baik,” “benar,” “seharusnya” (ought), dll. Akan tetapi pendekatan tersebut terbantahkan, mengingat ekspresi lingual tidak selalu merujuk secara spesifik pada moralitas (e.g. “gunting yang baik,” “penampilan Pittsburgh Symphony Orchestra yang baik,” atau “beristirahat selama 2 minggu akan baik untukmu”). 

Jika pendekatan linguistik tidak mampu menjelaskan nilai moral secara tepat, maka diperlukan kajian terhadap pendekatan lain dalam mempersepsikan nilai moral. Birnbacher (2013 : 45) menggunakan pendekatan fungsi sosial (social function) diantaranya:
  • Orientasi individu (individual orientation): nilai moral memiliki fungsi mengarahkan perilaku sehari-hari individu;
  • Kepercayaan sosial (social trust): nilai moral menetapkan batasan yang tidak boleh dilanggar orang lain, serta mengurangi ketakutan akan agresi dan tipu daya;
  • Memberi ruang bagi kerja sama sosial: nilai moral menciptakan iklim kepercayaan yang mutual (mutual trust) yang menjamin bahwa janji-janji dan kontrak-kontrak akan ditepati; dan
  • Penyelesaian konflik secara damai (peaceful conflict resolution): nilai moral menyelesaikan konflik kepentingan berdasarkan aturan-aturan sosial yang dipatuhi bersama.

Ada banyak cara yang ditempuh dalam menanamkan nilai moral, salah satunya melalui film. Di tengah pasangnya film bernuansa antihero (peran protagonis yang memiliki cacat perilaku), masih terdapat beberapa film yang menyampaikan pesan moral. Sebagai contoh, film The Pursuit of Happyness dimana tokoh utama bernama Christopher Gardner (diperankan oleh Will Smith) mendemonstrasikan seorang Ayah yang baik: berusaha keras bangkit dari kemiskinan demi memberikan kehidupan yang normal bagi anak semata-wayangnya (Alper, 2006). Ada juga film Spider-Man, pahlawan super berwujud manusia laba-laba yang memiliki nama asli Peter Parker (diperankan oleh Toby Maguire); menempatkan urusan pribadi termasuk meninggalkan orang yang disayangi demi menyelamatkan kota (Arad, 2002).

Sedikit mundur pada abad ke-17, isu moralitas juga diangkat pada drama fiksi yang ditulis Wiliam Shakespeare. Berbeda dari The Pursuit of Happyness dan Spider-Man, Shakespeare memiliki cara tersendiri dalam menyisipkan nilai moral. Dia tidak menunjukkan, “Ini tokoh utama, dia orang yang baik, berbudi-pekerti luhur, senang menolong orang, dll” akan tetapi menunjukkan akibat perbuatan-perbuatan amoral, baik melalui hukuman yang datang dari luar atau self-punishment; ada banyak plot line dimana tokoh utama Shakespeare memiliki kecenderungan menyiksa diri melalui rasa dendam, amarah, atau bahkan niat bunuh diri.

Di dalam drama Romeo and Juliet, Romeo membunuh Tybalt dan dijatuhi sanksi pengusiran dari Verona. Saat mendengar kabar dari biarawan Lawrence, Romeo berkata, “There is no world without Verona walls but purgatory, torture, hell itself. Hence ‘banished’ is banished from the world, and world’s exile is death. Then ‘banished’” (Shakespeare : Act 3, Scene 3). Pada drama Macbeth, tokoh utama digambarkan sebagai orang yang sombong, sok berkuasa, dan senang menjadi pusat perhatian. Dia selalu marah kepada orang yang menentangnya. Usut punya usut, amarah tersebut berakar pada perasaan bersalah di lubuk hati setelah dia membunuh sang raja. Di dalam drama Hamlet, tokoh utama berikrar akan membalaskan dendam selepas pembunuhan yang dilakukan orang lain terhadap Ayahnya, namun Hamlet, sang tokoh utama, mengalami konflik batin; pertanyaan-pertanyaan mengenai haruskah ia melakukan balas dendam memenuhi isi kepalanya.

Drama Romeo and Juliet, Macbeth, dan Hamlet adalah karya gemilang Shakespeare yang mengundang atensi tiap generasi, bahkan ratusan tahun setelah karya tersebut dibuat. Romeo and Juliet diapresiasi sebagai wujud keindahan dan hasrat fisik. Macbeth dipandang berhasil menarasikan tragedi secara apik: jatuhnya raja dari posisi yang superior menuju kerendah-hatian. Hamlet disebut-sebut sebagai “one of the best tragedy among his tragedies.”

Tragedi merupakan pusat kepiawan Shakespeare. Tragedi ialah alasan pecinta seni mengagumi karya-karya Shakespeare. Akan tetapi, ada masa dimana tragedi yang diciptakan Shakespeare gagal memuaskan banyak orang, malahan mengundang kritik-kritik tajam.

Shakespeare pernah membuat drama berjudul Titus Andronicus yang menurut beberapa orang, sama sekali tidak menyisipkan nilai moral. Salah satu kritik bahkan mengungkapkan bahwa Titus Andronicus secara sengaja bermaksud merangsang penonton vulgar melalui adegan berdarah dan horror, sebagaimana diungkapkan Saumel Taylor Coleridge, dikutip dari Cinzia Russo, “The Representation of Death in Titus Andronicus” (2010-2011 : 7). T.S. Eliot juga menyatakan bahwa drama tersebut merupakan salah satu drama paling bodoh dan tidak menginspirasi yang pernah ditulis Shakespeare (Russo, 2010-2011 : 7). Terdapat adegan dimana salah satu tokoh bernama Lavinia, berjalan mengitari panggung, tanpa tangan, dan sekujur tubuhnya berlumuran darah. Ada juga adegan Aaron memotong tangan kiri Titus, berikut seorang kurir yang menenteng kepala anak Titus (Russo, 2010-2011 : 27).

Awal Mula Inkuisisi di Eropa

Rohaniwan Ordo Dominikan (sumber: Early Music Muse)
Perjuangan di Eropa merupakan perjuangan yang melahirkan kebebasan (atau mempertahankannya). Pernyataan ini dibenarkan Piotr S. Wandycz melalui buku “The Price of Freedom: A History of East Central Europe from the Middle Ages to the Present,” meski hanya sebatas wilayah Eropa Timur saja (Wandycz, 2001). Menurut Wandycz, sejarah “kebebasan” di Eropa Timur diawali oleh kebebasan dan hak-hak istimewa yang dimiliki rohaniwan pada masa pertentangan antara Paus dan Kaisar di abad ke-11 sampai dengan 13, khususnya di Polandia dan Bohemia. Di abad yang sama, perjuangan untuk meraih kebebasan lahir dari kalangan bangsa Yahudi, sebagai dampak negatif praktik kebebasan para rohaniwan yang “berlebihan,” yang pada akhirnya mengakibatkan pembantaian massal, gejolak anti-Yahudi, dan pengusiran orang-orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1492 (Wandycz, 2001).

Mengapa pada Abad Pertengahan orang-orang Yahudi dibenci oleh kalangan gereja? Sebagaimana diungkapkan Wandycz sebelumnya, sempat terjadi cekcok antara Paus dan Kaisar. Pada akhir abad ke-11, Paus Gregorius VII (atau juga dikenal sebagai Hildebrand) bersiteru dengan Kaisar Henry IV dari Jerman. Gotthard Deutsch & Joseph Jacobs melalui situs JewishEncyclopedia menyatakan, “The Pope charged the Emperor with favoritism to the Jews, and at a synod held at Rome in 1078 he renewed the canonical laws which prohibited giving Jews power over Christians”  (Deutsch & Jacobs, n.d.). Secara lebih spesifik, hukum pembatasan terhadap Yahudi yang dibentuk Hildebrand mencakup “[…] might not be employed as tax-farmers or mint-masters.”

 Eskalasi diskriminasi gereja terhadap Yahudi meningkat ketika Lothar di Segni menjabat sebagai Paus pada tahun 1198-1216 (Deutsch & Jacobs, n.d.). Di bawah kepemimpinan Lothar di Segni, larangan gereja terkait keikutsertaan orang-orang Yahudi di dalam ruang publik diperbaharui melalui hukum yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menggunakan tanda khusus di pakaian yang dikenakan. Dasar argumen Paus ialah “Jews shoud, as though so many Cains, be held up as warning examples to Christians” (Deutsch & Jacobs, n.d.). Selain menerbitkan peraturan terkait Yahudi, Lothar di Segni juga memulai Perang Salib yang bertujuan “[…] recover the Holy Land, combated heresy in Italy and southern France, shaped a powerful and original doctrine of papal power within the church and in secular affairs […],” sebagaimana diungkapkan Kenneth J. Pennington di dalam Encyclopaedia Britannica (Pennington, n.d.).

Heresy(es)” merupakan terminologi yang digunakan kepausan untuk melabeli kaum reformis pada Abad Pertengahan. Sascha O. Becker, Steven Pfaff, dan Jaren Rubin dalam “Causes and Consequences of the Protestant Reformation” mengungkapkan bahwa gereja seringkali menghancurkan upaya apapun untuk mereformasi gereja (Becker, Pfaff, & Rubin, 2016). Salah satu kelompok yang dilekati label heresy yaitu Waldensian, yang inti gerakannya menolak tampilan kekayaan di kalangan anggota gereja. Menurut pemaparan Becker, Pfaff, & Rubin, Waldensian memperoleh pengikut di Perancis, Spanyol, dan Italia, akan tetapi gereja dan sekutu sekularnya menekan gerakan secara brutal. Puncaknya, gereja mengeluarkan dekrit perihal pembakaran hidup-hidup terhadap Waldensian di Dewan Gerona pada tahun 1197.

Ketika kepausan Lothar di Segni digantikan oleh Ugolino di Segni, kewenangan untuk menghukum heresy dialihkan kepada Ordo Dominikan yang terdiri atas anggota dari ordo lain atau rohaniwan sekular (lihat Helden, 2004) Di akhir abad ke-13, Inkuisisi, suatu institusi permanen di tubuh gereja Katolik, resmi memiliki birokrasi di tiap wilayah Eropa yang menunjang fungsi pemberantasan heresy

Referensi:
  1. Becker, S. O., Pfaff, S., & Rubin, J. (2016). Causes and Consequences of the Protestant Reformation. 
  2. Deutsch, G., & Jacobs, J. (n.d.). Popes, The. Retrieved Juni 17, 2017, from JewishEncyclopedia: http://www.jewishencyclopedia.com/articles/12273-popes-the
  3. Helden, A. V. (2004). The Inquisition. Albert Van Helden, Robert Ahlfinger.
  4. Pennington, K. J. (n.d.). Innocent III. Retrieved Juni 30, 2017, from Encyclopaedia Britannica: https://www.britannica.com/biography/Innocent-III-pope
  5. Wandycz, P. S. (2001). The Price of Freedom: A History of East Central Europe from the Middle Ages to the Present (2nd ed.). Taylor & Francis e-Library.

Policemen as Targets of Terrorist Attacks

The incident of Kampung Melayu bombing killed 3 (three) police officers (Yusuf, 2017) and left 5 (five) police officers wounded. It was not the first terrorist attack against Indonesian security forces.

(various sources)

During 2 (two) separate explosions in 2016, 2 (two) police officers were injured on Thamrin Bombing and explosion at Surakarta Police Station.

Hypertrophic scars marked on the right side of Sub-inspector Denny Mahieu’s body due to an explosion at Sarinah police post (Nailufar, 2017). Meanwhile, Brigadier Bambang Adi Cahyanto, a member of Provo Police Department, suffered burns and wound in his left eye when he prevented a perpetrator from entering Surakarta Police Station (sal, 2016).

The incident of Thamrin bombing began when an explosion occurred at Starbucks store. At first, police officers were not aware of the explosion since their communication devices were left in police post nearby, which located at the intersection of Sarinah. 11 (eleven) seconds later, an explosion occurred at that police post, then injured Sub-inspector Denny Mahieu. Visitors in Sarinah building scattered out to gather on the highway. Two terrorists came to the highway afterwards, then fired a weapon to a policeman who stood among the crowds.

In a separate location 7 (seven) months later, an explosion occurred at Surakarta Police Station, Central Java. In the morning when policemen were gathered for daily ceremony, a biker forced into the Police Station. Brigadier Bambang Adi Cahyanto prevented him, then the biker who was apparently a suicide bomber too, killed himself and injured Brigadier Bambang.

One year later, an explosion took its toll on police officers. The incident took place on May 25, 2017 at Kampung Melayu Terminal, East Jakarta. In contrast to two previous explosions that did not kill police officers, an explosion which originated from public toilet and Transjakarta bus stop killed 3 (three) police officers, left 5 (five) police officers wounded. The police force was in charge of guarding a torch parade (Movanita, 2017).

Table 1 : Data of Terrorism Perpetrators of Kampung Melayu bombing, Thamrin Bombing and Explosion at Surakarta Police Station (various sources)
Incidents
Perpetrator(s)
Year of Birth
Employment
Marriage Status
Affiliation
Kampung Melayu bombing
1. Achmad Sukri

2. Ichwan Nurul Salam
1985

1985
Freelance labor
Employee at private company
Married

Married
DAESH

DAESH
Thamrin bombing
1. Dian Joni Kurniadi
2. Afif a.k.a Sunakin
3. Muhammad Ali
1990

N/A

1976
Mechanic

Labor at tire factory
Public transportation driver
Single

Married

Married
N/A

JAKN

JAT
Explosion at Surakarta Police Station
Nur Rohman
1985
Parking attendant
Married
Arif Hidayatullah

Based on data compiled from various mass media, most perpetrators of attacks against police officers were 31-32 years old. Perpetrators had main job with salary in the range of Rp. 1.8 – 3.7 million (equals to 135 – 278 USD, refers to the standard salary of 2017). All perpetrators were married except Dian Joni Kurniadi, one of terrorist in Thamrin bombing as well as the youngest perpetrator. Furthermore, each terrorist had his own affiliation, where in the case of Kampung Melayu bombing, the perpetrators were affiliated to al-Dawla al-Islamiya fi al-Iraq wa al-Sham (DAESH), Thamrin bombers were affiliated to Jamaah Anshor Khilafah Nusantara (JAKN) and Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), and the suicide bomber at Surakarta Police Station was affiliated to Abu Muzab a.k.a. Arif Hidayatullah group.

After a series of investigations by the police, Arif Hidayatullah group is connected to DAESH. Arif Hidayatullah was known to accommodate funds from DAESH donors through his wife (dat, 2015). In addition, Arif also played a role preparing explosives and other materials needed in assembling the bomb (Deutsche Welle, 2016). It can be concluded that Arif Hidayatullah Group’s actions carried the mission like DAESH’s in other parts of the world.

DAESH attacks against police officers have become recurring patterns that may indicate a change of strategy within DAESH. Attacks did not only happen in Indonesia, but also in France. Since 2015, several incidents classified as terrorism resulted serious injuries among policemen. In January 2015, as many as 3 (three) police officers were killed in a series of attacks which started from the attack of Charlie Hebdo’s office. In June 2016, DAESH claimed responsibility for police stabbings in Paris suburban area. In April 2017, police officers were targeted during the shooting at Champs-Elysees (Kutner, 2017).

The determination of police officers as targets makes DAESH’s actions were distinguished from the actions of other offenders. If we compare DAESH’s actions to what gangsters, organized crime and cartels do, most of the offenders do not openly challenge police officers, as Robert J. Bunker stated in “Defeating Violent Non-State Actors.” All 3 (three) offenders simply do not want to be disturbed in gaining illicit profit (Bunker, 2013-14).

DAESH--possessing characteristic which tends to challenge the state--is more closely related to the characteristic of criminal-soldier, for example hit men, rebels, military commander and uniformed mafia. DAESH creates a shadow government to challenge and replace the state, and conducts a series of violence acts and attempted murders simultaneously. It could be the reason of why DAESH attacked police officers, because police officers are symbols of the existence of the state.

Reference:
  1. Bunker, R. J. (2013-14). Defeating Violent Nonstate Actors. Parameters, 43(4), pp. 57-64.
  2. dat. (2015, December 27). Begini Jejak Abu Mushab, Terduga Teroris yang Ditangkap di Bekasi. (Husain, Editor) Retrieved June 08, 2017, from JawaPos: http://www.jawapos.com/read/2015/12/27/14528/begini-jejak-abu-mushab-terduga-teroris-yang-ditangkap-di-bekasi
  3. Deutsche Welle. (2016, October 04). Berencana Bunuh Ahok, militan ISIS Dihukum 6 Tahun Penjara. Retrieved June 08, 2017, from DW: http://www.dw.com/id/berencana-bunuh-ahok-militan-isis-dihukum-6-tahun-penjara/a-35954155
  4. Kutner, M. (2017, April 21). Champs-Elysees Attack Strikes a Country Where Police Are Rarely Killed. Retrieved June 08, 2017, from Newsweek: http://www.newsweek.com/champs-elysees-shooting-number-police-killed-france-587661
  5. Movanita, A. N. (2017, May 25). Kronologi Ledakan Bom Bunuh Diri di Kampung Melayu. (S. Asril, Editor) Retrieved June 05, 2017, from Kompas: http://nasional.kompas.com/read/2017/05/25/12370871/kronologi.ledakan.bom.bunuh.diri.di.kampung.melayu
  6. Nailufar, N. N. (2017, January 14). Bekas Luka Polisi Korban Bom Thamrin dan Pusing yang Belum Hilang. Retrieved June 05, 2017, from Kompas: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/14/13520911/bekas.luka.polisi.korban.bom.thamrin.dan.pusing.yang.belum.hilang
  7. sal. (2016, July 05). Terkena Bom Bunuh Diri, Brigadir Bambang Alami Luka Bakar. Retrieved June 05, 2017, from Okezone News: http://news.okezone.com/read/2016/07/05/337/1432852/terkena-bom-bunuh-diri-brigadir-bambang-alami-luka-bakar
  8. Yusuf, A. (2017, May 25). Bom Kampung Melayu, Korban Polisi Bertambah Jadi 3 Orang. (B. Ramadhan, Editor) Retrieved June 05, 2017, from Republika: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/05/25/oqgygq330-bom-kampung-melayu-polri-korban-tewas-polisi-bertambah-jadi-3-orang

The Unimportance of Being Earnest

Laughter (Source: best-article-directory.info)

Earnestness brings several advantages. In the line of work, earnestness makes someone finished every given task with perfect result. In communication, earnestness makes two interacting people mutually understand intentions very well. Earnestness adheres to some jobs like surgeon or airplane captain; any error would be fatal if those people do not perform their duties earnestly.

On the other hand, earnestness may also bring disadvantages. Serious person tends to be stressful all the time for her fear of failure. To insignificant matters, serious person encounters anxiety. Those disadvantages would disturb her mental condition.

The personality of serious people
Most serious people are capable of managing their emotions very well, thinking realistically and being responsible to every actions. Such traits are reminding us to Mr. Spock from “Star Trek” television program.

Mr. Spock is described as a man with no emotion and capability of understanding someone else’s feelings. He creates rational decisions, however he does not consider their effects to someone else’s feelings.

Mr. Spock’s character which always ignores the feelings of co-workers, makes Mr. Spock fails at achieving his goals, even gets fired from his job.

The story of Mr. Spock, a man who frequently hindered by earnestness, shows that apparently, earnestness does not always bring positive outcome, rather negative one. However, what is the right manner in approaching life?

The right manner in approaching life
There are 3 (three) main keys in life approach: how to deal with failure, critics and depression.

The right manner in responding failure is not seeing it as an end point. It means that an individual should try over and over again until he’s successful. During the process of trial and error, the individual would learn useful things which utilize his personal development.

The second manner is accepting critics as an act of caring. Critics are not considered to be personal attacks intended to strike us down, rather as an act of caring that the other individual intends to turn us into a better person.

The last manner is not dwelling on depression. It can be interpreted as an ability to evaluate past event, not regret it. Dwelling on depression would only make someone stuck in the past.

More joking
Each person has the ability of inflicting pain to others, but only a few have skills to evoke laughter. Such quality is rare. Therefore, an individual who has such skills is more special than most people on earth.

Jokes would make us feeling better about ourselves since we can make people happy even just for seconds.

Moreover, jokes can build a bond of togetherness. It is very important in teamwork because it would enhance members’ productivity who feel comfortable on doing their jobs.

In romance, jokes can make someone (especially male) looks smarter than a man with 3 Ph. D's.