Untuk Anak-Anak Orba yang Maniak Kekerasan

Yth. Carpers*,

Kalian selalu mengeluh tentangku. Kalian bilang aku tukang mangkir dari kewajiban dan memiliki kecenderungan menunda-nunda pekerjaan sebelum tenggat waktu. Kalian juga bilang aku anak manja yang selalu mengharapkan lebih daripada yang aku usahakan. Menurut kalian, aku terlalu diperbudak oleh teknologi dan cenderung percaya dengan apa yang tersedia di internet daripada pengalaman hidup langsung nan getir itu. Kalian bilang aku praktis dan selalu mencari jalan pintas dalam mencapai ambisi, ketimbang berusaha lewat jalur yang sulit. Kalian bilang aku gila apresiasi dan selalu ingin dicium dahinya setelah berhasil mengerjakan sesuatu. Kalian juga bilang aku kutu loncat di dunia pekerjaan dan tidak pernah bertahan lebih dari 3 (tiga) tahun di suatu profesi.

Karena kalian terlanjur menilai bahwa aku memiliki adat kelakuan yang kurang baik, maka kalian keras padaku. Menurut kalian, kekerasan adalah solusi bagi segala krisis kedisiplinan, seperti yang biasanya terjadi dalam militerisme. Tidak jarang kalian memperlakukanku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, atau bahkan secara langsung memaki aku bodoh, goblok, dan tolol. Karena kalian pikir aku menghabiskan seumur hidup dengan nonton TV, jalan-jalan ke mall, aktif di media sosial---tiga aktivitas yang tidak ada faedahnya sama sekali dalam proses pengembangan diri, jadi aku tidak pernah sungguh-sungguh mempelajari sesuatu dalam kehidupan.

The construction of identity (sumber gambar : Daily Mail)
Tahukah kalian? Karena perlakuan yang kasar dan kritik kalian yang tajam, aku justru tidak berpikir bahwa kesalahan terletak padaku tapi terletak pada kalian. Aku justru merasa kalian sangat narsis dengan mengira bahwa kalian sudah cukup berhasil, sehingga kalian ingin menjiplak persis seperti cara senior-senior yang sudah wafat itu mendidik kalian dulu. Atau mungkin di masa muda, kalian sering terekspos dengan aksi-aksi kekerasan sehingga kalian belajar bahwa ternyata kekerasan itu menyenangkan (jika kalian ada di posisi penindasnya). 

Bagaimana jika, jangan-jangan, sekarang saatnya kalian bangun dari imajinasi itu dan mulai menyadari bahwa ternyata kalian biasa-biasa saja? Bahwa pola-pola pendidikan sarat kekerasan itu sama sekali tidak mendidikku seperti yang kalian kira, dan bahwa aku justru lebih cepat berkembang jika diberikan akses mengeksplorasi potensi-potensi kreatif? Bagaimana jika sekarang saatnya kalian menyadari bahwa kalian sama buruknya denganku, toh kalianlah yang memperkenalkan TV---pengaruh buruk itu, kepadaku, dimulai dari kalianlah video klip musik mulai diperkenalkan yang mereduksi sisi estetis dari musik itu sendiri, dimulai dari kalianlah franchise makanan sampah bertebaran di nyaris setiap negara di belahan dunia, dimulai dari kalianlah budaya komersil secara brutal menyikut mulai dari high art, ideologi, sampai isu-isu sosiologi pinggiran?

Kalian dibesarkan oleh Orde Baru. Sementara aku tumbuh di era pasca Undang-Undang Dasar 1945 diamandemen supaya lebih humanis. Saat kecil, kalian terbiasa dijewer guru jika tidak mampu menjawab soal perkalian atau dipukul tangannya oleh penggaris kayu jika lupa memotong kuku, sementara aku, jika saja ada guru mampu bertindak seperti itu, aku bisa melapor ke guru Bimbingan Konseling atau bahkan Kepala Sekolah dan guru tersebut bisa diskors keesokan harinya. Kalian menghabiskan waktu di kelas dengan mendengar, mendengar, dan mendengar, sementara aku didorong untuk berbicara dan berpendapat lewat presentasi riset-riset kecil yang dituangkan dalam makalah.

Tahukah kalian dampak dari pola pendidikan penuh kekerasan di masa muda kalian itu? Lihat saja, pada zaman Order Baru, anak muda yang mampu mengharumkan nama Indonesia hanyalah dari cabang bulutangkis. Lupakan soal Diplomat yang jago membujuk orang seperti Sjahrir dulu. Lupakan soal anak-anak muda yang baru merintis usaha dan langsung memiliki kekayaan melebihi pengusaha senior. Lupakan.

Sementara aku, yang tidak dididik dengan kedisiplinan ketat dan dimarahi itu, bisa juara olimpiade sains berkali-kali. Aku juga akhirnya mampu menjuarai olahraga selain daripada cabang bulutangkis. Aku juga mampu merakit robot pemadam api, yang lagi-lagi, menang dalam kejuaraan. Aku bernyali mengomeli perwakilan senior dari negara lain yang ikut campur dengan urusan dalam negeri serta kedaulatan Indonesia. Aku juga mampu mendirikan perusahaan di bidang transportasi berbasis teknologi yang langsung besar dan melakukan ekspansi di beberapa kota dalam kurun waktu kurang dari 5 (lima) tahun. Aku berkuliah di luar negeri dan mendapat indeks prestasi cumlaude. Itulah yang humanisme lakukan kepadaku, dan aku dengan senang hati membalas jasa-jasanya.

Iba aku kepada kalian.

Aku tidak butuh kekerasan untuk bisa berhasil. Aku tidak perlu dihujani dengan makian-makian bodoh, goblok, dan tolol supaya termotivasi mencerdaskan diri sendiri. Jadi, aku akan melawan penindasan kalian. Karena aku tidak ingin terjerembab dan minim prestasi seperti kalian. Jiwaku merdeka dan bebas layaknya layang-layang tanpa tali, kalian tidak akan pernah bisa menyekap jiwaku.


Salam,

Generasi Millennial


* Pengertian Carper : orang yang selalu komplain dan mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara merendahkannya.

Makna

Source: MIT OpenCourseWare

“Bahasa adalah produk budaya atau sosial, dan harus dipahami seperti itu.” – Edward Sapir

Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menangkap pengetahuan dari pengalaman. Dimulai dari hari pertama panca inderanya dapat berfungsi dengan sempurna, segala jenis informasi yang dipelajari dari pengalaman berupa bentuk, warna, tekstur, gerak, suara, dan aroma yang berkaitan dengan objek di lingkungan sekitar disimpan sebagai data dalam otak untuk dipergunakan di kemudian hari.

Proses pengambilan informasi dari panca indera akan sangat terlihat pada aktivitas anak kecil. Sebagai contoh, ia pertama kali mengenali objek bernama “tas” saat melihat tas milik ibunya. Tas itu berbentuk kotak dengan tali yang panjang, berwarna coklat, dengan tekstur beludru, dan di bagian dalamnya tercium aroma parfum ibunya yang sedikit tertumpah. Informasi dasar itu terus berkembang hingga suatu hari ia melihat tas milik orang lain yang tidak berbentuk kotak dengan dua tali, berwarna hitam, memiliki tekstur kanvas, dan beraroma sedikit kurang sedap karena sering terkena air hujan serta jarang dijemur. Ibunya memberitahu bahwa tas itu adalah jenis tas ransel. Kemudian berkembang lagi ketika suatu hari ia diajak piknik ke luar pulau oleh orangtuanya, saat ia melihat tas berbentuk kotak namun jauh lebih besar, tanpa tali, berwarna merah, berbahan ballistic nylon, dan beraroma kamper yang kemudian disebut sebagai koper. Dan seterusnya.

Ada banyak pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pengalaman. Karena begitu banyaknya, informasi tersebut sudah lebih dari cukup. Lantas, kenapa orang-orang masih membaca? Jika bentuk, warna, tekstur, gerak, suara, dan aroma sudah dipandang cukup, kenapa masih diperlukan huruf, kata, dan kalimat?

Sebuah sumber menyatakan bahwa sejarah alfabet pertama ditemukan pada tahun 2700 Sebelum Masehi (SM) di Mesir. Konon, alfabet digunakan sebagai panduan pengucapan simbol-simbol, penulisan infleksi dalam tata bahasa, dan penulisan kata-kata serapan dan nama-nama asing. Penggunaan alfabet selanjutnya tidak hanya diaplikasikan untuk keperluan interaksi sederhana, namun juga mengabadikan sejarah, bahkan ayat-ayat suci. Hingga akhirnya, di zaman modern, huruf, kata, dan kalimat digunakan di koran-koran berita, dokumen-dokumen hukum, karya-karya ilmiah, periklanan, atau bahkan hal sesederhana subtitle film-film luar negeri.

Dipandang dari tujuan awal penemuannya, huruf, kata, dan kalimat seharusnya mampu mempermudah komunikasi karena ia berfungsi sebagai alat menafsirkan simbol-simbol. Akan tetapi, persoalan baru justru muncul dari kehadirannya, yakni perihal makna dari kalimat-kalimat. Istilah-istilah seperti “kalimat bersayap” dan “double speak” merupakan beberapa bukti bagaimana kalimat dapat berganti peran dari yang semula alat untuk menjelaskan menjadi objek untuk dijelaskan. Pada akhirnya, huruf, kata, dan kalimat jatuh ke dalam jebakan “simbol” dan untuk itu perlu ditafsirkan kembali.

Sebagian besar filsuf bahasa dan juga beberapa pakar bahasa berpendapat bahwa makna sebuah kalimat bergantung pada makna dari kata yang terdapat di dalamnya. Contohnya, ketika seseorang mengatakan, “Ayah dari Prabowo,” orang lain akan beranggapan bahwa kalimat tersebut melekatkan identitas tertentu kepada sang ayah---Soemitro bukan lagi sekadar seorang ekonom dan Menteri pada era Presiden Soeharto tapi juga seseorang yang memiliki hubungan dengan Mantan Danjen Kopassus---atau mungkin kalimat tersebut mengantarkan seseorang pada bayangan Ayahnya sendiri ; figur Ayah, peranan umum seorang Ayah, kondisi fisik Ayah. Atau mungkin juga kalimat itu dijadikan referensi tentang apa yang bukan: Soemitro bukan paman dari Prabowo, bukan kakek dari Prabowo, bukan pula teman dari Prabowo.

Di satu sisi, pendapat lain mengemukakan bahwa makna dari kalimat juga bisa ditemukan apabila dilakukan penjabaran fakta-fakta sosiologis dan psikologis yang melibati pengguna kalimat tersebut. Fakta sosiologis yang dimaksud adalah situasi dan kondisi ketika kalimat itu disampaikan. Konsep ini sering digunakan oleh ahli tafsir dalam agama, misalnya teks hadis “Jauhilah bermusyawarah dengan perempuan karena pendapat dan tekadnya lemah […]” yang bagi beberapa ulama dirasa perlu dikaitkan dengan konteks Perang Jamal, sehingga pelarangannya tidak mencakup semua perempuan secara universal. Sementara terkait fakta psikologis, untuk memahami makna sebuah kalimat, seseorang harus terlebih dahulu memiliki pemahaman atas watak dan tindakan manusia.

Pada akhir tahun 1920-an, Edward Sapir pernah mengatakan bahwa bahasa adalah produk budaya atau sosial, oleh karenanya ahli bahasa harus menyadari peranan ilmu bahasa bagi penafsiran perilaku manusia pada umumnya.

Bahasa lebih dari sekadar struktur gramatikal, bahasa mampu memfasilitasi pelacakan informasi yang akurat dan perubahan perspektif. “Ryo menendang bola ke Angga” mengandung makna bahwa tendangan Ryo mengakibatkan Angga menerima bola, sementara kalimat “Angga menerima bola yang tadinya hendak Ryo tendang ke Yusuf” mengandung makna bahwa tendangan Ryo mengakibatkan Angga menerima bola, akan tetapi terdapat unsur ketidaksengajaan dari tindakan Ryo tersebut. Lihatlah bagaimana perbedaan kalimat sekecil apapun mampu mengubah perspektif penerima informasi terkait suatu peristiwa.

Saya akan dengan senang hati meminjam monolog Louis CK dalam acara Saturday Night Live. Louis memberi contoh kalimat: “I said something and then she got her feelings hurt.” Menurut Louis, kalimat tersebut mengaburkan akibat dari ucapan si pembicara, lebih lagi, menggambarkan perempuan yang mendengar ucapan si pembicara sebagai orang yang sensitif, dan dengan demikian seakan-akan membuka kemungkinan bahwa jika ucapan itu diutarakan ke orang lain, belum tentu orang lain itu akan sakit hati. Ada pelepasan tanggung jawab dalam kalimat tersebut. “I said something and then she got her feelings hurt” berbeda dengan “I said something that hurt her feelings” atau “I hurt her feelings by saying something.”

Jadi ketika Hafidz Ary berstatemen terkait pembubaran kebaktian di Sabuga tempo hari, “Jika izin sudah didapat dan sama sekali tidak ada modus pemurtadan, menurut saya tidak berhak dilarang,” kalimat ini bermakna dua hal: 1) Umat Kristen tidak berhak dilarang jika sudah mendapatkan izin dan sama sekali tidak ada modus pemurtadan; dan 2) Umat Kristen berhak dilarang jika tidak mendapatkan izin dan melakukan modus pemurtadan. Ada suatu kerancuan dalam kalimat tersebut, yakni pada kata “berhak.” Sinonim “berhak” adalah “berkuasa,” “berwenang,” dan “mempunyai hak.” Apakah dilarang itu merupakan suatu hak? Apakah dilarang itu merupakan suatu kekuasaan? Apakah dilarang itu merupakan suatu kewenangan? Jawabannya: Tidak. Yang merupakan kekuasaan, kewenangan, dan hak adalah “melarang.”

Ary berkata, “Jika izin sudah didapat dan sama sekali tidak ada modus pemurtadan, menurut saya tidak berhak dilarang.” Ary tidak mengatakan, “Jika umat Kristen sudah mendapatkan izin dan tidak melakukan modus pemurtadan, menurut saya umat Islam tidak berhak melarang.”

Sekalipun ada yang mungkin berniat membenahi susunan kalimat Ary menjadi, “Jika umat Islam (melihat situasi dan kondisi bahwa acara kebaktian dibubarkan sekelompok umat Islam) memberikan izin dan sama sekali tidak menemukan modus pemurtadan, menurut saya tidak berhak melarang,” persoalan baru justru muncul kemudian: apa hak kelompok umat Islam tersebut untuk memberikan izin, mencari-cari modus pemurtadan, dan melarang-larang? Orang mungkin malah akan bertanya-tanya: Memangnya Sabuga punya Nenek moyangnya?***



Posting berkaitan: Ox

Resensi Buku "The Power Elite" oleh C. Wright Mills

Mills riding motorcycle (source: About Sociology)

Mills, C.W. (1956). The Power Elite

The Power Elite menawarkan perspektif menarik mengenai struktur politik yang hidup di Amerika Serikat. Buku ini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa Sosiologi, dosen, pejabat pemerintahan, dan pelaku media.

C. Wright Mills adalah seorang sosiolog di Columbia University sejak tahun 1946 sampai dengan 1962. Tulisan-tulisannya berpengaruh pada masa Perang Dingin dan ia mencoba mengajak publik untuk terlibat dalam politik di saat apatisme mulai menjamur. Alhasil, pada tahun 1960-an, tulisannya mampu mendorong gerakan sosial Kiri Baru. Mills berhasil memperkenalkan kepada masyarakat mengenai hubungan kelas di antara elit politik, militer, dan ekonomi Amerika, sebagaimana dipaparkannya dalam buku ini.

Diawali dengan pembahasan topik The Higher Circles (kalangan yang lebih tinggi), pembaca diantarkan menuju sebuah pusat politik yang gelap dan tidak diketahui banyak orang, yakni mengenai eksistensi sebuah hierarki yang tidak kelihatan, di mana orang awam menempati struktur terbawah dengan populasi terbanyak dan “kalangan yang lebih tinggi” menempati struktur teratas dengan populasi paling sedikit.

“Kalangan yang lebih tinggi” merujuk pada sebuah kekuatan yang tidak dapat dipahami atau dikendalikan oleh masyarakat awam, justru sebaliknya, kekuatan inilah yang menggerakan masyarakat awam dan merasuk pada siklus kehidupan rutin:  pekerjaan, keluarga, dan kehidupan bertetangga.

Secara lebih konkret, Mills menggambarkan kalangan ini sebagai orang-orang yang menduduki posisi di tengah-tengah masyarakat Amerika, yang mana posisi tersebut berkedudukan lebih tinggi daripada orang awam, serta keputusan yang dibuatnya berdampak luar biasa pada kehidupan sehari-hari orang awam.

Orang-orang ini tidak “diperbudak” oleh pekerjaannya; mereka lah yang menciptakan lapangan pekerjaan bagi ribuan orang. Meskipun memiliki banyak hotel dan rumah, mereka bukan bagian dari anggota masyarakat manapun. Mereka tidak perlu memenuhi tuntutan-tuntutan; mereka yang menciptakan tuntutan dan mampu membuat orang lain memenuhi tuntutannya. Mills menyebut orang-orang ini sebagai Elit.

Dalam pembahasan masyarakat lokal di kota kecil, Mills menyajikan analisis meluas tentang eksistensi sebuah keluarga yang menempati posisi lebih tinggi daripada kelompok kelas menengah yang mayoritas bekerja sebagai staff administrasi atau pekerja upahan. Mereka memegang kunci terhadap keputusan lokal, dengan nama dan wajah yang senantiasa terpampang di surat kabar lokal. Putra-putrinya sekolah di yayasan swasta, menikah dengan kelas ekonomi yang sama, dan setelah menikah, mereka menerima warisan properti maupun kekuasaan yang sudah diperoleh Ayah-Ibunya. Meskipun demikian, kekuasaan yang dimiliki kalangan atas masyarakat lokal ini tidak bersifat mutlak. Mereka cenderung berperan sebagai satelit dari masyarakat kelas atas di kota metropolitan.

Pada bab “Metropolitan,” penulis memaparkan analisis mendalam mengenai peran konglomerat-konglomerat New York (bukan Washington), ibu kota bagi aktivitas keuangan. Di New York, terdapat inti dari keluarga-keluarga konglomerat yang bersifat turun-temurun (selanjutnya disebut konglomerat lama), dan keluarga tersebut dikelilingi oleh Orang Kaya Baru. Konglomerat lama ini sudah sejak dulu terlibat dalam aktivitas ekonomi masyarakat Amerika. Mereka adalah puncak hierarki industri dari keluarga di tingkat lokal, yakni tuan tanah di Hudson, pemilik ladang di Virginia, pemilik kapal pesiar di New England, pemilik butik di St. Louis, serta penambang emas di Denver, Colorado. Kekayaan orang-orang ini bersifat permanen, dan keturunannya senantiasa dihormati.

Menurut Mills, kelas atas kota metropolitan tidak hanya berkecimpung dengan keluarga di tingkat lokal tapi juga terlibat dalam dunia selebriti karena popularitasnya. Selebriti adalah orang-orang yang dikenal masyarakat umum tanpa perlu melalui proses perkenalan wajar. Kemanapun selebriti pergi, mereka dikenali; tidak hanya dikenali, bahkan orang-orang yang melihatnya akan lompat kegirangan dan bersorak-sorai. Apapun yang dilakukannya memiliki nilai publisitas, karena selebriti adalah bahan baku komunikasi dan hiburan media.

Dunia selebriti menjadi forum penghormatan publik; sebuah penghormatan yang tidak dibangun dari bawah, akan tetapi diciptakan dari atas. Hal ini dikarenakan seorang selebriti tidak akan terkenal tanpa peran orang-orang yang memegang kunci komunikasi massa. Para pemegang kunci tersebut adalah pemilik perusahaan dan penguasa militer yang dipandang sebagai elit nasional, sehingga mampu “mengarahkan” lampu sorot publisitas kepada siapapun.

Orang-Orang yang Sangat Kaya
Mills mengakui bahwa banyak yang tidak setuju lapisan-lapisan masyarakat kelas atas di tiap tataran pemerintahan ini sudah tidak ada, terutama setelah krisis 1929. Orang yang sangat kaya tidak ada lagi, dan meskipun ada, mungkin sekadar pewaris yang sudah sangat renta dan hampir meninggal, memberikan asetnya untuk pajak dan badan amal.

Mills mengkonstruksikan pendapatnya kembali dengan sangat elegan. Menurutnya, sebagai mesin yang memproduksi jutawan, kapitalisme Amerika sedang dalam kondisi yang lebih baik daripada yang dinyatakan melalui statemen-statemen pesimis tersebut. Para jutawan masih tetap seorang jutawan, dan lebih lagi, sejak keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, orang-orang kaya baru dengan jenis kekuasaan dan hak prerogatif yang baru mulai bergabung dalam lapisan kelas atas. Mereka bersama-sama membentuk perusahaan besar Amerika, yang kekayaan dan kekuasaannya pada hari ini dapat dibandingkan dengan perusahaan di lapisan manapun; di manapun, kapanpun, dalam sejarah dunia. Mills menjulukinya dengan istilah The Robber Barons (orang-orang kaya yang tidak bermoral). Pada masa Perang Dingin, Robber baron telah bertransformasi menjadi negarawan industri dengan perusahaan-perusahaannya yang megah, publisitas besar-besaran, dan oleh media digadang-gadang sebagai pahlawan ekonomi.

Robber baron adalah pemimpin dari Chief Executive dari perusahaan-perusahaan besar. Di dalam sistem yang bebas, privat, dan giat (sebagaimana disebutkan Mills), Executive muncul sebagai sosok yang berbeda dari pengusaha-pengusaha kolot. Executive ini bertanggung jawab sebagai wali, wasit yang tidak memihak, dan pakar pialang saham bagi kepentingan ekonomi yang beragam, termasuk jutaan pemilik properti kecil yang memegang saham di perusahaan besar Amerika, akan tetapi juga menggaji kelas pekerja dan konsumen yang memperoleh keuntungan dari supply barang/jasa besar-besaran.

Menurut Mills, Executive bertanggung jawab atas isi lemari pendingin di tiap-tiap dapur rumah tangga, otomotif di tiap-tiap garasi penduduk, begitu juga pesawat udara dan bahan peledak yang menjaga Amerika dari bahaya. Seluruh Executive memulai kariernya dari bawah; mungkin di masa lalu mereka adalah anak petani yang sukses di kota besar, atau imigran kere yang datang ke Amerika dan mewujudkan mimpinya. Dalam beberapa kasus, masyarakat juga mempercayakan pemerintahan kepada orang-orang ini, karena menurut masyarakat, orang-orang kaya yang memulai karier dari bawah tidak akan berlaku boros, korup, dan sulit diintervensi kelompok lain.

Merujuk dari sebuah literatur sejarah, Mills memaparkan bahwa Executive tersebut sempat berkuasa, dan bahkan mampu mengendalikan militer. Akan tetapi, hal itu hanya berlangsung hingga Perang Dunia I dan Executive kembali ke dunia tempatnya seharusnya berada, dunia industri. Dalam vakum politik, Warlord lahir kembali. Warlord adalah kelompok yang berseberangan dengan Executive, politisi, jenderal dan laksamana di dunia militer, dan berupaya meningkatkan kekuasaan dan mempengaruhi keputusan pemerintahan hingga titik terdalam. Pada titik ini, kekerasan rawan terjadi.

Sejak peristiwa Pearl Harbor, para jenderal dan laksamana berupaya menggoyang pendapat populasi kelas bawah, membagi tanggungjawabnya baik secara terbuka atau diam-diam atas kebijakan-kebijakan kontroversial. Dalam berbagai kontroversi ini, para Warlord mencoba memblokade kebijakan kontroversial militer yang tidak sesuai dengan kepentingannya. Pada akhirnya, Warlord selalu kalah dan jenderal-jenderal kecil selalu menang.

Setelah kemenangan yang didulang, jenderal dan laksamana dapat mempraktikan kekuasaannya di berbagai arena kehidupan Amerika yang semula menjadi domain sipil; mereka memperoleh jaringan lebih banyak; mereka beroperasi di domain-domain elit sekaligus masyarakat kelas bawah, di saat para Warlord justru membangun hubungan buruk dengan elit Amerika. Meskipun memiliki latar belakang militer, saat terlibat dalam keputusan-keputusan politik dan ekonomi, para jenderal dan laksamana tidak begitu berbeda dengan Executive dan politisi pada umumnya.

Pada arena politik, fokus utama jenderal dan laksamana kemudian adalah siapa figur yang cocok sebagai kandidat Presiden Amerika Serikat. Menurutnya, kandidat yang cocok adalah seseorang yang tumbuh di sebuah ladang pertanian di Ohio, dengan keluarga besar yang datang dari Inggris pada tahun 1620. Ketika menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Ayahnya meninggal, ladang dijual, dan ia diajak Ibunya pindah ke kota lain, dan mulai berjuang membangun kehidupan.

Presiden masa depan bekerja di pabrik pamannya, dan menjadi pakar di segala permasalahan perburuhan dan manajerial, di saat ia sedang sibuk di bangku perkuliahan. Dia pergi ke Perancis saat Perang Dunia I, dan di perang selanjutnya dia telah menjadi seorang negarawan. Begitu kembali ke Amerika, dia mengenyam bangku sekolah hukum selama 2 (dua) tahun, menikah dengan pacarnya semasa SMA yang merupakan cucu dari tentara Konfederasi, membuka kantornya sendiri, dan ikut klub lokal, Elks, Rotary Club, dan gereja Episkopal Protestan. Dengan latar belakangnya sebagai negarawan eks-tentara yang menguasai urusan perburuhan dia dipandang pantas memimpin sebuah negara.

Menjembatani Elit dengan Masyarakat Banyak
Meskipun kriteria untuk sosok Presiden Amerika Serikat masa depan telah dipatok sedemikian rupa, sulit bagi para jenderal dan laksamana menjamin terpilihnya orang tersebut dengan sistem pemilihan umum yang demokratis. Dalam citra standard kekuasaan dan pengambilan keputusan, tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada publik Amerika. Kata “publik” seringkali menjadi legitimasi praktik kekuasaan; segala jenis keputusan pemerintah hingga swasta beserta konsekuensinya, selalu dijustifikasi dengan dalih kepentingan publik.

Menurut Mills, corak opini publik yang paling penting adalah pasang-surut diskusi yang bebas, yakni adanya kemungkinan untuk menanggapi, mengorganisir opini publik melalui organ otonom, dan merealisasikan opini ke dalam tindakan. Opini yang lahir dari diskusi publik dipahami sebagai resolusi yang dijewantahkan ke dalam aksi publik; kehendak umum masyarakat yang dituangkan ke dalam peraturan perundang-undangan.

Tidak bisa dipungkiri, Amerika di era modern adalah masyarakat yang demokratis. Publik tidak hanya harus mampu menyampaikan aspirasinya, tapi juga memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sejauh mana tanggung jawab yang diemban oleh para pengambil keputusan. Setiap orang bergantung pada pengetahuan yang disediakan oleh orang lainnya, mengingat pengalaman pribadi saja tidak cukup untuk memahami dunia sosial yang mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.

Oleh karena itu, komunitas intelek adalah kelompok yang coba dirangkul oleh militer. Hal ini menjadi salah satu kajian Mills. Citra yang terbangun sekarang, politik bukan lagi dikuasai semata oleh elit yang tidak bertanggungjawab dan manipulatif, tapi juga oleh sekumpulan komunitas intelek yang mampu menaklukan situasi sulit. Komunitas intelek berperan sebagai pihak-pihak yang memberikan penjelasan masuk akal atas suatu kebijakan, suatu peran yang semula diemban oleh juru bicara. Tulisan-tulisan akademisi adalah bentuk pelunakan kehendak politik (yang terlanjur memiliki citra buruk, e.g. absence of mind and of morality), dengan menggunakan pisau bedah humanisme barat sebagai dasar analisis setiap kebijakan.

Mills memberikan pemaparan getir tentang bagaimana politik yang korup menjadi corak sistematik dari elit-elit Amerika dan diterima secara umum oleh masyarakat banyak. Di era korporasi, hubungan ekonomi menjadi bersifat non-personal, dan akibatnya, pejabat eksekutif kurang merasakan tanggung jawab personal. Di dunia korporasi bisnis, pencipta-perang dan politik, kesadaran pribadi dilemahkan dan immoralitas justru terinstitusionalisasi. Ia menjadi corak dari para pengusaha, lapisan masyarakat kapitalis yang terjalin secara mendalam dengan politik negara militer. Pada titik ini, pertanyaan penting seperti pendanaan kampanye politisi muda bukan lagi apakah politisi tersebut bermoral atau tidak, akan tetapi apakah anak muda di arena politik Amerika dapat bekerja dengan baik di lingkungan yang tidak bermoral. Ketiadaan moral ini merupakan akibat dari fakta bahwa nilai-nilai tradisional tidak lagi mampu menjaga manusia di era korporasi. Adapun jika orang-orang saling membantu, bukan lagi dilatarbelakangi kewajiban moral. Semua lebih dititikberatkan pada motivasi politik.

Kesimpulan
The Power Elite mencoba mengkonstruksikan hierarki yang terdapat di masyarakat Amerika di setiap periode sejarah yang berbeda (Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin). Setiap bagian dirumuskan menjadi pembahasan satu kelas tertentu yang saling sambung-menyambung dengan bab selanjutnya. Adapun kelas-kelas itu antara lain adalah Kalangan yang Lebih Tinggi, Masyarakat Lokal, Metropolitan, Selebriti, Orang-Orang yang Sangat Kaya, Chief Executive, Pemilik Perusahaan, Warlord, Kelompok Militer, Presiden, Kekuatan Elit, Masyarakat Banyak, dan Kelompok Intelek. Mills juga tidak lupa mendefinisikan istilah-istilah yang ia gunakan, serta mencantumkan rangkuman peristiwa untuk memudahkan pembaca mencerna informasi yang diberikan. Kredibilitas konten buku ini tentu bergantung pada konteks zaman ketika Mills menulisnya (tahun 1956), akan tetapi, dalam beberapa poin, pemaparan Mills mengenai fenomena hierarki sosial di Amerika masih dapat dikatakan valid.



Posting berkaitan:
Ikut Timur atau Barat 
Terbuai Dalam Sistem 
Perombakan Kebiasaan Kerja dan Budaya Intelektual

Kekacauan di Suriah

sumber gambar: scroll.in

Arab Spring adalah apa yang disebut oleh komentator politik internasional sebagai gerakan demokrasi popular yang mengalir mulai dari Tunisia, menginspirasi Mesir, dan berakibat pada bangkitnya semangat pergerakan di negara-negara sekitarnya (Howard dan Hussain, 2013). Pergerakan diawali dengan kejatuhan Zine el Abadine Ben Ali dari Tunisia, menjalar ke Libya, Yaman, Mesir, hingga Suriah.

Suriah sendiri memiliki kasus yang unik. Berbeda dengan negara-negara Arab lain yang dilatarbelakangi oleh kekuasaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, Bashar al-Assad, Presiden Suriah, baru memimpin pada tahun 2000 setelah menggantikan Ayahnya, Hafez al-Assad. Perekonomian di awal pemerintahan Basharpun pada dasarnya mengalami peningkatan, seperti yang diungkapkan dalam pidato PM (Perdana Menteri) Muhammad Naji al-Utri di hadapan loyalis Partai Ba’th, yaitu adanya pertumbuhan ekonomi sebesar 4,6% (Raphaeli, Vol. 11, 2007). Selain itu, 2 (dua) bulan setelah menjabat sebagai Presiden, Bashar juga memberikan “angin segar” demokrasi melalui kebijakannya untuk membebaskan 600 tahanan politik.

Gejolak politik Suriah diawali dengan pergerakan IM (Ikhwanul Muslimin) pada tahun 2001, yang mengancam akan melanjutkan kegiatan politiknya setelah pengusiran pemimpinnya 20 tahun yang lalu. Penanganan Bashar dalam menyikapi pergerakan kontra-pemerintah, berujung pada rentetan peristiwa, seperti penahanan anggota dewan dan aktivis pro-reformasi yang tentu saja, menghancurkan harapan warga Suriah akan akhir dari rezim otoriter Hafez al-Assad.

Gejolak kian diperparah tatkala pada tahun 2002, Presiden George W. Bush “menandai” Suriah sebagai salah satu dari axis of evil (poros kejahatan) dan menuduh negara di Asia Barat tersebut memiliki senjata pemusnah massal (selanjutnya disebut WMD). Tiga tahun kemudian, AS (Amerika Serikat) menerapkan sanksi ekonomi terhadap Suriah, diiringi dengan resolusi DK-PBB (Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menghimbau kekuatan bersenjata asing, termasuk militer Suriah, untuk meninggalkan Lebanon. Dalam pandangan AS, himbauan tersebut tidak dihiraukan oleh Suriah, hingga pada tahun 2005, terjadi Pembunuhan Mantan PM Lebanon, Hariri, di Beirut. Suriah dituduh mendalangi pembunuhan tersebut, diikuti oleh kesaksian Mantan Wakil Presiden Abdul Halim Khaddam yang mengungkapkan bahwa beberapa orang berpengaruh Suriah mengancam Hariri sebelum peristiwa pembunuhannya.

Ketegangan yang terjadi antara AS dan Suriah berujung pada penyerangan terhadap Kedubes (Kedutaan Besar) AS di Damaskus, Suriah, dan kerenggangan itu terus berlangsung hingga tahun 2009. Hubungan sempat membaik saat Jeffrey Feltman, PJs (Penanggung Jawab sementara) Asisten Sekretaris Negara AS berkunjung ke Damaskus dengan itikad membuka hubungan perdagangan di bidang jual-beli saham. Gagasan itu disambut baik sebagai upaya untuk meliberalisasi sistem ekonomi terkomando Suriah. Akan tetapi, pada saat itu Suriah telah mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, sehingga tantangan terbesar yang datang justru bukan lagi dari AS, melainkan keresahan warga negaranya sendiri.

Menurut PM al-Utri, penurunan pertumbuhan ekonomi Suriah diakibatkan oleh 8 (delapan) faktor negatif (Raphaeli, Vol. 11, 2007), antara lain:
  1. lemahnya performa beberapa sektor ekonomi dan rendahnya pendapatan perkapita;
  2. tekanan pertumbuhan penduduk;
  3. ketergantungan terhadap ekspor, sementara saat itu terjadi penurunan produksi minyak;
  4. rendahnya laba yang diperoleh di bidang penanaman modal;
  5. rendahnya tingkat pananaman modal nasional dan asing;
  6. rendahnya produktifitas serta peningkatan angka pengangguran;
  7. rendahnya tingkat pendapatan bersamaan dengan rendahnya tingkat insentif; dan
  8. buruknya standard teknis di sektor produksi.

Penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor pendorong pemberontakan nasional, di samping faktor-faktor kompleks lain yang saling berhubungan, yaitu ketegangan mazhab agama dan sosiopolitik serta gelombang reformasi politik yang menyapu MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara) dan beberapa wilayah Mediterania (Gleick, 2014). Walhasil, penurunan ini membangkitkan rasa tidak percaya publik dan menginspirasi massa melakukan demonstrasi dengan metode kekerasan. Di sisi lain, dalam kepanikan luar biasa, pihak pemerintah Suriah juga menggunakan pendekatan yang kurang tepat untuk meredakan kemarahan publik.

Protes penuntutan pembebasan tahanan politik di Deera, justru direspon dengan kekerasan bersenjata oleh militer Suriah, dan menambah panas pemberontakan. Tank militer memasuki Deraa, Banyas, Homs dan pinggiran kota Damaskus sebagai upaya menghancurkan protes anti-rezim. Menginjak tahun 2011, kelompok oposisi mulai terorganisir dan badai demonstrasi di berbagai daerah serta pembunuhan anggota militer pemerintah terjadi. Pemerintah membombardir Homs dan kota-kota lainnya.


Perubahan Iklim Sebagai Akar Persoalan

Sengketa akses air sebagai bagian dari sarana militer untuk menaklukan kekuatan lawan telah ditemukan dalam periode tertentu proses pembangunan peradaban. Pada tahun 2500 SM, Raja Urlama dari Lagash mengalihkan akses air Gu’edena menuju perbatasan kanal, dan mengeringkan parit-parit untuk memotong persediaan air lawannya, Umma. Pada tahun 1720-1684 SM, Abi-Eshuh membangun dam sungai Tigris untuk mencegah mundurnya pemberontak yang dipimpin oleh Iluma-Ilum, pihak yang menyatakan kemerdekaan Babilonia. Beberapa perang lain dalam sejarah juga diketahui memanfaatkan air sebagai sarana militer, termasuk perang antara Sisera versus Barak, Nabi Musa versus Mesir, Asyur versus Armenia, Sanherib versus Babilonia, Israel versus Asyur, dan masih banyak lagi.

Tidak bisa dipungkiri, di konflik Suriah pun, kondisi iklim dan pengairan adalah faktor relevan karena kemerosotan perekonomian yang terjadi. Konflik terkait air muncul dalam beragam bentuk, termasuk sengketa akses air dan kontrol sistem pengairan---infrastruktur dan sistem pengairan dijadikan target aksi terorisme, berikut penggunaan air sebagai senjata. Pada tahun-tahun terakhir, terdapat peningkatan kekerasan yang diakibatkan oleh sengketa air (Gleick, Vol. 6, 2014). Tidak hanya Gleick, Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) juga mendokumentasikan adanya pengurangan drastis pada kadar air bawah tanah di perairan Tigris-Efrat antara tahun 2003-2009. Di Suriah, khususnya, kekeringan bermula pada tahun 2006, yang pada akhirnya memaksa para petani untuk meninggalkan lahan pertanian dan melakukan urbanisasi. Urbanisasi pada akhirnya membakar perang sipil di perkotaan:  “You had a lot of angry, unemployed men helping to trigger a revolution,” ungkap Aaron Wolf, pakar Manajemen Pengairan dari Oregon State University yang secara berkala mengunjungi kawasan Timur Tengah.

Peran perubahan iklim dalam mengubah sistem sosial memang sudah diakui Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sejak tahun 2001. Beberapa literatur lain juga telah berspekulasi mengenai bagaimana perubahan iklim dapat meningkatkan risiko konflik kekerasan. Terdapat 2 (dua) penjelasan bahwa perubahan iklim dapat menstimulasi konflik: 1) konflik muncul melalui perubahan ekonomi-politik sumber daya energi sehubungan dengan tindakan mitigatif untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil;  dan 2) prospek konflik distimulasi oleh perubahan sistem sosial yang didorong oleh dampak lingkungan aktual atau yang dirasakan (Barnett & Adger, Vol. 26, 2007). Persoalan-persoalan yang berpotensi muncul seperti peningkatan harga pangan karena musim paceklik, penyakit-penyakit ringan yang disebabkan oleh temperatur tinggi, perubahan alokasi anggaran pemerintah dari semula untuk pendidikan diperuntukan bagi pengurangan pemanasan global dan relokasi paksa ke area dataran tinggi dapat memantik konflik antara warga dengan pemerintah.

Persoalan ini serupa dirasakan petani Suriah pada tahun 2006. Para petani telah berjuang untuk mendapatkan harga yang adil bagi produksinya, biaya murah untuk pestisida, dan berkompetisi dengan sistem pertanian monokultur skala besar. Akibat perubahan iklim, permasalahan yang dihadapi petani semakin memburuk karena mereka harus mengubah pola produksinya. Menurunnya angka produksi mengancam sumber pendapatan petani, begitu juga orang-orang yang mata pencahariannya bergantung pada penjualan hasil pertanian seperti sayur dan buah-buahan. Urbanisasi ke kota untuk bekerja sebagai buruh/karyawan industri jadi satu-satunya pilihan. Sayangnya, pemerintahan Bashar Al-Assad justru mengambil langkah ekstrem dengan mengusir ex-petani dari kota-kota besar, yang pada akhirnya justru menyulut konflik sipil.

Belas Kasihan



Wajibkah kita turut meratapi tragedi yang menimpa tetangga sendiri?

Jika moral ibarat bangunan, maka empati adalah batu bata yang menyusun dindingnya. Empati adalah kemampuan untuk merasakan luapan perasaan orang lain, termasuk kemampuan untuk membayangkan keadaan batin dan pikiran orang lain. Empati amat diperlukan, karena ia membentengi diri dari bibit-bibit kejahatan yang amat mungkin tumbuh di dalam hati setiap manusia: prasangka, rasisme, keinginan untuk menindas makhluk hidup lainnya. Pun empati tidak hanya melulu berada di posisi defensif, akan tetapi juga dapat berperan aktif mendorong aksi heroik.

Menumbuhkan rasa empati bisa menjadi tugas yang sulit, terutama apabila kita tidak terlibat pengalaman langsung di dalam musibah yang menimpa orang lain. Hal ini berakibat pada minimnya pengetahuan terkait bagaimana musibah tersebut berdampak negatif pada aspek-aspek penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Oleh karenanya, sebagaimana yang diungkapkan Adam Smith dalam The Theory of Moral Sentiment, satu-satunya yang dapat dilakukan adalah dengan merefleksikannya kembali ke dalam diri---bagaimana perasaan kita saat ditimpa musibah serupa.

Sayangnya, manusia lahir, tumbuh, dan berkembang-biak bukan di kehidupan yang sempurna. Saat berkuasa, kita dituntut untuk menjadi kejam. Saat diperlakukan sewenang-wenang, kita dituntut untuk submisif. Empati tidak menjadi pilihan. Tentang bagaimana manusia bermasyarakat pada abad-21 ini, mungkin masih memiliki karakteristik sama dengan debat dramatis yang dikembangkan sejarawan kuno Yunani, Thucydides, dalam History of the Peloponnesian War. Pesan dari Melian Dialogue adalah bahwa jika ingin menghindari kehancuran bagi diri sendiri, mereka yang tidak berkuasa harus patuh dan tidak murka terhadap mereka yang berkuasa. Kesimpulannya, yang kuat melakukan apa yang diinginkan, dan yang lemah menanggung derita sebanyak yang diharuskan. Yang lemah harus menerima penderitaan tersebut layaknya sebuah takdir.

Tidak hanya Thucydides, Chuck Palahniuk tampaknya setuju atas hal ini, tatkala ia (dengan sinis) menempatkan diri di posisi si lemah: "Masochism is a valuable job skill" (Masokisme adalah ketrampilan kerja yang berharga). Mungkin maksud Palahniuk adalah barangsiapa yang mampu merasakan sisi kenikmatan saat dianiaya atau disakiti, maka ia akan disayangi "boss." Istilah sehari-harinya: nek dipisuhi majikan meneng wae. Hukum ini tentu mengingatkan kita pada kehidupan di alam rimba, dimana makhluk hidup yang berada di puncak rantai makanan bebas memangsa hewan lain kapanpun, sementara hewan yang berada di posisi lebih rendah (herbivora) harus senantiasa dihantui rasa takut diburu pada momen yang tidak terduga

Tapi ini bukan kesimpulan akhir. Sebagaimana sekeping uang koin, manusia mampu melihat sisi lain dari suatu persoalan. Manusia mencari alternatif dari sikap pasrah. Ya, kita mungkin sekadar hewan, dan berperilaku selayaknya hewan pada umumnya. Tentu juga, ada banyak kesamaan antara perilaku hewan dan manusia. Akan tetapi, berkat kemampuan akal, manusia memiliki kesempatan untuk hidup berbeda daripada hewan.

Satu yang menarik dari manusia, mereka tidak pernah menutup pilihan-pilihan yang disajikan untuk dirinya. Seekor hewan, dengan segala kehidupan hutan yang bengis dan keras, hanya punya 2 (dua) pilihan: pasrah atau mencari cara untuk bertahan hidup di dunia nan brutal. Dalam pada itu, manusia, mereka berbeda. Manusia dapat memilih untuk keluar dari hutan. Lebih dari itu, manusia bahkan mempunyai kemampuan bernegosiasi dengan predatornya agar tidak "dimakan." Jika ia lihai di bidang kesadaran sosial seperti kemampuan memahami situasi sosial, pembelajaran sosial, komunikasi, dan menebak jalan pikiran orang, niscaya ia bebas dari "terkaman" predatornya. Boleh jadi mereka justru berubah menjadi sahabat karib. Semua adalah persoalan cita rasa dan penilaian yang baik.

Sementara itu, di sisi "sang predator" sendiri, kepekaannya akan menimbang apakah kualitas yang dimiliki orang tersebut pantas mendapatkan pujian dan ekspresi kekaguman. Bila ini terjadi, akan ada pertemuan dengan sentimen dan ketajaman pemahamannya. Dari sana lahirlah empati. Dari sana terlahir kemanusiaan.

Apa maksud yang terkandung dari semuanya? Artinya, empati tidak datang karena tiba-tiba batin seseorang mengatakan, "Hey, kamu nggak kasihan sama orang itu?" Empati adalah masalah kepekaan, dan kepekaan perlu dirangsang. Yang lemah memberitahu bahwa ia berada dalam posisi membutuhkan pertolongan. Yang lemah dan kuat harus berdialog perihal cara-cara yang perlu ditempuh untuk mencapai keseimbangan. Tidak semua orang mampu menggerakan diri sendiri untuk merasa prihatin pada nasib buruk yang menimpa orang lain. Dan yang tidak cakap melakukannya, tidak melulu harus dicap orang jahat. Bakal menjadi kasar, atau vulgar, apabila seseorang sudah memohon belas kasihan padanya dan ia menolak secara tidak sopan. Itu baru jahat.

Saya jadi teringat pada salah satu kawan saya. Suatu hari dia berencana hendak membuat situs web untuk produk dagangannya. Tanpa ia minta, saya menawarkan bantuan merancang situsnya secara gratis, dia justru menolak. Karena saya kenal betul dengan kepribadiannya, dia memang menolak sungguh-sungguh, bukan karena pekewuh atau malu-malu kucing. Dia membuat saya tersadar, setiap manusia memiliki apa yang disebut pride---harga diri. Harga diri itu tetap bersemayam dalam hatinya selama ia belum mengatakan, "Tolong, bantu saya." Sejak saat itu, saya berhenti mengasihani orang lain jika ia tidak memintanya.***



Posting berkaitan:
Rasa Curiga dan Ketidakjujuran 
Makna dari Percaya 
Berpikir Matang-Matang Nggak Perlu Kelamaan 
Alyosha dan Hal-Hal yang (Mungkin) Memenuhi Isi Kepalanya 
Moral yang Logis dan Terukur

Makna Bahagia

Sumber gambar: istockphoto.com

Bahagia. Ada banyak sumber kebahagiaan. Mungkin sesederhana melihat orang yang kita sayangi tersenyum seperti yang dilantunkan Harry Connick, Jr. “I like it when you smile, just a little thing like that could put a spring up in my stride” dalam lagu (I like it When You) Smile. Atau melihat sinar matahari pagi seperti yang dinyanyikan The Rascals dalam lagu A Beautiful Morning

Kebahagiaan adalah wujud kekayaan batin yang tidak kasat mata. Demikian juga sulit bagi kita menentukan siapa yang dapat dikatakan bahagia, sebab banyak orang berpura-pura bahagia agar dirinya tidak tampak rentan.

Bagaimanapun, kebahagiaan adalah hal yang paling dicari-cari orang di seluruh dunia. Sekali ditemukan, kebahagiaan perlahan akan menyusut setiap hari, sehingga yang dilakukan orang-orang setiap hari adalah memastikan bahwa mereka sudah memperoleh kebahagiaan yang cukup. Manusia mencari uang karena berpikir dia akan bahagia jika bisa membeli apapun yang diinginkan. Ada juga yang memilih berkeluarga karena dalam cerita dongeng, pernikahan menjanjikan hidup penuh kebahagiaan sepanjang masa, atau yang dikenal sebagai “live happily ever after.” Atau mungkin ada orang yang berambisi membahagiakan orangtua. 

Tapi proses pencarian kebahagiaan adalah sesuatu yang berlangsung terus-menerus. Kebahagiaan seseorang tidak bisa bertahan lama hanya karena satu sebab yang ajeg. Mungkin pada kali pertama seseorang memiliki sumber kebahagiaan di tangannya itu, ia akan merasa bahagia. Tapi jika sumber kebahagiaannya bergantung pada benda yang itu-itu saja, lama-lama obyek yang awal mulanya menjadi sumber kebahagiaan tersebut berbalik menjadi sumber kejenuhan. Oleh karena itu, tidak hanya kebahagiaan yang bersifat dinamis, sebabnya pun juga harus dinamis. Agar kebahagiaan itu dapat bertahan lama.

Maka yang paling ideal adalah dengan tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah benda mati. Uang, rumah mewah, pesawat jet pribadi, gawai termutakhir, tidak menanggung tanggung jawab atas kebahagiaan kita. Sebab benda mati tidak bertindak atas dirinya sendiri, kecuali berdasarkan otoritas dari manusia yang menggunakannya.

Untuk memperoleh kebahagiaan, pertama-tama seseorang harus memiliki hidup yang baik. Hidup yang baik memiliki sekurang-kurangnya 3 (tiga) indikator, antara lain: mencintai sesama, kemampuan untuk menjalankan apa yang menjadi hobinya, dan memiliki wawasan mendalam mengenai apa yang dibutuhkan dan diinginkan diri sendiri. Setidaknya terpenuhinya 3 (tiga) hal ini dapat membuat seseorang berpikir bahwa ia menjalani hidup yang baik.

Di sisi lain, kehidupan yang baik juga memiliki definisi berbeda-beda bagi individu, dan tentu saja, setiap orang berhak untuk memutuskan apakah hidupnya layak untuk dijalani. Oleh karena itu, kehidupan yang baik bersifat subyektif, dan karena sama-sama subyektif, maka kehidupan yang baik setara dengan “kebahagiaan.”

Seringkali dalam menilai apakah hidupnya baik atau tidak, seseorang dipengaruhi oleh kondisi suasana hati. Hal ini juga berlaku—sekalipun bagi orang yang memiliki “kelainan” merasa cemas terus-menerus—karena kebahagiaannya berarti, kemampuan untuk mengalahkan watak-watak buruk. Oleh karena itu, penilaian seseorang terhadap kehidupan yang baik juga didasarkan pada frekuensi atau intensitas kondisi perasaan yang positif. Perasaan yang positif mendefinisikan ciri sehatnya seseorang.

Dalam hal pencapaian menuju kebahagiaan, orang yang ramah lebih mudah meraihnya karena ia cenderung lebih ceria dan penuh semangat daripada orang yang pemalu. Orang yang ramah memiliki cakupan kesadaran lebih luas dan mendalam. Sudah merupakan kebutuhan dasar bagi dirinya untuk memperkaya pengalaman hidup. Mereka dikenal sebagai pribadi yang penuh imajinasi, dapat merespon sesuatu dengan santun, penuh empati, petualangan, rasa penasaran, dan terbuka terhadap perubahan. Kepribadian orang-orang yang ramah ini membuat mereka mendapat predikat sebagai pribadi yang sepenuhnya aktif dan paling tinggi tingkatannya di bidang kesehatan mental.

Dari sini kita dapat melihat bahwa jalan utama untuk bahagia adalah dengan menjadi orang yang ramah. Menjadi orang yang memiliki ketertarikan terhadap banyak hal. Menjadi orang yang senang berkomunikasi. Menjadi orang yang menikmati berada di pusat perhatian. Menjadi orang yang mencari gagasan dan inspirasi dari orang lain dan sumber-sumber di luar dirinya. Menjadi orang yang suka berbicara tentang pikiran dan perasaan.

Menjadi ramah mungkin sama saja membiarkan kita berada di posisi rentan di mata orang-orang yang berniat untuk menyakiti kita. Di sisi lain, jika kita ramah pada orang yang tepat, keramahan itu akan menjadi modal yang menggenapi kebahagiaan kita. Pada akhirnya kita memang harus memilih, antara membangun benteng tinggi-tinggi dari orang luar, ataukah mengambil risiko untuk dapat mencapai kebahagiaan yang kita idam-idamkan. Pilihan itu ada di tangan kita.

Ox

"Pagar Kawat" (sumber gambar: weheartit.com)

Ox adalah seorang penulis puisi. Setiap hari, ia selalu menghasilkan karya-karya baru. Deretan kata-kata yang dirangkainya tersusun secara rapi sebagai sarana baginya mengekspresikan kondisi diri. Dia menguasai berbagai macam kategori gubahan; suatu hari puisinya bertemakan bunuh diri, kecanduan, tangisan, rasa takut, dan rasa muak. Di waktu yang lain, puisinya dapat memiliki tema-tema inspiratif seperti kepercayaan-diri, keberanian, imajinasi, kebijaksanaan, dan kecantikan.

Meskipun setiap gubahan Ox memiliki kategori berbeda-beda, secara garis besar terdapat kesamaan dalam semua karya yang ditulisnya: ekspresi kepenatan Ox terhadap keadaan masyarakat di bawah permukaan yang tampak. Dia mencoba menjangkau dunia luar dengan pandangan-pandangan segar, mendefinisikan hal-hal yang tidak dikenali atau disadari kehadirannya oleh masyarakat sekelilingnya.

Akan tetapi, apakah hal-hal yang telah digambarkan Ox dalam puisinya serta-merta menjamin bahwa situasi tersebut nyata keberadaannya dalam realita yang sebenarnya? Apakah puisi dapat dikatakan serba cukup untuk merangkum “ada”-nya suatu keadaan?

Beberapa filsuf berpendapat bahwa pengertian “ada” dan keberadaan sesuatu haruslah diburu secara bebas melalui bentuk telaah bahasa kalimat-kalimat yang bersangkut-paut. Maksudnya, kebenaran situasi spesifik yang digambarkan dalam kalimat-kalimat tersebut tidak bersifat abadi atau mendaging, melainkan mengalir menghadapi zaman yang bergerak sesuai fungsinya sebagai alat yang menunjuk makna. Artinya, kalimat-kalimat yang bersangkut-paut itu tidak boleh memainkan kalimat-kalimat untuk dirinya sendiri.

Menulis adalah kerja pembebasan. Untaian kata dalam kalimat yang ditulis haruslah mendorong keberanian bagi pembaca untuk mengubah hidup dan dirinya.

Ox, seperti kebanyakan penulis puisi lainnya, menitikberatkan penghematan kata. Seorang penulis puisi terkenal kikir dalam menggunakan kata-kata di tiap bait puisinya. Dia cenderung mengutamakan keringkasan dan kualitas emotif sebuah kata. Jadi, puisinya adalah jenis tulisan yang memainkan kata-kata bagi dirinya sendiri, untuk kepentingan kualitas emotif dan bahkan nilai musikalnya. Meminjam istilah Sartre, puisi tidak membebaskan, ia adalah dogmatisme yang tidak berbuah.

Berbicara tentang tulisan yang membebaskan adalah berbicara tentang pergantian bahasa. Artinya, dalam sebuah tulisan yang membebaskan haruslah mengandung 3 (tiga) bentuk bahasa: bahasa yang lumrah, bahasa yang dapat dicerna akal sehat, dan bahasa filosofis. Sebuah bahasa filosofis adalah bentuk yang sulit dipahami, ia membutuhkan bahasa yang dapat dicerna akal sehat untuk menjelaskannya. Sementara bahasa yang dapat dicerna akal sehat memerlukan kehadiran bahasa yang lumrah, untuk menghindari kebingungan dan menghapus kekaburan.

Di era yang serba canggih ini, orang-orang membutuhkan ketepatan yang dapat diraih melalui kecepatan. Itulah sebabnya, bahasa yang lumrah sangat diperlukan. Kata-kata tidak hanya akan berhadapan dengan manusia yang mencurahkan seluruh waktunya menafsirkan kata, akan tetapi juga diakses oleh manusia yang menghabiskan sepanjang harinya beraktifitas layaknya sebuah mesin. Orang-orang jenis ini hanya dapat mencerna kalimat yang gamblang. Di sisi lain, mereka menyaring kalimat berbelit-belit agar tidak masuk ke dalam sistem pikirannya.

Dengan demikian, makna yang mudah diserap adalah inti pokok dari sebuah tulisan. Tulisan yang tidak terlacak maknanya adalah tulisan tanpa inti: tidak kekal, tidak diakui, lunak, dan lapuk. Dan bagaimana mungkin sebuah tulisan yang selemah itu mampu mendorong keberanian pembaca untuk mengubah hidupnya? Bahkan dalam diri tulisan tersebut tidak ada tanda kepercayaan diri yang besar. Yang ada hanya kegentaran, kekecutan, dan ketakutan untuk secara terang menunjuk makna.

Jika saya adalah Ox, seorang penulis puisi yang memiliki mimpi untuk mengubah tatanan masyarakat melalui tulisannya, saya akan memilih satu di antara dua pilihan: (i) meninggalkan mimpinya dan menerima bahwa karyanya hanya akan berakhir sebagai alat kepuasan batin belaka; atau (ii) mencari gaya penulisan baru yang dapat menciptakan dunia. Ox dan beberapa penulis lain haruslah menyadari bahwa sebuah tulisan memikul tanggung jawab etis, mampu terlibat dalam masalah-masalah sosial, dan dapat mendorong setiap pembacanya untuk berani membebaskan diri dari keterasingan.



Posting berkaitan: Makna

Rasa Curiga dan Ketidakjujuran

Rosalind & Celia (gambar: http://www.ebay.co.uk)


Seperti kebanyakan perilaku manusia pada umumnya, rasa curiga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin kita dapat menjelaskan penyebab dari rasa curiga itu: seorang istri curiga kepada suaminya karena berkirim teks dengan seorang kolega perempuan, seorang pemimpin curiga kepada anak buahnya karena mereka sering berkumpul secara diam-diam tanpa kehadiran sang pemimpin, Presiden Soeharto curiga kepada para aktivis karena mereka sering melontarkan kritik-kritik tajam. Tetapi ketika ditanya, bagaimana kamu menggambarkan rasa curiga itu? Sebagian besar orang akan menjawab, “Perasaan tidak nyaman.” Jawaban itu sebenarnya masih kurang memuaskan, karena bagaimana membedakannya dengan jenis perasaan lain? Rasa marah juga menimbulkan ketidaknyamanan. Depresi juga menimbulkan ketidaknyamanan. Rasa bingung dan putus asa pun menimbulkan ketidaknyamanan. Tentunya, kemarahan, depresi, kebingungan, dan keputus-asaan tidak bisa dikelompokkan ke dalam rasa curiga meskipun mungkin dapat ditemukan hubungan sebab-akibat antara satu dengan lainnya.

Pada dasarnya, kecurigaan adalah sebuah akibat, akibat dari adanya keyakinan dalam diri seseorang bahwa terdapat makna yang tersamarkan dalam sebuah ungkapan yang dilontarkan. Kecurigaan hadir karena orang yang bersangkutan mempersoalkan narasi dari orang lain, dan kemudian kecurigaan itu memicunya untuk mencari penjelasan di antara gelembung kata-kata yang digunakan dalam narasi tersebut.

Setiap manusia pernah curiga, tidak setiap waktu, tapi sekurang-kurangnya pernah menaruh curiga sekali-dua kali. Kita mengakui, ada hal-hal yang tidak terungkapkan melalui kata-kata, dan oleh karenanya kita mengakui eksistensi sebuah makna yang tersamarkan. Dan juga, berpikir realistis, tidak semua narasi itu jujur.

Setiap kalimat yang diutarakan seseorang adalah wujud penceritaan kembali atas apa yang telah ia baca dan dengar. Kemudian ia membuat narasinya hidup. Ia menyusun hidupnya melalui narasi-narasi yang telah terlontar dari mulutnya. Katakanlah seseorang menceritakan betapa dirinya adalah ‘orang yang suci.’ Jika tak dapat dibuktikan melalui tindakan, setidaknya di dalam hati ia masih menikmati khayalan betapa sucinya dia.

Ketidakjujuran dalam narasi adalah bukti bahwa pada dasarnya manusia senang melakukan penyamaran. Dan motifnya, tidak semudah karena kita sadar hidup ini hanya sebentar dan kita ingin berpura-pura memerankan berbagai jenis orang agar tidak kekurangan pengalaman, akan tetapi karena ada keuntungan signifikan dalam penyamaran yang dilakukan. Penyamaran ditemukan di mana-mana, bahkan dalam karya William Shakespeare lebih seringnya terdapat suatu plot di mana tokoh dalam karyanya itu menyamar sebagai masyarakat kelas bawah, sebut saja dalam 'As You Like It,' 'King Lear,' dan 'Measure for Measure.'

Garis besarnya, penyamaran adalah sebuah proses transisi yang dilakukan untuk mengklaim kembali status seseorang yang telah hilang. Sebab status merupakan cara pandang orang lain terhadap kita, dan dengan membangun sebuah citra baru melalui penyamaran, perlahan status itu akan direngkuh kembali menyesuaikan dengan penyamarannya.

Sekarang mungkin akan ada yang tidak setuju, bagaimana bisa kita meraih sebuah status dari hasil menipu orang lain melalui penyamaran-penyamaran kita. Jika semua orang menyamar maka setiap saat kita harus menaruh curiga. Setiap hari. Setiap menit. Setiap detik. Dan curiga itu merongrong hati. Curiga itu mengganggu kualitas tidur. Curiga itu menimbulkan ketidaknyamanan.

Tapi saya menyukai sensasi bagaimana saya harus menaruh kepercayaan pada seseorang dan bertahan bersamanya, di satu sisi, terdorong untuk secara berkala menaruh curiga kepada orang yang sama.

Karena apa? Karena dari rasa curiga, saya belajar tentang konsep penjelasan dan penafsiran makna kalimat. Dari rasa curiga, saya belajar banyak tentang orang lain dan menyadari ternyata jiwa seseorang tak selamanya dapat dipahami secara menyeluruh oleh entitas di luar dirinya.




Posting berkaitan:
Belas Kasihan 
Makna dari Percaya 
Berpikir Matang-Matang Nggak Perlu Kelamaan 
Alyosha dan Hal-Hal yang (Mungkin) Memenuhi Isi Kepalanya 
Moral yang Logis dan Terukur

Makna dari Percaya

Sumber gambar: Photos8.com
Mereka yang mengerti betapa pentingnya WAKTU, akan menyadari betapa pentingnya RASA PERCAYA.

Dari semua hal-hal yang hadir di tengah-tengah hubungan kita dengan orang lain, baik itu kedekatan (secara fisik dan/atau emosional), ketertarikan atau kejujuran, kepercayaan adalah hal yang melandasi segala-galanya. Seorang murid perlu mempercayai gurunya agar proses berbagi ilmu pengetahuan berjalan lancar. Seorang pegawai perlu mempercayai atasannya agar roda organisasi berjalan di jalur yang semestinya. Seorang kepala pemerintahan (barangkali) perlu dipercaya oleh rakyatnya agar kebijakan-kebijakan yang dibuatnya, dan menurutnya baik bagi kemashlahatan umat, dapat diterapkan dan memberikan output seperti diharapkan. Kita ingin dipercaya orang, dan karena orang bijak berkata: "perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan," maka akhirnya kita mempercayai orang.

Manfaat paling besar dari rasa percaya adalah efektifitas. Bayangkan diri kita sedang menempuh perjalanan panjang dengan seorang teman. Kitalah yang mengerti setiap belokan dan arah menuju lokasi tujuan karena sebelumnya kita pernah pergi ke sana dengan orang lain. Akan tetapi, teman seperjalanan kita tidak percaya bahwa kita pernah ke lokasi tujuan itu, tidak percaya bahwa kita mengerti kapan harus belok kanan, kiri, atau berjalan lurus, lebih parahnya, ia justru menuduh kita punya niat jahat untuk membuatnya tersesat. Alhasil, setiap kali berada di persimpangan, kita harus berhenti sejenak karena meladeni perdebatan sia-sia dengan teman seperjalanan itu. Perjalanan yang seharusnya selesai dalam waktu (katakanlah) 7 hari, menjadi 9 hari, karena 48 jam yang terbuang percuma, habis untuk pertengkaran. Kita dan teman seperjalanan memang sampai di lokasi tujuan, tapi seandainya ia percaya pada kita sedari awal, waktu perjalanan akan lebih singkat.

Rasa percaya menempati hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam hal kerjasama atau teamwork, mulai dari lingkup kecil seperti kerjasama saudara kandung saat bersih-bersih rumah, kerja kelompok mengerjakan tugas oleh anak sekolah, bahkan yang sifatnya sangat membutuhkan kecakapan logika dan rasio seperti tim pengerjaan riset, rasa percaya amat diperlukan. Kerjasama adalah kegiatan kolegial yang membutuhkan kepercayaan setiap anggota tim terhadap integritas anggota lainnya. Apabila ada seorang anggota yang tidak percaya akan integritas rekannya, ia akan lebih memilih mengerjakan pekerjaan tim sendirian. Lagi, perkara efisiensi (efektifitas waktu dan tenaga), kembali dipertaruhkan.

Memang ada beberapa orang yang sulit untuk menaruh kepercayaan pada orang lain karena sebelumnya pernah dikhianati. Dia takut disakiti lagi, entah itu sebagai bentuk ketakutan atas terulangnya peristiwa yang sama pada orang yang sama, ataukah peristiwa yang sama pada orang yang berbeda. Akan tetapi, bagi kita yang menganggap efektifitas dan efisiensi sebagai hal yang paling penting, kepercayaan tidak lagi dikategorikan sebagai pilihan personal. Kepercayaan dimaknai sebagai sebuah strategi.

Sehingga, bagi kita yang memaknai kepercayaan sebagai suatu strategi, tidak ada istilah "tidak percaya" dalam kamus kita. Yang ada hanyalah "percaya" dan "ragu-ragu." Secara lebih rinci, hal-hal yang dilakukan ketika "percaya" ada 2 (dua), yaitu tanpa pengawasan penuh, kita percaya bahwa orang lain itu akan melakukan hal yang benar, atau percaya bahwa tindakan orang lain saat di luar pengawasan kita, tidak akan merugikan kita. Sementara hal-hal yang dilakukan ketika "ragu-ragu" ada 3 (tiga), yaitu ragu-ragu ia akan merugikan dirinya sendiri, ragu-ragu karena orang itu tipikal yang senang menguntungkan dirinya sendiri sehingga punya potensi berbuat jahat, atau ragu-ragu karena orang itu pernah melakukan tindakan yang merugikan kita. Akan tetapi, perbedaan antara "ragu-ragu" dan "tidak percaya" adalah bahwa kita memiliki keberanian untuk mencoba percaya. Kita percaya dengan penuh kewaspadaan. Kita mengawasinya. Orang ragu-ragu tidak jera menaruh kepercayaan pada orang lain. Dia terpuaskan oleh serangkaian jaminan untuk percaya.

Oleh sebab itu, mari memandang kepercayaan sebagai sebuah strategi, bukan pilihan personal. Mari belajar untuk percaya (atau ragu-ragu) terhadap orang lain. Pada akhirnya, kepercayaan adalah bahan baku "ajaib" yang menyusun ikatan kemanusiaan yang kuat.




Posting berkaitan:
Belas Kasihan 
Rasa Curiga dan Ketidakjujuran 
Berpikir Matang-Matang Nggak Perlu Kelamaan 
Alyosha dan Hal-Hal yang (Mungkin) Memenuhi Isi Kepalanya 
Moral yang Logis dan Terukur

Apakah Hal yang Tidak Terindera Punya Tempat di Dunia Fisik?

"Ambivalence" (sumber gambar: slate.com)

Sewaktu saya masih di Sekolah Menengah Atas (SMA), ketika akan naik dari kelas X ke kelas XI, setiap siswa akan mengalami apa yang disebut "penjurusan." Penjurusan adalah di mana setiap peserta didik akan diperiksa nilai rapornya oleh wali kelas, dan siswa yang nilai Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologinya di atas 80 akan dijuruskan ke Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sementara siswa yang nilai Geografi, Sosiologi, Ekonomi, dan Sejarahnya di atas 80 akan dijuruskan ke Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Saat itu, tidak ada anak SMA yang kritis bertanya, kenapa mereka harus dijuruskan? Kenapa mereka tidak tetap mempelajari semua subyek itu hingga lulus SMA? Kenapa IPA dan IPS harus dipisahkan?

Akan tetapi beberapa orang mencoba meraba-raba dan mencari diferensiasinya sendiri. Mata pelajaran yang diajarkan di IPA adalah mata pelajaran yang sifatnya pasti, sebuah ilmu yang mempercayai apa yang diamati adalah kenyataan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, semasa di jurusan IPA, saya dan teman-teman sering melakukan uji coba, baik itu menguji reaksi kimia, mengiris batang tumbuhan, atau di ekstrakurikuler belajar membuat roket. Setelah uji coba dilakukan, kami cukup menulis fenomena-fenomena apa saja yang terjadi selama proses uji coba, juga bagaimana hasilnya, tanpa menggunakan penafsiran dari para pelaku uji coba, karena itu dianggap akan menghancurkan obyektifitasnya. Mata pelajaran IPA, setidaknya di tingkat SMA, percaya bahwa sesuatu dapat dikatakan benar setelah melalui proses observasi oleh kemampuan inderawi (diraba, dibau, dilihat, didengar, atau dirasa), diolah dengan formula atau hukum-hukum yang dapat diterapkan pada keadaan berlainan namun berpola sama.

Berbeda dengan IPA, IPS - seperti namanya, mengamati fenomena sosial. Fenomena sosial yang diamati inipun tidak bisa diolah sebagaimana anak-anak IPA mengamati perilaku tumbuhan atau hewan, sebab yang diamati adalah manusia, sebuah organisme yang kompleks. Ketika mengamati interaksi antara dua orang, hal-hal seringkali tidak sesuai dengan apa yang tampak, dan tidak jarang esensinya terletak pada apa yang tidak kelihatan. Oleh karenanya, anak-anak IPS harus mengerahkan lebih dari sekadar kemampuan inderawinya, yaitu kemampuan menafsirkan gejala sosial.

Tidak hanya di tingkat SMA, pada masa kuliahpun, setelah banting setir dari IPA ke jurusan Ilmu Hukum, saya dihadapkan kembali dengan diferensiasi antara gejala alam dan manusia pada topik seputar socio-legal discourse. Menurut penganut aliran socio-legal, manusia tidak bisa disamakan dengan benda-benda alam, karena sebagian besar benda-benda alam sifatnya hampir tidak berubah dalam rentang waktu, dan penuh keniscayaan. Sementara manusia adalah pencipta makna, ia lahir sebagai makhluk yang berkehendak bebas, bermartabat, tidak dibatasi oleh prinsip-prinsip di luar dirinya seperti benda alam lain (Irianto, 2009).

Saya sempat percaya, dengan segala pengetahuan yang didapat selama menduduki bangku SMA serta buku-buku yang saya baca, mungkin memang apa yang materiil dan immateriil harus dipisahkan. Akan tetapi, kemudian saya dihadapkan peristiwa-peristiwa yang mengguncang kepercayaan saya lagi mengenai pemisahan keduanya, pemisahan antara apa yang fisik dan non-fisik.

Saya tidak tumbuh di keluarga yang kulturnya senang mengkaji agama dalam-dalam. Meminjam istilah dari ajaran Siti Jenar, saya hanya mengerti agama pada taraf syari'at, belum sampai hakikat, apalagi makrifat. Bagi saya dulu, barangsiapa yang salat, baca Quran, zakat, sedekah, dan syukur-syukur bisa umroh atau naik haji, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi keislamannya. Namun kemudian ada teman yang lulusan pesantren berkata pada saya, bahwa ibadah terus tapi menutup diri dari dunia luar (dunia non-spiritual?) juga tidak bagus.

Kemudian sekitar tahun 2012, saya pernah "terjerumus" ke dalam permasalahan Epicurean. Saya kecanduan baca buku, dan karena kecanduan, saya membaca buku dalam pola yang acak. Hari ini saya membaca tulisan Trotskyist dan buku-buku teologi pembebasan, besoknya saya membaca Adam Smith. Lusa saya membaca karya Aristoteles, hari lainnya saya membaca Nussbaum. Hari ini saya membaca karya sastra, besoknya saya membaca Teenlit, misalnya. Orang berpikir, "Oh ya, bagus... Berarti ingin melihat segala hal dalam banyak aspek." Tidak. Saya membaca buku karena saya haus informasi, dan kebutuhan memenuhi informasi itu bukan karena ada suatu hal mendesak sehingga saya memerlukan informasi itu, akan tetapi karena ada rasa kepuasan dan kebahagiaan yang tidak tergambarkan setelah saya memperoleh sebuah informasi baru. Inilah kenapa saya menyebut diri yang dulu sebagai Epicurean: bayangkan seorang hedonis, cukup diganti hobi dugem dan mabuknya dengan baca buku. Lagi, memodifikasi ungkapan teman saya yang lulusan pesantren, berpikir terus tapi tidak pernah ada aktualisasinya juga tidak bagus.

Lalu ada aliran sekularisme. Sebuah aliran yang pada dasarnya berakar pada kekecewaan terhadap gereja pada abad pertengahan (zaman kegelapan), sehingga menganggap urusan pemerintahan lebih baik dipisahkan dari agama - atau agama tidak boleh turut campur dalam urusan pemerintahan. Pada prinsipnya, sekularisme memisahkan spiritualisme, yakni hubungan manusia dengan Tuhannya yang tidak kelihatan (atau sudah tidak kelihatan, atau immateriil), dengan hubungan manusia dan dunianya yang materiil (karena terinderawi). Akan tetapi potret kesuksesan Iran di bawah pemerintahan Ahmadinejad pada masa itu menunjukkan bagaimana agama dan politik bisa akur. Justru, karena agama hadir dalam pemerintahan, karena Ahmadinejad taat menjalani perintah-perintah Tuhan, pemerintahannya dapat berjalan relatif sukses. Saya semakin goyah.

Terakhir adalah ketika saya mulai rajin baca-baca tulisan mengenai kejiwaan karena motivasi pribadi yang mendesak, saya "terdampar" pada tulisan-tulisan mengenai gangguan kejiwaan. Dikatakan bahwa faktor yang berkontribusi pada gangguan kejiwaan antara lain adalah trauma psikologis yang diderita saat kecil, perilaku soliter, pengabaian oleh orang-orang terdekat, dan peristiwa kehilangan sosok atau hal terpenting dalam hidup. Sebuah akibat immateriil yang terjadi karena sebab immateriil, cukup masuk akal. Tapi kemudian, ternyata ada faktor biologis, atau faktor fisik, yang dapat menyebabkan gangguan kejiwaan juga. Di antaranya faktor genetis, penyalahgunaan obat-obatan, gizi buruk, dan gangguan pada otak yang disebabkan oleh gegar atau infeksi bakteri. Lebih lanjut, James Fallon, seorang neuroscientist yang mendapati bahwa dirinya adalah seorang psikopat saat proses risetnya, menyatakan seorang psikopat memiliki anatomi otak yang berbeda dengan otak orang normal. Ketika dilakukan pemindaian, area frontal and temporal lobes yang berhubungan dengan empati, moralitas, dan kendali-diri tampak "kosong." Jadi rupanya, pikiran manusia yang nyatanya sebuah kondisi non-fisik dapat dipengaruhi oleh faktor fisik. 

Bagaimana mungkin? Jangan-jangan pikiran manusia sebenarnya memang punya tempat di dunia fisik? Tapi, bagaimana cara menyatukan dua entitas berbeda, fisik dan non-fisik, sebagaimana dimaksud?

Menurut Broad (1925), fenomena pikiran merupakan fenomena kesadaran. Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk menyeleksi stimulus, untuk menyebarkan informasi, untuk mengawasi keadaan internal (dalam diri), atau untuk mengendalikan perilaku. Misalnya ketika anak kecil baru mulai belajar membaca. Tahap awal ia mengenal abjad, kesadarannya adalah ketika ia mendeteksi setiap huruf. Ketika kemampuan mengenali huruf-huruf menjadi cenderung lebih otomatis, kesadaran anak tersebut naik ke tingkat di mana ia mendeteksi kemampuan bahasa yang lebih umum, seperti kosakata, nostalgia dengan pengalaman membaca yang sebelumnya, dan kebiasaan melihat struktur sintaksis yang kompleks. Semakin ia lebih sering membaca, 4 (empat) hal tersebut juga menjadi cenderung lebih otomatis, dan kesadarannya naik ke tingkatan di mana ia mulai distimulus oleh dasar-dasar pengetahuan dari buku yang dibacanya. Pada anak-anak, dunia fisik sebagai stimulus yang telah diseleksi berperan membangun kesadarannya. Bagaimana dengan orang dewasa?

Pada orang dewasa, kesadaran juga bersinggungan dengan dunia fisik. Tidak ada seorangpun yang terlibat dalam sebuah diskusi tanpa alasan, bahkan jika diskusi itu berbentuk celotehan. Seseorang terlibat interaksi dengan orang lain karena adanya kehendak, dan kehendaknya memandu perilaku fisiknya. Kesadaran lawan bicaranya akan kehendak orang itu juga membantu pemahamannya mengenai maksud-maksud yang disampaikan (Grice, 1969). Jika kita adalah orang ketiga yang menimbrung dalam tengah-tengah pembicaraan dua orang tersebut, kita hanya dapat menangkap perilaku fisiknya dan tidak mengerti kehendak macam apa yang mengawali interaksi tersebut, kita bisa menjadi Jaka Sembung. Oleh karenanya, baik pengetahuan atas kehendak lawan bicara dan perilaku fisiknya sama-sama penting. Demikian juga dalam sebuah uji coba di mana satu orang berperan sebagai penguji, dan orang yang lain sebagai "kelinci percobaan." Interaksi yang dilakukan oleh penguji terhadap kelincinya berupa perintah untuk melakukan sesuatu, sehingga mengakibatkan tindakan-tindakan fisik, dan selanjutnya orang yang diujicoba tersebut merespon interaksi dengan mengkoordinasikan tindakan kepada pengujinya. Adapun kesadaran konsensual antara keduanya adalah dukungan terhadap keberhasilan eksekusi uji coba.

Pada titik ini, kita menyadari bahwa pengalaman fisik dengan demikian, menempati posisi utama terhadap pikiran seseorang, bahwa hal fisik menempati posisi utama terhadap hal-hal non-fisik. Apabila kita memiliki prinsip-prinsip atau idealisme, kita tidak boleh melupakan aspek fisik yang tentunya bersifat codeterminant bagi hasil dari implementasi prinsip atau idealisme tersebut. 

Sehingga kesimpulannya, apabila kita rajin beribadah, kita tidak boleh melupakan aspek non-spiritual yang barangkali bersifat codeterminant bagi pencapaian keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Tuhan. Apabila kita rajin membaca, kita tidak boleh melupakan aspek aktualisasi yang bersifat codeterminant bagi pencapaian keutuhan informasi yang koheren. Apabila kita ingin sok-ketimuran, kita tidak boleh melupakan aspek materialisme yang bersifat codeterminant bagi kelangsungan idealisme kita.***

(Tindakan fisikpun juga perlu dipikirkan. Simak Referensi Tindakan)

Bola dan Kesadaran yang Tertunda

Dante (sumber gambar: stanjames.com)
Dante adalah pemain sepak bola asal Brazil. Masa kecilnya dihabiskan bermain sepak bola di halaman parkir sebuah supermarket, selagi ibunya bekerja sebagai kasir. Saat ini Dante bergabung bersama tim Vfl Wolfsburg dengan total net worth senilai $43.745.000

Ada banyak jenis olah raga. Salah satu yang terkenal dan paling banyak peminatnya adalah sepak bola. Banyak yang bilang, sepak bola adalah permainan rakyat. Pernyataan ini benar, dan saya sangat sepakat. 

Terlepas dari begitu populernya permainan ini, sulit bagi saya untuk menyukai sepak bola. Saya pernah beberapa kali ikut nonton bareng (nobar) atau sekadar nimbrung abang atau teman-teman saya nonton bola, akan tetapi dalam satu pertandingan, saya selalu berakhir membela dua tim sekaligus. Misalnya, di awal pertandingan antara Manchester United (MU) vs Arsenal, saya membela MU, lalu ketika MU berhasil mencetak gol, saya berganti membela Arsenal. Nanti ketika Arsenal balas mencetak gol, saya berganti membela MU lagi, dan begitu terus-menerus hingga pertandingan usai. Saat masih puber, saya pernah rajin nonton bola karena suka sama salah satu pemain yang ganteng ; lagi-lagi alasannya bukan karena saya suka sama bola, tapi karena dulu saya genit. 

Intinya adalah :sangat sulit bagi saya untuk setia atau bahkan fanatik pada satu tim saja.

Kenapa saya dan (mungkin) beberapa orang-orang tidak suka sepak bola? Banyak alasannya. Stand-up komedian Russell Peters bilang dia tidak suka sepak bola, karena menurutnya sepak bola itu konyol, terutama World Cup. Katanya, bagaimana bisa world cup disebut world cup padahal tidak semua negara-negara di dunia bergabung dalam kompetisi bergengsi tersebut? 

Kalau saya... Setiap ada teman yang tanya kenapa saya tidak suka sepak bola, dengan enteng saya jawab, "Sepak bola itu flamboyan banget. Kebanyakan acting." dan segera saya men-switch percakapan tentang permainan hoki yang menurut saya cenderung lebih jujur dengan segala kebar-barannya. Biasanya teman saya yang menyukai sepak bola berusaha mengembalikan topik kepada sepak bola lagi, dan menjadi defensif seolah-olah berusaha menyadarkan kalau sepak bola tidak seburuk yang saya pikirkan. Ah, alangkah lebih mudah jika saja saya menjawab bahwa saya tidak suka sepak bola karena lebih suka sama bulu mata palsu, pasti langsung habis perkara. Sayangnya, saya bukan kolektor bulu mata palsu.

Tapi sekarang saya akan menjelaskan alasan sebenarnya, kenapa saya tidak suka dengan sepak bola. Poin-poin yang akan dijabarkan di sini mungkin akan terdengar sangat menyebalkan bagi yang menyukai sepak bola. Saya tidak khawatir dengan itu. Karena saya memang hadir untuk membuat orang kesal...

Sepak bola itu lucu karena...

1. Utopia yang ditawarkan
Di bagian lead postingan ini saya sudah menjelaskan kisah singkat perjalanan hidup pemain sepak bola asal Brazil, Dante. Dante mungkin adalah satu dari beberapa pemain sepak bola yang berasal dari keluarga yang kurang berada, akan tetapi sekarang dia hidup sebagai jutawan. Saya sangat yakin, beberapa dari penggemar bola (dan jika menurut Anda ini salah, maka mungkin bukan Anda, mungkin orang di belahan dunia lain) menyukai bola karena utopia ini. Bisa kaya raya dalam sekejap, ini mengingatkan kita pada kisah dongeng Cinderella. Utopia ini memberikan ilusi kepada supporter bola, khususnya kaum proletar (atau anak dari kaum proletar), bahwa dalam sepak bola, mobilitas vertikal itu bukan sesuatu yang mustahil, bahkan cenderung mudah. Padahal sebenarnya...

2. Pemain bola bukan yang terkaya dalam penyelenggaraan permainan ini
Saya pernah dengar seorang anti-kapitalis yang menyukai sepak bola. Menurut dia sepak bola nggak kapitalis-kapitalis amat, karena hanya dalam sepak bola-lah, seorang pemain (red: pekerja) bisa menentukan nasibnya sendiri, bisa pindah-pindah klub, dan dibayar mahal atas prestasi dan kinerjanya. Oke.

Mungkin ada klub yang mampu membeli Cristiano Ronaldo senilai $80 juta, Ibrahimovic senilai $40,4 juta, juga Gareth Bale, Neymar, Wayne Rooney, dan lain-lain dengan jumlah yang fantastis. Tapi sebenarnya perputaran dan akumulasi uang dalam permainan ini tetap berlangsung sangat deras, melalui penjualan kaos bola, bendera, sepatu, DVD, CD, dan souvenir-souvenir lain. Apakah kalian masih akan menutup mata begitu tahu souvenir-souvenir ini dibuat oleh...

3. Anak-anak kecil yang dipekerjakan di pabrik?
Ada begitu banyak anak-anak kecil yang bekerja di pabrik selama 12-16 jam sehari, dalam kondisi yang menyedihkan. Anak-anak yang dieksploitasi ini menjahit baju, bola, dan bendera, yang kemudian dibeli dan digunakan oleh anak-anak orang kaya di negara maju sebagai kebutuhan rekreasi. 

Hal yang sama juga terjadi pada beberapa pemain. Saya jadi ingat, seorang professor di Leuven University menggugat beberapa klub dan agen sepak bola karena menyelenggarakan praktik perbudakan dalam hal penjualan pemain. Beberapa pemain asal Yugoslavia dan Kroasia dibeli Belgia dengan nilai pembelian semurah-murahnya kemudian dijual kembali dengan nilai semahal-mahalnya. Sementara itu ketika diminta klarifikasi, agen sepak bola di Belgia justru menyatakan yang kurang lebih artinya begini, "Para agen hanya membantu pemain mencari pekerjaan dan mendapat komisi." Professor Leuven University tetap bersikeras bahwa klub dan agen sepak bola telah memperlakukan manusia dan pekerja layaknya merchandise (red: barang atau komoditi).

Jadi, ada pemain yang dieksploitasi, ada kaum proletar yang dieksploitasi... Ironisnya...

4. Kaum proletar tetap bela-belain beli tiket untuk nonton pertandingan langsung
Berapa harga tiket nonton pertandingan bola langsung, di Inggris, misalnya? Tidak ada harga pasti karena harga tergantung pada seberapa megah event-nya. Tapi ada satu masa ketika harga satu tiket pertandingan sepak bola sepadan dengan uang makan seorang kelas pekerja selama satu minggu, dan kelas pekerja tetap membelinya.

Kenapa? Saya juga bertanya-tanya sendiri, bagaimana bisa, setelah mereka dieksploitasi, mereka tetap bisa menggemari sepak bola yang jelas-jelas jadi sumber persoalan kemelaratan yang mereka alami? Saya pikir ini karena...

5. Stadionnya yang mewah
Sama dengan poin 1, lagi-lagi ini persoalan ilusi. Anda tidak bisa jadi bintang sepak bola dan jutawan? It's alright, no worries. Setidaknya, Anda bisa duduk di dalam sebuah bangunan mewah selama satu jam lebih hanya dengan membayar tiket. Kalau Anda bukan tipe supporter yang seperti ini dan Anda menganggap tidak semua stadion bagus, mungkin Anda termasuk supporter yang ingin menonton sepak bola secara langsung karena...

6. Euforia kemenangan (atau kekecewaan mendalam atas kekalahan)nya
Menonton pertandingan sepak bola di layar televisi dengan menonton langsung di stadion tentu akan terasa berbeda. Selain karena Anda bisa melihat tim favorit langsung di depan mata, Anda juga bisa bertemu dengan ribuan atau bahkan lebih supporter yang membela tim favorit Anda. Ada juga yang suka menonton langsung karena bisa curi-curi kesempatan tersorot kamera yang tayangannya disiarkan di seluruh dunia, asalkan sudah berbakat dalam hal cari perhatian (caper). 

Bisakah Anda bayangkan betapa serunya ketika tim favorit mencetak gol, dan Anda merasakan bangku stadion bergetar hebat karena seluruh supporter berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil menyanyikan yel-yel yang meriuhkan seisi stadion? Begitulah euforia yang dirasakan. Seolah Anda mengenal seluruh supporter hanya karena mereka membela tim yang sama (tanpa perlu melalui proses perkenalan yang wajar). 

Sayangnya, di mana ada euforia, pastilah ada kekecewaan mendalam. Hal ini yang biasanya memicu pertengkaran antar-supporter klub yang terjebak dalam konstruksi keliru. Khususnya kaum proletar, yang tentunya menempati posisi mayoritas supporter sepak bola, karena mereka jadi lupa bahwa mereka berasal dari kelas yang sama. Mereka lupa akan musuhnya yang sebenarnya dan justru sibuk bertengkar dan menganiaya satu sama lain hanya karena pertandingan sepak bola yang berlangsung 90 menit (catat: bahkan 90 menit tidak mencapai 50% dari kerugian waktu ketika mereka dieksploitasi dalam pekerjaan). 

Konstruksi keliru ini bermula dari...

7. Seragam pemain
Terlepas dari seberapa besar gaji seorang pemain sepak bola, mereka semua adalah sama-sama kelas pekerja. Akan tetapi mereka dipakaikan seragam berbeda-beda untuk dipecah-pecah seolah kedua tim memiliki latar belakang berbeda. Karena pemain dipecah-pecah, maka supporter-pun terdorong untuk membeda-bedakan dirinya dengan supporter tim lawan. Lebih parahnya, perbedaan ini rawan ditunggangi oleh kepentingan lain seperti rasisme atau chauvinisme. Tidak jarang pula, konflik dalam sepak bola menyeretnya ke dalam konflik antar etnis dan budaya.

Tentu kita tidak lupa pertandingan antara Serbia vs Albania silam, ketika tiba-tiba seorang supporter Albania mencabut bendera Serbia dan memicu tawuran pemain vs pemain, supporter vs pemain, dan supporter vs supporter.

Selain alasan bahwa sepak bola penyebab kelahiran konstruksi keliru, sepak bola juga menyebarkan pesan yang kontra-produktif terhadap kesadaran kelas pekerja, yaitu...

8. Pemberian kartu kuning dan kartu merah
Jika dalam kehidupan sehari-hari ada aparat yang harus dipatuhi (entah aparat tersebut perpanjangan tangan dari pemerintah atau centeng pabrik), maka dalam sepak bola juga ada wasit dan hakim garis. Wasit ini harus dipatuhi dan menjamin permainan berjalan sesuai peraturan. Setiap ada pemain yang melanggar peraturan, ia akan diberikan kartu kuning (peringatan) yang jika diibaratkan dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan istilah teguran ; dan jika sudah diberi peringatan masih melanggar maka diberikan kartu merah (dikeluarkan dari lapangan) atau yang jika diibaratkan dalam kehidupan sehari-hari bisa digambarkan sebagai diusirnya seseorang dari keanggotaannya dalam masyarakat

Berkali-kali sudah ditekankan bahwa pemain sepak bola adalah kelas pekerja juga, maka pesan dalam pemberian kartu kuning dan kartu merah ini adalah: pekerja yang tidak taat aturan akan diberi teguran, atau lebih parah, diusir dari komunitasnya. Padahal siapa yang membuat aturan sepak bola? Saya rasa...

9. Peraturan sepak bola dibuat oleh orang yang tidak pernah menendang bola sekalipun seumur hidupnya (atau setidaknya, pemain amatir)
Bisa jadi saya kurang tekun melakukan riset, tapi saya tidak menemukan siapa yang pertama kali membuat peraturan permainan sepak bola. Yang saya tahu, peraturan ini terus berkembang karena ada masa ketika sepak bola begitu bar-bar (horeee!) sehingga di-banned di mana-mana, maka harus ada peraturan yang lebih ketat.

Apakah Fédération Internationale de Football Association (FIFA) yang berwenang membuat peraturan? Entahlah. Omong-omong, Presiden FIFA itu mantan atlet sepak bola profesional apa bukan?

Dalam perspektif non-pemain dan non-supporter, tentu jika saya berada dalam posisi pembuat peraturan, saya akan membuat peraturan sebanyak mungkin. Sebab yang penting bukanlah menang dan kalah, akan tetapi  bagaimana sepak bola tetap seru supaya tiket selalu laku terjual dan souvenir tetap dibeli. It's just me, thinking like a competitive b*tch...

Demikian 9 (sembilan) alasan saya menolak menyukai sepak bola. Apakah ini postingan bercandaan atau serius? Kok sok kiri banget?***