Peran Sentral Medsos Hanya Mitos - NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba

NikenSupraba.com

media sosial

Peran Sentral Medsos Hanya Mitos

Ditulis tanggal 6 September 2017

Pin ThisEmail This
Sumber gambar: Jisc
Sumber gambar: Jisc



Pada momentum pilkada layaknya Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, percakapan mengenai siapa kandidat yang paling cocok memimpin Provinsi Jawa Barat mulai marak di situs-situs web media sosial. Dunia maya juga dimanfaatkan oleh kandidat dan partai politik untuk melakukan sosialisasi visi dan misi. Beberapa waktu sebelumnya, media sosial digunakan pada momentum Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Orang-orang dari berbagai latar belakang dipekerjakan sebagai buzzer atau penggaung, yang tugas pokoknya menyebarkan sudut pandang subjektif mengenai para kandidat.






Penggunaan media sosial sebagai sarana kampanye menunjukkan bagaimana di Indonesia, media sosial dipercaya mampu menggerakkan banyak orang untuk memilih kandidat tertentu. Partai politik, calon gubernur, hingga penggaung berharap, segala diskusi, polemik, dan kampanye yang terjadi di dunia maya dapat mempengaruhi situasi di dunia nyata. Hal serupa juga dilakukan oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia lain.






Perjumpaan politik dan media sosial di Indonesia bukanlah fenomena dunia baru sejak kemunculan Facebook dan Twitter. Masih kental dalam ingatan kita bagaimana media massa nasional maupun asing meliput berita protes jutaan rakyat Mesir di Lapangan Tahrir. Rakyat Mesir menuntut Presiden Hosni Mubarak lengser dari puncak kekuasaan. Pada rentang waktu yang berdekatan, di negara-negara Timur Tengah seperti Tunisia, Libya dan 17 negara lainnya, gerakan anti-pemerintah yang otoriter juga terjadi. Pendapat populer menyatakan gerakan yang kemudian disebut sebagai Arab Spring oleh para akademisi Amerika, diinisasi himbauan rakyat sipil di media sosial.






Meskipun demikian, pendapat lain menyatakan media sosial tidak memegang peranan sentral selama pergerakan. Berdasarkan kutipan Sabiha Gire, alumni St. Edward’s University jurusan Kajian Global, salah satu argumen mengungkapkan bahwa media sosial hanya memegang peran pendukung selama Arab Spring. Terminologi “peran pendukung” bisa dimaknai sebagai fungsinya yang tidak akan berjalan tanpa diikuti gerakan fisik. Jadi, perubahan rezim bukan didorong oleh protes-protes media sosial semata, akan tetapi gesekan-gesekan yang terjadi di lapangan.






Sejarah Singkat Facebook dan Twitter






Masih ingat jalan cerita film “The Social Network” (2010)? Film tersebut menceritakan suka-duka seorang mahasiswa Harvard University saat memulai pembuatan Facebook. Resmi diluncurkan pada bulan Februari 2004, media sosial yang semula bernama “TheFacebook.com” terinspirasi dari konsep buku tahunan yang mencantumkan foto close-up dan data biografi. Di hari pertama peluncuran perdana, sebanyak 1.200 mahasiswa mendaftar ke Facebook.






Sempat terjadi cekcok antara Mark Zuckerberg, sang penemu Facebook, dengan teman-teman kuliahnya yang menuduh Zuckerberg melakukan plagiasi. Meskipun demikian, media sosial karya Zuckerberg tetap meroket. Pada bulan pertama, separuh dari mahasiswa Strata-1 Harvard University terdaftar. Sejak saat itu, Facebook berekspansi ke universitas-universitas lain. Tahun 2005, Facebook mengklaim bahwa sebanyak 85% mahasiswa dari 882 perguruan tinggi memiliki akun Facebook, 60% diantaranya sering mengunjungi situs setiap hari. Pada bulan yang sama, Facebook merambah tingkat sekolah menengah dan setahun kemudian, Facebook terbuka untuk umum.






Disamping Facebook, terdapat media sosial lain yang tidak kalah diminati oleh penduduk dunia, yakni Twitter. Pendirian Twitter bermula ketika seorang mantan staff Google bernama Evan Williams membuat situs yang diberi nama Odeo. Pada mulanya, Odeo dibesut konsep penyiaran audio (podcasting). Akan tetapi pada musim gugur tahun 2005, pangsa pasar Odeo direbut oleh Apple melalui program iTunes.






Kekalahan telak Odeo dari iTunes membuat Evan Williams memutuskan merombak konsep Odeo. Noah Glass, mitra pendiri Odeo, memperoleh ide dari Jack Dorsey yang mengusulkan supaya Odeo mengubah konsep menjadi “status.” Setelah diskusi berlarut-larut, para pengelola sepakat mengubah nama menjadi Twitter. Menurut informasi yang diperoleh dari BusinessInsider, popularitas Twitter meningkat sejak bulan Agustus 2006, khususnya ketika bencana alam melanda San Francisco, Twitter membantu menyebarkan kabar gempa di wilayah selatan California tersebut.






Peran Sentral Media Sosial Hanya Mitos






Bagaimana anak-anak muda perkotaan dan kosmopolitan Mesir berhasil mengumpulkan jutaan orang untuk turun ke lapangan Tahrir, memprotes rezim Mubarak? Banyak orang berasumsi, para aktivis menggunakan sarana internet seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Asumsi itu bahkan juga menghinggapi rezim Mubarak yang memblokir akses terhadap Facebook dan Twitter selama protes berlangsung, sementara YouTube, situs web yang digunakan untuk membagikan video protes di Tahrir, tidak berhasil diblokir. Informasi tersebut dibenarkan oleh Joshua E. Keating selaku Associate Editor Foreign Policy.






Akan tetapi, tampaknya, sekalipun Mubarak telah berhasil memblokir media sosial, gerakan tidak kunjung surut, dia toh tetap berhasil dilengserkan. Artinya, ada faktor determinan selain daripada media sosial, atau mungkin, media sosial hanya memegang peranan yang sangat kecil.






Sebagaimana telah diungkapkan di atas, saya pikir asumsi bahwa media sosial memegang peranan sentral saat kebangkitan Mesir merupakan asumsi yang keliru. Media sosial disebut-sebut hanya memegang peran pendukung selama demonstrasi, yang efektifitasnya tidak akan bekerja baik tanpa dibarengi gesekan fisik. Lisa Anderson, eks-Presiden American University di Kairo juga turut mengamini bahwa pergerakan di lapangan Tahrir bukan hasil dari internet dan media sosial. Ditegaskan, pergerakan Arab Spring di Mesir tidak lain merupakan reinkarnasi dari jaringan nasionalis Arab pasca Perang Dunia I (PD I), yang mana diinspirasi oleh retorika Presiden Amerika Serikat (A.S.) Woodrow Wilson tentang “self-determination” bagi minoritas yang tertindas.






Masa Depan Kampanye Pilkada melalui Media Sosial






Para pengamat menyatakan bahwa media sosial tidak memegang peran signifikan selama Arab Spring. Efektifitasnya bergantung pada eksistensi gerakan fisik di lapangan. Selain itu, gerakan juga memerlukan latar belakang ideologis, yakni nasionalisme Arab yang jaringannya sudah lama terbentuk sejak PD I.






Insignifikansi peranan media sosial dalam kebangkitan Mesir 2011 sepatutnya menjadi refleksi bagi para pegiat dan praktisi di arena politik untuk mempertimbangkan kembali penggunaan media sosial sebagai sarana andalan dalam menggerakan massa. Media sosial memang dapat berfungsi sebagai penyebaran informasi pertemuan, kunjungan, atau kegiatan kandidat. Akan tetapi, mengandalkan segalanya semata-mata pada media sosial tanpa gerakan fisik atau jaringan ideologis di dunia nyata tentu saja adalah langkah yang gegabah.






Mubarak tidak akan lengser bila saja anak-anak muda perkotaan dan kosmopolitan Kairo hanya memasang status membabi-buta di Facebook atau Twitter. Di sisi lain, Donald Trump tetap memenangkan pemilihan Presiden A.S. 2016 sekalipun banjir caci-maki di internet. Basuki Tjahaja Purnama kalah di Pilgub DKI Jakarta, padahal semasa kampanye, beberapa penggaungnya mengirim kicauan tanpa rehat, nyaris 24 jam sehari.






Alih-alih menghabiskan tenaga dan sumber daya di dunia maya, lebih baik partai politik pengusung, kandidat, dan pendukung memperkuat jaringan ideologis di lapangan. Rekam jejak kandidat di wilayah yang akan dipimpinnya lebih signifikan dalam menentukan preferensi pemilih. Rekam jejak yang buruk tidak akan tertimbun oleh foto-foto digital, kicauan-kicauan subjektif, atau perang status antara pendukung yang saling berseberangan. Begitu pula rekam jejak yang baik. Gunakan media sosial hanya sebagai faktor pendukung, bukan yang utama.

Back to Top