Stress Karena Digigit Kutu Kucing - NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba

NikenSupraba.com

media sosial

Stress Karena Digigit Kutu Kucing

Ditulis tanggal 30 September 2017

Pin ThisEmail This
Kucing Gelandangan
Sumber gambar: Pixabay



Ada kucing liar di komplek perumahan saya. Beberapa waktu lalu, saya sering melihatnya di awal hari, berusaha memanjat pagar pembatas balkon di rumah. Belakangan ini dia jarang muncul saat terang. Saya justru melihatnya tatkala malam. Baru senja kemarin dia bertengkar dengan kucing liar lain di depan pagar.






Kurang jelas kapan pertama kali dia datang ke komplek. Saya baru menyadari kehadirannya akhir-akhir ini ketika kucing itu dengan lancangnya masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terbuka. Saya selalu mengusirnya.






Mungkin karena sadar keberadaannya tidak diterima di dalam rumah, jenis hewan yang paling banyak dipelihara manusia itu tidak berani lagi masuk. Dia hanya duduk-duduk di penyekat balkon. Biasanya saya membiarkan dia. Mungkin dia kehujanan dan tidak ada tempat untuk berteduh. Mungkin juga dia berlindung dari kucing liar alpha yang sering merundung dia.






Saya tidak sadar bahwa keputusan untuk membiarkan kucing itu duduk-duduk di balkon rupanya keputusan yang kurang tepat. Awalnya, saya tidak berpikir kucing itu penyakitan. Sepintas saya hanya melihat di bagian moncongnya agak menghitam. Saya pikir itu karena noda yang dia dapatkan saat mengorek-ngorek sampah. Ternyata, itu diakibatkan kutu.






Keluhan pun disampaikan oleh tetangga. Tetangga saya mengeluh, ada kucing liar yang berak sembarangan di atap rumahnya. Yang paling menjijikkan, setiap hujan deras, kotoran itu jatuh ke depan rumah karena dipengaruhi faktor air hujan yang mengalir ditambah letak atap yang landai. Tetangga saya sungguh khawatir apabila dia keluar rumah, kepalanya tertimpa tahi kucing.






Meskipun dibenci banyak orang dan diusir dimana-mana, kucing itu tetap hidup. Saya sempat mengira dia bermigrasi ke komplek lain karena ada kalanya dia hilang selama beberapa hari. Tapi, dia selalu kembali lagi.






Awal mulanya, perasaan saya netral-netral saja terhadap kucing liar ini. Kendati dia suka berak sembarangan, tapi saya tidak pernah menginjak tahinya saat keluar rumah. Dia pun tidak pernah membuat bak sampah saya amburadul meskipun dia suka mengais sampah. Sampai suatu hari, saya menderita gatal-gatal.






Saya kira, bintik-bintik merah yang muncul di sekitar kaki dan lengan kiri saya diakibatkan gigitan nyamuk. Tapi, setelah berlalu satu hari, bercak itu tidak hilang. Justru rasa mengerinyau yang saya dapatkan semakin menjadi. Saya menyadari tutul baru selalu muncul tidak lama setelah saya duduk di anjungan atau di teras, tempat kucing itu biasa melindap.






Akhirnya, saya pergi ke tante saya yang kebetulan seorang dokter Spesialis Kulit. Beliau langsung mendiagnosis bahwa noktah itu diakibatkan gigitan serangga serupa kutu. Saya langsung menduga pasti gasang tersebut disebabkan kutu kucing.






Memang merawat binatang ialah tanggung jawab manusia. Sebagai manusia yang baik, seharusnya saya memberi kucing itu makan atau memandikannya. Akan tetapi, saya sama sekali tidak berminat menjadi pengasuh kucing tersebut, karena dia kucing liar dan saya perlu memeriksakannya ke dokter hewan sebelum memutuskan untuk mengasuhnya. Hal itu sangat wajib dilakukan untuk menghindari risiko penyakit yang ia bawa ke dalam rumah.






Digigit kutu kucing cukup membuat saya tersadar untuk tidak main-main dengan hewan liar. Bukan masalah penampilan kaki saya yang jadi rusak, tapi karena rasa stress yang saya alami. Dokter bilang, saya tidak boleh menggaruk bintik-bintik merah tersebut karena dapat memicu infeksi sekunder. Bisa dibayangkan betapa sulitnya menahan diri untuk tidak menggaruk bintik-bintik merah tersebut di saat rasa gatal yang dialami sungguh tidak tertahankan?






Untuk sementara, saya rajin mengoleskan salep resep tante saya ke daerah-daerah yang gatal. Saya juga sempat diresepkan antibiotik dan obat gatal oral, sudah habis diminum. Disamping meminum obat, saya mengambil langkah preventif munculnya gatal-gatal baru dengan cara menyemprot Baygon ke lokasi rumah yang sering diduduki kucing. Kurang jelas efektifitasnya dalam mengusir kutu.






Saya sungguh bersyukur, untung kucing liar tersebut hanya membawa kutu ke rumah kami. Di internet, saya mendapati kucing liar bisa menularkan penyakit yang jauh lebih parah seperti rabies, toxoplasmosis, cat scratch fever, tifus dan feline immunodeficiency virus (konon, tingkat keparahannya mirip HIV!).






Mulai hari ini, saya berkomitmen untuk tidak mengizinkan kucing manapun masuk ke dalam pagar rumah lagi.
Back to Top