Kekebalan terhadap Media Rasis - NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba

NikenSupraba.com

media sosial

Kekebalan terhadap Media Rasis

Ditulis tanggal 10 Oktober 2017

Pin ThisEmail This
Kutipan Rasis
Sumber gambar: Wikimedia Commons



Sebuah tragedi penembakan terjadi di Las Vegas pada malam hari tanggal 1 Oktober 2017 waktu setempat. Pelaku penembakan yang menewaskan 59 orang dan mengakibatkan ratusan lainnya luka-luka itu diketahui bernama Stephen Paddock, seorang pria berkulit putih berusia 64 tahun.






Kejahatan yang dilakukan oleh Paddock membuat publik membuka kembali daftar kasus kekerasan di masa silam yang melibatkan orang-orang kulit putih. Lima tahun sebelumnya, sebuah penembakan juga terjadi di Aurora, Colorado, dimana pelakunya merupakan pria kulit putih bernama James Holmes.






Selang 3 (tiga) tahun setelah tragedi di Colorado, seorang pria kulit putih bernama Dylann Roof melakukan aksi penembakan di sebuah gereja yang diketahui beranggotakan jemaat keturunan Afrika-Amerika. Juri merekomendasikan agar Roof dijatuhi hukuman mati.






Nasib Paddock tentu saja lebih jauh beruntung daripada Roof. Dia sudah lebih dulu mati sebelum masyarakat sempat menghujatnya dan sebelum dirinya diadili di muka pengadilan. Akan tetapi, justru itulah pokok persoalannya. Karena Paddock sudah tewas, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya memotivasi Paddock hingga tega melakukan perbuatan keji seperti itu.






Penyelidikan terkait tindak kejahatan yang dilakukan Paddock saat ini tengah berjalan. Seperti biasa, media massa berupaya ‘mendahului’ pernyataan resmi aparat berwenang dengan menggali latar belakang dan motif Paddock lebih dalam.






The Telegraph mengungkapkan bahwa Paddock merupakan pria yang “pendiam dan baik,” mengutip pernyataan kekasih Paddock, Marilou Danley. Sementara itu, Slate Magazine, media online yang beroperasi di bawah Graham Holdings Company, menyatakan bahwa berdasarkan wawancara dengan saudara kandung pelaku (Eric Paddock), Stephen merupakan pria kaya raya yang gemar berjudi.






Media lain fokus menggali informasi dari aparat kepolisian, yang sejauh ini belum memberikan informasi yang berguna. “We have no idea what his belief system was (kami tidak tahu apa sistem kepercayaan yang dianutnya),” ujar Joseph Lombardo, Clark County Sheriff.






Dari narasi-narasi di atas, terdapat kesan bahwa media seolah kurang tegas dalam menilai karakteristik Paddock. Di ‘sisi’ manakah pria yang sempat menginap di hotel Mandala Bay itu sebenarnya berdiri? Paddock itu Clarice Starling atau Dr. Hannibal Lecter? Batman atau Joker? Orang baik atau orang jahat?






Tentu saja, pembunuhan berantai merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan, dan barangsiapa yang melakukannya, secara otomatis jatuh ke dalam kategori “jahat.” Akan tetapi, narasi-narasi yang ada mempersulit kategorisasi demikian.






Aaron Rouse yang mengepalai Divisi Las Vegas FBI sudah menegaskan: “I need to deal with facts. The sheriff needs to deal with facts. He’s not going to make assumptions. I’m not going to make assumptions (Saya harus menitikberatkan pada fakta. Para sheriff harus menitikberatkan pada fakta. Dia tidak akan berasumsi. Saya pun tidak akan berasumsi).”






Keputusan untuk menghindari apriori sesungguhnya merupakan keputusan yang boleh diacungi jempol. Baik Sheriff Clark County dan FBI sama-sama menahan diri untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan terkait tragedi berdarah tersebut sebagai wujud upaya menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah.






Sayangnya, publik terlanjur gemas. Berbagai tuduhan bermunculan, yang pada intinya menilai bahwa Sheriff Clark County dan FBI bukannya mau menghindari apriori. Keduanya menghindari pelabelan ‘terorisme’ terhadap seorang penjahat kulit putih, suatu label yang di sisi lain sering mereka lekatkan terhadap penjahat berkulit cokelat (bangsa Timur Tengah).






Melacak kembali rentetan peristiwa beberapa bulan terakhir, aparat penegak hukum di Amerika Serikat (AS) tengah meningkatkan pengawasan terhadap umat muslim. Sebuah data menunjukkan, jumlah tersangka berkulit cokelat yang dijadikan target FBI mengalami peningkatan sebesar 12 persen. Untuk instansi lain seperti Custom Border Protection (CBP), terjadi peningkatan 8 persen. Di masyarakat sendiri, angka pelecehan terhadap orang kulit cokelat mengalami peningkatan sebesar 16 persen.






Terpilihnya Donald John Trump sebagai Presiden di awal tahun 2017 disebut-sebut berkontribusi dalam memperparah statistik kekerasan terhadap umat muslim. Kebijakan Trump juga memicu sentimen terhadap pengungsi dari Timur Tengah. Beberapa organisasi perkumpulan umat muslim di AS dengan mudahnya menerima label “ekstremis,” yang seringkali menjadi justifikasi kekerasan yang dilakukan orang kulit putih terhadap muslim.






Kini, narasi-narasi yang dibentuk media rasis menjadi lebih mudah diterima orang banyak, setidaknya orang-orang yang memilih dan mendukung Trump. Barangkali, dulu masyarakat begitu sensitif terhadap kebijakan media rasis, mengenai bagaimana ia menyisipkan stereotipe kelompok minoritas sebagai masyarakat marjinal melalui beragam sitkom, juga realita yang menunjukkan bahwa orang kulit cokelat yang terbilang jarang bekerja di depan layar televisi.






Sekarang, orang bebas tertawa saat menonton sitkom berjenis “mildly-racist” dan lebih mudah memaklumi orang kulit cokelat yang bekerja sebagai teknisi. Toh, kalau semua orang jadi pembawa berita, berarti tidak ada yang jadi kameramen dan penata cahaya, bukan?






Penyelesaian atas persoalan di atas masih bisa kita tunda. Yang mendesak ialah kategorisasi terhadap penembak kulit putih. Harus ada yang mengakui bahwa Paddock, Holmes, dan Roof adalah teroris. Mungkin kejahatan ketiganya tidak memenuhi karakteristik “terorganisir” dan motifnya tidak untuk “memprotes kebijakan pemerintah dengan jalan kekerasan.” Tapi, dampak yang ditimbulkan sama: perasaan terteror dan takut.






Sepanjang sejarah AS, sebanyak sepertiga serangan yang dilakukan ekstremis sayap kanan berakibat pada kematian. Rasio serangan mematikan orang kulit putih pun jauh lebih tinggi daripada ekstremis Islam, yakni 2:1. Reporter David Neiwert juga menyatakan ancaman teror dalam negeri paling signifikan berasal dari ekstremis sayap kanan.






Pada akhirnya, AS masih harus membersihkan musuh internalnya terlebih dahulu sebelum berupaya mewujudkan perdamaian di negara-negara Timur Tengah dan Afrika.










Tulisan ini juga tersedia dalam bahasa Inggris. Kunjungi link berikut.
Back to Top