Umat Islam Dizalimi? Sepertinya Tidak - NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba

NikenSupraba.com

media sosial

Umat Islam Dizalimi? Sepertinya Tidak

Ditulis tanggal 19 November 2017

Pin ThisEmail This
Jauh sebelum Jaringan Islam Liberal (JIL) populer di Indonesia, bibit Islam modern sebenarnya sudah lebih dulu ada pada era Nurcholish Madjid, atau yang biasa kita kenal sebagai Cak Nur.

Menurut Didik Lutfi Hakim dalam “Monotheisme Radikal,” Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman/kebhinnekaan keyakinan di Indonesia. Kebebasan beragama dalam konsep Cak Nur dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih.

Kini, 12 (dua-belas) tahun selepas peninggalan Cak Nur, gagasan beliau tetap hidup. Ide-ide Cak Nur menjadi pedoman banyak orang, baik individu maupun kelompok, dalam membangun relasi dengan orang lain, terutama dalam konteks beragama.

Indonesia yang majemuk merupakan angan-angan yang dirasa paling cocok diterapkan di negara multikultural ini. Lebih penting lagi, pluralisme dipandang sebagai alat dalam mencapai kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sayangnya, tidak semua kelompok Islam sepakat pada pluralisme. Kelompok-kelompok yang mengekspresikan keberatannya memang tidak secara terang-terangan menolak Cak Nur, akan tetapi dengan tegas menyatakan ketidaksukaannya pada konsep pluralisme. Kelompok ini yang kemudian dikategorikan sebagai Islam konservatif.

Islam konservatif punya pendapatnya sendiri tentang apa yang disebut “kebebasan beragama.” Jika Cak Nur melihat kebebasan beragama sebagai kebebasan menjalankan agama tertentu (tidak mesti agama Islam), maka Islam konservatif hanya mengadvokasi kebebasan beragama sebatas pada kebebasan kelompoknya sendiri dalam menjalankan praktik beragama yang tradisional.

Pendek kata, bagi Islam konservatif, kebebasan beragama yang mereka maksud ialah kebebasannya untuk menolak turut serta mewujudkan cita-cita Indonesia yang heterogen.

Bagi kelompok Islam konservatif, kehadiran Islam modern dipandang sebagai ancaman yang mampu menggerus nilai-nilai tradisional yang mereka pertahankan. Ada banyak contoh isu dimana konservatif dan modernis saling berseberangan, diantaranya (namun tidak terbatas pada) ucapan selamat hari raya bagi penganut agama selain Islam, kepemimpinan perempuan, bahkan jenis jilbab yang sesuai syari’at.

Semakin besar pengaruh yang dimiliki Islam modern, semakin besar rasa paranoid yang diderita oleh kelompok Islam konservatif ini. Bagi mereka, ini adalah sebuah kompetisi yang sifatnya zero sum. Artinya, keuntungan bagi satu pihak merupakan kerugian bagi pihak lainnya.

(Sumber gambar: Wikipedia)

Ketika seorang pemuka agama yang tidak bisa menjaga tutur katanya tersandung kasus hukum, mereka berkata, “Umat Islam dizalimi.” Ketika aktivitas mereka dalam berpolitik dikritik sebagai upaya menunggangi agama, mereka menuduh Al-Qur’an sedang diperolok. Ketika ada teroris bawa senjata dilumpuhkan Densus 88, mereka mempertanyakan, “Baru terduga tapi sudah di-dor?”

Narasi-narasi kelompok Islam konservatif yang berkesan mengemis belas kasihan ini biasanya menjadi bahan tertawaan orang-orang. Bagaimana mungkin Islam sebegitu tidak berdaya, padahal 85 persen penduduk Indonesia beragama Islam? Bagaimana mungkin Islam dizalimi, sementara Aceh punya daerah otonom dan Pemerintah Derah (Pemda) Garut juga bebas menganut cara-cara yang Islami dalam memerintah?

Kita juga seharusnya tidak lupa ada begitu banyak partai politik berbasiskan Islam, dan partai-partai tersebut tetap mendapatkan kursi dewan melalui kompetisi yang adil.

Kalaupun ada yang perlu diprotes dari kelompok modern, seharusnya bukanlah interpretasi mereka terhadap syari’at, melainkan gagasan mereka terkait ekonomi. Modernis bahu-membahu bersama kelompok liberal, dan keduanya sama-sama setuju pada sistem pasar bebas. Mereka juga mendukung konsep negara jaga malam, dalam artian negara hanya berfungsi mengurus hukum tapi tidak turut campur dalam urusan kesejahteraan.

Narasi-narasi kelompok Islam konservatif, khususnya Rizieq Shihab, berkali-kali dibantah. Memang tidak memungkiri, Rizieq punya banyak dukungan dari kelompok Islam. Tidak hanya dari kelompok Front Pembela Islam (FPI), Rizieq juga didukung oleh petinggi kesultanan Sulu. Dia juga memperoleh dukungan dari kalangan akademik, Prof. K. H. Didin Hafidhuddin, Guru Besar Ilmu Agama Islam di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pengaruh kelompok Islam konservatif cukup kuat di Indonesia. Salah satu buktinya, Gubernur baru Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Anies Baswedan bisa menang karena didukung oleh kelompok konservatif. Menimbang jabatan Gubernur yang begitu strategis, kita sudah bisa mengukur pengaruh yang mereka miliki.

Disamping itu, nilai-nilai konservatif juga masih hidup di dalam masyarakat. Dari sekian banyak jumlah penduduk manula di Indonesia, saya yakin hanya segelintir yang rela anaknya menikah berbeda agama, atau lebih ekstrem lagi, menjadi gay.

Tapi sepertinya, pengaruh Islam konservatif tidak akan bertahan cukup lama. Kita sempat berbicara mengenai konservativisme penduduk manula. Kita belum berbicara perspektif anak-anak muda. Sebagai efek jumlah generasi millennial yang banyak, masyarakat mulai berpikiran terbuka. Anak muda punya kecenderungan senang melawan arus dan aturan-aturan kolot, dan jumlah anak muda di Indonesia sangatlah banyak.

Di sisi lain, jumlah umat Islam di Indonesia tengah mengalami penurunan.  Penurunan itu bukan hanya terjadi sekali, tapi juga berkali-kali. Pada tahun ‘80an jumlah umat Islam tembus ke angka 90-an persen dari total penduduk. Pada sensus terakhir hanya berjumlah 85 persen saja. Penurunan ini tentu saja membuat partai politik Islam bersedih.

Belum lama ini juga ada produk hukum bernama Perppu Ormas yang kelahirannya mendorong pembubaran organisasi Islam tertentu. Hizb’ut Tahrir Indonesia (HTI) termasuk salah satu organisasi yang nyaris tamat, dan tentu saja, HTI berada dalam spektrum “Islam konservatif.”

Kelahiran Perppu Ormas mengalami penolakan keras dari beberapa partai Islam. Pada saat pengesahannya menjadi Undang-Undang (UU) dalam Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) tidak menyetujui pengesahan tersebut. Suara mereka kalah dari tujuh partai lain yang menyetujui kehadiran UU Ormas.

Penolakan juga muncul dari kalangan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM). Asifnawati, Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengekspresikan keberatannya pada kelahiran UU Ormas. Menurut dia, tidak ada urgensi penerbitan UU tersebut. Ditambah, ada kekhawatiran bahwa UU Ormas mampu melegalisasi pembubaran sewenang-wenang oleh pemerintah terkait kelompok oposisi.

Dari pihak HTI, organisasi yang menjadi target Perppu Ormas, keberatan juga ditunjukkan melalui gugatan di pengadilan. Saat ini, gugatan HTI sudah mencapai tahap judicial review di Mahkamah Konstitusi (MK). Senada dengan apa yang disampaikan Asifnawati, Juru Bicara HTI juga berargumen tidak ada keadaan genting dan memaksa yang mendorong kelahiran Perppu.

Islam konservatif memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, tapi mereka kalah dalam perang budaya. Mereka telah kalah dalam upaya melobi anggota DPR untuk tidak mengesahkan Perppu Ormas  menjadi UU. Mereka juga kalah dalam menggaet simpati mayoritas generasi millennial.

Sudah saatnya bagi kelompok Islam konservatif untuk berbenah diri apabila tidak ingin tertinggal. Islam menang dari segi jumlah, tapi angka 85 dalam persentase populasi muslim di Indonesia tidak ada artinya apabila persentase itu akan terus mengalami penurunan dalam beberapa dekade ke depan. Toh, Arab Saudi saja mau mereformasi diri menjadi lebih moderat. Masak FPI, FUI dan HTI yang lingkupnya lebih kecil tidak mau?

Back to Top