Semi-Fiksi: Masalah BitCoin dan Larangan Kemenkeu RI - NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba

NikenSupraba.com

media sosial

Semi-Fiksi: Masalah BitCoin dan Larangan Kemenkeu RI

Ditulis tanggal 11 Februari 2018

Pin ThisEmail This
Mirova ialah anak muda yang baru saja diterima bekerja di sebuah kantor prestisius dengan gaji besar. Mirova relatif beruntung dikarenakan banyak anak muda seusianya bekerja di kantor yang biasa-biasa saja dan banyak di antara mereka masih berada pada entry-level. Gaji mereka 30 persen dari gaji Mirova. 

Sebelum bekerja, Mirova tidak pernah bermimpi akan menerima gaji sebanyak yang ia miliki sekarang, sehingga ia tidak pernah memiliki rencana tentang bagaimana seandainya suatu hari ia menjadi sogeh, dan untuk apa saja uangnya akan diinvestasikan. Sementara, Mirova belum berkeluarga. Otomatis setiap bulan, gajinya selalu turah-turah

Maka Mirova berbincang santai dengan salah satu koleganya yang sudah tua bernama Potapova. Tentu saja, karena Potapova bukan generasi Millennial, saran yang diberikan pun tidak jauh-jauh dari apa yang biasa Mirova dengar dari orang-orang seusia Potapova. Potapova menganjurkan supaya Mirova membeli emas. 

Tentu saja itu ide yang bagus. Sangat bagus. Mirova bisa membeli emas pada saat harganya rendah, kemudian menjualnya kembali ketika harganya tinggi. Diapun tidak lupa ketika dulu orangtuanya berhasil membiayai kuliahnya bermodalkan emas yang “disekolahkan” ke Pegadaian. Emas dapat menjadi aset yang mampu menolong sebuah keluarga di situasi genting. 

Tapi, Mirova masih pikir-pikir dulu. Hingga suatu hari saat ia tengah mengunjungi portal berita online, dia tidak sengaja mendarat di sebuah laman artikel berita tentang BitCoin. Pada saat itu, nilai BitCoin sedang mengalami kenaikan drastis. Mirova sempat tergoda, dia mulai meyakini bahwa investasi BitCoin boleh jadi jauh menjanjikan dibanding investasi emas. 

Namun sebelum benar-benar memutuskan membeli BitCoin, Mirova perlu melakukan riset kecil mengenai apa itu BitCoin, bagaimana cara menggunakannya, dan apakah memang ia sebegitu menjanjikan sebagaimana yang diklaim oleh artikel berita yang dibacanya. 

Dari hasil pencarian Google, Mirova menemukan sebuah artikel jurnal yang ditulis oleh Daniel Kondor, dkk. (nama yang lucu, tapi tidak apa-apa) dimana di dalam artikelnya, Kondor, dkk. (masih terdengar lucu, tapi tidak apa-apa) menjelaskan cara kerja BitCoin. 

BitCoin merupakan sistem mata uang baru, dimana daftar transaksi lengkap dapat diakses banyak orang. Dalam BitCoin tidak ada otoritas pengawas, siapapun bisa bergabung dengan menginstal aplikasi klien dan menghubungkannya dengan jaringan. 

Setiap pengguna memiliki alamat BitCoin yang terdiri dari kunci (key) publik dan pribadi. Bitcoin yang disimpan terkait dengan kunci publik pemiliknya, dan pembayaran keluar harus ditandatangani oleh pemiliknya menggunakan kunci pribadinya. Untuk menjaga privacy, pengguna dapat menggunakan beberapa alamat. 

Setiap simpul berpartisipasi menyimpan daftar lengkap transaksi sebelumnya. Setiap pembayaran baru diumumkan di jaringan, dan pembayarannya divalidasi dengan mengecek konsistensi dengan keseluruhan riwayat transaksi. Untuk menghindari kecurangan, para peserta harus sepakat bahwa riwayat transaksi yang dilakukan sudah valid

Demikian penjelasan singkat mengenai cara pengoperasian BitCoin menurut artikel jurnal PLOS ONE yang ditulis oleh Kondor, dkk. Lebih dari sekadar membahas aspek teknis BitCoin, dalam artikelnya, Kondor, dkk. bermaksud membuktikan suatu hipotesis: bahwa yang kaya menjadi semakin kaya melalui sistem mata uang besutan BitCoin. Dan hipotesis Kondor, dkk. memang terbukti. 

Kendati BitCoin mencoba menggantikan peranan sistem kas, cara kerjanya tidak dapat terlepas dari pola-pola yang berlaku di internet. Di internet, situs web populer cenderung tumbuh lebih cepat daripada yang kurang populer, dan proses serupa diperkirakan terjadi dalam BitCoin: Sebuah node dengan link banyak cenderung menarik lebih banyak link daripada sebuah node dengan sedikit link

Sebagai generasi yang tech-savvy, Mirova sangat percaya diri bahwa menjadi populer di internet bukanlah pekerjaan sulit, dan hal yang sama berlaku di sistem BitCoin. Bagi Mirova, tentu saja kehadiran BitCoin ibarat angin segar yang mampu membantunya menjadi semakin kaya. 

Hati Mirova semakin mantap. Diapun mengkonsultasikan rencana tersebut kepada Ibunya. Tidak disangka, Ibunya menolak keras. Berbeda dengan jalan pikiran Mirova, Ibu Mirova justru meragukan BitCoin dikarenakan masih terdengar asing baginya, dan sang Ibu khawatir bahwa uang Mirova bisa melayang bila diinvestasikan untuk BitCoin. 

Tentangan pun tidak hanya muncul dari sang Ibu, namun juga dari pemerintah. Untuk menjadi semakin kaya melalui BitCoin, Mirova harus berhadapan dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu-RI). 

Pada saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tanggal 23 Januari 2018, Menkeu Sri Mulyani Indrawati kembali menegaskan larangan penggunaan BitCoin baik untuk transaksi maupun investasi. Hal ini dikarenakan BTC (unit mata uang BitCoin) bertentangan dengan Undang-Undang (UU) mengenai mata uang di Indonesia yang resmi yaitu Rupiah. 

Menkeu menambahkan, sebagai instrumen investasi pun, BitCoin tidak ada basis-nya, dan oleh karena itu rawan terhadap penggunaan untuk money laundering maupun untuk financing for terrorism

Memang internet masih rawan oleh serangan Botnet yang mendistribusikan malware. Akhir-akhir ini, semakin banyak organisasi dan individu yang menjadi target “ransomware”-perangkat lunak yang digunakan hacker untuk mengendalikan dan kemudian mengancam untuk menghapus atau menyebarkan file berharga, kecuali jika korban membayar tebusan (seringkali dalam bentuk BitCoin). 

Pemukiman Meir Amit (Sumber gambar: Wikimedia Commons)

Tidak ada yang tahu pasti latar belakang hacker tersebut, dan untuk apa BitCoin hasil tebusan digunakan, namun Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center telah mengkonfirmasi bahwa banyak situs web terafiliasi Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) menerima donasi dalam bentuk BitCoin. 

Pada bulan Januari 2018, nilai BitCoin juga anjlok lebih dari 44 miliar dolar, menandai penurunan bulanan paling curam sepanjang sejarah singkat BitCoin. Penurunan diperparah ketika pemerintah India mengatakan akan melarang semua perdagangan kriptocurrency dan Facebook mengumumkan larangan iklan mata uang digital. 

Melihat BitCoin yang dinilai bermasalah oleh pakar keuangan, Mirova akhirnya mengurungkan niatnya melakukan investasi BitCoin. Mirova mempertimbangkan kembali saran Potapova yang menganjurkannya membeli emas. Atau boleh jadi pada akhirnya justru menggunakan uangnya untuk jalan-jalan ke pantai supaya ada bahan upload di akun Instagramnya.
Back to Top