NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Agama

NikenSupraba.com

media sosial

Ikut Timur atau Barat

Ditulis tanggal 17 November 2012



(Diam-diam, ternyata,) kita orang timur. 

Siapapun dari kita pasti tahu Kerajaan Kutai yang berdiri pada abad IV masehi menjadi pelopor kerajaan-kerajaan sesudahnya. Kita juga pasti tahu kerajaan bercorak Hindu tersebut dibawa oleh para pedagang India. Singkat kata, setelah jaman prasejarah kita sepakat bahwa urat akar sikap sosial dan mentalitas budaya ketimuran bagi Indonesia ‘sempat’ jadi harga mati; tanpa terkecuali setelah lahirnya kerajaan-kerajaan Islam. 

Tak usahlah kita membeda-bedakan timur Cina atau India. Dua-duanya sama-sama mengakui adanya struktur sosial―bukannya dari pengusaha-pengusaha heroik seperti di dunia barat, melainkan dari hal yang lebih genuine dari manusia. India menyatakan strata tertinggi ditempati orang-orang yang mengikuti dewa, dan Cina menyatakan Kaisar sebagai penyembah dewa agung (sekte negara), sedang rakyatnya menyembah leluhur kaisar-kaisar terdahulu. 

Maka, bisa kita pahami mengapa pada masa kerajaan, bangsa ini menjadi bangsa patrimonial. Segala tindak-tanduk rakyat (yang saat itu religius) adalah buah instruksi pemimpin, mengingat raja dijadikan pemimpin tertinggi karena dia imamnya agama. Sementara rakyatnya masih dibuai ekstasi keagamaan, raja dapat berpikir lebih rasional dengan membiarkan mistisisme hanya selama ia dapat digunakan untuk mengendalikan massa. 

Tapi, barangkali ketika raja mencoba menuangkan pemikiran rasionalnya dengan meresepkan cara hidup lewat dogma agama menjadi serba kebablasan.

Seiring surutnya kekuatan kerajaan dan invasi ksatria-ksatria Eropa, rakyat mulai kecewa pada dunia mistis. Bisa jadi, karena raja tidak sesakti yang mereka pikirkan. Bisa jadi juga mereka sudah muak pada birokratisasi karena kontrol sosial ternyata begitu merugikan. Atau bisa pula, keyakinannya menjadi senjata paling mumpuni untuk menyerang dirinya sendiri; maksudnya, dari paham ketimuran mereka mempelajari bahwa pihak yang memiliki prestise dan kekuasaan, meskipun minoritas, harus diikuti. 

Masyarakat bosan dengan irasionalitas "menyebar kebaikan pada sesama agar diberkati Tuhan". Ditambah lagi, mereka yang kesulitan menyesuaikan pandangan dunia baru yang lebih materialistis, memilih memodifikasi semangat ilahi agar melahirkan nikmat rasional. Agama tidak lagi menjadi hal yang tercerai dari urusan duniawi, melainkan bagaimana caranya mereka mengkonstruksi adanya predestinasi tentang kesuksesan duniawi. Agama selamat dari pengecualian, lebih dari itu, justru ada produk sampingan kekuatan inti yang memupuk agama.

Jadi, jangan heran, konsep monoteisme yang telah dikonversi menjadi lebih universal, populer, dan sesuai keinginan justru melahirkan masyarakat materialis. Stratifikasi yang dibangun dari tingkat kenabian berubah jadi jumlah kepemilikan sumber daya material. Individu-individu yang akhirnya menguasai orang lain bukanlah orang asing ataupun individu yang mengisolasi dirinya, melainkan ia adalah orang yang lahir dari cara-cara hidup yang dibangun oleh kelompok manusia.

Saya tidak sedang mencoba mengatakan budaya mana yang lebih baik. Sebagaimana kapitalisme mengontrol diri dengan tidak menyia-nyiakan uang lewat amal cuma-cuma ataupun hidup mewah, dan lebih menyukai investasi, maka timur juga menghambat mobilisasi vertikal dengan menutup perkembangan status lewat keturunan. Dua-duanya sama-sama tidak menentang akumulasi kekayaan.

Di luar dari itu, saya melihat adanya gejala "kebosanan" dan kekecewaan kedua dari etika agama yang dibawa barat. Alih-alih mencari produk sampingan ketiga, masyarakat kian acuh tak acuh pada agama. Dari situ bercabang di bawahnya; masyarakat acuh tak acuh yang lebih menyukai pengusaha dibandingkan birokrat: kapitalisme borjuis mungil dalam kemasan keserakahan belaka. Satu lagi masyarakat acuh tak acuh yang tidak menyukai pengusaha sekaligus birokrat, tidak mengabdi pada agama, menolak pengejaran kekayaan harta dan benda.

Value judgment tidak lagi ada. Tak ubahnya hal-hal yang irasional,  rasionalisasi juga melahirkan produk-produk ekstasi baru. Perkembangan inovasi-inovasi sosial layu. Dahulu, pengendalian diri tetap ada ketika kapitalisme memupuk agama. Tapi, kini ketika agama dikecualikan, masyarakat terdorong ke arah materialisme konsumtif. Kita miskin identitas. Kita jadi orang barat yang sok timur. Atau rata-rata, jadi orang timur yang sok kebarat-baratan.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top