NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Bahasa

NikenSupraba.com

media sosial

Makna

Ditulis tanggal 2 Januari 2017

Source: MIT OpenCourseWare

“Bahasa adalah produk budaya atau sosial, dan harus dipahami seperti itu.” – Edward Sapir

Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menangkap pengetahuan dari pengalaman. Dimulai dari hari pertama panca inderanya dapat berfungsi dengan sempurna, segala jenis informasi yang dipelajari dari pengalaman berupa bentuk, warna, tekstur, gerak, suara, dan aroma yang berkaitan dengan objek di lingkungan sekitar disimpan sebagai data dalam otak untuk dipergunakan di kemudian hari.

Proses pengambilan informasi dari panca indera akan sangat terlihat pada aktivitas anak kecil. Sebagai contoh, ia pertama kali mengenali objek bernama “tas” saat melihat tas milik ibunya. Tas itu berbentuk kotak dengan tali yang panjang, berwarna coklat, dengan tekstur beludru, dan di bagian dalamnya tercium aroma parfum ibunya yang sedikit tertumpah. Informasi dasar itu terus berkembang hingga suatu hari ia melihat tas milik orang lain yang tidak berbentuk kotak dengan dua tali, berwarna hitam, memiliki tekstur kanvas, dan beraroma sedikit kurang sedap karena sering terkena air hujan serta jarang dijemur. Ibunya memberitahu bahwa tas itu adalah jenis tas ransel. Kemudian berkembang lagi ketika suatu hari ia diajak piknik ke luar pulau oleh orangtuanya, saat ia melihat tas berbentuk kotak namun jauh lebih besar, tanpa tali, berwarna merah, berbahan ballistic nylon, dan beraroma kamper yang kemudian disebut sebagai koper. Dan seterusnya.

Ada banyak pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pengalaman. Karena begitu banyaknya, informasi tersebut sudah lebih dari cukup. Lantas, kenapa orang-orang masih membaca? Jika bentuk, warna, tekstur, gerak, suara, dan aroma sudah dipandang cukup, kenapa masih diperlukan huruf, kata, dan kalimat?

Sebuah sumber menyatakan bahwa sejarah alfabet pertama ditemukan pada tahun 2700 Sebelum Masehi (SM) di Mesir. Konon, alfabet digunakan sebagai panduan pengucapan simbol-simbol, penulisan infleksi dalam tata bahasa, dan penulisan kata-kata serapan dan nama-nama asing. Penggunaan alfabet selanjutnya tidak hanya diaplikasikan untuk keperluan interaksi sederhana, namun juga mengabadikan sejarah, bahkan ayat-ayat suci. Hingga akhirnya, di zaman modern, huruf, kata, dan kalimat digunakan di koran-koran berita, dokumen-dokumen hukum, karya-karya ilmiah, periklanan, atau bahkan hal sesederhana subtitle film-film luar negeri.

Dipandang dari tujuan awal penemuannya, huruf, kata, dan kalimat seharusnya mampu mempermudah komunikasi karena ia berfungsi sebagai alat menafsirkan simbol-simbol. Akan tetapi, persoalan baru justru muncul dari kehadirannya, yakni perihal makna dari kalimat-kalimat. Istilah-istilah seperti “kalimat bersayap” dan “double speak” merupakan beberapa bukti bagaimana kalimat dapat berganti peran dari yang semula alat untuk menjelaskan menjadi objek untuk dijelaskan. Pada akhirnya, huruf, kata, dan kalimat jatuh ke dalam jebakan “simbol” dan untuk itu perlu ditafsirkan kembali.

Sebagian besar filsuf bahasa dan juga beberapa pakar bahasa berpendapat bahwa makna sebuah kalimat bergantung pada makna dari kata yang terdapat di dalamnya. Contohnya, ketika seseorang mengatakan, “Ayah dari Prabowo,” orang lain akan beranggapan bahwa kalimat tersebut melekatkan identitas tertentu kepada sang ayah---Soemitro bukan lagi sekadar seorang ekonom dan Menteri pada era Presiden Soeharto tapi juga seseorang yang memiliki hubungan dengan Mantan Danjen Kopassus---atau mungkin kalimat tersebut mengantarkan seseorang pada bayangan Ayahnya sendiri ; figur Ayah, peranan umum seorang Ayah, kondisi fisik Ayah. Atau mungkin juga kalimat itu dijadikan referensi tentang apa yang bukan: Soemitro bukan paman dari Prabowo, bukan kakek dari Prabowo, bukan pula teman dari Prabowo.

Di satu sisi, pendapat lain mengemukakan bahwa makna dari kalimat juga bisa ditemukan apabila dilakukan penjabaran fakta-fakta sosiologis dan psikologis yang melibati pengguna kalimat tersebut. Fakta sosiologis yang dimaksud adalah situasi dan kondisi ketika kalimat itu disampaikan. Konsep ini sering digunakan oleh ahli tafsir dalam agama, misalnya teks hadis “Jauhilah bermusyawarah dengan perempuan karena pendapat dan tekadnya lemah […]” yang bagi beberapa ulama dirasa perlu dikaitkan dengan konteks Perang Jamal, sehingga pelarangannya tidak mencakup semua perempuan secara universal. Sementara terkait fakta psikologis, untuk memahami makna sebuah kalimat, seseorang harus terlebih dahulu memiliki pemahaman atas watak dan tindakan manusia.

Pada akhir tahun 1920-an, Edward Sapir pernah mengatakan bahwa bahasa adalah produk budaya atau sosial, oleh karenanya ahli bahasa harus menyadari peranan ilmu bahasa bagi penafsiran perilaku manusia pada umumnya.

Bahasa lebih dari sekadar struktur gramatikal, bahasa mampu memfasilitasi pelacakan informasi yang akurat dan perubahan perspektif. “Ryo menendang bola ke Angga” mengandung makna bahwa tendangan Ryo mengakibatkan Angga menerima bola, sementara kalimat “Angga menerima bola yang tadinya hendak Ryo tendang ke Yusuf” mengandung makna bahwa tendangan Ryo mengakibatkan Angga menerima bola, akan tetapi terdapat unsur ketidaksengajaan dari tindakan Ryo tersebut. Lihatlah bagaimana perbedaan kalimat sekecil apapun mampu mengubah perspektif penerima informasi terkait suatu peristiwa.

Saya akan dengan senang hati meminjam monolog Louis CK dalam acara Saturday Night Live. Louis memberi contoh kalimat: “I said something and then she got her feelings hurt.” Menurut Louis, kalimat tersebut mengaburkan akibat dari ucapan si pembicara, lebih lagi, menggambarkan perempuan yang mendengar ucapan si pembicara sebagai orang yang sensitif, dan dengan demikian seakan-akan membuka kemungkinan bahwa jika ucapan itu diutarakan ke orang lain, belum tentu orang lain itu akan sakit hati. Ada pelepasan tanggung jawab dalam kalimat tersebut. “I said something and then she got her feelings hurt” berbeda dengan “I said something that hurt her feelings” atau “I hurt her feelings by saying something.”

Jadi ketika Hafidz Ary berstatemen terkait pembubaran kebaktian di Sabuga tempo hari, “Jika izin sudah didapat dan sama sekali tidak ada modus pemurtadan, menurut saya tidak berhak dilarang,” kalimat ini bermakna dua hal: 1) Umat Kristen tidak berhak dilarang jika sudah mendapatkan izin dan sama sekali tidak ada modus pemurtadan; dan 2) Umat Kristen berhak dilarang jika tidak mendapatkan izin dan melakukan modus pemurtadan. Ada suatu kerancuan dalam kalimat tersebut, yakni pada kata “berhak.” Sinonim “berhak” adalah “berkuasa,” “berwenang,” dan “mempunyai hak.” Apakah dilarang itu merupakan suatu hak? Apakah dilarang itu merupakan suatu kekuasaan? Apakah dilarang itu merupakan suatu kewenangan? Jawabannya: Tidak. Yang merupakan kekuasaan, kewenangan, dan hak adalah “melarang.”

Ary berkata, “Jika izin sudah didapat dan sama sekali tidak ada modus pemurtadan, menurut saya tidak berhak dilarang.” Ary tidak mengatakan, “Jika umat Kristen sudah mendapatkan izin dan tidak melakukan modus pemurtadan, menurut saya umat Islam tidak berhak melarang.”

Sekalipun ada yang mungkin berniat membenahi susunan kalimat Ary menjadi, “Jika umat Islam (melihat situasi dan kondisi bahwa acara kebaktian dibubarkan sekelompok umat Islam) memberikan izin dan sama sekali tidak menemukan modus pemurtadan, menurut saya tidak berhak melarang,” persoalan baru justru muncul kemudian: apa hak kelompok umat Islam tersebut untuk memberikan izin, mencari-cari modus pemurtadan, dan melarang-larang? Orang mungkin malah akan bertanya-tanya: Memangnya Sabuga punya Nenek moyangnya?***



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Ox

Ditulis tanggal 17 Mei 2016

"Pagar Kawat" (sumber gambar: weheartit.com)

Ox adalah seorang penulis puisi. Setiap hari, ia selalu menghasilkan karya-karya baru. Deretan kata-kata yang dirangkainya tersusun secara rapi sebagai sarana baginya mengekspresikan kondisi diri. Dia menguasai berbagai macam kategori gubahan; suatu hari puisinya bertemakan bunuh diri, kecanduan, tangisan, rasa takut, dan rasa muak. Di waktu yang lain, puisinya dapat memiliki tema-tema inspiratif seperti kepercayaan-diri, keberanian, imajinasi, kebijaksanaan, dan kecantikan.

Meskipun setiap gubahan Ox memiliki kategori berbeda-beda, secara garis besar terdapat kesamaan dalam semua karya yang ditulisnya: ekspresi kepenatan Ox terhadap keadaan masyarakat di bawah permukaan yang tampak. Dia mencoba menjangkau dunia luar dengan pandangan-pandangan segar, mendefinisikan hal-hal yang tidak dikenali atau disadari kehadirannya oleh masyarakat sekelilingnya.

Akan tetapi, apakah hal-hal yang telah digambarkan Ox dalam puisinya serta-merta menjamin bahwa situasi tersebut nyata keberadaannya dalam realita yang sebenarnya? Apakah puisi dapat dikatakan serba cukup untuk merangkum “ada”-nya suatu keadaan?

Beberapa filsuf berpendapat bahwa pengertian “ada” dan keberadaan sesuatu haruslah diburu secara bebas melalui bentuk telaah bahasa kalimat-kalimat yang bersangkut-paut. Maksudnya, kebenaran situasi spesifik yang digambarkan dalam kalimat-kalimat tersebut tidak bersifat abadi atau mendaging, melainkan mengalir menghadapi zaman yang bergerak sesuai fungsinya sebagai alat yang menunjuk makna. Artinya, kalimat-kalimat yang bersangkut-paut itu tidak boleh memainkan kalimat-kalimat untuk dirinya sendiri.

Menulis adalah kerja pembebasan. Untaian kata dalam kalimat yang ditulis haruslah mendorong keberanian bagi pembaca untuk mengubah hidup dan dirinya.

Ox, seperti kebanyakan penulis puisi lainnya, menitikberatkan penghematan kata. Seorang penulis puisi terkenal kikir dalam menggunakan kata-kata di tiap bait puisinya. Dia cenderung mengutamakan keringkasan dan kualitas emotif sebuah kata. Jadi, puisinya adalah jenis tulisan yang memainkan kata-kata bagi dirinya sendiri, untuk kepentingan kualitas emotif dan bahkan nilai musikalnya. Meminjam istilah Sartre, puisi tidak membebaskan, ia adalah dogmatisme yang tidak berbuah.

Berbicara tentang tulisan yang membebaskan adalah berbicara tentang pergantian bahasa. Artinya, dalam sebuah tulisan yang membebaskan haruslah mengandung 3 (tiga) bentuk bahasa: bahasa yang lumrah, bahasa yang dapat dicerna akal sehat, dan bahasa filosofis. Sebuah bahasa filosofis adalah bentuk yang sulit dipahami, ia membutuhkan bahasa yang dapat dicerna akal sehat untuk menjelaskannya. Sementara bahasa yang dapat dicerna akal sehat memerlukan kehadiran bahasa yang lumrah, untuk menghindari kebingungan dan menghapus kekaburan.

Di era yang serba canggih ini, orang-orang membutuhkan ketepatan yang dapat diraih melalui kecepatan. Itulah sebabnya, bahasa yang lumrah sangat diperlukan. Kata-kata tidak hanya akan berhadapan dengan manusia yang mencurahkan seluruh waktunya menafsirkan kata, akan tetapi juga diakses oleh manusia yang menghabiskan sepanjang harinya beraktifitas layaknya sebuah mesin. Orang-orang jenis ini hanya dapat mencerna kalimat yang gamblang. Di sisi lain, mereka menyaring kalimat berbelit-belit agar tidak masuk ke dalam sistem pikirannya.

Dengan demikian, makna yang mudah diserap adalah inti pokok dari sebuah tulisan. Tulisan yang tidak terlacak maknanya adalah tulisan tanpa inti: tidak kekal, tidak diakui, lunak, dan lapuk. Dan bagaimana mungkin sebuah tulisan yang selemah itu mampu mendorong keberanian pembaca untuk mengubah hidupnya? Bahkan dalam diri tulisan tersebut tidak ada tanda kepercayaan diri yang besar. Yang ada hanya kegentaran, kekecutan, dan ketakutan untuk secara terang menunjuk makna.

Jika saya adalah Ox, seorang penulis puisi yang memiliki mimpi untuk mengubah tatanan masyarakat melalui tulisannya, saya akan memilih satu di antara dua pilihan: (i) meninggalkan mimpinya dan menerima bahwa karyanya hanya akan berakhir sebagai alat kepuasan batin belaka; atau (ii) mencari gaya penulisan baru yang dapat menciptakan dunia. Ox dan beberapa penulis lain haruslah menyadari bahwa sebuah tulisan memikul tanggung jawab etis, mampu terlibat dalam masalah-masalah sosial, dan dapat mendorong setiap pembacanya untuk berani membebaskan diri dari keterasingan.



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top