NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Hamas

NikenSupraba.com

media sosial

Bahasa Kekerasan dalam Statement al-Zahar

Ditulis tanggal 3 Agustus 2017


Roket Qassam
Sumber gambar: GlobalSecurity.org



Masyarakat internasional sering berasumsi, Israel cenderung lebih kuat dibandingkan Hamas dan organisasi perlawanan Islam lainnya. Barangkali, penilaian tersebut beranjak dari penggunaan senjata yang kalah canggih. Sebaliknya, realita menunjukkan organisasi-organisasi tersebut justru semakin kuat daripada sebelumnya. Jeremy M. Sharp, dkk. dalam “Lebanon: The Israel-Hamas-Hizbullah Conflict” (2006) menyatakan pada tahun 2006, pemerintah Amerika Serikat (AS) bahkan tidak mampu melucuti senjata Hizbullah. Di saat bersamaan, Israel terlibat dalam perang melawan militan Palestina termasuk Hamas, ditambah pemain sekunder yang memperparah kompleksitas konflik, yaitu Iran dan Suriah. Mantan penasihat keamanan nasional Israel, Giora Eiland, mengakui basis politik Hizbullah di Lebanon merupakan ancaman strategis bagi Israel. Sementara itu di Palestina, Israel tidak pernah benar-benar memenangkan perang, menimbang ribuan tentara Israel yang harus tewas supaya Israel dapat memblokade kampanye bom bunuh diri Hamas.






Dari kasus yang ada, tampaknya bukan hanya kelompok kanan Israel yang setuju menggunakan cara-cara kekerasan. Hamas juga menunjukkan sikap non-kompromi terhadap Israel. Mahmud al-Zahar, pemimpin Hamas di Gaza, pada bulan September 2005 menyatakan: “Saya tidak percaya pada istilah ‘moderat.’ Kita sudah moderat.” Pernyataan tersebut menunjukkan krisis self-awareness di pihak Hamas, setelah rangkaian aksi bom bunuh diri yang mereka lakukan terhadap Israel. Satu tahun sebelumnya, al-Zahar menyatakan: “Dia [pelaku bom bunuh diri bernama Reem al-Riyashi] tidak akan menjadi yang terakhir karena barisan perlawanan akan berlanjut sampai bendera Islam dikibarkan.” Pada bulan Desember 2005, pemimpin Hamas Khalid al-Mish’al juga mengeluarkan statement: “Seperti yang pernah disampaikan mendiang Imam Khomeini, Israel adalah tumor mematikan yang tidak akan pernah kita akui sebagai sebuah negara.”






Batasan dalam Perang Kedaulatan


Hamas merupakan organisasi perlawanan Islam yang berada pada spektrum ekstremis dan maximalist. Tujuan Hamas tidak hanya bermuatan visi Islam akan tetapi juga klaim nasionalis dan militansi melawan Israel. Sikap Hamas yang cenderung kaku, membuatnya menolak upaya perdamaian yang dijalankan antara Israel dan Palestina. Serangan bom bunuh diri pada era penandatanganan Oslo Accords ialah bukti bagaimana Hamas berupaya menggelincirkan proses perdamaian melalui tindakan kekerasan.






Selain bom, Hamas juga menggunakan roket jenis Qassam, Grads, dan Quds. Roket tersebut punya kelemahan di bidang akurasi serta impact ledakan yang tidak dapat dikontrol. Bukan tidak mungkin, roket yang diluncurkan Hamas secara liar menyasar warga sipil Israel yang tidak berdosa. Tampaknya memang Hamas cenderung tidak peduli sekalipun roket menyasar warga sipil (khususnya settlers), menimbang pernyataan-pernyataan non-kompromi yang dikemukakan pemimpin Hamas pada kisaran tahun 2004 sampai dengan 2005.






Hingga hari ini, banyak orang berasumsi Israel lebih kuat daripada Hamas dan organisasi perlawanan Islam lainnya, menegasikan fakta penggunaan senjata non-diskriminatif oleh Hamas, dukungan Hizbullah yang bercokol di Lebanon, serta bantuan Iran dan Suriah selaku pemain sekunder. Masih banyak orang yang mendukung tindakan-tindakan Hamas, menganggap apa yang dilakukan organisasi perlawanan tersebut sebatas pembelaan terhadap kedaulatan Palestina. Akan tetapi, perang kedaulatan pun memiliki batasannya; warga sipil bukanlah pihak yang boleh diserang pada masa konflik, terlebih apabila serangan disebabkan oleh penggunaan senjata non-diskriminatif. Sebaliknya, menyebut belligerent yang luka-luka sebagai warga sipil juga bentuk penyesatan informasi dan eksploitasi terhadap emosi orang lain.






Benarkah Hamas bukan organisasi teroris? Jawaban atas pertanyaan ini masih menjadi polemik di masyarakat. Pada bulan Desember 2014, Uni Eropa (EU) menghapus Hamas dalam daftar organisasi teroris, bukan berdasarkan tindakan-tindakan yang telah dilakukan organisasi di Palestina tersebut, melainkan implikasi faktual yang diperoleh dari pers dan internet. Aturan pembekuan pendanaan EU terhadap Hamas tetap dijalankan. Sementara itu, AS dan beberapa negara lainnya bersikeras menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris, merujuk pada penolakannya untuk tidak menggunakan jalan kekerasan. Di sisi lain, organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih belum mengambil keputusan terkait status Hamas.






Bagaimana menurut pembaca? Benarkah Hamas bukan organisasi teroris?***
► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Tujuan-Tujuan Hamas

Oslo Accords
Sumber gambar: Screenshot unggahan video YouTube



Penggunaan metode bom bunuh diri cukup populer di kalangan kelompok seperti Partai Nasional Sosialis Suriah (SSNP/PPS), Macan Tamil (LTTE), Partai Pekerja Kurdi (PKK), pemberontak Ceko, Martir Al Aqsa, Jihad Islam Palestina (PIJ), dan terutama, Harakat al-Muqawama al-Islamiyya (Hamas).






Tidak sulit bagi organisasi seperti Hamas untuk merekrut calon “pengantin,” istilah yang biasa digunakan pada pelaku bom bunuh diri. Ada dorongan eksternal: Israel meraih kendali atas wilayah udara, perbatasan, perairan teritorial dan sumberdaya alam (SDA) Gaza pada tahun 2005; dan dorongan internal: Hamas memiliki pemimpin kharismatik, sehingga anggota menuruti kehendak pemimpin yang mendorong penggunaan motif-motif Islam radikal sebagai senjata untuk melawan musuh.






Fenomena tersebut juga dibenarkan Scott Atran dalam “Genesis of Suicide Terrorism.” Atran (2003) mengungkapkan bahwa “pengantin” dan pendukungnya secara kolektif merasakan ketidakadilan historis, sikap tunduk secara politik, dan penghinaan sosial vis-à-vis kekuatan global dan Sekutunya, serta melawan harapan agama (mendukung teks sambung jaring tentang sejarah baru Islam radikal). Hasilnya, “keberanian” orang-orang semakin terpupuk, dan modal ini sangat dibutuhkan dalam menjalankan aksi bunuh diri. Aksi perempuan berusia 16 tahun bernama Khyadali Sana yang berhasil membunuh 2 (dua) orang tentara saat konvoi Pasukan Pertahanan Israel merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkannya.






Tindakan bom bunuh diri anggota Hamas tentu bukannya tidak memiliki tujuan. Sebagai wujud gerakan perlawanan Islam, tujuan utama Hamas adalah membebaskan Palestina melalui perang suci (jihad) melawan Israel, mendirikan negara Islam di tanahnya, dan mereformasi masyarakat dengan semangat Islam sejati, seperti yang dilansir Shaul Mishal dalam “The Pragmatic Dimension of the Palestinian Hamas: A Network Perspective” (2003). Mishal berargumen, tujuan-tujuan Hamas sebagaimana yang telah disebutkan, merupakan kombinasi visi Islam dan klaim nasionalis serta militansi melawan Israel. Sikap demikian membuat organisasi perlawanan Islam tersebut dicitrakan sebagai gerakan yang kaku, siap mengejar tujuan dengan risiko apapun, tanpa batasan atau kendala (Mishal, 2003).






Sayangnya, gerakan kekerasan Hamas meraih banyak dukungan dari berbagai kalangan. Sebut saja peristiwa kelahiran Oslo Accords, seperangkat perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada tahun 1993 dan 1995, justru mengalami penolakan yang kuat dari publik sehubungan ketakutan-ketakutan yang dipicu pemukiman Yahudi di wilayah yang diduduki (occupied territory). Menurut Herbert C. Kelman dalam “The Israeli-Palestinian Peace Process and Its Vicissitudes: Insights From Attitude Theory” (2007), elemen ekstremis dan maximalist berupaya menggelincirkan proses perdamaian melalui tindakan-tindakan kekerasan yang dramatis, salah satunya bom bunuh diri. Di negara tetangga, para pengungsi Palestina menuduh PLO telah mengkhianati rakyat Palestina, kemudian memulai serangan terhadap Israel. Sikap serupa juga ditunjukkan Hizbullah di Lebanon, dimana serangan Hizbullah terhadap Israel mengalami puncaknya pada Perang Israel-Hizbullah di tahun 2006.






Beberapa hari yang lalu, ketegangan kembali terjadi antara Israel dan Palestina, sehubungan keputusan sepihak Israel untuk menempatkan alat pendeteksi logam dan antena di Kompleks al-Haram. Rakyat Palestina memprotes kebijakan tersebut dan melakukan demonstrasi yang berakhir rusuh serta mengakibatkan sebanyak 3 (tiga) orang Palestina tewas. Selang beberapa jam, seorang pemuda Palestina berusia 19 tahun bernama Omar al-Abed menyusup ke pemukiman Neve Tsuf, sisi barat laut Ramallah, dan menusuk sepasang suami-istri lanjut usia beserta 2 (dua) orang anaknya. Keempatnya berkebangsaan Israel. Motivasi al-Abed cukup jelas, dia marah atas nyawa orang-orang Palestina yang melayang saat demonstrasi di Kompleks al-Haram.






Hamas Makin Menguat


Yehudit Barsky, Direktur Divisi Tim-Teng dan Terorisme Internasional, Komite Yahudi Amerika (AJC), pernah menulis makalah berjudul “Hamas: The Islamic Resistance Movement of Palestine” yang memberikan pemahaman mendalam terkait gerakan Hamas. Barsky memaparkan, sepanjang sejarahnya, Hamas telah melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil dan tentara Israel, termasuk bom bunuh diri, pemboman mobil, penculikan, penembakan drive-by, dan penusukan. Per bulan September 2000 sampai dengan awal tahun 2004, Hamas melakukan 425 serangan teroris dalam berbagai bentuk yang mengakibatkan 377 warga sipil dan tentara Israel terbunuh dan 2.076 orang lainnya luka-luka (Barsky, 2006).






Sampai dengan tahun 2006, berdasarkan informasi yang dihimpun Barsky, senjata yang digunakan Hamas sebagian besar adalah senjata konvensional: granat tangan, senapan Kalashnikov, ikat pinggang yang disatukan bahan peledak, dan roket Qassam. Terlepas dari jenisnya yang konvensional, penggunaan senjata Hamas menuai polemik. Selain Qassam, Hamas menggunakan roket Grads dan Quds (perkiraan mulai digunakan tahun 2009), dimana ketiganya memiliki kelemahan di bidang akurasi. Secara lebih rinci, roket Qassam digambarkan tidak akurat, berjarak-pendek, dan kurang mematikan. Sementara Grads dan Quds digambarkan mampu menyimpan sekitar 5 (lima) kilogram bahan peledak dan juga pecahan peluru berupa kuku, baut, atau lembaran logam bulat yang akan pecah pada saat terjadi benturan.






Karakteristik senjata Hamas yang tidak akurat, ditambah impact ledakan yang tidak dapat dikontrol, membuat serangan Hamas dikategorikan sebagai serangan nondiskriminatif. Bukan tidak mungkin, roket yang diluncurkan Hamas secara liar menyasar warga sipil Israel yang tidak berdosa.




Bahasa Kekerasan dalam Statement al-Zahar
► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top