NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Kebebasan

NikenSupraba.com

media sosial

Libertarianisme dan Moralitas

Ditulis tanggal 27 Maret 2017

Government without the State (Sumber gambar: The Great Fiction)


Tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel “Revolusi Industri: Pe-eRBesar yang ditinggalkan untuk Libertarianisme

Libertarianisme berakar dari liberty, atau yang biasa dikenal sebagai “kebebasan.”

Pada pukul 06.00 WIB, seorang Ibu masuk ke kamar anaknya yang masih tertidur pulas. Wanita tersebut membangunkan anaknya agar bergegas sarapan, mandi, dan berangkat ke sekolah karena bel masuk akan berbunyi 30 menit lagi. Sang anak, yang masih mengantuk karena baru tidur pukul 23.00 WIB, merasa kesal. Ia ingin tidur saja dan tidak masuk sekolah pada hari itu. Sambil bersungut-sungut, ia berkata pada Ibunya, “Aku makhluk bebas, aku berhak melakukan apapun yang aku inginkan!”

Di suatu kantor, seorang staff berusia awal 20-an ditegur oleh atasannya. Atasannya mengeluh kenapa dalam satu bulan, staff tersebut tidak masuk kerja selama 3 (tiga) hari, padahal statusnya masih sebagai pegawai di masa percobaan. Bahkan di antara 3 (tiga) hari absensi tersebut, terdapat 1 (satu) hari di mana staff tersebut tidak masuk tanpa izin (bolos). Dia kesal dengan keluhan atasannya dan berkata, “Saya makhluk bebas, saya berhak melakukan apapun yang saya inginkan!” kemudian mengajukan surat pengunduran diri pada hari itu juga.

Di sebuah pemukiman, ada seorang pria yang tinggal dengan teman sesama jenisnya. Pada mulanya warga mengira mereka adalah sahabat karib atau saudara jauh yang berbagi tempat tinggal untuk menghemat biaya hidup. Akan tetapi, suatu hari terdapat aduan warga yang mencurigai bahwa keduanya adalah pasangan homoseksual. Jadi warga beramai-ramai menggerebek kediaman pria tersebut dan apa yang selama ini dicurigai oleh warga nyata terbukti. Meskipun demikian, pria tersebut tidak merasa bersalah. Baginya, dia adalah makhluk bebas dan berhak melakukan apapun yang dia inginkan.

Dari 3 (tiga) cerita di atas, dapat dipahami bagaimana pandangan subyektif mengenai makna dari kebebasan. Kebebasan ditafsirkan sebagai kondisi di mana manusia tidak menghadapi kendala eksternal yang dipaksakan oleh orang lain yang menghambatnya melakukan apa yang diinginkan. Kekuatan eksternal yang bersifat memaksa, dipandang sebagai kekuatan besar yang berniat menandingi dan memusnahkan kekuatan internal, dan oleh karena itu harus ditolak, sebab menciderai konsep kesetaraan antara individu satu dan individu lainnya.

Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah keadaannya memang harus seperti itu; antara kekuatan eksternal yang menguasai individu lain seutuhnya atau kekuatan internal yang menguasai dirinya seutuhnya? Tidak bisakah 2 (dua) kekuatan tersebut “berbagi,” untuk mencapai jalan tengah?

Jawabannya adalah: tidak bisa. Diri manusia, secara literal maupun secara makna, tidak dapat dibagi-bagi. Membagi diri berarti memungkinkan diri berada di ruang berbeda di waktu yang sama; ruang yang sama di waktu yang berbeda; atau ruang yang berbeda di waktu yang berbeda pula. Secara nalar, hal ini sangat mustahil. Oleh karena itu, pilihan yang tersisa adalah: (a) membiarkan orang lain memiliki diri yang lainnya; (b) tidak ada seorangpun yang memiliki diri yang lainnya; atau (c) seseorang memiliki dirinya sendiri.

Pilihan (a), tentu mengingatkan dengan masa perbudakan di mana pergerakan, kecakapan mengambil keputusan, martabat, serta kelangsungan hidup seseorang dikendalikan oleh tuannya. Perbudakan tidak memenuhi standard moral.

Pilihan (b), sebenarnya tidak melanggar standard moral apapun, akan tetapi dengan ketentuan ini, kondisi akan sangat canggung bagi orang-orang. Ibarat terdapat makanan enak di meja makan, jaraknya sangat dekat, namun tidak seorangpun boleh menyentuhnya apalagi memakannya.

Oleh karena itu, pilihan terbaik adalah seseorang yang memiliki dirinya sendiri, yang berdaulat atas dirinya sendiri. Dengan kata lain, tiap individu adalah tuan dan pemilik kehidupannya sendiri dan tidak seorangpun yang berhak menguasai kehidupan orang lainnya.

Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya: “Jika (a) bukan merupakan pilihan terbaik dengan alasan ketidakmampuannya untuk memenuhi standard moral, lalu bagaimana dengan contoh kasus pria homosekskual yang digerebek itu? Bagaimana dengan anak kecil yang melawan Ibunya karena tidak mau berangkat sekolah? Bukankah keduanya merupakan bentuk tindakan immoral: yang pertama, bertentangan dengan kesusilaan; yang kedua, bertentangan dengan kewajiban seorang anak untuk menghormati orang tua?”

Pertama-tama, hal yang harus dipahami dalam konsep kebebasan adalah kebebasan bukan berarti menolak moralitas. Kebebasan menolak moralitas yang ditegakan melalui hukum. Jika kebebasan menolak moralitas, tentu saja sedari awal kemunculan gagasan mengenai kebebasan, ia akan berupaya menghapuskan agama dari wajah dunia. Namun kenyataannya, pihak-pihak yang mengusung toleransi beragama rata-rata berasal dari pihak yang menjunjung tinggi nilai kebebasan tersebut.

Bagi para pengusung gagasan kebebasan, moralitas tetap bisa tegak tanpa perlu kehadiran unsur pemaksa seperti hukum. Argumennya berdasar dari fakta bahwa pendapat pencari kebenaran yang cerdas, tulus, dan jujur dapat dijadikan panduan untuk menentukan apa yang benar. Dan siapapun bisa menentukan apa yang benar bagi dirinya, selama ia berkomitmen tinggi pada pencarian kebenaran.

Memang terdapat kemungkinan bagaimana motivasi pencarian kebenaran tersebut dapat terganggu ketika akal manusia ditundukan oleh nafsu atau ketidakmampuannya dalam mengontrol gairah, akan tetapi bagi Charles Taylor, misalnya, konsepsi kebebasan tidak perlu mengandaikan keraguan itu, karena keraguan itu bersifat metafisik atau psikologis, dengan kata lain, bersifat subyektif. Intervensi nafsu terhadap penilaian benar dan salah akal, merupakan potret ekstrim dari kebebasan : yang pertama kebebasan nafsu, yang kedua kebebasan akal. Meskipun demikian, kehadiran nafsu bukan berarti menghilangkan kehadiran akal sepenuhnya.

Libertarianisme bukan ideologi sempurna. Setelah libertarianisme, kerakusan akan tetap ada, kedengkian karena orang lain mendapatkan lebih akan tetap ada, dan pembunuhan dilatarbelakangi amarah yang meletup-letup akan tetap ada. Libertarianisme tidak berniat meniadakan nafsu, dan memang tidak seharusnya meniadakannya. Akan tetapi, dibandingkan dengan ideologi-ideologi lain yang menjanjikan surga bagi semua, libertarianisme menjanjikan kebebasan bagi diri individu, di mana keputusan-keputusan dalam menyelesaikan persoalan akan dibuat oleh orang yang benar-benar merasakan langsung persoalan itu: dirinya sendiri. Orang tidak perlu lagi menggerutu pada persoalan hidupnya, karena sesungguhnya ia punya pilihan untuk keluar dari persoalan tersebut, hanya saja tekadnya yang belum ada. Orang tidak perlu lagi menyesal di masa depan, karena masa depan tersebut adalah buah dari serangkaian keputusan yang ia buat di masa muda hingga dewasa. Dari hal kecil saja, seperti kedamaian batin di tiap-tiap individu, satu persatu persoalan besar di dunia ini perlahan akan selesai. 


► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Fokus Utama Libertarian

Ditulis tanggal 1 Mei 2015

 *Tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel “Perkembangan Terakhir Masyarakat Libertarian

Setelah Revolusi Industri, kaum libertarian berkali-kali mengalami pergulatan serius dengan pihak-pihak yang ingin mengembalikan kekuatan elit-elit pedagang dan tuan tanah, mengembalikan sistem “merkantilis” Inggris di mana pajak begitu tinggi, adanya kontrol kuat dari negara, dan hak khusus monopoli yang dilegitimasi oleh Negara. Di bagian sebelumnya kita sudah membahas, fokus utama libertarian dalam sistem ekonomi adalah pengurangan beban pajak secara drastis, penghapusan kontrol dan kewenangan regulatif Negara, dan manusia, perusahaan, dan pasar dibebaskan untuk menciptakan dan memproduksi barang dan jasa yang akan memberikan manfaat kepada seluruh umat manusia.

Dalam mengembalikan kekuatan elit, golongan liberal tradisional yang didukung oleh Barry Goldwater ini menggunakan sistem campuran. Pasar bebas ditata, separuhnya melalui kebiasaan-kebiasaan dagang yang baku, separuh lagi melalui otoritas Negara yang eksplisit. Meskipun proporsinya berbeda-beda, namun hampir sebagian besar kaum libertarian percaya bahwa upaya ini adalah wujud pengembalian pemerintahan yang terpusat dan bahkan imperial; singkatnya, sebuah sistem Inggris tanpa kerajaan di dalamnya─yang tentunya bertentangan dengan libertarianisme.


Pasca-Revolusi: Kepercayaan Tinggi Kepada Pemerintah

Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan terhadap karya Goldwater, dapat dimaklumi mengapa pemikiran-pemikiran Goldwater banyak diadopsi oleh Partai Konservatif. Goldwater cukup percaya diri mengklaim bahwa Negara tidak selalu cenderung menghancurkan hak-hak individu. Terlepas dari fakta yang menyatakan dua-duanya bermula dari gagasan mengenai “pemisahan antara Gereja dan Negara”, namun terdapat perbedaan mendasar di mana golongan konservatif tidak berupaya untuk memisahkan Negara dari segala aspek kehidupan dalam artian yang sebenarnya. Pemerintah masih harus memberikan intervensi dalam kehidupan rakyatnya, dalam rangka melindungi kebebasan individu dan memperluas peluang usaha.

Cara yang pertama adalah dengan merangkul kelompok militer untuk memperkuat pertahanan Negara, melestarikan hukum dan ketertiban. Agar lebih bernuansa demokratis dan transparan, milisi militer yang tadinya turun-temurun, digantikan dengan sukarelawan dari daerah-daerah, yaitu penduduk sipil yang secara sukarela bertarung di medan perang untuk mempertahankan tanah airnya.

Cara yang kedua adalah dengan memberikan batasan-batasan terhadap hak asasi manusia dan menuangkan kesepakatan atas batasan tersebut ke dalam suatu kontrak/regulasi untuk kemudian dipatuhi bersama. Di dalamnya mencakup hak-hak yang boleh dilanggar dalam situasi tertentu demi kepentingan umum. Selanjutnya juga ada regulasi yang mengatur hak-hak masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi, mengenai ‘sebebas apakah seharusnya pasar bebas itu’, yang biasanya ambang kebebasan itu dibatasi oleh stabilitas moneter dan fiskal. Jadi, pasar bebas boleh diselenggarakan selama tidak mengganggu stabilitas perekonomian.

Cara yang ketiga adalah  memberikan hak khusus monopoli atas barang dan jasa tertentu, yang mana asetnya dikuasai Negara. Barang dan jasa itu biasanya berpengaruh besar terhadap hajat publik, sehingga tidak boleh sepenuhnya disediakan oleh pasar karena kompetisi pasar yang begitu keras justru akan memberikan tekanan dan kesengsaraan rakyat.

Ketiga cara ini menunjukkan bahwa dalam diri kaum konservatif, selalu ada dorongan untuk memperluas kewenangan pemerintah lebih jauh, agar pemerintah dapat membantu tiap individu mencapai hal-hal yang tidak mampu dicapai oleh individu itu jika sendirian. Begitu kiranya definisi kebebasan individu menurut kaum konservatif. Namun sejarah mengajarkan kita bahwa harapan ini sangat jarang tercapai, dan kewenangan pemerintah yang terlalu luas justru melemahkan kapasitas manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Yang lebih buruk adalah, kekuasaan pemerintah sangat mudah jatuh ke tangan kelompok swasta yang menggunakannya demi tujuan-tujuan egois─kelompok swasta ini berkoalisi dengan pemerintah dan meminta dibuatkan tameng-tameng agar tidak rentan dalam menghadapi kompetisi pasar.


Libertarianisme dan 'Lenyap'-nya Negara

Berbeda dengan golongan liberal tradisional yang menaruh optimisme kepada pemerintah, libertarianisme condong pada ide yang pernah dilontarkan Trenchard dan Gordon pada tahun 1720, bahwa pemerintah selalu cenderung menghancurkan hak-hak individu. Sebagaimana diutarakan dalam artikelnya yang berjudul “Surat-Surat Cato”, menurutnya sejarah manusia merupakan konflik antara kekuasaan dan kebebasan, di mana kekuasaan (pemerintah) selalu siap berdiri memperluas cakupannya untuk menyerang hak-hak rakyat dan melanggar kebebasan individu. Yang jelas, pemerintah yang dipimpin oleh manusia itu, akan selalu berusaha mempertahankan kekuasaannya, dan itu dilakukan bukan berdasarkan kebutuhan dunia atau rakyatnya, melainkan karena memang sudah watak dari kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan (pemerintah) akan selalu mencoba meningkatkan derajatnya sampai ke taraf ‘luar biasa’, taraf tirani, yang mana akhirnya Negara yang sepatutnya menciptakan kesejahteraan bersama berubah menjadi rumah jagal atau rumah penyiksaan.

Libertarianisme, alih-alih memberikan kewenangan pada Negara untuk mengatur hajat hidup orang banyak, justru mencoba memberikan kebebasan kepada manusia dalam artian yang sebenar-benarnya. Komitmen awalnya untuk memisahkan gereja dari negara, diikuti dengan konsistensi untuk memisahkan Negara dengan aspek-aspek lain: memisahkan ekonomi dari Negara, memisahkan kebebasan berpendapat dan pers dari Negara, memisahkan hak penguasaan atas tanah dari Negara, memisahkan urusan perang dan militer dari Negara─singkat kata, libertarianisme memisahkan Negara dari apapun.

Menjadi seorang libertarian berarti menjadikan kebebasan sebagai moralitas dan acuan dalam kegiatan politik dan ekonomi. Pasar bebas diartikan secara harafiah, setiap orang diberikan kebebasan untuk berkompetisi, berkembang, berkarya. Kebebasan untuk berdagang dan berproduksi merupakan bagian dari satu sistem tanpa cacat, yang disebut Adam Smith, “Suatu sistem alamiah yang jelas dan sederhana”. Tidak perlu ada regulasi yang mengatur pasar, karena relasi-relasi di dalamnya akan melahirkan sebuah kebiasaan yang secara alamiah dan tanpa sadar dipatuhi sebagai hukum. Penarikan pajak haruslah serendah-rendahnya dan tidak boleh ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN)─Negara, sederhananya, dibuat untuk tetap dalam keadaan kecil dan inferior, dengan jumlah kas yang sekecil-kecilnya.

Dalam hal militer juga, libertarian menganut perdamaian sebagai kredo kebijakan luar negerinya di mana militer tidak lagi menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk mengaplikasikan kekerasan.

Apa yang akan lahir kemudian dari visi libertarianisme mengenai “pemerintah yang terbatas”? Banyak orang mengkritik bahwa laissez-faire yang didukung libertarianisme mengakibatkan terjadinya perburuhan anak di pertambangan dan pabrik tekstil, kondisi kemiskinan di Inggris pada abad ke-18, dan ketimpangan ekonomi yang dahsyat. Untuk merespon kritik ini, maka kaum libertarian menyajikan beberapa pemaparan hubungan Libertarianisme terhadap moralitas.



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Perkembangan Terakhir Masyarakat Libertarian

Ditulis tanggal 31 Maret 2015

Pemikir Libertarian di Connecticut (Sumber gambar: Chris Woodside)

Pengantar: Antara Liberalisme dan Libertarianisme
Libertarianisme, setelah hidup selama 27 abad lamanya dan dikembangkan oleh beberapa pemikir, memiliki potensi untuk bangkit kembali dan, dua tahun silam, mendapat jatah 149 kursi pemerintahan di negara adikuasa. Apakah potensi itu?

Karya Lao Tzu pada abad keenam Sebelum Masehi, Tao Te Ching, telah dikenal sebagai peletak dasar-dasar libertarianisme.  Ajaran Lao Tzu menggambarkan interaksi antara ide-ide yang berkaitan dengan kehidupan manusia: lahir (muncul dari tanah), mekar, dan kembali ke akar. Karakter Tao sendiri terdiri atas dua bagian mendasar; yang pertama, adalah bergerak, atau berkembang, dan yang kedua, adalah kecerdasan. Dengan demikian, gabungan dua bagian ini bisa dipahami sebagai “kecerdasan yang progresif.”

Pada masa dinasti Yin, Lao Tzu muak dengan kebodohan dan kekejaman para politisi waktu itu, termasuk bahasa, yang tentunya memiliki relasi erat dengan kuasa. Ajarannya secara implisit mengajak orang-orang untuk mengutamakan hasrat kembali pada alam, seperti yang ia lakukan saat memutuskan meninggalkan China dan mencari tempat yang penuh kedamaian dan kesunyian─bahwa kunci utama dalam menganut Tao adalah dengan melupakan Tao, sebab jika tidak, akan memicu ambisi yang “tidak alamiah”.

Bagaimanapun, ajaran Lao Tzu yang kontroversial ini memicu sejumlah komentar dari pemikir liberal tradisional dan moralis. Tidak semua pemikir setuju pada konsep pengembalian manusia kepada aspek-aspek primitif. Kelompok yang berbeda pandangan adalah mereka yang memiliki skema tuntunan spiritual dengan harapan bahwa semua orang akan belajar dan mengikutinya. Bagi kelompok ini, kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan kehadiran rule of law dan institusi sosial (Pemerintah).

Setidaknya semenjak keruntuhan monarki absolut di abad kedelapan-belas, libertarianisme telah menjadi gagasan menarik yang tak dapat sembarang diabaikan. Tapi sebagaimana karakter dasar Tao yang progresif, libertarianisme tidak untuk dianut secara membabi-buta; tanpa koreksi, dan tanpa sedikit pun mempersoalkannya. Ia telah memiliki banyak cabang, mulai dari anarkisme, libertarian-sosialisme, dan individualisme dengan pembaharuan-pembaharuan gagasan yang sesuai perkembangan zaman.

Tapi pertama-tama, apakah kontribusi libertarian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Mereka banyak membahas tentang fungsi dan intervensi negara. Apakah yang membedakan libertarianisme dengan liberalisme? Khususnya, bagaimana pandangan keduanya terhadap kegiatan ekonomi? Tentu saja, jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat bergantung pada teori apa yang akan dipakai: fungsi negara versi Martin dan Abercrombie akan sedikit berbeda dengan versi Lao Tzu. Alih-alih membahas setiap teori satu-persatu, kita akan tetap fokus pada libertarianisme, dan pendekatan umum yang selalu digunakan, yaitu freedom. Kita akan mulai dengan konsepsi kebebasan menurut John Stuart Mill.

John Stuart Mill: Konsepsi Kebebasan
Dalam essay-nya “On Liberty” John Stuart Mill, seorang filsuf berkebangsaan Inggris, mengidentifikasikan posisinya dalam politik dan ekonomi. Dalam analisisnya, Mill menempatkan kebebasan individu sebagai nilai tertinggi bangunan moral, dan posisi politik dan ekonominya merupakan derivasi dari nilai tersebut. Kenyataan bahwa libertarian cenderung mendukung laissez-faire (Machan, 1980) merupakan bukti bahwa kebebasan individu memang menempati kedudukan tertinggi sekaligus bukti kepatuhan pada prinsip kebebasan tersebut. Kebebasan individu didahulukan daripada apapun.

Mill percaya bahwa kebebasan adalah nilai fundamental yang dapat dimaknai ke dalam dua dimensi: (a) melawan penindasan dan pemaksaan/kekerasan; dan (b) tidak memaksakan peraturan pada orang lain (paternalisme); yang mana kemudian pendapat ini mengingatkan kita pada konsepsi kebebasan menurut J.J. Rosseau. Oleh karenanya, pendapat ini jauh berbeda dengan teori yang menyatakan ada hal-hal lain yang lebih fundamental ketimbang kebebasan, semisal ketertiban atau kemanfaatan.

Tentu gagasannya mengenai kebebasan juga jauh lebih bertentangan dengan liberal tradisional. Liberal tradisional menganggap kebahagiaan dan kebebasan rakyat akan hadir apabila ada rule of law dan institusi sosial (Pemerintah). Jika dimaknai dengan logika sederhana, maka akan terdengar seperti ini: “semakin banyaknya peraturan hukum dan semakin berperannya pemerintah, maka semakin aku bahagia dan merasa bebas…” Inilah yang sudah diantisipasi Lao Tzu, bapak Libertarian kita, sejak 27 abad yang lalu, bahwa ia memungkinkan dihapusnya Pemerintah jika memang  menghambat rakyat menggapai kebahagiaan. Dan adanya sanksi-sanksi terhadap tiap pelanggaran hukum merupakan wujud paksaan atas aturan, yang tentunya mereduksi kebahagiaan, khususnya kebebasan itu sendiri.

Saya akan memaparkan bagaimana liberalisme itu bisa sangat dekat dengan totalitarianisme; tapi sebelum sampai ke tahap sana, saya akan menyajikan beberapa fakta menarik.
► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Kelangsungan Hidup Pasar Bebas

Ditulis tanggal 22 November 2013


    “Some advocates of free markets take it as a matter of faith that the magnitude of the inefficiencies are small (though no one has suggested how one might prove that); but more commonly advocates of free markets take it as a matter of faith that government attempts to correct market failures by and large make things worse.” – Joseph Stiglitz

Bahwa setelah makin jelasnya ditampakkan cela sistem neoliberalisme dan banyak orang tak kunjung sadar, menunjukkan neoliberalisme telah ditelan mentah-mentah. Betapa signifikan tatanan masyarakat dirombak oleh neolib. Ia mengetuk pintu ekonomi dan sosiopolitik, memaksa diizinkan masuk. Meskipun itu bertujuan untuk memberi efek obat tenang bagi masyarakat -- Untuk membasmi kuman bernama pemberontakan.

Yang bisa dinilai dalam sistem ini, pasar bebas tanpa pemerintah dalam suatu waktu bisa melukai dirinya sendiri (Sanders, 1977). Luka itu datang sebelum individu terlepas dari kungkungan kontrol pemerintah atas pasar. Iming-iming kebebasan, agaknya cukup membangkitkan gairah para pedagang untuk menyingkirkan segala jenis gangguan yang mungkin menghambat aktivitasnya, termasuk di antaranya gangguan berupa aturan main pasar.  Sistem ini sempat melesat tinggi dengan cepat, disokong orang-orang yang memberi applause tak henti-henti atas konsep paling jenius yang pernah ada. Sesaat kemudian ia terjun bebas, bunuh diri, tak mampu menghadapi fakta bahwa banyak luka cakar yang diderita sebagian orang, yang dulunya sempat dia untungkan.

Tatanan Sosiopolitik yang Dimaksud...

Soal sejauh mana neoliberalisme telah mengubah tatanan sosiopolitik adalah hal yang belum disinggung dalam tulisan ini.


Teori kebebasan ditanamkan ke diri individu melalui intervensi diam-diam. Sedangkan konsepsi penataan diri adalah yang paling ditonjolkan. Konsepsi ini berpedoman pada pendekatan aksi teoritis tadi, kemudian diharapkan mampu memunculkan daulat dari diri individu dan menghasilkan demokrasi dan partisipasi aktif.


Menyusul setelahnya sebuah kreasi yang berlangsung terus-menerus, hingga jadi permanen dan membentuk struktur sosial baru yang dipengaruhi pola pikir dan tindakan individu. Kesamaan ini - yakni kesetaraan antar-masyarakat, dianggap unsur pertama terwujudnya sistem keadilan.


Ketika imajinasi kesetaraan terkabul, redistribusi serta-merta digalakkan, termasuk di bidang ekonomi. Penyebaran ke daerah lain merupakan salah satu cara untuk menjamin bahwa kesetaraan tersebut tak berlangsung parsial.


Meskipun begitu, tak ada yang berani mengklaim apakah mekanisme redistribusi satu-satunya hal yang paling mendekati argumen-argumen moralis. Tak juga seorang pun berpikir mekanisme tersebut dibenarkan. Demikian memang mekanisme itu paling ngetop pada zamannya.

Saya belum banyak membaca apa saja jenis kegagalan darinya. Namun, jika menghormati daulat individu, maka harusnya sejumlah negara kaya raya melepaskan bornya dari negara-negara yang tersebut negara “berkembang”, agar negara itu kembali menjadi sebuah hutan belantara perawan yang dapat menentukan takdirnya sendiri. Realitanya justru sebaliknya.

Jika Hobbes memaksa orang-orang tak berdosa meletakkan senjata, maka yang terjadi disini adalah sama. Bagi orang-orang di negara kaya, keliaran di “hutan belantara” harus ditertibkan dengan sejumlah orang dipaksa menanggalkan perkakas tarungnya. Ini tentu bertentangan dengan libertarianisme.

Kelangsungan Hidup Pasar Bebas

Joseph Stiglitz pernah berkata, “Some advocates of free markets take it as a matter of faith that the magnitude of the inefficiencies are small (though no one has suggested how one might prove that); but more commonly advocates of free markets take it as a matter of faith that government attempts to correct market failures by and large make things worse.” Jika rezim Reagan-Thatcher mencoba melakukan kontrol moneter terhadap pengeluaran, hal tersebut justru rancu.

Semua setuju libertarianisme menghadiahkan kedaulatan, berikut ekspansi ruang-ruang privat bagi masing-masing orang. Lalu apa maksud dari adanya kontrol moneter? Berbekal pengetahuan soal properti terkait, seharusnya pengukuran terhadap pengeluaran dapat dilakukan sendiri-sendiri, bukan?

Tapi para pendukung pasar bebas akan terus membantah atas sikapnya yang acapkali mendua pada otoritarianisme. Bahwa sistem pasar bebas yang sedang terjadi sekarang bukanlah apa yang dicitakan oleh konsepnya. Maksudnya, yang perlu dikoreksi adalah pratik, bukan kedalaman kerangka kerja.

Dengan itulah dapat disimpulkan: pasar bebas telah menjadi sebuah agama ortodoks. Agama yang diyakini zombie-zombie pasar bebas itu secara fanatik, juga membabi-buta.


Referensi:
Sanders, JT. 1977. “The Free Market Model versus Government: A Reply to Nozick”. Journal of Libertarian Studies. Vol. 1 No. 1, Pergamon Press 1977.35-44.

Beberapa kesalahan informasi tentang libertarian dalam tulisan ini telah direvisi di sini 
► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top