NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Kita

NikenSupraba.com

media sosial

Para Perempuan yang Tersisihkan

Ditulis tanggal 8 Maret 2014

Maya, sang pemburu Osama bin Laden dalam film "Zero Dark Thirty" (source: Vancouver Observer)

“We take risks in our work; we take unpopular stands. We work for all women and against all forms of discrimination and oppression. We believe that we cannot work for all women and against sexism unless we also work against racism, classism, ageism, anti--Semitism, ableism, heterosexism, and homophobia. We see the connection among these oppressions as the context for violence against women in this society.” – In the Time of Right: Reflection on Liberation (1981)

Dimanakah posisi perempuan di masyarakat?

Tokoh utama kartun “Brave” bernama Merida dididik untuk berperilaku seperti tuan puteri. Dia harus hidup bersama anjuran dan larangan yang dipakem oleh sang ibu. Dia dilarang tertawa terbahak-bahak, dilarang memanah... bagi sang ratu, kegiatan seperti itu terlalu maskulin untuk dilakukan oleh seorang tuan puteri.


Paternalisme

Paternalisme dominatif membenarkan teori patriarki yang memandang perempuan seperti orang dewasa yang kurang kompeten, dan karenanya membutuhkan sebuah peran superordinate bernama laki-laki (Glick & Fiske, 1996). Merida mempermalukan para calon suaminya di muka umum. Dia memberontak, bukan kepada aturan ibunya. Lebih dari itu, dia memberontak pada sistem yang menghalanginya untuk menjadi manusia utuh.

Pikir saya, Merida tidak sendirian. Ini adalah potret realita yang masih hidup di beberapa tempat di berbagai negara. Atau juga, sistem yang oleh beberapa rumah tangga dianggap normal untuk berlaku.
Kita akan lebih kaget mengetahui kebanyakan tindakan diskriminasi lahir dari kekeliruan penafsiran ayat-ayat kitab suci. Dalam Alqur’an dikatakan, “...Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma´ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” (Al-Baqarah:228)

Selama berabad-abad, muslim konservatif menggunakan ayat tersebut untuk melegitimasi bahwa perempuan tak akan pernah berada dalam pucuk pimpinan keluarga. Perempuan didesain sebagai makhluk yang inferior daripada laki-laki.


Tak Berjangkit

Jika ada bukti berkata sebaliknya, tentu kita tidak boleh menolak. Pastinya tidak melulu pendiskreditan atas peran perempuan yang kita saksikan. Kita juga melihat beberapa figur yang disambut baik oleh masyarakat. Afghanistan punya Bibi Ayesha, kita punya Ni Paksini, orang Yahudi punya Anne Frank. CIA punya agen bernama Maya yang berhasil menemukan Osama bin Laden. Benar adanya, beberapa mendapat bagian kecil dari kekuasaan.

Namun, bukankah kita juga melihat bagaimana akhir-akhir ini, para perempuan yang menempati posisi strategis diburu rasa ketakutan setiap menitnya? Bahwa jika dia tak tunduk pada apa yang disebut “norm”-nya perempuan kebanyakan, ia akan lengser? Beberapa feminis mengatakan, kita harus berpakaian seperti ini, berbicara seperti ini, berperilaku seperti ini, untuk didengar oleh orang-orang (para pria?) yang mengendalikan pengadilan, sekolah, dan lembaga-lembaga yang memegang kekuatan di atas kita (Pharr, 1997).

Dari massa perempuan dengan latar belakang ras, kelas, agama, identitas seksual, dan usia, banyak yang tidak mendapat manfaat dari pelimpahan sebagian kecil kekuasaan tersebut.


“Sudah sepantasnya...”

Kenapa perbedaan jenis kelamin harus ada? Meskipun penjelasan yang ada saat ini hanya bersifat spekulatif, adalah masuk akal jika seksisme pria mencerminkan orientasi/motivasi mereka terhadap perempuan, sedangkan adopsi keyakinan seksis perempuan mencerminkan kecenderungan mereka untuk menolak norma-norma budaya yang berlaku.

Alasan lain yang mungkin, adalah bahwa seksisme umumnya membagi perempuan menjadi kelompok ibu rumah tangga dan feminis, dimana ibu rumah tangga akan lebih dirangkul oleh motif seksual pria-pria tradisional – sedangkan feminis sedikit kurang disukai sebab mereka menantang keinginan paternalistik.
Dan kita pun akan terus terlarut dalam tidur panjang. Selamanya, kami tak akan dibela karena dianggap sudah mendapat apa yang sesuai porsinya. Selamanya, feminis akan dianggap musuh norma-norma budaya. Atau jika ada yang bangkit, hanya akan jadi riak-riak kecil sebuah gerakan yang tak populer.

Kita terlanjur menikmatinya.

Banerjee berkata, “Mudah, terlalu mudah, untuk berkhotbah tentang bahaya paternalisme dari kenyamanan sofa di rumah kita. Bukankah kita, orang-orang yang hidup di dunia yang kaya, juga penerima manfaat dari paternalisme yang benar-benar tertanam ke dalam sistem yang tak kita sadari?”



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Mempercayai Orang Asing

Ditulis tanggal 13 Desember 2013

Stranger (source: deviantart)


Sebuah karya dalam direktori Global Environmental Change pernah menulis sosio-ekonomi dapat mempengaruhi produktivitas, harga barang kebutuhan, dan keunggulan komparatif (Parry dkk, 2004). Sosial dan ekonomi adalah entitas tak terpisahkan. Kondisi sosial dapat mempengaruhi ekonomi, sebaliknya, kondisi ekonomi juga dapat mempengaruhi kondisi sosial.

Tentu kita juga tak bisa melupakan teknologi. Proyek-proyek industri kian maju karena para pengusaha terus bereksperimen dengan alat produksinya. Kemajuan teknologi itu melahirkan masyarakat modern. Pertanyaannya: seberapa jauh eksperimen teknologi telah mengubah corak hubungan antar-masyarakat?

Kita selalu menginginkan hal-hal baru ; atau mungkin selalu takut ditinggalkan zaman. Kehendak kita untuk turut serta dalam eksperimen (teknologi) berakhir pada kehendak untuk mempercayai orang asing – sebuah kehendak yang cenderung emosional daripada reflektif (Seabright, 2004). Dikatakan emosional karena, kepercayaan tanpa prasyarat biasanya ringkih, seperti emosi. Kita mengisi hari-hari dengan mempercayai orang asing. Kita percaya makanan yang disajikan oleh restoran tidak diracuni terlebih dahulu, kita percaya supir angkot atau bis kota sudah pernah ikut dan lolos tes mengemudi, kita percaya pilot pesawat yang kita tumpangi sedang tidak dibawah pengaruh alkohol atau sabu, kita percaya percakapan rahasia, pribadi (atau kadang-kadang mesum) di instant messenger atau surat elektronik kita tak akan disebarluaskan pihak provider.

Tanpa disadari, kita makin lalai.

Sekitar tahun 1991, film The Silence of the Lambs mengajarkan orang-orang cara membangun kepercayaan satu sama lainnya. Dalam film itu, tokoh Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins bertemu dengan Clarice, seorang anak magang di Federal Bureau of Investigation (FBI). Mereka berdua masih asing satu sama lain. Mulanya Clarice berniat mengumpulkan informasi dari ahli psikiatri tersebut, soal profil psikologi dan modus operandi pembunuh berantai yang dijuluki Buffalo Bill. Namun, Dr. Lecter orang yang cerdik. Sebelum dia yakin apakah Clarice telah mempercayai setiap detil yang dia katakan, dia menanyakan hal-hal sangat pribadi kepada Clarice. Dia mendorong Clarice menceritakan masa lalunya yang traumatis.

Clarice akhirnya menceritakan kronologi kejadian-kejadian yang selalu ia coba hapus dari memorinya, dengan sesekali menahan tangis. Dr. Lecter tau perempuan itu jujur. Dia bersedia memberikan beberapa petunjuk lewat rentetan anagram.

Yang selanjutnya disampaikan dalam film itu adalah, kepercayaan pada orang lain tidak bernilai cuma-cuma. Beberapa korban Buffalo Bill sebelumnya sering bertemu dengannya. Jika orang yang kita kenal saja masih bisa tidak dipercaya,  boleh jadi orang asing lebih tak bisa dipercaya.

Kepercayaan itu tumbuh dengan dasar-dasar rasional. Andai menilik rasio sedikit, kita akan curiga makanan yang diberikan pramusaji mengandung racun. Kita tidak akan menutup kemungkinan pesawat yang kita tumpangi akan jatuh karena ternyata pilotnya mengkonsumsi sabu. Kita akan menemukan bahwa selama ini data-data elektronik kita ditampung di hosting milik penyedia jasa, dan bisa dipublikasi sewaktu-waktu kita tersandung kasus hukum dan pengadilan memerintahkan untuk dibuka.

Sepuluh ribu tahun lalu, manusia berprinsip bahwa hal-hal asing akan memberi perubahan signifikan pada tatanan hidupnya. Karenanya ia harus lebih berhati-hati. Tapi hari ini, ‘mempercayai orang asing’ malah memegang peran dominan dalam keseharian manusia. Sampai kita tiba di satu titik realita: kebanyakan mobil canggih dan aman, malah sering dipakai untuk kebut-kebutan.

Demikianlah kita terus menantang orang terdekat, sebaliknya, kita tak pernah mempermasalahkan orang asing. Pada orang baru, kita sopan dan bermurah hati kata “Permisi” atau “Maaf” keluar. Pada kerabat lama, kita ngelunjak. Itu adalah tradisi lokal yang baru. Dan jika Martha Nussbaum pernah bilang “any list of virtues must be simply a reflection of local traditions and values” (Nussbaum, 1987), tak urung lagi, nilai kebajikan manusia telah bergeser.

Itulah yang dipaksakan masyarakat modern pada kita: “tak kenal malah makin sayang”.



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Tidak Selamanya yang "Berkuasa" Gila Kuasa

Ditulis tanggal 2 Mei 2013


Untuk pendukung borjuasi barat, borjuasi oriental, borjuasi nasional, sampai borjuasi gurem...
Bicara Hak Asasi Manusia (HAM), tonggak berdirinya HAM bermula pada Piagam Madinah. Keunggulan peradaban Madinah dibanding Mekkah begitu kentara dengan konsep masyarakat madani yang digalakkan. Masyarakat yang dewasa, terkenal atas keberadabannya, kesantunannya, budi pekerti luhurnya, keterbukaan hatinya, toleransinya; tidak peduli apa status seseorang, apa warna kulitnya, etnisnya, pun kewarganegaraannya. Masyarakat yang menjunjung perdamaian. Arab tidak lebih tinggi dari non-arab, sebagaimana non-arab tidak lebih tinggi daripada Arab. Kulit putih tidak lebih tinggi dari kulit berwarna, sebagaimana kulit berwarna tidak lebih tinggi dari kulit putih. Superioritas diukur cukup dari jumlah kebajikan yang telah dilakukan orang bersangkutan.
Selang beberapa abad kemudian, Inggris mengklaim diri sebagai pengusung HAM dengan Magna Charta. Statuta terus-menerus direvisi, sampai lahir Deklarasi Universal HAM, kemudian addendum lain yang menjamin terhapusnya tindakan-tindakan diskriminatif. Di beberapa negara pun lahir — ada yang dikarenakan konkordasi, ataupun kesadaran untuk meratifikasi sendiri — beberapa produk hukum yang prematur karena ketergesa-gesaannya setelah desakan demonstrasi massa yang menuntut rezim otoriter turun.
Kita merasa menang, kita tersenyum, ada tangis haru, ada pesta pora, tapi lebih banyak kecewa dan nyinyirnya, ditambah bumbu-bumbu curiga dan duka. Terlanjur kita sinis pada kepemilikan komunal atas properti. Terlanjur kita khawatir dibuat manja tak mampu berdiri sendiri. Terlanjur kita khawatir diikat oleh masyarakat dan tak bisa menjadi independen etis. Terlanjur kita menuhankan diri sendiri sebagai ego, individu yang supreme.
Anehnya, dibalik bayang-bayang paranoid atas otorisasi transnasional, kita masih gunakan elemen HAM untuk menggempur HAM. Kita protes, memanfaatkan kebebasan berbicara di muka umum yang telah dipayungi hukum. Kita anti-HAM, karena punya persepsi HAM berasal dari barat, tanpa tahu sebenarnya asal mulanya dari timur, dari kerabat yang lebih dekat ke diri kita sendiri daripada ke asing. Karena kita anti-HAM, namun dengan ego-ego yang dijustifikasi HAM ala barat, kita jadi pembela HAM-nya orang-orang yang anti-HAM.
Cina Sosialis?
Sosialisme adalah komunisme yang lugu, atau, komunisme adalah sosialisme yang sadis. Cina lahir sebagai bangsa patrimonial, dengan keyakinan yang melekat pada budaya masyarakatnya. Wajar HAM hanya bisa tembus lewat celah-celah tipis dan sempit kebudayaan Cina, lewat proses filtrasi berkali-kali dari kebudayaan, prioritas pembangunan negara, sampai tahap terakhir disaring Partai Komunis Cina. Kondisi seperti itu memicu barat untuk memprovokasi melalui media menyatakan bahwa rakyat Cina merindukan pengadilan independen.
Ah, lucu. Apa mungkin seseorang bisa mengenang hal yang tidak pernah dia alami? Apa mungkin seseorang homesick pada rumah yang dia tidak tumbuh besar di dalamnya? Masyarakat Buddha Tibet menuntut dihapus diskriminasi atas kelompoknya. Tanpa ada Buddha, tak ada dinasti Qing, katanya. Lha, dari dulu ‘kan memang dinasti Han yang jadi pesohor?
Cina mengaku telah mereformasi hukumnya. Tapi atas nama “mengabadikan konstitusi”, hukum disaklek-kan dengan mengalegorikannya pada kewenangan diktator proletariat. Ada sebuah lembaga bernama departemen propaganda, tapi tugas kesehariannya justru membungkam propaganda. Untung-untungan juga di Indonesia majalah dibredel setelah sempat beredar, karena di Cina, sensor dilakukan tidak hanya pada masa jelang publikasi, tapi justru dikontrol, diawasi, dan diarahkan jauh sebelum masuk ke dapur redaksi. Media tak lain jadi corongnya Partai Komunis Cina. Sudah ditegaskan di awal, Cina adalah komunis yang sok sosialis.
Meskipun reformasi sudah bergulir, meskipun, legal substance sudah dijalankan, legal structure dan legal culture masih dibuai keragu-raguan. Sudah lewat satu dekade dan kita masih berdiri di persimpangan yang sama. Apa mau dikata, semua berakar dari kebejatan kok, pastinya terbuka pula masa depan yang sarat kebejatan.
Inggris v&rsus Cina
Alih-alih berkaca pada diri sendiri, Inggris selaku “pengusung” HAM memposisikan diri vis-a-vis dengan Cina. Padahal, Cina juga sedikit mirip sama dirinya, meng-AKU-kan sebuah negara. Sedangkan Inggris, meng-korporasi-kan AKU. Cina adalah borjuis politik, sedangkan Inggris borjuisnya ekonomi. Masing-masing memusuhi dirinya sendiri. Merasa suci karena punya konsep ideal soal kebersamaan, tapi apa gunanya kalau bentuk komunal dijadikan AKU.
Sosialisme tidak seperti itu, dan tidak sepatutnya dianak-tirikan karena figur-figur kolektivisme yang penuh kepura-puraan. Sosialisme bukan kita yang ke-aku-aku-an.
Disini kita tidak harus memusuhi HAM. Bukan pula memusuhi komunisme. Bukan juga memusuhi borjuasi. Bicara seperti ini pun bisa cukup percaya diri karena tahu dibentengi oleh hukum. Tapi, hal yang membabi-buta itulah yang selalu jadi masalah. Apalagi inkonsistensi yang membabi-buta. Semua terlalu melebur sampai tak punya karakteristik pembeda.
Justru yang ideal malah jika ada kamar-kamar, tapi pintu-pintu penghubung kamar satu dengan kamar lain senantiasa terbuka supaya tetangga bisa bebas berkunjung, dan tidak lupa pulang, sebagaimana kodrat sistem etikanya.
Yah, sudahlah. Sosialisme selamanya akan disangka ‘penguasa’ yang tukang terabas karena dosa orang-orang yang mengaku sebagai alumninya. Tapi selama sosialisme dianggap sebagai musuh bersama, selama itu pula jaringan-jaringan tak beretika bisa menggila di balik layar, dan bebas berpura-pura melebur di antara kita. Jaringan-jaringan yang sebetul-betulnya gila kuasa. Dan bisa jadi kita sudah terjun dalam permainannya.***
► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Kita Semua Agak Gila

Ditulis tanggal 27 Desember 2012

Pic source: fapic.net

Seorang perempuan tua, sebut saja namanya Mrs. Maynard, semasa hidup terkenal memiliki gagasan-gagasan radikal. Saking begitu beraninya gagasan tersebut, beliau pun terhitung orang yang punya pertahanan tinggi dalam menghadapi segala bentuk tekanan. Tapi, suatu hari dia menyampaikan pada semua orang kalau dia akan mati. Orang-orang bersikeras meyakinkan kalau dia sehat-sehat saja dan kondisi fisiknya masih bagus. Di malam harinya, dia benar-benar pergi... 

Sepenggal cerita di atas benar-benar pernah terjadi. Mungkin pula, di sekitar kita seringkali kita menemui orang dengan tingkat kecerdasan tinggi namun begitu mudahnya ia memutuskan untuk mati. Mrs. Maynard contohnya. Bukan kondisi fisik renta yang mengakhiri eksistensi bologisnya, tapi memang dia menghendaki kematiannya sendiri. Ini menjadi suatu bukti bahwa pertanyaan, “Haruskah saya melanjutkan hidup atau haruskah saya mati?” menjadi sesuatu yang terlepas dari idealisme atau ideologi jenis apapun. 

Mrs. Maynard merupakan korban dari keyakinannya sendiri. Militansinya membentuk ia jadi orang keras kepala. Tapi ketika dia terhubung dengan realitas seutuhnya, terpaksa ia dibenturkan rasa sakit yang menyayat hati. Seperti dalam hukum alam, seekor ikan yang begitu yakin ia perenang hebat, ketika ada arus deras, ia justru mati sebelum air benar-benar berhasil menenggelamkannya. Dalam kondisi ini, keinginan bunuh diri siapapun bisa unpreventable

Dalam kasus lain, seseorang tidak memilih jalan yang diputuskan Mrs. Maynard. Sebagian memilih sekadar menjalani hidup; tidak mati, tapi juga tidak hidup. Ia tidak memilih non-existence, tapi juga tidak menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Saya, Anda, mereka, yang pernah bermesraan dengan realitas sebenarnya seperti itu. Ketika menjawab pertanyaan pilihan hidup/mati, kita yang memilih untuk jalan terus, hidup dengan menimbun ketakutan-ketakutan, lalu terus-menerus menyetrum daya nostalgia agar kian kuat. 

Inersia

Seringkali kenyamanan luar biasa datang ketika kita tiba di satu tempat yang punya banyak kenangan. Kita pergi ke SMA lama, bertemu sahabat-sahabat masa remaja, lalu kita membatin, “Aku merasa berumur belasan lagi.” Atau bagaimana gembiranya ketika kita pulang ke rumah orangtua setelah sekian lama, dengan harapan akan ‘ditimang-timang’ seperti yang kita rasakan saat kecil. 

Atau dalam kasus sebaliknya, bagaimana konflik dengan orang lain di masa kini mengguncang diri kita, tapi tidak pernah benar-benar membunuh kedekatan kita dengannya, meskipun jika terus berdekatan juga tidak mengubah kondisi menjadi lebih baik. Kita menjalani hidup bersama realitas secara parsial, dengan benang-benang kesadaran yang terputus-putus. Tak jarang, kepribadian kita pun ikut terfragmentasi. 

Kembali ke Realita dengan Benturan

Pada kenyataannya, sebagian dari pikiran kita tidak berada di masa sekarang. Sebagian dari kita mengikat diri pada nostalgia untuk melindungi diri. Sebagian dari kita terikat terlalu kuat hingga membiarkan nostalgia berada di luar kendali hidup; sebuah kondisi dimana proses transfer kenangan terjadi begitu masif besertaan dengan kenangan-kenangan buruknya, dan pada akhirnya menyabotase kenyamanan hidup kita.

Acapkali pertanyaan “Apa makna hidup?” timbul sebegitu sering. Seorang individu soliter membutuhkan lebih banyak energi untuk menjawabnya. Beberapa dari kita ketika menemukan jawabannya menjadi serius dan berjalan sesuai dengan maknanya. Kadang juga hidup penuh keterburu-buruan seperti dikejar waktu.

Pada titik ini, saya mulai berkeyakinan bahwa individu terwaras adalah individu yang benar-benar terhubung dengan realitas besertaan dengan imajinasi-imajinasinya tentang masa depan, bukan yang hidup mengikatkan diri pada masa lalu. Dan kabar buruknya, orang seperti itu tidak ada. 

Ini yang seharusnya diketahui semua psikiater. Yang psikiater ketahui hanyalah bagaimana cara untuk mencegah seseorang melakukan perbuatan merusak diri lalu menggunakan kalimat-kalimat persuasif yang bertolak dari pemahamannya soal idealisme pasien. Kadang cara bekerja seperti itu tidak berhasil. 

Juga inilah yang tidak kita pahami dari orang lain; sepintas kita melihat ia begitu bahagia dan penuh kepuasan hidup, tapi itu sekadar kulit luar telur saja. Kita semua, pada dasarnya, agak gila.***



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top