NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Manusia

NikenSupraba.com

media sosial

Belas Kasihan

Ditulis tanggal 16 Juli 2016



Wajibkah kita turut meratapi tragedi yang menimpa tetangga sendiri?

Jika moral ibarat bangunan, maka empati adalah batu bata yang menyusun dindingnya. Empati adalah kemampuan untuk merasakan luapan perasaan orang lain, termasuk kemampuan untuk membayangkan keadaan batin dan pikiran orang lain. Empati amat diperlukan, karena ia membentengi diri dari bibit-bibit kejahatan yang amat mungkin tumbuh di dalam hati setiap manusia: prasangka, rasisme, keinginan untuk menindas makhluk hidup lainnya. Pun empati tidak hanya melulu berada di posisi defensif, akan tetapi juga dapat berperan aktif mendorong aksi heroik.

Menumbuhkan rasa empati bisa menjadi tugas yang sulit, terutama apabila kita tidak terlibat pengalaman langsung di dalam musibah yang menimpa orang lain. Hal ini berakibat pada minimnya pengetahuan terkait bagaimana musibah tersebut berdampak negatif pada aspek-aspek penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Oleh karenanya, sebagaimana yang diungkapkan Adam Smith dalam The Theory of Moral Sentiment, satu-satunya yang dapat dilakukan adalah dengan merefleksikannya kembali ke dalam diri---bagaimana perasaan kita saat ditimpa musibah serupa.

Sayangnya, manusia lahir, tumbuh, dan berkembang-biak bukan di kehidupan yang sempurna. Saat berkuasa, kita dituntut untuk menjadi kejam. Saat diperlakukan sewenang-wenang, kita dituntut untuk submisif. Empati tidak menjadi pilihan. Tentang bagaimana manusia bermasyarakat pada abad-21 ini, mungkin masih memiliki karakteristik sama dengan debat dramatis yang dikembangkan sejarawan kuno Yunani, Thucydides, dalam History of the Peloponnesian War. Pesan dari Melian Dialogue adalah bahwa jika ingin menghindari kehancuran bagi diri sendiri, mereka yang tidak berkuasa harus patuh dan tidak murka terhadap mereka yang berkuasa. Kesimpulannya, yang kuat melakukan apa yang diinginkan, dan yang lemah menanggung derita sebanyak yang diharuskan. Yang lemah harus menerima penderitaan tersebut layaknya sebuah takdir.

Tidak hanya Thucydides, Chuck Palahniuk tampaknya setuju atas hal ini, tatkala ia (dengan sinis) menempatkan diri di posisi si lemah: "Masochism is a valuable job skill" (Masokisme adalah ketrampilan kerja yang berharga). Mungkin maksud Palahniuk adalah barangsiapa yang mampu merasakan sisi kenikmatan saat dianiaya atau disakiti, maka ia akan disayangi "boss." Istilah sehari-harinya: nek dipisuhi majikan meneng wae. Hukum ini tentu mengingatkan kita pada kehidupan di alam rimba, dimana makhluk hidup yang berada di puncak rantai makanan bebas memangsa hewan lain kapanpun, sementara hewan yang berada di posisi lebih rendah (herbivora) harus senantiasa dihantui rasa takut diburu pada momen yang tidak terduga

Tapi ini bukan kesimpulan akhir. Sebagaimana sekeping uang koin, manusia mampu melihat sisi lain dari suatu persoalan. Manusia mencari alternatif dari sikap pasrah. Ya, kita mungkin sekadar hewan, dan berperilaku selayaknya hewan pada umumnya. Tentu juga, ada banyak kesamaan antara perilaku hewan dan manusia. Akan tetapi, berkat kemampuan akal, manusia memiliki kesempatan untuk hidup berbeda daripada hewan.

Satu yang menarik dari manusia, mereka tidak pernah menutup pilihan-pilihan yang disajikan untuk dirinya. Seekor hewan, dengan segala kehidupan hutan yang bengis dan keras, hanya punya 2 (dua) pilihan: pasrah atau mencari cara untuk bertahan hidup di dunia nan brutal. Dalam pada itu, manusia, mereka berbeda. Manusia dapat memilih untuk keluar dari hutan. Lebih dari itu, manusia bahkan mempunyai kemampuan bernegosiasi dengan predatornya agar tidak "dimakan." Jika ia lihai di bidang kesadaran sosial seperti kemampuan memahami situasi sosial, pembelajaran sosial, komunikasi, dan menebak jalan pikiran orang, niscaya ia bebas dari "terkaman" predatornya. Boleh jadi mereka justru berubah menjadi sahabat karib. Semua adalah persoalan cita rasa dan penilaian yang baik.

Sementara itu, di sisi "sang predator" sendiri, kepekaannya akan menimbang apakah kualitas yang dimiliki orang tersebut pantas mendapatkan pujian dan ekspresi kekaguman. Bila ini terjadi, akan ada pertemuan dengan sentimen dan ketajaman pemahamannya. Dari sana lahirlah empati. Dari sana terlahir kemanusiaan.

Apa maksud yang terkandung dari semuanya? Artinya, empati tidak datang karena tiba-tiba batin seseorang mengatakan, "Hey, kamu nggak kasihan sama orang itu?" Empati adalah masalah kepekaan, dan kepekaan perlu dirangsang. Yang lemah memberitahu bahwa ia berada dalam posisi membutuhkan pertolongan. Yang lemah dan kuat harus berdialog perihal cara-cara yang perlu ditempuh untuk mencapai keseimbangan. Tidak semua orang mampu menggerakan diri sendiri untuk merasa prihatin pada nasib buruk yang menimpa orang lain. Dan yang tidak cakap melakukannya, tidak melulu harus dicap orang jahat. Bakal menjadi kasar, atau vulgar, apabila seseorang sudah memohon belas kasihan padanya dan ia menolak secara tidak sopan. Itu baru jahat.

Saya jadi teringat pada salah satu kawan saya. Suatu hari dia berencana hendak membuat situs web untuk produk dagangannya. Tanpa ia minta, saya menawarkan bantuan merancang situsnya secara gratis, dia justru menolak. Karena saya kenal betul dengan kepribadiannya, dia memang menolak sungguh-sungguh, bukan karena pekewuh atau malu-malu kucing. Dia membuat saya tersadar, setiap manusia memiliki apa yang disebut pride---harga diri. Harga diri itu tetap bersemayam dalam hatinya selama ia belum mengatakan, "Tolong, bantu saya." Sejak saat itu, saya berhenti mengasihani orang lain jika ia tidak memintanya.***



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Rasa Curiga dan Ketidakjujuran

Ditulis tanggal 23 Maret 2016

Rosalind & Celia (gambar: http://www.ebay.co.uk)


Seperti kebanyakan perilaku manusia pada umumnya, rasa curiga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin kita dapat menjelaskan penyebab dari rasa curiga itu: seorang istri curiga kepada suaminya karena berkirim teks dengan seorang kolega perempuan, seorang pemimpin curiga kepada anak buahnya karena mereka sering berkumpul secara diam-diam tanpa kehadiran sang pemimpin, Presiden Soeharto curiga kepada para aktivis karena mereka sering melontarkan kritik-kritik tajam. Tetapi ketika ditanya, bagaimana kamu menggambarkan rasa curiga itu? Sebagian besar orang akan menjawab, “Perasaan tidak nyaman.” Jawaban itu sebenarnya masih kurang memuaskan, karena bagaimana membedakannya dengan jenis perasaan lain? Rasa marah juga menimbulkan ketidaknyamanan. Depresi juga menimbulkan ketidaknyamanan. Rasa bingung dan putus asa pun menimbulkan ketidaknyamanan. Tentunya, kemarahan, depresi, kebingungan, dan keputus-asaan tidak bisa dikelompokkan ke dalam rasa curiga meskipun mungkin dapat ditemukan hubungan sebab-akibat antara satu dengan lainnya.

Pada dasarnya, kecurigaan adalah sebuah akibat, akibat dari adanya keyakinan dalam diri seseorang bahwa terdapat makna yang tersamarkan dalam sebuah ungkapan yang dilontarkan. Kecurigaan hadir karena orang yang bersangkutan mempersoalkan narasi dari orang lain, dan kemudian kecurigaan itu memicunya untuk mencari penjelasan di antara gelembung kata-kata yang digunakan dalam narasi tersebut.

Setiap manusia pernah curiga, tidak setiap waktu, tapi sekurang-kurangnya pernah menaruh curiga sekali-dua kali. Kita mengakui, ada hal-hal yang tidak terungkapkan melalui kata-kata, dan oleh karenanya kita mengakui eksistensi sebuah makna yang tersamarkan. Dan juga, berpikir realistis, tidak semua narasi itu jujur.

Setiap kalimat yang diutarakan seseorang adalah wujud penceritaan kembali atas apa yang telah ia baca dan dengar. Kemudian ia membuat narasinya hidup. Ia menyusun hidupnya melalui narasi-narasi yang telah terlontar dari mulutnya. Katakanlah seseorang menceritakan betapa dirinya adalah ‘orang yang suci.’ Jika tak dapat dibuktikan melalui tindakan, setidaknya di dalam hati ia masih menikmati khayalan betapa sucinya dia.

Ketidakjujuran dalam narasi adalah bukti bahwa pada dasarnya manusia senang melakukan penyamaran. Dan motifnya, tidak semudah karena kita sadar hidup ini hanya sebentar dan kita ingin berpura-pura memerankan berbagai jenis orang agar tidak kekurangan pengalaman, akan tetapi karena ada keuntungan signifikan dalam penyamaran yang dilakukan. Penyamaran ditemukan di mana-mana, bahkan dalam karya William Shakespeare lebih seringnya terdapat suatu plot di mana tokoh dalam karyanya itu menyamar sebagai masyarakat kelas bawah, sebut saja dalam 'As You Like It,' 'King Lear,' dan 'Measure for Measure.'

Garis besarnya, penyamaran adalah sebuah proses transisi yang dilakukan untuk mengklaim kembali status seseorang yang telah hilang. Sebab status merupakan cara pandang orang lain terhadap kita, dan dengan membangun sebuah citra baru melalui penyamaran, perlahan status itu akan direngkuh kembali menyesuaikan dengan penyamarannya.

Sekarang mungkin akan ada yang tidak setuju, bagaimana bisa kita meraih sebuah status dari hasil menipu orang lain melalui penyamaran-penyamaran kita. Jika semua orang menyamar maka setiap saat kita harus menaruh curiga. Setiap hari. Setiap menit. Setiap detik. Dan curiga itu merongrong hati. Curiga itu mengganggu kualitas tidur. Curiga itu menimbulkan ketidaknyamanan.

Tapi saya menyukai sensasi bagaimana saya harus menaruh kepercayaan pada seseorang dan bertahan bersamanya, di satu sisi, terdorong untuk secara berkala menaruh curiga kepada orang yang sama.

Karena apa? Karena dari rasa curiga, saya belajar tentang konsep penjelasan dan penafsiran makna kalimat. Dari rasa curiga, saya belajar banyak tentang orang lain dan menyadari ternyata jiwa seseorang tak selamanya dapat dipahami secara menyeluruh oleh entitas di luar dirinya.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Makna dari Percaya

Ditulis tanggal 15 Januari 2016

Sumber gambar: Photos8.com
Mereka yang mengerti betapa pentingnya WAKTU, akan menyadari betapa pentingnya RASA PERCAYA.

Dari semua hal-hal yang hadir di tengah-tengah hubungan kita dengan orang lain, baik itu kedekatan (secara fisik dan/atau emosional), ketertarikan atau kejujuran, kepercayaan adalah hal yang melandasi segala-galanya. Seorang murid perlu mempercayai gurunya agar proses berbagi ilmu pengetahuan berjalan lancar. Seorang pegawai perlu mempercayai atasannya agar roda organisasi berjalan di jalur yang semestinya. Seorang kepala pemerintahan (barangkali) perlu dipercaya oleh rakyatnya agar kebijakan-kebijakan yang dibuatnya, dan menurutnya baik bagi kemashlahatan umat, dapat diterapkan dan memberikan output seperti diharapkan. Kita ingin dipercaya orang, dan karena orang bijak berkata: "perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan," maka akhirnya kita mempercayai orang.

Manfaat paling besar dari rasa percaya adalah efektifitas. Bayangkan diri kita sedang menempuh perjalanan panjang dengan seorang teman. Kitalah yang mengerti setiap belokan dan arah menuju lokasi tujuan karena sebelumnya kita pernah pergi ke sana dengan orang lain. Akan tetapi, teman seperjalanan kita tidak percaya bahwa kita pernah ke lokasi tujuan itu, tidak percaya bahwa kita mengerti kapan harus belok kanan, kiri, atau berjalan lurus, lebih parahnya, ia justru menuduh kita punya niat jahat untuk membuatnya tersesat. Alhasil, setiap kali berada di persimpangan, kita harus berhenti sejenak karena meladeni perdebatan sia-sia dengan teman seperjalanan itu. Perjalanan yang seharusnya selesai dalam waktu (katakanlah) 7 hari, menjadi 9 hari, karena 48 jam yang terbuang percuma, habis untuk pertengkaran. Kita dan teman seperjalanan memang sampai di lokasi tujuan, tapi seandainya ia percaya pada kita sedari awal, waktu perjalanan akan lebih singkat.

Rasa percaya menempati hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam hal kerjasama atau teamwork, mulai dari lingkup kecil seperti kerjasama saudara kandung saat bersih-bersih rumah, kerja kelompok mengerjakan tugas oleh anak sekolah, bahkan yang sifatnya sangat membutuhkan kecakapan logika dan rasio seperti tim pengerjaan riset, rasa percaya amat diperlukan. Kerjasama adalah kegiatan kolegial yang membutuhkan kepercayaan setiap anggota tim terhadap integritas anggota lainnya. Apabila ada seorang anggota yang tidak percaya akan integritas rekannya, ia akan lebih memilih mengerjakan pekerjaan tim sendirian. Lagi, perkara efisiensi (efektifitas waktu dan tenaga), kembali dipertaruhkan.

Memang ada beberapa orang yang sulit untuk menaruh kepercayaan pada orang lain karena sebelumnya pernah dikhianati. Dia takut disakiti lagi, entah itu sebagai bentuk ketakutan atas terulangnya peristiwa yang sama pada orang yang sama, ataukah peristiwa yang sama pada orang yang berbeda. Akan tetapi, bagi kita yang menganggap efektifitas dan efisiensi sebagai hal yang paling penting, kepercayaan tidak lagi dikategorikan sebagai pilihan personal. Kepercayaan dimaknai sebagai sebuah strategi.

Sehingga, bagi kita yang memaknai kepercayaan sebagai suatu strategi, tidak ada istilah "tidak percaya" dalam kamus kita. Yang ada hanyalah "percaya" dan "ragu-ragu." Secara lebih rinci, hal-hal yang dilakukan ketika "percaya" ada 2 (dua), yaitu tanpa pengawasan penuh, kita percaya bahwa orang lain itu akan melakukan hal yang benar, atau percaya bahwa tindakan orang lain saat di luar pengawasan kita, tidak akan merugikan kita. Sementara hal-hal yang dilakukan ketika "ragu-ragu" ada 3 (tiga), yaitu ragu-ragu ia akan merugikan dirinya sendiri, ragu-ragu karena orang itu tipikal yang senang menguntungkan dirinya sendiri sehingga punya potensi berbuat jahat, atau ragu-ragu karena orang itu pernah melakukan tindakan yang merugikan kita. Akan tetapi, perbedaan antara "ragu-ragu" dan "tidak percaya" adalah bahwa kita memiliki keberanian untuk mencoba percaya. Kita percaya dengan penuh kewaspadaan. Kita mengawasinya. Orang ragu-ragu tidak jera menaruh kepercayaan pada orang lain. Dia terpuaskan oleh serangkaian jaminan untuk percaya.

Oleh sebab itu, mari memandang kepercayaan sebagai sebuah strategi, bukan pilihan personal. Mari belajar untuk percaya (atau ragu-ragu) terhadap orang lain. Pada akhirnya, kepercayaan adalah bahan baku "ajaib" yang menyusun ikatan kemanusiaan yang kuat.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Berpikir Matang-Matang Nggak Perlu Kelamaan

Ditulis tanggal 7 Oktober 2015

Merenung (source: Flickr)

Ada banyak jalan menuju filsafat. Ahli Fisika Alhazen, yang pertama kali menemukan kamera lubang jarum (pinhole camera) sebagai cikal-bakal dari kamera yang kita gunakan untuk selfie yang sia-sia akhir-akhir ini, bertemu filsafat ketika ia membuat Book of Optics saat menjadi tahanan rumah. Saya, karena bukan fisikawan, bertemu filsafat karena satu alasan belaka: pikiran manusia.

Pikiran manusia adalah hal yang familiar sekaligus misterius bagi kita. Saya diingatkan Mama, beliau bilang sebelum saya masuk Taman Kanak-Kanak, ketika ditanya apakah cita-cita saya nanti, saya akan menjawab: "Jadi penganten." Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengatakan bagaimana dan kenapa Feminis Radikal Mentok akan mencap betapa rendahan cita-cita saya dulu, tapi karena akhir-akhir ini saya sadar... Cita-cita yang sekian lama terlupakan itu adalah tanda bahwa ternyata sedari dulu saya selalu tertarik mengamati hubungan yang terjadi antara orang dewasa, baik itu persahabatan ataupun percintaan. Sangat menarik melihat bagaimana hari ini, detik ini, begitu mudahnya dua orang dewasa mengerti satu sama lain, dan keesokan harinya mereka bertengkar hanya untuk mengetahui kalau ternyata mereka tidak pernah memahami satu sama lain. Hal ini yang membuat saya bertanya-tanya: apakah kita pernah benar-benar tahu isi pikiran orang lain? Atau jangan-jangan yang memiliki pikiran saja juga tidak paham isi pikirannya sendiri, khususnya ketika omongannya mulai melantur?

Pikiran manusia kadang seperti buku tanpa daftar isi dan nomor halaman. Tapi yang paling penting untuk memahami "buku" itu bukanlah dengan membaca secara urut dan sampai habis, atau baca dari belakang ke depan (yang konon tips paling manjur untuk cepat mengerti jenis buku bisnis), akan tetapi kemampuan kita dalam mengidentifikasi bahasa-bahasa teknis yang digunakan di "buku" tersebut. Bahasa teknis ini yang membedakannya dengan "buku-buku" lain.  Hal lainnya yang tidak kalah penting adalah menangkap gagasan yang diekspresikan melalui bahasa teknis tersebut dan mencaritahu apakah gagasan tersebut dapat memperdalam pemahaman kita akan "buku" yang bersangkutan.

Namun ada penekanan lebih lanjut: tanda bahwa kita sudah cukup paham dengan pikiran manusia bukanlah sekadar ketika kita mampu menangkap gagasannya, akan tetapi bagaimana kita menangkapnya tanpa sadar kalau kita sedang menangkapnya.

Kata Weiser, teknologi paling canggih adalah teknologi yang tidak kelihatan. Ia meleburkan diri ke dalam serat-serat kehidupan sehari-hari sampai tidak terasa kehadirannya. Anggap saja pikiran manusia, yang mungkin bisa disebut teknologi pertama di dunia: kemampuan kita untuk menangkap representasi simbolik dari bahasa-bahasa yang dituturkan untuk kemudian disimpan dalam kapasitas memori otak kita dengan segala keterbatasannya. Sebut saja rambu-rambu huruf S yang dicoret, kita tahu itu bermakna "Dilarang Stop" tanpa harus ada kalimat penjelas di bawahnya. Artinya sudah jelas: "Dilarang Stop", bukan dilarang siul, dilarang sedih, atau dilarang selfie. Pikiran manusia pun juga demikian, maknanya bisa bermacam-macam, tapi yang paling memahaminya hanya akan menangkapnya dengan satu makna (dan makna itu ditemukan tanpa harus berpikir ngoyo), yang disepakati pula oleh si pemilik pikiran. Detik ketika kita memahami pikiran manusia adalah ketika bahasa yang dituturkannya hanya menjadi latar belakang yang tidak memerlukan perhatian aktif, akan tetapi informasi yang diberikan langsung siap pakai.

Meskipun demikian, memahami orang lain sepenuhnya bukan berarti wajib bebas konflik. Sebagai contoh saja, dua orang yang sedang berargumen: yang satu merasa lebih baik dari yang lain, yang satu disepelekan oleh yang lain ; inti dari peristiwa tersebut bukanlah konflik yang terjadi antara keduanya, melainkan bahwa terlepas dari perbedaan yang ada, mereka membicarakan topik yang sama. Mereka menggunakan penafsiran yang sama atas satu atau beberapa bahasa teknis ; bahwa setiap hal pasti memiliki kualitas, atau terhubung dengan hal lain melalui relasi-relasi.

Jadi, kalau ingin memahami pikiran diri sendiri, atau orang lain, kenapa harus bersusah-payah mengerti dan meredam konflik? Cepat atau lambat, dengan atau tanpa konflik, kita akan mampu membiasakan diri. Toh, suatu hari nanti, ketika kita berhasil memahami, kita akan paham bahwa memahami itu adalah hal yang biasa saja dan sekadar background.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Produk Relasi Kekal Hak dan Kewajiban

Ditulis tanggal 25 Februari 2015

The Karamazovs (source: GoNOMAD Blogs)

Apakah baik dan buruk─yang dirangkum dalam wujud etika─benar-benar bebas dari pandangan atau pendapat pribadi seseorang? Apakah justru sebaliknya? Ataukah malah etika itu sangat lentur mengikuti lika-liku budaya? Benarkah semua manusia pada dasarnya baik?

Alexei Fyodorovich Karamazov─Alyosha─merupakan salah satu tokoh dalam novel The Brothers Karamazov karya Fyodor Dostoyevsky. Ia digambarkan sebagai karakter yang berkepribadian mulia: tidak pernah mencaci-maki, tak pernah mengeluh, bersahaja, tulus, rendah hati dan penuh tanggung jawab. Suatu hari Kakaknya, Ivan, menantang Alyosha untuk mengatakan apakah ia akan setuju membangun sebuah dunia di mana orang-orang hidup bahagia dan penuh kedamaian, dengan syarat bahwa dunia yang ideal tersebut hanya bisa dicapai dengan cara menyiksa anak kecil. Alyosha menjawab bahwa dia tidak akan pernah setuju membangun dunia di atas syarat-syarat seperti itu.

Pernah suatu ketika seorang Psikolog bernama Joshua Greene melakukan penelitian. Dia menanyakan setiap orang yang diteliti: apakah melanggar hak perseorangan dibenarkan apabila tindakan itu dapat mengurangi kerugian orang banyak; misalnya, dengan mendorong seseorang keluar dari jembatan. Dari hasil penelitian itu Greene menyimpulkan bahwa mereka yang memilih mengorbankan hak perseorangan membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir ketimbang yang mengatakan sebaliknya.

Dua contoh di atas membuat kita memahami mengapa perbuatan baik adalah khuluk yang pertama kali muncul dalam benak seseorang setiap dihadapkan pilihan-pilihan sulit. Namun sebenarnya ini masih belum menjawab apakah sikap semacam itu dibentuk oleh budaya atau lahir secara alamiah.

Menurut aliran Naturalisme, manusia adalah organisme kompleks yang merupakan bagian dari tatanan alamiah dan berperan sebagai subjek hukum alam layaknya organisme lain di muka bumi.  Tatanan alamiah itu sifatnya melampaui kuasa manusia, memberi batasan pada setiap kesepakatan ataupun hukum buatan manusia. Selanjutnya, di bawah tatanan alamiah terdapat kodrat, tempat di mana seluruh manusia ikut serta merayakan kedudukannya sebagai makhluk berakal-sehat.

Di sinilah letak “perjuangan untuk mempertahankan hidup” itu. Setiap orang bersitegang agar bisa memperoleh predikat bibit unggul dan mengembangkan kehidupan duniawi. Contoh sederhananya seperti yang digambarkan Darwinis Sosial: menurut mereka campur tangan Negara ke dalam pasar bebas demi melindungi kaum miskin dan lemah sama halnya Negara telah melakukan campur tangan ke dalam seleksi alam. Mereka, anak bawang yang lolos seleksi karena dibantu tangan-tangan ajaib, mustahil untuk dapat bertahan hidup di level selanjutnya dan kelak akan menyusahkan yang sudah dapat berdiri sendiri.

Sekarang, apakah itu bertentangan dengan akal sehat? Tidak. Tapi mungkin “...memaksakan moralitas untuk berada di titik terlemah” seperti yang dikatakan tokoh Thrasymachus dalam Republic. Tapi bukankah moralitas adalah bagian dari kondisi yang disengaja?; satu kelompok dengan keyakinan dan hasrat, dan merupakan kondisi yang diciptakan bagi manusia untuk menjadi sesuatu.

Jadi, moralitas, keyakinan dan hasrat malah merupakan sarana kita untuk menanggalkan diri dari segala identitas yang alami. Ketiganya adalah produk relasi kekal antara hak dan kewajiban; hak-hak seseorang yang memungkinkan dirinya meminta sesuatu dari yang lain yang berkewajiban memenuhinya: kita diminta untuk tidak pernah mencaci-maki, tak pernah mengeluh, bersahaja, tulus, rendah hati dan penuh tanggung jawab. Kita dikondisikan untuk menjadi sesuatu. Jika dituangkan dalam bentuk tertulis, barangkali wujudnya adalah “Perjanjian Perilaku”.

Alyosha adalah pihak yang berkewajiban memenuhi perjanjian perilaku. Dia terikat dalam suatu sistem besar─standard perilaku─sampai-sampai sistem tersebut memaksa dirinya untuk merevisi pemikiran akal sehatnya. Maka wajar saja ketika dihadapkan pilihan antara hidup di dunia yang penuh kemarahan dan kegelisahan atau menyiksa anak kecil, dia memilih yang pertama. Ini bukanlah sesuatu yang coming out of nature, melainkan coming out of blueprint. Dan dia telah mahir menghafal setiap seluk-beluk denahnya di alam bawah sadar.

Alyosha yang tak terkungkung standard perilaku mungkin saja adalah Alyosha yang pembohong, senang menyakiti hati orang lain, tidak punya urat malu, angkuh, tinggi hati, mudah gusar dan sederet perangai lain yang telah disepakati secara universal dalam satu kata singkat: amoral.

Namun Alyosha adalah manusia hasil rekayasa perilaku. Kita adalah manusia hasil rekayasa perilaku.

Jadi, apakah manusia pada dasarnya baik? Yah, akan sulit menjawabnya, karena baik dan buruk itu sendiri bukan milik “pada dasarnya”. * * *

Terima kasih kepada Dostoyevsky, Plato dan Greene atas karyanya yang asyik banget!




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Moral yang Logis dan yang Terukur

Ditulis tanggal 22 Mei 2014

American Classic Robber Barons (source: Business Insider)
Sejak awal peradaban manusia, ada banyak permasalahan-permasalahan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Disiplin ilmu Sosiologi membaginya ke dalam empat hal, yaitu: kemiskinan, ketidakadilan rasial dan eksploitasi manusia, pencemaran lingkungan, serta diskriminasi perempuan.

Sebab utama permasalahan-permasalahan itu sebagian besar datang dari manusia sendiri. Thomas Hobbes mengatakan ketakutan terbesar manusia ada pada kematian, dan kecenderungannya untuk bertahan hidup adalah kecenderungan menghalalkan segala cara demi melepaskan diri dari belenggu penderitaan. Singkat kata, manusia adalah makhluk self-love. Kebahagiaannya ditentukan dari seberapa besar penderitaan yang dirasakan orang lain yang punya relasi terbalik dengannya.

Solusi yang ditawarkan kemudian, ada pegangan moralitas yang jadi acuan agar tercipta keseimbangan sosial. Dalam pemahaman mainstream, manusia dapat mengarah ke keegoisan apabila dia gagal di tiga tingkatan: keimanan, kepribadian, dan pengendalian diri. Masalahnya, tiga tingkatan ini malah dijadikan dalil bagi satu orang untuk menghakimi orang lain. Akhirnya seseorang jatuh jadi sosok yang sok moralis dan lupa bahwa dalam konteks berbeda dirinya sendiri punya potensi untuk menjadi sama narsisnya dengan orang yang dia hakimi.

Lalu dari perspektif manakah kita dapat menemukan kompas moral yang relevan bagi dunia modern? Dalam filsafat terdapat beberapa pemikir yang menyinggung moralitas, diantaranya Blyenbergh, Aristoteles, Thomas Hobbes, Butler, dan Jeremy Bentham yang selanjutnya akan dijelaskan kaitannya dengan dalil-dalil diatas. Pertanyaan yang muncul selanjutnya: apakah dengan tiga dalil itu sudah ditemukan kompas moral yang jelas?

Moralitas dan Keimanan
Bicara tentang keimanan tidak lepas dari eksistensi agama. Sebagai konsekuensi dari keimanannya, para penganut percaya bahwa manusia adalah sebagian entitas dari Tuhan, yang karenanya memiliki sebagian kesempurnaan-kesempurnaan yang Tuhan miliki. Salah satunya, manusia sebelum lahir dibekali pengetahuan-pengetahuan tertentu, yang sebenarnya, dia dapat mengenal baik dan buruk sebelum agama itu dikenalkan padanya. Pengetahuan ini dapat ditemui ketika seseorang mengetahui sesuatu obyek itu baik karena obyeknya mendeskripsikan dirinya demikian.

Namun bagi seorang skriptualis seperti Blyenbergh, pengetahuan langsung tidak dibenarkan apabila ternyata bertentangan dengan Scripture (ayat). Contoh sederhana, Adam yang tahu buah terlarang tidak punya pembedaan mencolok dengan buah-buah lain yang diperbolehkan untuk dimakan akhirnya memutuskan untuk memakannya dan berakibat pada diturunkan dirinya dari surga. Inilah jenis pengetahuan langsung yang keliru sebab bertentangan dengan perintah-perintah Tuhan.

Pada dasarnya skriptualis menetapkan bahwa kompas moral itu sendiri adalah agama, sedangkan pengetahuan alamiah adalah penunjang rasionalisasi ayat-ayat, yang karenanya hanya dipilah yang sejalan dengan kebaikan yang ditentukan skrip.

Moralitas dan Kepribadian
Lebih lengkap daripada aliran Skriptualisme, Aristoteles membedakan kebajikan menjadi dua jenis, yang pertama yaitu kebajikan moral.

Kebajikan moral adalah kebajikan yang menjadi tolok ukur universal bagi individu yang bermasyarakat. Tujuannya tidak bagi pemenuhan dirinya sendiri, namun condong kepada pemenuhan yang lebih lanjut seperti norma agama, norma hukum, atau norma sosial. Misalnya, laki-laki dan perempuan yang berpacaran tahu kalau kumpul kebo itu tidak baik dan dengan demikian mereka tidak melakukannya supaya tidak terkena sanksi norma sosial atau norma agama.

Dari kasus diatas, dapat ditemui dua hipotesis, yaitu:
  1. Pasangan kekasih itu mampu melakukan kumpul kebo namun mereka urung melaksanakannya; atau
  2. Dorongan untuk menuruti norma-norma yang berlaku di masyarakat lebih besar daripada dorongan untuk melakukan hal yang menjadi kesenangan mereka berdua

Dua tindakan inilah yang disebut kebajikan moral. Namun, andaikata rupanya insting manusia itu lebih kuat daripada dorongan untuk menuruti norma, maka kebajikan moral bisa sangat lemah tanpa didukung adanya supra-individu.

Thomas Hobbes termasuk dari pihak yang skeptis terhadap keluhuran kepribadian manusia. Ia tidak percaya bahwa manusia merupakan makhluk yang punya kecenderungan pada kebaikan. Malah-malah manusia mengikuti apapun insting yang muncul dan menjadikan insting paling kuat sebagai pemandu tindakan-tindakannya, termasuk insting yang bertentangan dengan norma. Maka dari itu, konsep kontrak sosial yang ia galakkan mengisyaratkan peran sebuah negara yang dapat memaksa makhluk instingual (manusia) untuk menaati norma hukum yang negara ciptakan.

Moralitas dan Pengendalian Diri
Paradigma masyarakat menyatakan bahwa pada dasarnya yaang menentukan moralitas adalah faktor internal manusia. Faktor eksternal hanya bersifat mempengaruhi, sedangkan faktor internal bersifat menentukan. Sebuah pengaruh eksternal bisa tidak berarti jika faktor internalnya sangat kokoh. Misalnya, orang yang biasa hidup bersama masyarakat belum tentu populis apabila punya anasir-anasir untuk mengendalikan diri.

Ini yang memiliki keterkaitan dengan diferensiasi kebajikan Aristoteles yang kedua, yaitu kebajikan intelektual. Kebajikan intelektual datang dan berakhir pada diri sendiri, seperti adalah pengetahuan dan keindahan. Contohnya, seorang Menteri Ekonomi menyarankan untuk memotong subsidi Bahan Bakar Minyak karena berdasarkan ilmu-ilmu ekonomi yang ia punya, kebijakan itu bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan meningkatnya pertumbuhan, maka dia menuai catatan sebagai menteri berprestasi dibanding menteri-menteri lain. Atau misalnya seorang konglomerat membangun rumah bergaya Victoria karena buatnya hidup dalam kemewahan adalah suatu keindahan.

Dari titik itulah mereka menemukan moralnya yang tidak ia ketahui dari norma melainkan rasionalisasi pengetahuan dan keindahan. Apa yang dikatakan pengetahuan menimbulkan kerugian bagi mereka sendiri adalah buruk. Apa yang mereka rasa tak enak dipandang adalah buruk. Seorang teolog Joseph Butler juga pernah menyatakan “bukanlah insting yang menentukan moral, akan tetapi refleksi terhadap insting yang membentuk moral”. Dengan demikian, singkat kata, sikap pengendalian diri mereka untuk tidak merakyat adalah moralitas baginya.

Maka dari itu, jika bicara soal kebajikan intelektual, ukurannya terletak pada untung-rugi. “Rugi” punya hubungan linier dengan penderitaan sedangkan “untung” punya hubungan linier dengan kebahagiaan/kenikmatan. Manusia yang punya pengendalian diri punya potensi menjadi brutal tatkala berurusan dengan pengejaran kenikmatan. Kembali, dia butuh ukuran baru bagi pengendalian dirinya.

Di paham utilitarianisme, seberapa besar kebahagiaan itu kolektif menjadi batasannya.

Contoh:
Premis 1: Apa yang membahagiakan semua orang adalah aturan moral
Premis 2: Semua orang menderita ketika jatuh miskin
Konklusi: Menjadi miskin itu bertentangan dengan moral

Harus Logis dan Terukur
Masing-masing dari tiga dalil diatas punya kelemahannya sendiri. KEIMANAN yang ditunjang skriptualisme, ternyata malah mendikotomikan brute knowledge dan scripture. Padahal hukumnya pengetahuan berasal dari Tuhan, namun malah dikambinghitamkan apabila tak sesuai dengan kitab. Artinya, skriptualisme juga menegasikan kodrat manusia sebagai makhluk yang bebas karena harus terhukum oleh pikiran atau tindakan yang bertentangan dari skrip.

Padahal, bahasa kitab adalah bahasa tanda. Sebuah tanda perlu penafsiran atau proses penalaran dari individu. Seharusnya posisi manusia sebagai makhluk bebas tidak boleh dikerdilkan dalam praktiknya mengikuti kompas moral yang digariskan kitab.

Sedangkan KEPRIBADIAN yang ditunjang oleh kebajikan moral menyatakan bahwa ternyata sesuatu yang bermanfaat seringkali mendapat penghakiman-penghakiman buruk dari masyarakat. Sesuatu yang bermanfaat bagi khalayak di saat yang sama juga menimbulkan penderitaan bagi target yang sama pula. Penderitaan itu dapat berupa paksaan untuk mengikuti norma-norma.

Terakhir adalah PENGENDALIAN DIRI. Banyak kritik terhadap pendiferensiasian yang dilakukan Aristoteles. Dalam banyak kasus kita temui kebajikan intelektual sering bertentangan dengan kebajikan moral. Kebanyakan kebajikan intelektual menciptakan kaum-kaum yang senang tinggal di menara gading. Mereka punya standar-standar moral yang jika diterapkan dapat melukai orang lain.

Tiga dalil diatas menunjukkan bahwa selama ini tidak ada kompas yang jelas bagi moral. Ada yang dikarenakan kendala ke-abstrakannya, ada yang karena terlalu relatif. Karena sulit dinalar maka moral jadi perlu dipaksakan, dan pada akhirnya tercerabut dari kepribadian manusia. Atau karena relatif maka moral itu jadi tak punya ukuran-ukuran yang jelas, sehingga tidak semua individu mampu memahaminya. Oleh karenanya jangan disalahkan kenapa masih ada orang yang tinggal di kolong jembatan, masih ada permusuhan antar-mazhab, masih ada bisnis prostitusi lintas negara, pembalakan hutan, dan terakhir, masih ada perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.

Moral seharusnya ditemukan dengan proses-proses nalar yang alamiah. Alamiah berarti, dapat ditangkap dan dipahami dengan jelas karena kesederhanaannya. Nalar yang berarti pikiran, bukan perasaan apalagi dorongan insting. Pada akhirnya, untuk dapat menciptakan konstruksi moral yang efektif, segala bentuk-bentuknya yang tidak logis (abstrak) haruslah ditolak karena tidak terukur.

► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Mempercayai Orang Asing

Ditulis tanggal 13 Desember 2013

Stranger (source: deviantart)


Sebuah karya dalam direktori Global Environmental Change pernah menulis sosio-ekonomi dapat mempengaruhi produktivitas, harga barang kebutuhan, dan keunggulan komparatif (Parry dkk, 2004). Sosial dan ekonomi adalah entitas tak terpisahkan. Kondisi sosial dapat mempengaruhi ekonomi, sebaliknya, kondisi ekonomi juga dapat mempengaruhi kondisi sosial.

Tentu kita juga tak bisa melupakan teknologi. Proyek-proyek industri kian maju karena para pengusaha terus bereksperimen dengan alat produksinya. Kemajuan teknologi itu melahirkan masyarakat modern. Pertanyaannya: seberapa jauh eksperimen teknologi telah mengubah corak hubungan antar-masyarakat?

Kita selalu menginginkan hal-hal baru ; atau mungkin selalu takut ditinggalkan zaman. Kehendak kita untuk turut serta dalam eksperimen (teknologi) berakhir pada kehendak untuk mempercayai orang asing – sebuah kehendak yang cenderung emosional daripada reflektif (Seabright, 2004). Dikatakan emosional karena, kepercayaan tanpa prasyarat biasanya ringkih, seperti emosi. Kita mengisi hari-hari dengan mempercayai orang asing. Kita percaya makanan yang disajikan oleh restoran tidak diracuni terlebih dahulu, kita percaya supir angkot atau bis kota sudah pernah ikut dan lolos tes mengemudi, kita percaya pilot pesawat yang kita tumpangi sedang tidak dibawah pengaruh alkohol atau sabu, kita percaya percakapan rahasia, pribadi (atau kadang-kadang mesum) di instant messenger atau surat elektronik kita tak akan disebarluaskan pihak provider.

Tanpa disadari, kita makin lalai.

Sekitar tahun 1991, film The Silence of the Lambs mengajarkan orang-orang cara membangun kepercayaan satu sama lainnya. Dalam film itu, tokoh Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins bertemu dengan Clarice, seorang anak magang di Federal Bureau of Investigation (FBI). Mereka berdua masih asing satu sama lain. Mulanya Clarice berniat mengumpulkan informasi dari ahli psikiatri tersebut, soal profil psikologi dan modus operandi pembunuh berantai yang dijuluki Buffalo Bill. Namun, Dr. Lecter orang yang cerdik. Sebelum dia yakin apakah Clarice telah mempercayai setiap detil yang dia katakan, dia menanyakan hal-hal sangat pribadi kepada Clarice. Dia mendorong Clarice menceritakan masa lalunya yang traumatis.

Clarice akhirnya menceritakan kronologi kejadian-kejadian yang selalu ia coba hapus dari memorinya, dengan sesekali menahan tangis. Dr. Lecter tau perempuan itu jujur. Dia bersedia memberikan beberapa petunjuk lewat rentetan anagram.

Yang selanjutnya disampaikan dalam film itu adalah, kepercayaan pada orang lain tidak bernilai cuma-cuma. Beberapa korban Buffalo Bill sebelumnya sering bertemu dengannya. Jika orang yang kita kenal saja masih bisa tidak dipercaya,  boleh jadi orang asing lebih tak bisa dipercaya.

Kepercayaan itu tumbuh dengan dasar-dasar rasional. Andai menilik rasio sedikit, kita akan curiga makanan yang diberikan pramusaji mengandung racun. Kita tidak akan menutup kemungkinan pesawat yang kita tumpangi akan jatuh karena ternyata pilotnya mengkonsumsi sabu. Kita akan menemukan bahwa selama ini data-data elektronik kita ditampung di hosting milik penyedia jasa, dan bisa dipublikasi sewaktu-waktu kita tersandung kasus hukum dan pengadilan memerintahkan untuk dibuka.

Sepuluh ribu tahun lalu, manusia berprinsip bahwa hal-hal asing akan memberi perubahan signifikan pada tatanan hidupnya. Karenanya ia harus lebih berhati-hati. Tapi hari ini, ‘mempercayai orang asing’ malah memegang peran dominan dalam keseharian manusia. Sampai kita tiba di satu titik realita: kebanyakan mobil canggih dan aman, malah sering dipakai untuk kebut-kebutan.

Demikianlah kita terus menantang orang terdekat, sebaliknya, kita tak pernah mempermasalahkan orang asing. Pada orang baru, kita sopan dan bermurah hati kata “Permisi” atau “Maaf” keluar. Pada kerabat lama, kita ngelunjak. Itu adalah tradisi lokal yang baru. Dan jika Martha Nussbaum pernah bilang “any list of virtues must be simply a reflection of local traditions and values” (Nussbaum, 1987), tak urung lagi, nilai kebajikan manusia telah bergeser.

Itulah yang dipaksakan masyarakat modern pada kita: “tak kenal malah makin sayang”.



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Kemiskinan

Ditulis tanggal 19 September 2013

 
Anak Afrika (source: Titik Pijat)


Saya telah tiba di suatu titik. Sebuah titik dimana pengertian sejati kemiskinan dipertanyakan. Kemanapun saya berada, selalu ada orang miskin (atau yang merasa dirinya miskin). Kebutuhan makan cukup, tiga kali sehari, pendidikannya baik, rumah nyaman, pakaian juga layak. Ada juga orang yang masyarakat sepakat menggolongkannya orang miskin; ia pengemis, tak bisa makan, tak bisa berkarya, tak bisa tidur di kasur empuk. Lain waktu, sebuah sudut pandang religius menyatakan, orang miskin adalah yang tak punya keteguhan mempertahankan nilai-nilai kemoralan -- ia mungkin tampak kaya raya, tapi semua serba didapat tanpa pertimbangan hati.

Banyak pertanyaan muncul. Bukankah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah memaparkan secara gamblang bahwa kemiskinan adalah kondisi kepapaan, tak punya harta benda, serba kekurangan? Atau pada akhirnya, pengertian itu pun berkembang. KBBI sebagai telaah istilah yang dibukukan masih kaku untuk menselaraskan diri dengan perkembangan sosial. KBBI harus melalui proses berbelit, untuk sebuah istilah akhirnya dikembangkan pengertiannya, ada yang dihilangkan, ada yang ditambah-tambahi. Sementara waktu terus berjalan meninggalkannya di belakang.

Kemiskinan dan Pekerjaan
Tak ada orang ingin mendapat pekerjaan tak layak. Entah siapa yang memulai, mungkin dari jaman Orde Baru, pekerjaan berseragam dianggap bergengsi. Masuk era globalisasi ekonomi, kapitalisme, jabatan presidium di kantor swasta pun tak kalah menarik. Orang-orang berlomba-lomba, sangat ambisius, menaiki satu-persatu tangga karier agar bisa sampai puncak. Beberapa membenarkan, bahwa regenerasi memang perlu adanya.

Manusia untuk bisa makan cukup tak perlu pegang uang tiga kali lipat lebih banyak dari UMR, sebenarnya. Permasalahannya, ia menginginkan lebih. Ia ingin lebih dari sekadar kenyang. Ia ingin lebih dari sekadar sederhana. Ia ingin lebih. Maka terpenuhinya kebutuhan primer tak menjamin hidupmu akan bahagia. Orang akan selalu merasa kekurangan.

Ada yang bilang beginilah hakikat manusia. Jadi, ketika sebuah falsafah teologi bilang pada dasarnya manusia condong kepada kebaikan, itu hanya endapan omong kosong belaka. Manusia pada dasarnya rakus.

Misal kita lihat, Uni Soviet (sekarang Rusia), pernah punya prinsip-prinsip agung soal manajerial kekayaan. Sempat ada malapetaka dimana kira-kira 600 ribu rakyat Soviet tewas kelaparan selama pemerintahan Tsar. Akhirnya terjadilah revolusi. Revolusi mengkambinghitamkan feodalisme, yang disinyalir biang kutukan kemiskinan Soviet. Kemudian negara itu hidup dengan sistem ekonomi baru. Selama tak ada kesenjangan sosial, bagi negaranya itu dianggap adil. Kesetaraan numerik yang dikejar.

Lalu kenapa keadaan itu tak lama bertahan?

Meski secara kasat mata tak rakus harta, Uni Soviet yang dibawahi Stalin kemudian, ternyata gila kuasa. Ternyata kondisi itu memberi dampak tak kalah hebat bagi keruntuhan Uni Soviet. Toh pada akhirnya ketika Soviet bubar, birokrat-birokrat komunis lompat dari kapal oleng itu kemudian lahir jadi borjuis-borjuis baru.

Kembali lagi ke persoalan kemiskinan.

Istilah kemiskinan rupanya dari waktu ke waktu jadi excuse untuk pengkondisian perubahan. Orang akan melabeli dirinya miskin, supaya kegiatan mengemisnya dapat pembenaran. Orang akan melabeli dirinya miskin, supaya ambisinya meniti karier, melalui persaingan tak sehat, juga memperoleh pembenaran.

Kita sekarang berada di posisi dimana label kemiskinan jadi tarik-menarik antar orang berbeda golongan. Sampai industri hiburan dan industri perbukuan turut serta menjual isu kemiskinan. Sebab, isu ini sangat seksi. Semua orang tertarik jadi miskin.

Jika kita saja sudah bingung mana orang miskin sebenarnya, bisa jadi kita juga telah salah bantu orang lain. Ilmu ikhlas hanya berlaku bagi orang beragama, yang taat pada aturan tak logis secara membabi buta, lantas bagaimana dengan seorang atheis? Atau jangan-jangan sebenarnya, kegiatan filantropi ini dalam sejarahnya pun tak setulus kelihatannya.

Pada sebuah literatur saya menemukan, kegiatan filantropi pertama di Inggris dilakukan karena kaum bangsawan risih melihat kemiskinan. Mereka risih dihampiri orang dengan pakaian compang-camping, kulit berkoreng, badan bau. Maka dengan sepersekian dana yang mereka sisihkan dari pendapatan, diharapkan orang-orang kurang beruntung itu akan mampu membeli sesetel baju layak, mengobati luka, dan rajin mandi. Mereka tak jadi polutan udara atau polutan visual bagi kaum bangsawan.

Tentu jika keadaannya demikian, punya uang bukan tolak ukur terentaskannya kemiskinan. Memberi uang, juga belum tentu memperkaya seseorang.

Barangkali saya sudah putus asa. Tapi jika boleh bilang, saya akan terus berjalan dan tak ingin mengambil jalan pintas untuk membantu serta dibantu demi meloloskan diri dari jerat kemiskinan. Kemiskinan yang datang dari self-fulfilling prophecy, maksudnya.

Bisa jadi itu cara paling adil untuk ditempuh -- orang-orang berkompetisi satu sama lain? Tapi saya akan tetap memegang prinsip ini. Apabila ada kebijakan-kebijakan diskriminatif yang dapat menciderai kompetisi tersebut dan merugikan saya atau orang lain, seperti tindakan sok kuasa dari orang lain kepada lainnya, saya masih tidak akan tinggal diam.



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Multitasking: keunggulan atau epidemi?

Ditulis tanggal 11 Maret 2013

Light Bulb (source: Brain Smart)



Tiap orang memiliki dua lobus frontal pada otak yang memungkinkan
mereka dengan mudah melakukan dua tugas sekaligus, tetapi jika
keduanya dibagi menjadi sepertiga, yang ada hanya kekacauan.
(Koechlin, 2010).

Pada masa pra-peradaban, manusia hidup dalam kesederhanaan. Belum ada teknologi, sedikit tuntutan, tekanan jiwa yang rendah, dan kebutuhan yang minim. Satu hal yang jadi pusat perhatian mereka hanya bagaimana caranya untuk bertahan hidup - dan hal itu bisa dicapai cukup dengan memenuhi pangan dan papan dalam skala proporsionalitasnya. Maka yang biasa orang purba lakukan setiap hari tinggal pergi berburu, mengolah makanan mentah untuk disantap, dan beristirahat, lalu melakukan hal yang sama esok hari dan hari-hari berikutnya. Suatu rutinitas yang diulang berkali-kali, bisa saja hingga penghujung hayatnya.

Tapi ada satu hal yang menarik. Saya berpikir, bisa saja rutinitas monoton - sebagaimana yang dipaparkan di atas - merupakan tonggak berdirinya peradaban. Monton yang dimaksud tidak serta-merta tanpa pertumbuhan. Manusia berkembang. Kemajuan peradaban dan perbedaan kontras antara masa kini dan masa lampau menjadi saksi bahwa manusia senantiasa melakukan serangkaian inovasi. Dan yang terjadi disini adalah sebuah masa transisi. Jika amoeba berkembang dengan membelah dirinya, maka manusia berkembang tidak hanya dalam ranah biologis, tapi juga gagasan yang sifatnya platonis.

Dengan tingkat fokus yang hampir mencapai 100%, manusia memiliki konsentrasi yang lebih baik untuk meraih tujuannya. Manusia tidak lagi hanya menjadi makhluk berpikir, tapi juga mengerti bagaimana untuk menelurkan pikiran-pikiran yang sebelumnya abstrak, menjadi suatu yang realistis dan dapat memberi efek positif bagi dirinya. Efek positif yang diharapkan adalah sesuatu yang dapat menunjang kemampuan dirinya untuk memenuhi tuntutan-tuntutan zaman.

Melalui konsentrasi optimal, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan menjadi singkat. Oleh karena itu, suatu hal yang lumrah ketika kita lihat mengapa pada masa revolusi industri di Inggris, dunia dibombardir oleh produk-produk teknologi mutakhir yang beraneka ragam jenis dan fungsinya. Makin banyak alat baru, makin banyak pula ruang-ruang keterampilan yang memaksimalkan fungsi dari alat-alat tersebut, atau kombinasi penggunaan teknologi satu dengan yang lain.

Setelah mempertahankan hidup (contoh: dari serangan makhluk buas) menjadi suatu hal yang mudah untuk ditempuh, mereka membutuhkan tantangan baru untuk memaknai hidup. Teknologi membuka lahan baru bagi lahirnya sebuah industri. Industri yang kelak menguntungkan manusia-manusia superior, tapi justru akan menambah beban kehidupan bagi manusia marjinal.

Pilihan biner

Mereka yang memiliki kehidupan standar-standar saja, dengan kemampuan ekonomi yang juga standar-standar saja, perlu memaksakan diri untuk memperkaya SDM-nya. Teknologi diciptakan untuk manusia, tapi kini banyak manusia merasa tidak ingin kalah dari teknologi. Kita telah tiba di suatu masa dimana manusia harus fokus tidak hanya pada satu hal saja, karena itu dapat menyisihkan dirinya dari kemajuan zaman. Pikiran yang semula terpusat pada sebuah pokok utama harus rela membagi diri dengan sebuah pikiran baru dengan porsi sama. Dan jika pun dua pikiran itu berbenturan satu dengan yang lain, tampaknya kita tidak dapat menghentikan diri sendiri.

Tapi Koechlin telah menyampaikan bahwa tiap otak manusia memiliki anterior dan korteks prefrontal medial yang memungkinkan seseorang berkompetensi melakukan dua hal dalam rentang waktu hampir serempak. Fokus pada satu hal, sementara menahan yang satunya lagi namun tidak melupakannya. Seseorang bisa bolak-balik dari satu tujuan ke tujuan lainnya dengan tingkat akurasi menakjubkan.

Lalu, bagaimana jika kita membagi dua lobus frontal tersebut pada tiga tujuan atau lebih?

Multitasking sebagai epidemi

Saya pernah menemui orang yang memiliki tiga pekerjaan sekaligus dalam hidupnya. Tentu saja, tiap pekerjaan memiliki waktunya sendiri yang tidak akan berbenturan dengan waktu pekerjaan lainnya. Atau, seseorang yang menyetir sambil mendengarkan musik juga sambil mengobrol di telepon genggam. Atau, contoh lain, dalam dunia mahasiswa, bisa saja seseorang - disamping kesibukan perkuliahan - bergabung dalam dua atau tiga organisasi sekaligus, dan menjadi presidium dalam organisasi tersebut. Atau, dalam suatu contoh yang lebih sederhana, saat ujian nasional, dalam lembar soal ada tiap pertanyaan yang disana kita harus memilih satu di antara lima opsi yang ada.

Apa yang terjadi?

  1. Kasus pertama: orang yang memiliki tiga pekerjaan punya masalah daya ingat rendah. Ketika dia fokus pada dua pekerjaan, dia melupakan sisanya. Dia dianggap lalai sehingga harus kehilangan satu pekerjaannya.
  2. Kasus kedua: Redelmeier dan Tibshirani (1997) telah meneliti bahwa penggunaan telepon saat sedang menyetir memiliki risiko kecelakaan empat kali lebih besar. Penggunaan dengan handsfree tidak berarti menurunkan risiko tersebut, karena yang melemahkan kognitifnya bukanlah tangan yang penuh, tapi percakapan kompleks atau emosional dalam telepon.
  3. Kasus ketiga: hampir sama dengan poin pertama. Ia membuat salah satu organisasinya terbengkalai.
  4. Kasus keempat: pada dasarnya manusia lebih menyukai pilihan biner. Ketika terlibat dalam tiga atau lebih pilihan, mereka tidak mengevaluasi secara rasional, melainkan menyeleksinya menjadi pilihan biner. (Koechlin, 2010)

Jadi, sesuai dengan potensi yang dimiliki manusia, membunuh tiga burung dengan satu batu adalah hal yang nyaris mustahil. Beberapa mungkin bisa, tapi dengan mengorbankan tingkat akurasi atau waktunya. Seseorang yang mengerjakan banyak hal - jika ingin dapat hasil memuaskan - cenderung melamban untuk menyelaraskannya.

Kita tidak bisa melarang seseorang untuk tidak mencari nafkah pada tiga ladang sekaligus, atau melarang seseorang memproses indera pendengaran dan visualnya untuk dua informasi berbeda. Atau, menahan seseorang untuk bergabung pada satu organisasi saja. Itu adalah kebutuhan pribadi yang akan selalu jadi pilihan, seberapapun besar resiko tumpang-tindihnya. Lagi, yang harus saya sampaikan, ini tuntutan zaman.

Orang-orang sering berpikir bahwa multitasker adalah orang jenius. Seperti komputer. Sedangkan, bahkan pada tataran praktik, untuk dua hal saja, masih saja ada orang yang gagal mencapai ekspektasinya.

Tapi barangkali kita telah menemukan jawaban atas peradaban kekinian yang tersendat-sendat dan tidak sepesat dahulu. Beberapa proses kognitif yang perlu justru dipasifkan. Kita, pada kenyataannya, kalah dari komputer. Atau lebih hinanya lagi, kalah dari smartphone.***

Didedikasikan untuk Wahyu Arifin: teman yang menyebalkan, tapi juga pendidik yang paling saya hormati karena dia yang mengajari saya menulis, dan menyuruh saya menulis sesuatu setelah vakum berbulan-bulan.
► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Dunia Casanova dan Lambung Besi

Ditulis tanggal 26 Mei 2012

Sumber: rockersworld


Ketika individu terjebak dalam rantai pengejaran kenikmatan sesaat ke tingkat maksimal, ia menjadi tidak peka terhadap kebutuhan orang lain.

Manusia adalah makhluk yang menyukai hal-hal yang bersifat indah, elok, dan menawan. Pada zaman kuno, keindahan dinilai sebagai sesuatu yang bersifat metafisik (abstrak), namun seiring kemajuan zaman, keindahan menjadi sesuatu yang bersifat konkret dan dapat dinilai ketika mengandalkan aspek sensoris. Keindahan adalah kesatuan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat antara pencerapan-pencerapan inderawi (Herbert Read, 1969). Kenikmatan yang diperoleh seseorang setelah melampaui pengalaman estetis membuat ia merasa baik. Dengan kata lain, dapat disimpulkan, bilamana sesuatu dikatakan indah dan menimbulkan kenikmatan, maka dapat dikatakan baik. Mungkin ini pula sebabnya mengapa manusia sangat menyukai keindahan, karena fitrah mereka adalah condong pada kebaikan.

Telah terbukti bahwa perang dunia menimbulkan dampak yang luas dari berbagai macam aspek kehidupan; luluh lantak bangunan-bangunan arsitektur megah, wabah penyakit jorok berupa disentri, kelangkaan bahan pangan, kemiskinan pada tingkat ekstrem, dan phobia terhadap tindakan subversif dan fasis. Hal ini menjadi sangat dilematis bagi identitas kemanusiaan. Manusia (jadi) termotivasi untuk mempertahankan identitas mereka dengan mengeluarkan semua biaya yang ada (Heinz Lichtenstein, 1961). Lebih dari empat puluh milliar dollar dihabiskan tiap tahunnya untuk kebutuhan rekreasi – jumlah ini jauh lebih besar daripada yang dihabiskan seseorang untuk kebutuhan pendidikan (Bill Banowsky, 1969).

Semenjak itu, muncul sebuah keyakinan dimana kesenangan menjadi akhir dan tujuan tunggal pada setiap tindakan dan perilaku, yang dikenal sebagai hedonisme. Sayangnya, hedonisme tidak menyediakan standar moral yang obyektif, manusia hanya diajarkan untuk mengejar kesenangan sesaat sampai ke tingkat maksimal. Apa yang menimbulkan kesenangan dan kenikmatan dianggap baik, sedangkan apa yang menimbulkan penderitaan dianggap buruk. Nilai ideal menjadi bergantung pada tata nilai kehidupan yang sangat dinamis. Namun, bagaimanakah mereka menyikapi hal ini: seorang pelacur kelas atas mungkin tampak senang dengan kehidupan glamornya karena bisa membeli pakaian dan aksesoris mahal, tapi kenyataannya dia punya sisi melankolik karena tidak punya kesempatan menolak tiap-tiap nafsu birahi yang membutuhkannya?  Hasil survey Ventegodt pada tahun 1995 membuktikan bahwa seorang peminum moderat (3 – 4 gelas alkohol perhari) rupanya lebih bahagia daripada seorang pemabuk berat?
Sejumlah fakta diatas telah menunjukkan bahwa hedonisme rupanya menimbulkan suatu paradoks yang menyesatkan. Setiap orang terpicu untuk mengejar kemegahan palsu – mereka tergiur pada kemewahan agar dianggap lebih baik dan lebih tinggi derajatnya supaya tidak kembali terkungkung dalam kemiskinan ekstrem dan kekuasaan fasis orang lain, tapi tidak menyadari dampak negatif berupa penyakit yang ditimbulkan oleh tindakan destruktif tersebut. Hedonisme tak lain ajaran merusak diri sendiri. Semakin seseorang terjerumus pada kenikmatan pribadi, semakin ia mengalami kedangkalan spiritual. Bahkan agama tidak berhasil lolos dari pengaruh gerakan ini, sebagaimana dapat disaksikan melalui kemegahan arsitektur Katedral Notre Dame.
Arsitektur hasil keserakahan manusia lebih dikagumi dibanding fenomena alam yang lahir tanpa campur tangan manusia. Bangunan Palau De La Musica Catalana, Arc de Triomphe, Musee d’orsey, Menara Sears, Das Rotes Rathaus, dan sejumlah bangunan indah lain begitu diagung-agungkan ketimbang mereka memikirkan bagaimana proses kosntruksi awal bangunan tersebut harus menyingkirkan penduduk di sekitar untuk tinggal di pemukiman kumuh – dampak lebih lanjut, merusak keseimbangan alam. Mereka menjadi lebih terkonsentrasi pada keindahan-keindahan hasil rekayasa tata nilai kehidupan mayoritas, dibanding lebih peka terhadap kebutuhan orang lain. Hedonisme altruistik hanya sebuah amunisi untuk menggempur kritik, namun kenyataannya hal tersebut tidak pernah benar-benar ada.
Mahasiswa sebagai agen kontrol sosial yang harusnya lebih pandai pun tidak mampu menghalau serangan tragis ini. Mereka terjerat di dalam pusaran paradoks hedonisme. Karena gagap kemandirian, mereka jadi budak hawa nafsunya sendiri. Penggerebekan di pemukiman mahasiswa marak terjadi, video porno mahasiswa universitas tertentu, dan idiom “ayam kampus” menjadi degenerasi moral yang dianggap biasa. Belum mahasiswa lambung besi yang menjadikan alkohol sebagai penyemarak pesta kumpul-kumpul. Maka jangan heran kenapa mahasiswa zaman sekarang lebih banyak yang apatis ketimbang peduli terhadap kondisi masyarakat.
Sadar atau tidak, bentuk perilaku yang demikian seringnya menimbulkan penyesalan di penghujung muda. Semakin individu meraih sedemikian banyak pencapaian, maka semakin ia merasa banyak kekurangan. Kebenaran yang selama ini dijadikan pedoman hidup adalah kebenaran semu, bukan hasil mengejar ketaatan kepada yang bersifat transenden. Padahal telah berkali-kali kita mendengar cerita ketika Nabi Musa memilih untuk menderita dengan umatnya ketimbang hidup dengan kemegahan istana Fir’aun. Nabi Yusuf lebih memilih hidup di penjara ketimbang menghadapi godaan-godaan yang menekan jiwanya saat hidup di alam bebas. Semua karena mereka telah memahami apa yang disebut kebenaran sejati, yaitu kebenaran layaknya lentera yang mengubah tatanan kehidupan manusia yang telah lama dilanda kegelapan.

► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top