NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Masyarakat

NikenSupraba.com

media sosial

Jenderal yang Berpolitik Menurut Mills

Ditulis tanggal 13 November 2016



Mills riding motorcycle (source: About Sociology)
Mills, C.W. (1956). The Power Elite
The Power Elite menawarkan perspektif menarik mengenai struktur politik yang hidup di Amerika Serikat. Buku ini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa Sosiologi, dosen, pejabat pemerintahan, dan pelaku media.
C. Wright Mills adalah seorang sosiolog di Columbia University sejak tahun 1946 sampai dengan 1962. Tulisan-tulisannya berpengaruh pada masa Perang Dingin dan ia mencoba mengajak publik untuk terlibat dalam politik di saat apatisme mulai menjamur. Alhasil, pada tahun 1960-an, tulisannya mampu mendorong gerakan sosial Kiri Baru. Mills berhasil memperkenalkan kepada masyarakat mengenai hubungan kelas di antara elit politik, militer, dan ekonomi Amerika, sebagaimana dipaparkannya dalam buku ini.
Diawali dengan pembahasan topik The Higher Circles (kalangan yang lebih tinggi), pembaca diantarkan menuju sebuah pusat politik yang gelap dan tidak diketahui banyak orang, yakni mengenai eksistensi sebuah hierarki yang tidak kelihatan, di mana orang awam menempati struktur terbawah dengan populasi terbanyak dan “kalangan yang lebih tinggi” menempati struktur teratas dengan populasi paling sedikit.
“Kalangan yang lebih tinggi” merujuk pada sebuah kekuatan yang tidak dapat dipahami atau dikendalikan oleh masyarakat awam, justru sebaliknya, kekuatan inilah yang menggerakan masyarakat awam dan merasuk pada siklus kehidupan rutin: pekerjaan, keluarga, dan kehidupan bertetangga.
Secara lebih konkret, Mills menggambarkan kalangan ini sebagai orang-orang yang menduduki posisi di tengah-tengah masyarakat Amerika, yang mana posisi tersebut berkedudukan lebih tinggi daripada orang awam, serta keputusan yang dibuatnya berdampak luar biasa pada kehidupan sehari-hari orang awam.
Orang-orang ini tidak “diperbudak” oleh pekerjaannya; mereka lah yang menciptakan lapangan pekerjaan bagi ribuan orang. Meskipun memiliki banyak hotel dan rumah, mereka bukan bagian dari anggota masyarakat manapun. Mereka tidak perlu memenuhi tuntutan-tuntutan; mereka yang menciptakan tuntutan dan mampu membuat orang lain memenuhi tuntutannya. Mills menyebut orang-orang ini sebagai Elit.
Dalam pembahasan masyarakat lokal di kota kecil, Mills menyajikan analisis meluas tentang eksistensi sebuah keluarga yang menempati posisi lebih tinggi daripada kelompok kelas menengah yang mayoritas bekerja sebagai staff administrasi atau pekerja upahan. Mereka memegang kunci terhadap keputusan lokal, dengan nama dan wajah yang senantiasa terpampang di surat kabar lokal. Putra-putrinya sekolah di yayasan swasta, menikah dengan kelas ekonomi yang sama, dan setelah menikah, mereka menerima warisan properti maupun kekuasaan yang sudah diperoleh Ayah-Ibunya. Meskipun demikian, kekuasaan yang dimiliki kalangan atas masyarakat lokal ini tidak bersifat mutlak. Mereka cenderung berperan sebagai satelit dari masyarakat kelas atas di kota metropolitan.
Pada bab “Metropolitan,” penulis memaparkan analisis mendalam mengenai peran konglomerat-konglomerat New York (bukan Washington), ibu kota bagi aktivitas keuangan. Di New York, terdapat inti dari keluarga-keluarga konglomerat yang bersifat turun-temurun (selanjutnya disebut konglomerat lama), dan keluarga tersebut dikelilingi oleh Orang Kaya Baru. Konglomerat lama ini sudah sejak dulu terlibat dalam aktivitas ekonomi masyarakat Amerika. Mereka adalah puncak hierarki industri dari keluarga di tingkat lokal, yakni tuan tanah di Hudson, pemilik ladang di Virginia, pemilik kapal pesiar di New England, pemilik butik di St. Louis, serta penambang emas di Denver, Colorado. Kekayaan orang-orang ini bersifat permanen, dan keturunannya senantiasa dihormati.
Menurut Mills, kelas atas kota metropolitan tidak hanya berkecimpung dengan keluarga di tingkat lokal tapi juga terlibat dalam dunia selebriti karena popularitasnya. Selebriti adalah orang-orang yang dikenal masyarakat umum tanpa perlu melalui proses perkenalan wajar. Kemanapun selebriti pergi, mereka dikenali; tidak hanya dikenali, bahkan orang-orang yang melihatnya akan lompat kegirangan dan bersorak-sorai. Apapun yang dilakukannya memiliki nilai publisitas, karena selebriti adalah bahan baku komunikasi dan hiburan media.
Dunia selebriti menjadi forum penghormatan publik; sebuah penghormatan yang tidak dibangun dari bawah, akan tetapi diciptakan dari atas. Hal ini dikarenakan seorang selebriti tidak akan terkenal tanpa peran orang-orang yang memegang kunci komunikasi massa. Para pemegang kunci tersebut adalah pemilik perusahaan dan penguasa militer yang dipandang sebagai elit nasional, sehingga mampu “mengarahkan” lampu sorot publisitas kepada siapapun.
Orang-Orang yang Sangat Kaya
Mills mengakui bahwa banyak yang tidak setuju lapisan-lapisan masyarakat kelas atas di tiap tataran pemerintahan ini sudah tidak ada, terutama setelah krisis 1929. Orang yang sangat kaya tidak ada lagi, dan meskipun ada, mungkin sekadar pewaris yang sudah sangat renta dan hampir meninggal, memberikan asetnya untuk pajak dan badan amal.
Mills mengkonstruksikan pendapatnya kembali dengan sangat elegan. Menurutnya, sebagai mesin yang memproduksi jutawan, kapitalisme Amerika sedang dalam kondisi yang lebih baik daripada yang dinyatakan melalui statemen-statemen pesimis tersebut. Para jutawan masih tetap seorang jutawan, dan lebih lagi, sejak keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, orang-orang kaya baru dengan jenis kekuasaan dan hak prerogatif yang baru mulai bergabung dalam lapisan kelas atas. Mereka bersama-sama membentuk perusahaan besar Amerika, yang kekayaan dan kekuasaannya pada hari ini dapat dibandingkan dengan perusahaan di lapisan manapun; di manapun, kapanpun, dalam sejarah dunia. Mills menjulukinya dengan istilah The Robber Barons (orang-orang kaya yang tidak bermoral). Pada masa Perang Dingin, Robber baron telah bertransformasi menjadi negarawan industri dengan perusahaan-perusahaannya yang megah, publisitas besar-besaran, dan oleh media digadang-gadang sebagai pahlawan ekonomi.
Robber baron adalah pemimpin dari Chief Executive dari perusahaan-perusahaan besar. Di dalam sistem yang bebas, privat, dan giat (sebagaimana disebutkan Mills), Executive muncul sebagai sosok yang berbeda dari pengusaha-pengusaha kolot. Executive ini bertanggung jawab sebagai wali, wasit yang tidak memihak, dan pakar pialang saham bagi kepentingan ekonomi yang beragam, termasuk jutaan pemilik properti kecil yang memegang saham di perusahaan besar Amerika, akan tetapi juga menggaji kelas pekerja dan konsumen yang memperoleh keuntungan dari supply barang/jasa besar-besaran.
Menurut Mills, Executive bertanggung jawab atas isi lemari pendingin di tiap-tiap dapur rumah tangga, otomotif di tiap-tiap garasi penduduk, begitu juga pesawat udara dan bahan peledak yang menjaga Amerika dari bahaya. Seluruh Executive memulai kariernya dari bawah; mungkin di masa lalu mereka adalah anak petani yang sukses di kota besar, atau imigran kere yang datang ke Amerika dan mewujudkan mimpinya. Dalam beberapa kasus, masyarakat juga mempercayakan pemerintahan kepada orang-orang ini, karena menurut masyarakat, orang-orang kaya yang memulai karier dari bawah tidak akan berlaku boros, korup, dan sulit diintervensi kelompok lain.
Merujuk dari sebuah literatur sejarah, Mills memaparkan bahwa Executive tersebut sempat berkuasa, dan bahkan mampu mengendalikan militer. Akan tetapi, hal itu hanya berlangsung hingga Perang Dunia I dan Executive kembali ke dunia tempatnya seharusnya berada, dunia industri. Dalam vakum politik, Warlord lahir kembali. Warlord adalah kelompok yang berseberangan dengan Executive, politisi, jenderal dan laksamana di dunia militer, dan berupaya meningkatkan kekuasaan dan mempengaruhi keputusan pemerintahan hingga titik terdalam. Pada titik ini, kekerasan rawan terjadi.
Sejak peristiwa Pearl Harbor, para jenderal dan laksamana berupaya menggoyang pendapat populasi kelas bawah, membagi tanggungjawabnya baik secara terbuka atau diam-diam atas kebijakan-kebijakan kontroversial. Dalam berbagai kontroversi ini, para Warlord mencoba memblokade kebijakan kontroversial militer yang tidak sesuai dengan kepentingannya. Pada akhirnya, Warlord selalu kalah dan jenderal-jenderal kecil selalu menang.
Setelah kemenangan yang didulang, jenderal dan laksamana dapat mempraktikan kekuasaannya di berbagai arena kehidupan Amerika yang semula menjadi domain sipil; mereka memperoleh jaringan lebih banyak; mereka beroperasi di domain-domain elit sekaligus masyarakat kelas bawah, di saat para Warlord justru membangun hubungan buruk dengan elit Amerika. Meskipun memiliki latar belakang militer, saat terlibat dalam keputusan-keputusan politik dan ekonomi, para jenderal dan laksamana tidak begitu berbeda dengan Executive dan politisi pada umumnya.
Pada arena politik, fokus utama jenderal dan laksamana kemudian adalah siapa figur yang cocok sebagai kandidat Presiden Amerika Serikat. Menurutnya, kandidat yang cocok adalah seseorang yang tumbuh di sebuah ladang pertanian di Ohio, dengan keluarga besar yang datang dari Inggris pada tahun 1620. Ketika menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Ayahnya meninggal, ladang dijual, dan ia diajak Ibunya pindah ke kota lain, dan mulai berjuang membangun kehidupan.
Presiden masa depan bekerja di pabrik pamannya, dan menjadi pakar di segala permasalahan perburuhan dan manajerial, di saat ia sedang sibuk di bangku perkuliahan. Dia pergi ke Perancis saat Perang Dunia I, dan di perang selanjutnya dia telah menjadi seorang negarawan. Begitu kembali ke Amerika, dia mengenyam bangku sekolah hukum selama 2 (dua) tahun, menikah dengan pacarnya semasa SMA yang merupakan cucu dari tentara Konfederasi, membuka kantornya sendiri, dan ikut klub lokal, Elks, Rotary Club, dan gereja Episkopal Protestan. Dengan latar belakangnya sebagai negarawan eks-tentara yang menguasai urusan perburuhan dia dipandang pantas memimpin sebuah negara.
Menjembatani Elit dengan Masyarakat Banyak
Meskipun kriteria untuk sosok Presiden Amerika Serikat masa depan telah dipatok sedemikian rupa, sulit bagi para jenderal dan laksamana menjamin terpilihnya orang tersebut dengan sistem pemilihan umum yang demokratis. Dalam citra standard kekuasaan dan pengambilan keputusan, tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada publik Amerika. Kata “publik” seringkali menjadi legitimasi praktik kekuasaan; segala jenis keputusan pemerintah hingga swasta beserta konsekuensinya, selalu dijustifikasi dengan dalih kepentingan publik.
Menurut Mills, corak opini publik yang paling penting adalah pasang-surut diskusi yang bebas, yakni adanya kemungkinan untuk menanggapi, mengorganisir opini publik melalui organ otonom, dan merealisasikan opini ke dalam tindakan. Opini yang lahir dari diskusi publik dipahami sebagai resolusi yang dijewantahkan ke dalam aksi publik; kehendak umum masyarakat yang dituangkan ke dalam peraturan perundang-undangan.
Tidak bisa dipungkiri, Amerika di era modern adalah masyarakat yang demokratis. Publik tidak hanya harus mampu menyampaikan aspirasinya, tapi juga memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sejauh mana tanggung jawab yang diemban oleh para pengambil keputusan. Setiap orang bergantung pada pengetahuan yang disediakan oleh orang lainnya, mengingat pengalaman pribadi saja tidak cukup untuk memahami dunia sosial yang mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.
Oleh karena itu, komunitas intelek adalah kelompok yang coba dirangkul oleh militer. Hal ini menjadi salah satu kajian Mills. Citra yang terbangun sekarang, politik bukan lagi dikuasai semata oleh elit yang tidak bertanggungjawab dan manipulatif, tapi juga oleh sekumpulan komunitas intelek yang mampu menaklukan situasi sulit. Komunitas intelek berperan sebagai pihak-pihak yang memberikan penjelasan masuk akal atas suatu kebijakan, suatu peran yang semula diemban oleh juru bicara. Tulisan-tulisan akademisi adalah bentuk pelunakan kehendak politik (yang terlanjur memiliki citra buruk, e.g. absence of mind and of morality), dengan menggunakan pisau bedah humanisme barat sebagai dasar analisis setiap kebijakan.
Mills memberikan pemaparan getir tentang bagaimana politik yang korup menjadi corak sistematik dari elit-elit Amerika dan diterima secara umum oleh masyarakat banyak. Di era korporasi, hubungan ekonomi menjadi bersifat non-personal, dan akibatnya, pejabat eksekutif kurang merasakan tanggung jawab personal. Di dunia korporasi bisnis, pencipta-perang dan politik, kesadaran pribadi dilemahkan dan immoralitas justru terinstitusionalisasi. Ia menjadi corak dari para pengusaha, lapisan masyarakat kapitalis yang terjalin secara mendalam dengan politik negara militer. Pada titik ini, pertanyaan penting seperti pendanaan kampanye politisi muda bukan lagi apakah politisi tersebut bermoral atau tidak, akan tetapi apakah anak muda di arena politik Amerika dapat bekerja dengan baik di lingkungan yang tidak bermoral. Ketiadaan moral ini merupakan akibat dari fakta bahwa nilai-nilai tradisional tidak lagi mampu menjaga manusia di era korporasi. Adapun jika orang-orang saling membantu, bukan lagi dilatarbelakangi kewajiban moral. Semua lebih dititikberatkan pada motivasi politik.
Kesimpulan
The Power Elite mencoba mengkonstruksikan hierarki yang terdapat di masyarakat Amerika di setiap periode sejarah yang berbeda (Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin). Setiap bagian dirumuskan menjadi pembahasan satu kelas tertentu yang saling sambung-menyambung dengan bab selanjutnya. Adapun kelas-kelas itu antara lain adalah Kalangan yang Lebih Tinggi, Masyarakat Lokal, Metropolitan, Selebriti, Orang-Orang yang Sangat Kaya, Chief Executive, Pemilik Perusahaan, Warlord, Kelompok Militer, Presiden, Kekuatan Elit, Masyarakat Banyak, dan Kelompok Intelek. Mills juga tidak lupa mendefinisikan istilah-istilah yang ia gunakan, serta mencantumkan rangkuman peristiwa untuk memudahkan pembaca mencerna informasi yang diberikan. Kredibilitas konten buku ini tentu bergantung pada konteks zaman ketika Mills menulisnya (tahun 1956), akan tetapi, dalam beberapa poin, pemaparan Mills mengenai fenomena hierarki sosial di Amerika masih dapat dikatakan valid.
► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Ikut Timur atau Barat

Ditulis tanggal 17 November 2012



(Diam-diam, ternyata,) kita orang timur. 

Siapapun dari kita pasti tahu Kerajaan Kutai yang berdiri pada abad IV masehi menjadi pelopor kerajaan-kerajaan sesudahnya. Kita juga pasti tahu kerajaan bercorak Hindu tersebut dibawa oleh para pedagang India. Singkat kata, setelah jaman prasejarah kita sepakat bahwa urat akar sikap sosial dan mentalitas budaya ketimuran bagi Indonesia ‘sempat’ jadi harga mati; tanpa terkecuali setelah lahirnya kerajaan-kerajaan Islam. 

Tak usahlah kita membeda-bedakan timur Cina atau India. Dua-duanya sama-sama mengakui adanya struktur sosial―bukannya dari pengusaha-pengusaha heroik seperti di dunia barat, melainkan dari hal yang lebih genuine dari manusia. India menyatakan strata tertinggi ditempati orang-orang yang mengikuti dewa, dan Cina menyatakan Kaisar sebagai penyembah dewa agung (sekte negara), sedang rakyatnya menyembah leluhur kaisar-kaisar terdahulu. 

Maka, bisa kita pahami mengapa pada masa kerajaan, bangsa ini menjadi bangsa patrimonial. Segala tindak-tanduk rakyat (yang saat itu religius) adalah buah instruksi pemimpin, mengingat raja dijadikan pemimpin tertinggi karena dia imamnya agama. Sementara rakyatnya masih dibuai ekstasi keagamaan, raja dapat berpikir lebih rasional dengan membiarkan mistisisme hanya selama ia dapat digunakan untuk mengendalikan massa. 

Tapi, barangkali ketika raja mencoba menuangkan pemikiran rasionalnya dengan meresepkan cara hidup lewat dogma agama menjadi serba kebablasan.

Seiring surutnya kekuatan kerajaan dan invasi ksatria-ksatria Eropa, rakyat mulai kecewa pada dunia mistis. Bisa jadi, karena raja tidak sesakti yang mereka pikirkan. Bisa jadi juga mereka sudah muak pada birokratisasi karena kontrol sosial ternyata begitu merugikan. Atau bisa pula, keyakinannya menjadi senjata paling mumpuni untuk menyerang dirinya sendiri; maksudnya, dari paham ketimuran mereka mempelajari bahwa pihak yang memiliki prestise dan kekuasaan, meskipun minoritas, harus diikuti. 

Masyarakat bosan dengan irasionalitas "menyebar kebaikan pada sesama agar diberkati Tuhan". Ditambah lagi, mereka yang kesulitan menyesuaikan pandangan dunia baru yang lebih materialistis, memilih memodifikasi semangat ilahi agar melahirkan nikmat rasional. Agama tidak lagi menjadi hal yang tercerai dari urusan duniawi, melainkan bagaimana caranya mereka mengkonstruksi adanya predestinasi tentang kesuksesan duniawi. Agama selamat dari pengecualian, lebih dari itu, justru ada produk sampingan kekuatan inti yang memupuk agama.

Jadi, jangan heran, konsep monoteisme yang telah dikonversi menjadi lebih universal, populer, dan sesuai keinginan justru melahirkan masyarakat materialis. Stratifikasi yang dibangun dari tingkat kenabian berubah jadi jumlah kepemilikan sumber daya material. Individu-individu yang akhirnya menguasai orang lain bukanlah orang asing ataupun individu yang mengisolasi dirinya, melainkan ia adalah orang yang lahir dari cara-cara hidup yang dibangun oleh kelompok manusia.

Saya tidak sedang mencoba mengatakan budaya mana yang lebih baik. Sebagaimana kapitalisme mengontrol diri dengan tidak menyia-nyiakan uang lewat amal cuma-cuma ataupun hidup mewah, dan lebih menyukai investasi, maka timur juga menghambat mobilisasi vertikal dengan menutup perkembangan status lewat keturunan. Dua-duanya sama-sama tidak menentang akumulasi kekayaan.

Di luar dari itu, saya melihat adanya gejala "kebosanan" dan kekecewaan kedua dari etika agama yang dibawa barat. Alih-alih mencari produk sampingan ketiga, masyarakat kian acuh tak acuh pada agama. Dari situ bercabang di bawahnya; masyarakat acuh tak acuh yang lebih menyukai pengusaha dibandingkan birokrat: kapitalisme borjuis mungil dalam kemasan keserakahan belaka. Satu lagi masyarakat acuh tak acuh yang tidak menyukai pengusaha sekaligus birokrat, tidak mengabdi pada agama, menolak pengejaran kekayaan harta dan benda.

Value judgment tidak lagi ada. Tak ubahnya hal-hal yang irasional,  rasionalisasi juga melahirkan produk-produk ekstasi baru. Perkembangan inovasi-inovasi sosial layu. Dahulu, pengendalian diri tetap ada ketika kapitalisme memupuk agama. Tapi, kini ketika agama dikecualikan, masyarakat terdorong ke arah materialisme konsumtif. Kita miskin identitas. Kita jadi orang barat yang sok timur. Atau rata-rata, jadi orang timur yang sok kebarat-baratan.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Terbuai Dalam Sistem

Ditulis tanggal 16 September 2012

Indoktrinasi di Sekolah (source: Renegade Broadcasting)


John Dewey, imam besar pendidikan Amerika Serikat di masa hidupnya ngotot mendengungkan pendidikan progresif. Pendidikan progresif dimaksudkan terpengaruh oleh ide-ide pragmatisme, dimana makna dari ide-ide hanya dapat ditemukan dalam tahap praktek―yang kemudian diakui sebagai hasil dari ide-ide. Jadi, untuk membidik sasaran tersebut, ia menawarkan konsep pendidikan progresif dimana teori pendidikan mendukung belajar aktif. Dia, selaku progresifis, menekankan bahwa gagasan harus diuji ke dalam bentuk eksperimen. Progresifis melihat sekolah sebagai komponen penting perubahan sosial.

            
Tipikal pendidikan yang dikritik John Dewey saat itu sangat menekankan metode disiplin, yang menunjukkan sekolah harus memberikan pengaruh positif pada masyarakat, namun berpegang pada prinsip-prinsip konservatif―sehingga bagi Dewey, sistem tersebut akan membingungkan jika ingin dikaitkan pada perubahan sosial. Padahal masyarakat selalu berubah silih berganti, dan dalam gagasannya, Dewey mengungkapkan bahwa pendidikan mencerminkan, menghasilkan, dan memandu perubahan sosial.
            
Seperti hal yang terjadi dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini (terutama perguruan tinggi), pendidikan tidak mempengaruhi tatanan dan perubahan sosial. Pendidikan hanya mencerminkan tatanan sosial dalam arti: siapa yang berpendidikan, ia memiliki hak prerogatif untuk mendominasi kelas ekonomi. Pendidikan hanya boleh terlibat membentuk masyarakat sejauh ia memiliki mentalitas, keyakinan, keinginan, dan tujuan yang sejalan dengan sistem kapitalis saat ini. Alhasil, jika setiap kudeta dari kelas ekonomi yang dominan membawa perubahan seperti perubahan moral, mental, dan budaya pada masyarakat, itulah perubahan yang dikirakan diciptakan pendidikan. Boleh dipercaya, sistem baru/tatanan sosial yang dibangun dari jerih payah kelas ekonomi dominan itu akan lebih dapat bertahan dan berkembang. Inilah jenis perubahan yang sering digambarkan sebagai “ayunan ke kanan”.

Penelitian, penerapan, dan pengembangan
            
Bagi Dewey, demokrasi memegang peranan penting dalam pengaplikasian ilmu ke masyarakat. Pendidikan harus berdiri pada prinsip dan kesempatan yang selaras dengan masyarakat.  

Bagaimanapun, apapun konsepnya, entah itu konservatif ataupun progresif seperti pemikiran Dewey, ajaran sistematis yang mereka usung sama artinya mempengaruhi pikiran siswa/i dengan memberikan kesan tertentu mengenai pandangan terhadap politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sedangkan, metode pengajaran yang lahir dari indoktrinasi tidak pernah benar-benar terbukti membawa efek perubahan sosial.

Nilai interpretasi keilmuan idealnya bergantung sepenuhnya pada karakterisasi dan pengalaman dan persuasi koresponden sendiri. Bukan lewat permainan teks-teks dalam kehidupan sosial kontemporer yang tidak refleksif. Hal itu justru membuat kesempatan eksperimen gagasan dan ruang aktif partisipasi menjadi semakin sempit. Di titik akhir, ide-ide John Dewey, yang tadinya bicara soal “pilihan suakarela” untuk menyatukan seseorang/sesuatu ke masyarakat jadi terpental. Signifikansi praktek dalam satu dekade jatuh ke dalam suatu bentuk otoritatif.

Implikasi negatif
            
Pendidikan dalam tafsir dua pihak yang berbenturan di atas, melahirkan masyarakat muda ortodoks modern, yang memang berasal dari apa yang disebut “kanan”. Sikap-sikap ini terlihat jelas dari: pertama, gegap gempita terhadap budaya barat yaitu pendidikan sekuler; kedua, pandangan terhadap politik nasionalisme, yaitu Zionisme dan negara Israel berkenaan dengan tanah air portabel mereka.
            
Dengan antusiasme yang agak berkurang dari era sebelumnya, mereka masih menghadiri kuliah, semata-mata karena terpengaruh paham utilitas di Amerika: membludaknya kebutuhan gelar sarjana, bukan kesarjanaannya.
            
Di satu sisi, berlainan arah dengan mereka, masih ada pemuda/i yang dapat berpikir fleksibel, namun bersyarat. Masing-masing dari mereka menganggap perkembangan bisa cepat terwujud jika mereka se-‘agama’ (sama-sama kiri, atau sama-sama kanan).

Keduanya mungkin hidup bersama-sama, memiliki kesamaan yang banyak, tapi pada saat yang sama mereka jelas terpisah. Masing-masing memiliki cara hidupnya sendiri, perilakunya sendiri, dan itu mereka transmisikan dari sekolah, ruang-ruang informal di rumah, dan di jalan, kemudian mengakulturisasikan semuanya agar dapat saling melengkapi dan memperkuat orang-orang di kelompoknya. Tidak masalah, ini kealamian yang tidak terhindarkan.

Semakin saya belajar menjadi mereka, semakin saya yakin bahwa memang, saya harus belajar sendiri dan membentuk masyarakat sendiri. Jadi saya harus melalui fase mimesis untuk dapat mencari keunikan. Suatu tradisi ganda intelektual. Motif lain yang memicunya, kita kehabisan ide tentang “barang-barang baru” yang bisa diterima saat ditawarkan ke masyarakat makmur.
            
Sekarang, bahkan interpretasi yang tidak berangkat dari persuasi masyarakat dianggap wajar dan dibiarkan merajalela. Ia mungkin mampu memetakan sumbu, tapi membuat praktek jadi berdiri sendiri dan bertentangan dengan tulisan-tulisan normatif. Sementara kata-kata kita masuk ke telinga-telinga tuli, dan tidak memberi dampak apa-apa, sekalipun itu kata-kata yang paling ilmiah.
            
Apa mau dikata, kita jadi mengkambinghitamkan metode repertoar yang telah digariskan komponen pendidikan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada yang meminta akurasi, kita kemudian kebingungan karena terjebak antara dua sisi: di bangku pendidikan kita mengenali yang akurat/logis pasti tekstual, sedangkan kita tidak bisa serta-merta mengabaikan pengalaman-pengalaman realistis yang telah mengkarakterisasi diri. Apatah yang logis bagaimanapun selalu lebih dapat dipercaya daripada yang tidak masuk akal, meskipun itu realistis.
            
Perubahan yang cenderung dipaksakan itu, pada akhirnya tidak selamanya dapat membuat masyarakat bergerak ke arah yang benar, atau bisa jadi mengarah ke deformasi, sehingga, selaku orang berpendidikan, kita tidak bisa terus mempengaruhi masyarakat. Metode ilmiah dan pengajaran harus sesuai dengan kekuatan budaya supaya dapat menyebabkan perubahan sosial. Jika kebiasaan itu sifatnya statis, maka baiknya pengetahuan teoritis bersifat dinamis, sedangkan ide-ide alamiah seharusnya menekan pada kesimpulan logis. Dengan ini diharapkan pandangan kita akan berubah, sehingga dapat memeperluas konsistensi dunia seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Perombakan Kebiasaan Kerja dan Budaya Intelektual

Ditulis tanggal 4 Juli 2012

Kapitalismus (source: Socialism or Your Money Back)

“Waktu mengubah segalanya – kecuali sesuatu di dalam diri kita yang gagap akan perubahan.” – Thomas Hardy

Orang-orang yang mengenyam bangku perguruan tinggi senantiasa menganggap dirinya berada di puncak hierarki dunia keilmuan. Mereka mengklasifikasikan diri sebagai kelompok elit yang punya otoritas untuk melakukan penilaian terhadap isu-isu moral.

Tapi seperti halnya toga mereka yang sengaja dibuat mengatung tidak menyentuh tanah, wacana akademik yang didapatkan tidak siap dan tidak mampu menyeimbangi realitas sosial yang dirasakan masyarakat. Mulai dari perselisihan ekonomi hingga taraf permusuhan tradisional, hanya diselesaikan melalui argumen normatif dan analisis skenario ala kadarnya – atau mungkin dengan omong kosong idealisnya yang cenderung metafisis.

Pertanyaan seputar kompleksitas hanya diajukan kepada para master, orang-orang dalam lingkar sosial yang sama, yang semakin menjauhkan mereka dari suara-suara orang awam dan gagal mengingat masyarakat miskin. Jalan aman yang dipilih membuat elit kecil ini tidak berdaya melawan kejahatan.

Saya belum pernah melihat demoralisasi separah ini, dimana dinding-dinding keegoisan dibangun begitu tinggi.

Tantangan baru, rencana reformasi sistem
Kaum intelektual akhir-akhir ini terlalu takut untuk keluar dari belenggunya, takut menantang konsekuensi − bahwa ketika mencoba bersentuhan dengan realitas sosial, wacananya menjadi makin tidak stabil.

Tapi ini adalah suatu bentuk kepengecutan, dimana seorang manusia melarikan diri dari konsekuensi / tindakannya sendiri. Elit-elit kecil harus berkaca tentang bahaya kestabilan pada krisis Eropa Barat di abad pertengahan.

Teori kuno ternyata tidak mampu memprediksi keruntuhan demografi Eropa. Musim dingin dan kolonisasi internal membawa bencana kelaparan menahun (1315-1317). Perekonomian Eropa terpukul ketika negara adidaya Inggris tidak mampu mengimpor gandum. Krisis membawa kemandekan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran. Dengan kata lain, kestabilan sama dengan kebuntuan.

Lain cerita dengan para pedagang. Alih-alih berladang seperti petani atau berpesta seperti para tuan dan nyonya, pedagang memilih berlayar ke daerah Eropa dan Mediterania. Kota di sepanjang rute perdagangan menjadi makin kaya dan mandiri, terlepas dari belenggu feodal.

Pedagang jadi lawan utama kaum feodal, berkongsi dengan bangsawan dan memberontak kepada tuan-tuan yang menjengkelkan, menjadi pionir gerakan massa di seantero Eropa pada abad 14 dan 15. Terbukti, kota-kota perdagangan menjadi “wilayah bebas”, satu-satunya daerah yang dapat memilih walikotanya sendiri secara demokratis pada saat itu.

Tersangkut dalam kestabilan
Kestabilan hanya menciptakan ketegangan yang membuat kita tidak berani menikmati hasil kerja, dan ketegangan membuat kita terus-terusan merintih memikirkan kemalangan hidup.

Jadi, perlawanan terhadap keteraturan adalah sesuatu yang penting, sebagai jendela menuju masa depan dimana kita dapat menentukan nasib sendiri – masyarakat demokratis, bukan masyarakat anarkis yang sepenuhnya tak berpemerintahan.

Saya tidak sedang mendorong mahasiswa agar disiplin seperti puritan, yang memberontak untuk menciptakan dunia yang sempurna dengan perasaan superioritasnya – karena kaum intelektual asalnya dari orang yang biasa-biasa saja, bukan manusia super. Mereka harus berani untuk hidup. Mereka bukan “tukang melarang”, pikirannya harus terbuka sepanjang waktu, karena intoleransi adalah faktor keguguran gerakan mahasiswa.

Mahasiswa tidak dapat hidup di bawah semangat intelektualnya sendiri, karena mereka lahir dan tumbuh dari tanah yang sama, tanah bernama masyarakat. Kekakuan dalam berwacana akan membuat mereka kehilangan pegangan erat pada masyarakat, dan ini adalah awal dimana mahasiswa kehilangan kontrolnya, yang menjadikan eksperimen-eksperimen akademik yang berguna bagi masyarakat, serta merta lekas mati.

Etika kerja “populer” pelajar harus dirombak ulang. Kaum intelektual bukanlah komoditas bernama “sarjana” ataupun “master” yang merelakan dirinya bebas dijual dan dibeli di pasar bernama bursa tenaga kerja. Sudah saatnya permainan kemunafikan ini dihentikan.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top