NikenSupraba.com - Kumpulan Artikel Niken Supraba: Perempuan

NikenSupraba.com

media sosial

Kesetaraan Gender Membuka Pilihan

Ditulis tanggal 8 Maret 2017


Sumber gambar : Pinterest



Ahli hukum Islam mengklaim, dan seluruh Muslim di dunia percaya, bahwa keadilan dan kesetaraan merupakan nilai-nilai hakiki dan prinsip-prinsip utama dalam Islam dan syariah. Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam memandang keadilan sebagai keutamaan. Tuhan berfirman dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan […]” (QS 16 : 90)

Dan dalam ayat lainnya:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah […]” (QS 5 : 8)

Tidak seorang pun membantah bahwa keadilan dan kesetaraan berada dalam satu koridor yang sama, terutama sejak Aristoteles menetapkan keadilan sebagai bentuk kesetaraan proporsional. Jika keadilan dimaknai sebagai kesetaraan proporsional, bersikap adil berarti tidak mengklaim keunggulan kedudukan seseorang atau suatu bangsa atas lainnya. Begitu pula halnya dengan harta dan gender.

Tuhan memerintahkan umat-Nya supaya berlaku adil, akan tetapi banyak yang mengeluhkan bahwa keadilan dan kesetaraan masih belum tercermin dalam undang-undang yang mengatur mengenai hubungan gender dan hak-hak perempuan dan laki-laki, dan undang-undang tersebut justru merupakan produk dari negara-negara yang mengklaim berlandaskan syariah.

Manal Al-Sharif, seorang perempuan asal Arab Saudi yang memposting video dirinya sedang mengemudi di Khubar, Arab Saudi, justru dipenjara dengan dasar mengendarai mobil tanpa Surat Ijin Mengemudi (SIM). Secara sepintas, mungkin tindakan pihak berwenang Arab Saudi dapat dibenarkan. Akan tetapi jika ditelisik lebih dalam, persoalannya bukanlah mengenai pihak berwenang yang menangkap seseorang mengemudi tanpa SIM, melainkan kondisi di Arab Saudi di mana tidak ada satupun peraturan perundang-undangan yang mengijinkan perempuan untuk mengemudi. Tidak seperti di negara-negara lain di mana seseorang tidak memiliki SIM karena belum lolos tes mengemudi, Manal tidak memiliki SIM karena satu alasan yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan mengemudi: karena ia seorang perempuan.

Kasus serupa juga menimpa Souad Al-Shammary. Souad adalah seorang janda dengan gelar di bidang kajian Islam di Universitas Ha’il sekaligus feminis liberal. Souad dipenjara karena memposting foto beberapa pria berjenggot: Yahudi ortodoks, hipster, komunis, khalifah Ottoman, syech, dan seorang Muslim. Dalam kicauannya, ia berpendapat bahwa jenggot bukan indikator seseorang itu suci ataupun Muslim. Souad memperoleh hukuman kurungan selama 3 (tiga) bulan dengan tuduhan menghasut publik.

Tekanan pemerintah tidak membuat Souad gentar. Dia tetap menjalankan misinya: menuntut penghapusan aturan perwalian laki-laki atas perempuan. Tidak sedikit yang justru pada akhirnya membenci Souad karena gagasan revolusionernya. Pandangan radikal Feminisme dianggap ancaman serius bagi budaya Islam konservatif di Arab Saudi.

Di luar dunia Arab, kajian gender di dalam ruang-ruang akademik sedang berkembang, khususnya di wilayah kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial. Kajian gender membahas mengenai gender dan seksualitas dari sudut pandang feminis, dan berawal dari tahun 1960-1970an saat gerakan-gerakan mahasiswa, hak-hak sipil, dan perempuan mulai bermunculan.

Meskipun kajian ini memiliki fokus utama pada gender dan sekskualitas, akan tetapi cukup mempengaruhi diskursus terkait penafsiran terhadap paradigma sosial, ekonomi, dan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki, baik dalam masyarakat modern ataupun pra-modern.


Sejarah di Balik Gerakan Kesetaraan Gender

Gender berakar dari bahasa Latin genus yang berarti “ras, keturunan, keluarga; jenis, pangkat, bangsa; spesies.” Pada awal kemunculan istilahnya dalam peradaban barat, dalam bahasa Inggris gender adalah representasi dari “seksualitas manusia.” Pada tahun 1963, feminis merujuk gender sebagai atribusi sosial sebagaimana kualitas biologis, definisi yang kita kenal hingga hari ini.

Feminisme memiliki sejarah panjang nan kelam. Tahun 1963 memang merupakan tahun kebangkitan gerakan perempuan, akan tetapi gerakan itu didorong oleh kemunculan beberapa berita duka dari ikon-ikon perempuan di media. Pada tahun itu, Betty Friedan menulis buku The Feminine Mystique, yang menceritakan bagaimana perempuan di era tersebut terjerumus ke dalam penyalahgunaan obat tidur dan alkohol. Satu tahun sebelumnya, ikon keperempuanan bernama Marilyn Monroe meninggal akibat overdosis. Kemudian Sylvia Path bunuh diri di London pada tahun 1963. Gloria Steinem, seorang jurnalis perempuan, menceritakan kisahnya saat mengikuti seleksi sebagai kelinci majalah Playboy di mana dirinya benar-benar diperlakukan layaknya seekor kelinci.

Tidak ada yang tahu persis motif bunuh diri Path dan (mungkin) Monroe, akan tetapi jika membaca kisah Friedan dan Steinem, besar potensi Path dan Monroe bunuh diri karena merasa frustrasi sebagai perempuan di kala itu, di saat seharusnya mereka berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan merdeka.

Kehidupan pra-1963 tidak mengakomodir itu sama sekali. Pemisahan tegas antara dunia perempuan dan dunia laki-laki masih kental, antara “privat” dan “publik,” di mana ranah privat dikonstruksikan sebagai dunia feminin sementara ranah publik dikonstruksikan sebagai dunia maskulin. Artinya, kehidupan perempuan dibatasi dengan urusan makanan, rumah, hobi, budaya, dan pakaian (Tabel 1).

Tabel 1 : Kewajiban perempuan dalam ruang privat
Ruang Privat Stereotipe Mengenai Kewajiban Perempuan
Makanan Perempuan bertugas memasak di dapur
Rumah Perempuan bertugas memastikan rumah dalam keadaan bersih dan bebas debu
Hobi Di luar kewajiban mengelola rumah tungga, perempuan dapat melakukan aktivitas lain yang disebut sebagai hobi. Akan tetapi hobinya tidak akan memberikan kontribusi apapun bagi kehidupan bermasyarakat, hanya sebatas hiburan bagi dirinya sendiri
Budaya Perempuan bertugas mengajarkan adat-istiadat kepada anak
Pakaian Perempuan diwajibkan mengenakan pakaian yang indah supaya selalu tampak cantik


Akibat tidak tersentuhnya ranah publik oleh “tangan-tangan” perempuan, sulit bagi perempuan untuk berperan aktif membentuk identitas politiknya. Identitas politik hanya bisa dibentuk secara berkelompok, dan mustahil bagi perempuan untuk berpartisipasi di dalam proses pembentukannya karena terasing di dalam corak pernikahan yang mengekang. Sebaliknya, dalam upayanya memperoleh identitas politik, perempuan harus berperilaku sebagaimana diharapkan masyarakat demi mendapat pengakuan sebagai bagian dari suatu identitas politik, bahkan jika masyarakat tersebut tidak menjunjung tinggi hak-hak perempuan.


Gender sebagai Arena Perjuangan Liberal dan Konservatif

Perjuangan perempuan dalam memperoleh kemerdakaan atas jiwa dan tubuhnya mulai membuahkan hasil ketika satu-persatu perempuan mengenyam bangku pendidikan, bahkan hingga strata tertinggi. Pendidikan membuka pikiran perempuan bahwa ada dunia yang jauh lebih luas daripada rumah, tempat ia dipaksa beraktivitas dan menua. Pada kisaran tahun 1993-1996, perempuan sangat aktif terlibat dalam ruang-ruang publik, baik itu sebagai aktivis maupun sebagai politisi.

Fenomena serupa tidak terkecuali terjadi pula di negara-negara Timur Tengah.

Meskipun perempuan Muslim di Arab Saudi dikekang oleh peraturan-peraturan yang merenggut kebebasannya, harus diakui bahwa kaum terpelajar Muslim serta organisasi bawah tanah perempuan memiliki pandangan yang liberal terkait gender. Di India, kelompok ini beradu kekuatan dengan masyarakat Muslim konservatif sebagaimana peristiwa kerusuhan Gujarat tahun 2002.

Hingga hari ini perempuan masih berjuang. Hanya saja mereka tidak lagi sendirian. Kelompok liberal (sekalipun terdapat beberapa anggota laki-laki) menyadari bahwa isu gender dapat digunakan sebagai kendaraan untuk mengganti identitas politik yang lama dengan versi lebih baru. Tidak ada kisruh yang lebih alot antara liberal dan konservatif, selain daripada diakibatkan oleh isu-isu gender, yang menjadikan gender sebagai arena perjuangan antara 2 (dua) kubu yang membawa identitas politik berseberangan.

Reformasi di bidang gender dapat mengubah kondisi masyarakat secara keseluruhan. Bayangkan dunia di mana perempuan tidak dikekang di dalam rumah atau dihalang-halangi untuk berkarir. Sementara laki-laki lebih dapat mengungkapkan perasaannya, menunjukan sisi emosionalnya, dan lebih dekat ke anak-anaknya. Dengan perubahan semacam ini, manusia tidak lagi hidup dalam lingkungan sosial yang mengekang. Manusia memiliki lebih banyak pilihan, termasuk mengerjakan peran-peran sosial yang semula dilekatkan pada jenis kelamin perempuan atau laki-laki.


► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

7 Alasan Kenapa Laki-Laki Kelihatan Ganteng

Ditulis tanggal 14 Mei 2015

Tom Cruise (source: World's Top Most)

Belakangan ini, saya sering sekali menghadapi orang-orang yang mudah sekali menganggap perempuan layaknya obyek “seni” dan ditimbang-timbang sisi estetikanya. Baik itu warna kulitnya, bentuk badannya, model alisnya, atau juga cara makannya (contoh: teman saya ada yang menganggap perempuan yang makannya rakus itu kelihatan semakin cantik). Hal ini ternyata tidak hanya menimpa para laki-laki yang belum tercerahkan akan cara-cara memperlakukan perempuan sebagai subyek, tapi juga menimpa kakak tingkat saya Dhani yang notabene sudah cukup familiar dengan gagasan-gagasan feminisme. Menurut dia, dia mudah aroused terhadap perempuan kurus dan tepos atas bawah.


Kemudian saya jadi mikir: kalau mereka bisa memperlakukan perempuan seperti itu, kenapa saya tidak? Akhirnya saya putuskan untuk menulis postingan sampah ini.


Selain demi motif “balas dendam”, saya juga ingin sesekali menulis hal yang tidak serius. Karena ini sudah dekat tengah tahun maka hawa-hawa piknik sudah makin terasa.


Langsung saja.


Kenapa ada laki-laki yang kelihatan ganteng? atau Kenapa aku kok ganteng banget? Ini dua pertanyaan yang seringkali berkecamuk di benak orang-orang. Kalau dia laki- laki dan gebetannya lebih memilih laki-laki lain, maka dia sering merasa kalah ganteng. Kalau dia perempuan dan punya laki-laki yang dikagumi diam-diam, maka dia sering mempertanyakan sendiri dalam hati dimana sisi istimewa (atau sisi kegantengan) laki-laki itu yang membuat dia bisa jatuh cinta.


“Ganteng” sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai: “Elok, Gagah”. Tapi saya tidak ingin terlalu baku, karena toh banyak juga perempuan yang memuji laki-laki ganteng, padahal secara fisik sebenarnya biasa-biasa saja. Jadi dua-duanya akan saya bahas.


Berikut alasan kenapa laki-laki kelihatan ganteng:

  1. Ibunya cantik

Kok cuma Ibunya? Kenapa bukan Bapaknya?

Jadi begini… Kita tahu di televisi sedang ramai serial Korea yang jelas-jelas menampilkan laki-laki yang tampak “cantik”. Semenjak banyak serial Korea di TV dan jadwal manggung boyband Korea semakin rutin di Indonesia, maka sejak itulah paradigma mayoritas perempuan Indonesia berubah tentang definisi “kegantengan”. Bagi generasi Ibu saya, ganteng itu seperti Richard Gere, yang bentuk rahangnya tegas dan wajahnya nyaris kotak. Juga memiliki kerut di ujung mata yang memberikan kesan mature. Generasi setingkat di bawah Ibu saya menganggap bahwa ganteng itu seperti Ari Sihasale, yang selalu kelihatan segar, punya brewok, dan dada bidang. Generasi kita, suka sama laki-laki imut. Saya pun jadi mengerti kenapa para abege yang menonton film X-Men lebih mudah kecantol dengan James McAvoy atau Nicholas Hoult daripada Michael Fassbender. Juga membuat saya tahu kenapa beberapa perempuan lesbian yang berpenampilan tomboy biasanya kelihatan ganteng.

  1. Rapi dan Bersih

Bentuk wajah atau postur tubuh yang simetris merupakan anugerah yang harus senantiasa dirawat. Banyak laki-laki yang punya bakat ganteng, tapi sukanya pakai kaos saringan tahu, rambutnya ketombean, atau badannya bau─sehingga kegantengannya tidak terpancar, kalis oleh kebauan atau penampilannya yang letrek. Kalau sudah begini, biasanya perempuan pun segan melirik karena takut kena gendam dan dompet atau HP-nya raib.


Di sisi lain, ada juga laki-laki yang biasa saja, tapi jadi kelihatan ganteng karena penampilannya necis, badannya wangi. Tahu ‘kan, jatuh cinta itu bisa dimulai lewat aroma tubuh? Nah, begitulah kronologinya kenapa laki-laki yang rapi dan bersih akhirnya kebagian jatah atas predikat ganteng. Akan lebih bagus lagi kalau seorang laki-laki itu sudah punya bakat ganteng dan kegantengannya dirawat. Tentu semakin sulit bagi para perempuan untuk menolaknya.

  1. Bisa nukang

Saya merasakan sendiri bahwa makin ke sini, semakin sulit menemukan laki-laki yang ganteng dan bisa nukang. Tahu sendiri, di Indonesia, upah buruh kasar itu cenderung murah: hanya demi uang Rp 100 ribu buruh itu rela melakukan pekerjaan berbahaya atau membetulkan pagar rumah. Hal ini mengakibatkan sebagian besar anak laki-laki generasi saya pada masa remajanya tidak merasakan diajari Ayahnya menggergaji kayu, memukul paku, atau membetulkan mesin kendaraan yang bermasalah.


Kalau si perempuan sangat hobi pada kegiatan alam, tentu laki-lakinya nggak bisa terus-terusan mengandalkan Mang Udin, dong? Apalagi kalau kalian berdua sedang berada di tempat terpencil di mana sulit menemukan orang yang bisa membantu kalian dalam kegiatan alam yang melibatkan keterampilan menukang. Maka dari itu, keterampilan menukang biasanya memberikan nilai plus sendiri di mata perempuan-perempuan tertentu. Perempuan itu jadi tahu, bahwa dia selalu bisa mengandalkan kamu dalam hal- hal yang tidak dia mengerti.

  1. Karismatik

Punya cowok, tapi tiap ditanya apa-apa jawabnya serba ‘nggak tahu’? Diajak duduk bareng orangtua tapi ngerasa minder dan terbata-bata tiap ngomong? Atau cowok yang ikutan panik di situasi genting, yang bahkan tingkat kepanikannya lebih parah dari kamu? Aduh, nggak banget.


Di usia yang hampir menginjak 23 tahun, saya mulai belajar untuk pacaran dengan serius, dan pacar itu adalah calon dari cerminan diri kita kalau syukur-syukur nanti sampai ke pelaminan. Sementara, pacarmu itu tulalit, nggak punya aspek kepemimpinan dalam dirinya, nggak punya kemahiran di bidang apapun, atau bahkan melakukan perbuatan memalukan di depan keluarga besar. Wah, mau seganteng apapun fisiknya, kalau tidak punya sisi karismatik secuil pun tentunya hanya akan cocok untuk digandeng nemenin ke kondangan teman, tidak untuk menjalani kehidupan bersama, apalagi menua bersama.

  1. Brewokan

Ini adalah poin pesanan, alias pesanan dari diri saya sendiri. Untuk suatu alasan, saya selalu menganggap pria brewokan itu ganteng. Tapi, brewok yang nempel ya, bukan brewok ala akhi-akhi yang lebih pantas disebut serabut menjuntai daripada brewok. Memang tidak semua laki-laki struktur rahangnya pas untuk ditumbuhi brewok, hanya umat-umat terpilih lah yang bisa kelihatan semakin ganteng setelah menumbuhkan brewok. Ini bukan karena menambahkan kesan macho, tapi lebih kepada memanjakan indera peraba. Tentu sangat menyenangkan ketika dicium keningnya dan merasakan sensasi geli-geli enak di sekitar hidung. Tapi ini perasaan saya saja sih… Setiap orang punya preferensi masing-masing.

  1. Anunya besar

Apa maksudnya dengan anunya? Maksud saya adalah mimpinya. Mimpinya besar.


Dia punya visi yang terkonsep rapi tentang masa depan. Lebih-lebih jika orangnya ambisius dan bisa secara mandiri mendorong dirinya untuk dapat mencapai cita-citanya (kalau punya mimpi besar tapi leda-lede / malas-malasan ya sama aja bohong).  Laki-laki semacam ini yang biasanya dapat kita andalkan di situasi-situasi terburuk: ketika kita sedang stress atau merasa down dengan kehidupan─karena dia yang akan menanamkan optimisme kembali di dalam diri kita. Impian-impian besar membuat auranya terpancar positif, dan menjadikan dia kelihatan ganteng.

  1. Karena dia laki-laki satu-satunya di lingkungan sosial

Ini adalah penyebab alternatif kenapa laki-laki itu kelihatan ganteng, soalnya yang lainnya cantik. Rasanya tidak perlu dijelaskan lagi.


Ya sudah, segini dulu. Maaf jika tulisan ini terkesan menggeneralisasi, namanya juga postingan sampah. Semoga agak bermanfaat!




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Prostitusi dan Nama-Nama Lain

Ditulis tanggal 23 Juni 2014

Ancient Greece Prostitution (source: General and Hellenic History Subjects)

I’m back on dry land once again

Opportunity awaits me like a rat in the drain

We’re all hunting honey with money to burn

Just a short time to show you the tricks that we’ve learned.”

─ Sweet Painted Lady by Elton John


Herodotus pernah mencatat jejak-jejak peninggalan praktik prostitusi kuno. Di sepanjang tepian sungai Efrat dan Tigris, terdapat banyak kuil “rumah surga” yang didedikasikan oleh masyarakat politeis saat itu kepada Dewa. Ada satu masa dimana para perempuan Babel dipaksa untuk duduk di dalam Kuil Aphrodite. Kemudian seorang pria asing melempar uang kepada salah satu di antaranya seraya berkata, “Aku mengundangmu demi nama Mylitta (Aphrodite)”, dan diajak lah ia berhubungan intim di luar kuil. Perempuan itu tidak boleh menolak baik ajakan maupun uang pemberian si pria. Malahan, keberadaan uang itu yang meninggikan derajat kesucian praktik prostitusi suci tersebut (Herodotus, 1890).


Setelah periode Babilonia, prostitusi terus berlanjut dan terjadi di berbagai belahan dunia. Mesoamerica dengan penari erotisnya, rumah bordil di Romawi Kuno dan Jepang, dan tawaif di India. Di abad pertengahan, prostitusi dilegalkan sebagai upaya mencegah tindak kejahatan yang lebih keji seperti perkosaan dan sodomi. Pada abad ke-18, sejarah Ottoman mencatat tradisi mandi di Turki, dimana para laki-laki muda menggunakan jasa pijat tradisional dan dibuat hingga orgasme.


Baru kemudian pada abad ke-20, prostitusi mengambil peran dalam momentum globalisasi dan pariwisata. Para pria dari negara maju usia kisaran 20 hingga 50 tahun mengunjungi sejumlah tempat di Asia dan Afrika bermotifkan wisata seks. Potensi ekonomi yang dimiliki bidang prostitusi memicu beberapa kalangan untuk melibatkannya dalam suatu wadah yang terorganisir dengan baik. Semenjak itu, keberadaan prostitusi cukup diperhitungkan sebagai salah satu ladang bisnis.


Prostitusi adalah bisnis bernilai miliaran dollar yang berhasil mempekerjakan jutaan perempuan di dunia. Human Rights Watch mencatat terdapat sekitar 20 juta pelacur di India. Selanjutnya International Labor Office memperkirakan bahwa di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand terdapat sekitar 0,25 persen hingga 1,5 persen populasi wanitanya bekerja sebagai pelacur. 80 persen dari 2,5 juta korban perdagangan manusia adalah perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan untuk kepentingan bisnis prostitusi.


Ketika terjadi krisis moneter serius di Asia Tenggara, banyak perempuan direkrut agar bergabung dalam industri seks (Raymond, 2003). Implikasinya, di tahun 1998, International Labor Organization (ILO) memberi rekomendasi agar saham ekonomi di negara Asia Tenggara meningkat: adanya pengakuan ekonomi berupa perpajakan dan regulasi terhadap industri seks semacam red light district. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh sumbangsih 2 hingga 14 persen dari sektor seks kepada Produk Domestik Bruto (Lim, 1998). Kebijakan tersebut diharapkan menjadi wujud pembenaran peningkatan keikutsertaan perempuan ke dalam pekerjaan seks dalam rangka menurunkan angka pengangguran dan peningkatan modal negara melalui pengenaan pajak terhadap pendapatan pelacur. Kebijakan ini sebelumnya diterapkan di Amerika Latin dan Belize.


Dibanding bidang bisnis lainnya, prostitusi memiliki fitur yang tidak biasa: ia tetap dibayar meskipun keterampilannya rendah, merupakan industri padat karya, dan, beberapa menambahkan, perempuan lebih mendominasi dari segi jumlah.


Mahar sebagai Alat Tukar

Mesir adalah negara yang berdekatan dengan wilayah pertambangan Teluk Persia. Pada hari libur, banyak “raja minyak” Arab Saudi mengunjungi Mesir untuk rekreasi. Ada juga orang-orang Saudi yang menyambangi tanah Mesir berniat mencari istri.


Sisi negatifnya, praktik perkawinan beda kebangsaan ini tidak berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Perempuan-perempuan Mesir dipinang pada usia yang cukup dini, yakni kisaran 17 tahun (seharusnya 25 tahun, jika suaminya orang asing). Di samping itu, pihak keluarga perempuan yang rata-rata berlatarbelakang keluarga miskin, mematok mahar hingga 65 ribu Pound Mesir atau setara dengan 100 juta rupiah, yang nantinya akan diberikan kepada pihak keluarga.

Dikarenakan batas usia perempuan belum memenuhi usia pernikahan yang sah, sebagai alternatif perempuan tersebut dinikahkan secara adat “Urf”. Maka ketika suaminya pulang kembali ke Arab Saudi, sang istri terbengkalai bersama anak-anak, dan tidak punya kewenangan untuk menuntut hak perlindungan keuangan kepada suaminya. Hanya 1 dari 200 perkawinan antara perempuan Mesir dengan turis dapat bertahan lebih dari beberapa bulan (Michael, 1999).


Dalam kasus ini, kedudukan mahar di perkawinan disalahgunakan sebagai alat transaksi yang dipakai dalam perdagangan perempuan. Tiadanya hak untuk mengajukan kompensasi, perlindungan terhadap keuangan, dan pengakuan di mata hukum adalah efek-efek yang biasa dirasakan oleh pelaku prostitusi (baik terselubung maupun terang-terangan).


Berbeda dengan Romawi dan Yunani. Hubungan erat antara dos (padanan Mahar) dan seluruh peraturan perundang-undangan mengenai kehidupan pernikahan, baik untuk mengamankan posisi suami maupun istri, adalah kedudukan dos sebagai atribut yang membedakan istri dengan selir, yang tidak memiliki klaim lebih lanjut terhadap suaminya sehingga kompensasi dan keamanan baginya bukanlah hal yang wajib (Simmel, 1978).


Berdasarkan aturan donatio propter nutias di hukum Romawi Timur, dos hanyalah wujud kesukarelaan atau hadiah, bukan suatu alat pembayaran dalam perikatan. Ini dikarenakan, bagi mereka, uang tidak pernah akan menjadi perantara layak dalam sebuah hubungan pribadi yang permanen dan berdasarkan ketulusan. Uang hanya berfungsi baik, secara obyektif dan simbolis, apabila digunakan untuk membeli dorongan sesaat. Artinya, dimana uang dilibatkan, hubungan emosional akan dikecualikan.


Di samping itu, categorical imperative Kant menganjurkan untuk tidak pernah menggunakan manusia sebagai sekedar sarana kecuali menerima dan memperlakukan mereka, sebagai tujuan untuk kebaikan mereka sendiri (Paton, 1971). Di dunia prostitusi, perempuan menyerahkan kualitas dirinya yang paling pribadi dan paling intim. Prostitusi bagaimanapun yang nantinya berdampak merendahkan nilai kepunyaan perempuan, sehingga fungsi uang dalam hal ini gagal menimbulkan efek “kelegaan”. Setidaknya berdasarkan pendapat umum, perempuan bernaung di bawah bangunan tanda, dimana kecenderungan dan tindakan mereka selalu dikaitkan dengan segala emosi, kehendak, dan pikirannya. Sehingga, dalam relasinya dengan uang, prostitusi juga akan dikecualikan karena terdapat ketidakseimbangan hubungan timbal balik yang tidak profesional.


Antara Perkawinan dan Prostitusi

Beberapa dari bentuk-bentuk perilaku dalam sebuah hubungan di antaranya adalah masokisme, kepatuhan, dan penyerahan. Masokisme dan kepatuhan berada dalam satu golongan, yaitu golongan menyimpang yang di dalamnya meliputi distorsi, kerusakan, penyelewengan, kekerasan, dan kekejaman. Masokisme dan kepatuhan adalah gejala umum berlaku dalam prostitusi. Maskosime sangat abusive, dan kepatuhan sangat patriarkis.


Sedangkan perkawinan, berada dalam bentuk penyerahan. Menyerah disini tidak ada hubungannya dengan mengibarkan bendera putih; bahkan, daripada memberi konotasi pada kekalahan, istilah “menyerah” justru memberi kualitas pembebasan dan perluasan diri sebagai konsekuensi dari tindakan menurunkan perilaku defensif (Ghent, 1990). Dengan kata lain, perkawinan hanya bisa disebut perkawinan apabila ia membebaskan. Tidak mengekang.


Prostitusi bukanlah pekerjaan, karena seks bukan pekerjaan. Prostitusi bukanlah obyek bisnis, karena bisnis harus dilandasi alasan dan akibat-akibat profesional. Prostitusi tidak, dan tidak akan pernah sama dengan perkawinan.





► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Aksi Afirmatif dalam Wujud Perang Budaya

Ditulis tanggal 21 April 2014

Aksi Afirmatif dalam Wujud Perang Budaya
Koersi selesai, kemudian tercipta gangguan. Kini minoritas terakomodasi tirani yang lembek. Ruang-ruang yang tadinya rapat terbuka lebar bagi golongan kecil. Aksi afirmatif, orang-orang menyebutnya. “Gangguan” yang tadinya dimaksudkan mengambil bagian dalam distribusi kekuasaan keluar dari pakem-pakem alamiah. Sederhananya, dalam aksi afirmatif, gangguan ini terkesan dibuat-buat.  Tapi mungkin saja, lahir permasalahan serius darinya.
            “Kebebasan saja tidaklah cukup... Kita tidak membebaskan seseorang, yang, selama bertahun-tahun, telah tertatih-tatih dalam pasungan, kemudian membawanya ke garis start sebuah perlombaan dan berkata, ‘Kau bebas bersaing dengan yang lain.’ lantas percaya begitu saja bahwa tindakan kita benar-benar adil.”
            Kata-kata itu terlontar dari mulut presiden ke-36 Amerika Serikat, Lyndon B. Johnson, pada sebuah kuliah umum di Howard University.
            Johnson, dalam karir kepresidenannya sebenarnya tak berbuat banyak bagi kaum minoritas. Yang menonjol malahan pendahulunya yang tertembak mati dalam sebuah pawai, John F. Kennedy. Setelah beberapa tahun tertembaknya presiden asal Demokrat itu, seorang pejuang hak-hak sipil negro-Amerika mengalami nasib serupa.
             Suara Johnson itu baru menjadi argumen perdebatan empat puluh tahun mendatang, dalam momentum kasus Grutter melawan Bollinger. Aksi afirmatif yang lama diupayakan, runtuh sesaat penentang preferensi berbasis ras menilai aksi afirmatif malah antagonis terhadap klausula Equal Protection. Sampai kemudian Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan perbedaan pendapat itu dapat diatasi jika kepentingan negara fokus pada keragaman.
            “Membuka gerbang kesempatan saja tak cukup...” tegas Johnson. Minoritas lebih butuh daya tawar-menawar non-formiil, yang dilegitimasi oleh negara yang memang peduli terhadap heterogenitas. Lagipula, keberatan atas preferensi berbasis ras toh cukup masuk akal. Bukankah di muka hukum, sudah sepantasnya setiap orang memiliki kedudukan sama?
Lalu, pertanyaan selanjutnya muncul: apakah tiap individu dalam minoritas benar-benar berubah lebih baik keadaannya setelah lahirnya kebijakan preferensi? Apa jenis pekerjaan dan kesempatan yang mereka dapatkan setelah memanfaatkan aksi afirmatif?

Aksi Budaya

             Mekanisme prasangka terhadap perbedaan perorangan biasanya dianggap urusan sepele di ranah masyarakat, tapi bukan berarti juga sepele di ranah dampak. Yang mana ketidakadilan sepele justru sering timbul dimana orang-orang yang lebih berkuasa menyinggung orang-orang yang kurang berkuasa. Mungkin banyak orang kuatir kekuasaan bersifat merusak. Mungkin juga, kelas akar rumput yang agresif akan dibisukan dari waktu ke waktu. Lalu lagi-lagi harus ada yang kesulitan mengatasi ketidakadilan yang menderanya, karena orang yang kurang berkuasa secara definisi berarti kurang berpengaruh.
            Jumlah yang tidak proporsional dalam kelompok kurang berkuasa tersebut didominasi minoritas dan perempuan. Secara statistik, dua kategori ini lebih rentan terhadap ketidakadilan.
            Barangkali ada benarnya bahwa penyesuaian sosial perempuan dan/atau minoritas ke dalam masyarakat butuh rangsangan dari negara. Elit dominan perlu mempromosikan heterogenitas etnis dalam derajat kebahasaan, posisi demografis, dan hegemoni politik. Misalnya Rusia dan Hungaria punya diaspora yang selanjutnya disebut tanah air eksternal untuk menghormati golongan kecil. Kepentingannya dipantau dan dikampanyekan oleh negara.
            Maka jadi keliru jika di Indonesia, aksi afirmatif yang ditujukan bagi perempuan hanya terbatas pada kancah politik. Akhirnya jawaban dari pertanyaan di atas adalah: kondisi tak akan membaik jika mereka bersaing disaat perilaku submisifnya belum dipulihkan. Mereka hanya akan berperan dalam fungsi-fungsi sederhana.
Ketidakadilan butuh solusi yang futuritis, dan optimalisasi pendidikan pada minoritas dan perempuan lebih menjamin dibanding distribusi pengaruh. Jika pilihan ini adalah demi kemanusiaan, maka sejatinya kebebasan hanya terwujud melalui aksi budaya, jika dan hanya jika diiringi optimalisasi ilmu pengetahuan sebagai bekal refleksi dan aksi.
Untuk menyetarakan posisi minoritas maupun perempuan, mereka harus diperlakukan sebagaimana subyek berpikir, yang terdorong untuk membayangkan dan merindukan supremasi dirinya. Dengan demikian, mereka akan muncul atas kehendaknya sendiri, dan pada tingkat persepsi kritis mereka maju ke tahap organisasi atau politik, demi memecah keheningan di antara elit kekuasaan.
Memecah keheningan harus dengan bicara. Dan bicara berarti: tindakan yang menyiratkan refleksi dan aksi.

Anggota Parlemen Wanita Mesir (source: Egyptian Streets)



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Para Perempuan yang Tersisihkan

Ditulis tanggal 8 Maret 2014

Maya, sang pemburu Osama bin Laden dalam film "Zero Dark Thirty" (source: Vancouver Observer)

“We take risks in our work; we take unpopular stands. We work for all women and against all forms of discrimination and oppression. We believe that we cannot work for all women and against sexism unless we also work against racism, classism, ageism, anti--Semitism, ableism, heterosexism, and homophobia. We see the connection among these oppressions as the context for violence against women in this society.” – In the Time of Right: Reflection on Liberation (1981)

Dimanakah posisi perempuan di masyarakat?

Tokoh utama kartun “Brave” bernama Merida dididik untuk berperilaku seperti tuan puteri. Dia harus hidup bersama anjuran dan larangan yang dipakem oleh sang ibu. Dia dilarang tertawa terbahak-bahak, dilarang memanah... bagi sang ratu, kegiatan seperti itu terlalu maskulin untuk dilakukan oleh seorang tuan puteri.


Paternalisme

Paternalisme dominatif membenarkan teori patriarki yang memandang perempuan seperti orang dewasa yang kurang kompeten, dan karenanya membutuhkan sebuah peran superordinate bernama laki-laki (Glick & Fiske, 1996). Merida mempermalukan para calon suaminya di muka umum. Dia memberontak, bukan kepada aturan ibunya. Lebih dari itu, dia memberontak pada sistem yang menghalanginya untuk menjadi manusia utuh.

Pikir saya, Merida tidak sendirian. Ini adalah potret realita yang masih hidup di beberapa tempat di berbagai negara. Atau juga, sistem yang oleh beberapa rumah tangga dianggap normal untuk berlaku.
Kita akan lebih kaget mengetahui kebanyakan tindakan diskriminasi lahir dari kekeliruan penafsiran ayat-ayat kitab suci. Dalam Alqur’an dikatakan, “...Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma´ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” (Al-Baqarah:228)

Selama berabad-abad, muslim konservatif menggunakan ayat tersebut untuk melegitimasi bahwa perempuan tak akan pernah berada dalam pucuk pimpinan keluarga. Perempuan didesain sebagai makhluk yang inferior daripada laki-laki.


Tak Berjangkit

Jika ada bukti berkata sebaliknya, tentu kita tidak boleh menolak. Pastinya tidak melulu pendiskreditan atas peran perempuan yang kita saksikan. Kita juga melihat beberapa figur yang disambut baik oleh masyarakat. Afghanistan punya Bibi Ayesha, kita punya Ni Paksini, orang Yahudi punya Anne Frank. CIA punya agen bernama Maya yang berhasil menemukan Osama bin Laden. Benar adanya, beberapa mendapat bagian kecil dari kekuasaan.

Namun, bukankah kita juga melihat bagaimana akhir-akhir ini, para perempuan yang menempati posisi strategis diburu rasa ketakutan setiap menitnya? Bahwa jika dia tak tunduk pada apa yang disebut “norm”-nya perempuan kebanyakan, ia akan lengser? Beberapa feminis mengatakan, kita harus berpakaian seperti ini, berbicara seperti ini, berperilaku seperti ini, untuk didengar oleh orang-orang (para pria?) yang mengendalikan pengadilan, sekolah, dan lembaga-lembaga yang memegang kekuatan di atas kita (Pharr, 1997).

Dari massa perempuan dengan latar belakang ras, kelas, agama, identitas seksual, dan usia, banyak yang tidak mendapat manfaat dari pelimpahan sebagian kecil kekuasaan tersebut.


“Sudah sepantasnya...”

Kenapa perbedaan jenis kelamin harus ada? Meskipun penjelasan yang ada saat ini hanya bersifat spekulatif, adalah masuk akal jika seksisme pria mencerminkan orientasi/motivasi mereka terhadap perempuan, sedangkan adopsi keyakinan seksis perempuan mencerminkan kecenderungan mereka untuk menolak norma-norma budaya yang berlaku.

Alasan lain yang mungkin, adalah bahwa seksisme umumnya membagi perempuan menjadi kelompok ibu rumah tangga dan feminis, dimana ibu rumah tangga akan lebih dirangkul oleh motif seksual pria-pria tradisional – sedangkan feminis sedikit kurang disukai sebab mereka menantang keinginan paternalistik.
Dan kita pun akan terus terlarut dalam tidur panjang. Selamanya, kami tak akan dibela karena dianggap sudah mendapat apa yang sesuai porsinya. Selamanya, feminis akan dianggap musuh norma-norma budaya. Atau jika ada yang bangkit, hanya akan jadi riak-riak kecil sebuah gerakan yang tak populer.

Kita terlanjur menikmatinya.

Banerjee berkata, “Mudah, terlalu mudah, untuk berkhotbah tentang bahaya paternalisme dari kenyamanan sofa di rumah kita. Bukankah kita, orang-orang yang hidup di dunia yang kaya, juga penerima manfaat dari paternalisme yang benar-benar tertanam ke dalam sistem yang tak kita sadari?”



► Klik di sini untuk membaca versi lengkap

Perempuan

Ditulis tanggal 10 Agustus 2013

Female Solidarity (source: Zazzle)

Pada interval tahun 1920 hingga 1950-an, di bagian timur laut Amerika Serikat terdapat diskriminasi terhadap pekerja perempuan. Sebagian besar dari mereka sudah menikah. Pasar tenaga kerja tidak mengakomodasi secara layak para perempuan yang tak lagi lajang, pemberian gaji kepada mereka bahkan dianggap tabu oleh para majikan[1]. Maka saat itu muncul istilah “female wage”, untuk membedakannya dengan gaji yang diterima oleh pria.

Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya fenomena ini. Pada masa itu, perempuan didorong untuk menikah di usia muda. Hasilnya, banyak pengalaman orang-orang muda yang mereka tinggalkan: pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi, dan pergaulan.[2] Tentu saja pendidikan dan kesempatan ekonomi saling berpengaruh. Semakin minim keterampilan seorang calon tenaga kerja, maka semakin tak menarik di mata pasar, atau jika dipekerjakan, maka dengan pengorbanan kelewat besar, tapi berbuah gaji ala kadarnya. Konsensus sosial sampai kebijakan negara ikut turun tangan untuk mendikte peran gender. Terutama pada masa krisis seperti Great Depression di A.S saat itu.

Kini, urusan diskriminasi tersebut terhitung sudah selesai di A.S, dibuktikan dengan temuan meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja pada tahun 1960-an hingga sekarang, dengan gaji sungguhan juga.  Perempuan beralih dari sebuah “properti” milik ayah atau suaminya, menjadi pemilik atas properti itu sendiri. Bagi keluarga berada dengan satu anak laki-laki, pengalihan kekayaan kepada putranya hanya memberi konfigurasi kekayaan yang monotonik, sehingga ia berbagi kapital dengan istri. Dalam konteks berbeda, apabila anak semata wayangnya perempuan, dengan kondisi patriarkial, mustahil bagi seorang ayah untuk memastikan menantunya bermurah hati kepada anaknya. Sebab ia berlaku sebaliknya kepada sang istri. Alhasil diambil keputusan bahwa 'dosa turunan' patriarkisme sudah saatnya dihentikan.

Sayangnya, perkara disparitas peran belum selesai. Praktik modernisasi dan evolusi kebudayaan mungkin telah membawa perubahan cukup nyata bagi perkembangan perekonomian sebuah negara, namun di Indonesia, beberapa perilaku tradisionil yang menstereotipkan maskulinitas atau feminitas masih sering ditemukan. Mendapati perempuan ikut-ikut kena 'gebuk' pada aksi hipnosis massal ini menjadi lebih ironis. Kebanyakan perempuan muda terburu-buru menikah, meninggalkan karirnya demi apa yang dianggap kodrati, atau sekali berkarir, di bawah kendali suaminya. Dua peran yang seharusnya bahu-membahu ini alhasil tak memberi hasil optimal, bahkan lebih buruk daripada androgini perempuan dan laki-laki.[3]

Obat yang diresepkan budaya tradisionil terlanjur diminum, lalu memberikan dampak serupa dengan “cuci otak”. Pada tahun 1970-an, seorang feminis merangkap psikologis membuat istilah persuasi koersif. Di situ ia menjelaskan manipulasi psikologis yang dilakukan orang-orang tertentu kepada perempuan untuk menundukan mereka dan membuat mereka ketergantungan, termasuk di antaranya pengekangan, eksploitasi seksual dan ekonomi, serta aturan-aturan tertentu tentang bagaimana mereka harus berpenampilan.

Istilah ini masih relevan hingga sekarang: bagaimana pandangan miring masyarakat terhadap perempuan yang dominan; bagaimana iklan komersial di televisi menampilkan perempuan harus ramping dan memiliki kulit bercahaya. Paradigma itu pun lantas terbangun dengan bukti-bukti tertentu bahwa beberapa laki-laki memiliki kriteria "kalem", “langsing” dan “putih” untuk perempuan idamannya – yang justru berakhir pada eksploitasi seksual terhadap perempuan, meskipun masih dalam bentuk fantasi di antara para pria. Kita juga tak perlu heran mengapa model minuman diet dan produk pemutih kulit mayoritas berjenis kelamin perempuan.

Ini tak jauh beda dengan fenomena boneka porselen di masa lampau, dimana sebuah boneka perempuan kalem dengan wajah kekanak-kanakan (anak perempuan?) menggunakan pakaian dewasa, sebagai simbol perempuan yang menikah muda. Kemudian perempuan muda di era itu pun berbondong-bondong untuk lekas mencari suami.

Perempuan keluar untuk bekerja, meraih kebebasan atas properti fisiknya, tapi malah mengorbankan terlalu banyak apa yang ia punya. Lantas uangnya dipakai untuk merawat diri sedemikian rupa, karena menurutnya para pria hanya menyukai yang langsing dan putih. Dalam cara yang ‘agamis’, perempuan lalu mengenakan jilbab karena menurutnya para pria soleh hanya menyukai perempuan berpakaian tertutup. Semua dilakukan demi masa kekinian, urusan masa depan diatur oleh sang pria. Perempuan menggoda, laki-laki yang tergoda. Perempuan bermimpi, laki-laki yang mengusahakan. Perempuan menunggu, laki-laki yang menjemput. Mereka gagal untuk memiliki otonomi atas propertinya, diombang-ambing oleh keinginannya, dan dengan demikian harus mengikuti aturan main yang dikreasi media untuk memperoleh keinginan tersebut.

Tak ada yang salah dengan tuntunan naluri kompetitif ini, sebenarnya. Hanya saja, jika perempuan berpendidikan dan telah mencapai kematangan pemikiran, ia akan menyingkirkan segala bentuk perasaan “dalam bahaya” atau “terancam”, dan menekankan pada keterampilan menempatkan prioritas, menyusun rencana dan gagasan, membentuk strategi, mengendalikan impuls, dan menempatkan perhatian. Menundukan diri pada persuasi koersif agar mendapat keinginan agaknya bukan wujud kebijaksanaan. Ada hal-hal lebih penting daripada penundukan diri agar bisa lekas menikah atau laku di pasar tenaga kerja. Contohnya, mempertahankan otonomi diri.

Perempuan pasti dan harus bisa sepadan dengan pria.


[1] Claudia Goldin., “Marriage Bars: Discrimination Against Married Women Workers. 1920’s to 1950’s.” (NBER Working Paper Series, 1988).
[2] Sanyukta Mathur – Margaret Greene – Anju Malhotra, “Too Young to Wed: The Lives, Rights, and Health of Young Married Girls”. International Center for Research on Women, 2003.
[3] William Ickes, “Traditional Gender Roles: Do They Make, and Then Break, our Relationships?”. Journal of Social Issues, Vol. 49, No.3, 1993.




► Klik di sini untuk membaca versi lengkap
Back to Top